Aku adalah anak tunggal keluarga terkaya di Kota Sentosa, Jawa Barat. Namun, aku tumbuh seperti pengemis di dalam rumah mewah milik keluargaku sendiri.
Kalau aku menyisakan nasi, Mama akan menyuruhku mencangkul di kebun.
Kalau aku menghabiskan uang lebih dari Rp20.000, aku akan dihukum berlutut di bawah terik matahari.
Tetapi gadis “anak asuh” kesayangannya, Bianca Prasetyo, setiap tahun menerima miliaran rupiah darinya.
Malam ketika aku hampir mengalami hal buruk karena tidak memiliki ponsel, aku menangis dan bertanya kepadanya.
“Kenapa Bianca mendapatkan semuanya, sedangkan aku, anak kandung Mama sendiri, harus meminta izin hanya untuk membeli pulpen seharga Rp40.000?”
Wajah Mama langsung mengeras.
“Karena suatu hari nanti semua ini akan menjadi milikmu. Kalau Mama tidak mendidikmu dari sekarang, kamu akan tumbuh menjadi orang yang tidak berguna.”
Keesokan harinya, ia membawaku ke sebuah desa terpencil di pegunungan Garut.
“Bianca dibesarkan di tempat seperti ini sebelum Mama membantunya,” katanya dingin. “Di sinilah kamu akan belajar arti penderitaan yang sebenarnya.”
Aku menangis.
Aku memegang pintu mobil.
Aku berlari mengejar mobilnya sampai sandal jepitku putus dan kakiku berdarah.
Tapi dia bahkan tidak menoleh.
Tidak sekali pun.
Tiga tahun berlalu.
Saat mendengar namaku dipanggil dari kaki bukit, tanganku yang sedang memegang daun singkong langsung membeku.
“Lia…”
Aku pikir itu hantu.
Pelan-pelan aku menoleh.
Di sana berdiri Mama.
Blus putih mahal.
Kacamata bermerek.
Kalung berlian yang berkilau.
Dan di sampingnya berdiri seorang gadis seusiaku, berkulit mulus dan mengenakan gaun desainer meskipun sedang berada di tengah lumpur.
Bianca.
Gadis yang dulu hanya anak asuh belas kasihan Mama, kini terlihat jauh lebih seperti seorang putri dibanding diriku.
Sedangkan aku…
Bertelanjang kaki.
Tubuh kurus.
Kulit terbakar matahari.
Pakaian lusuh.
Dan lengan bajuku yang kanan menggantung kosong.
Mama mendekat sambil menangis.
“Lia, Nak… kamu tidak mengenali Mama?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memeluk sayuran di tanganku, seolah-olah itulah satu-satunya harta yang tersisa di dunia ini.
Dia menggenggam pergelangan tangan kiriku.
“Nak, kita pulang. Tiga tahun sudah cukup. Sekarang kamu pasti sudah mengerti betapa sulitnya mencari uang.”
Tatapannya bergerak dari kepala hingga kakiku.
“Tahun depan, perusahaan akan Mama serahkan padamu. Kamu akan menjadi presiden direktur Sentosa Group.”
Aku tertawa pelan.
Bukan karena bahagia.
Tetapi karena semuanya terasa seperti lelucon.
“Tidak perlu.”
Dia mengernyit.
“Kamu masih marah? Mama melakukan semua ini demi kebaikanmu. Kamu harus menjadi kuat.”
Tangannya kembali meraihku.
Kali ini dia memegang lengan bajuku yang kanan.
Dia terdiam.
Lalu menarik kain itu.
Lengan kosong.
Tidak ada apa pun di sana.
Semua warna di wajahnya seakan menghilang.
“Lia…” suaranya bergetar. “Di mana lenganmu?”
Belum sempat aku menjawab, terdengar teriakan dari bawah bukit.
“Hei, perempuan bodoh! Cuma beli sayur saja lama sekali! Mau dipukul lagi, ya?”
Tubuhku langsung gemetar.
Daun singkong di tanganku jatuh ke tanah.
Aku berlari turun.
Namun sebelum sempat pergi, Bianca menarik lenganku.
“Lia, keterlaluan sekali kamu,” katanya dengan wajah pura-pura iba. “Aku tahu kamu masih marah pada Tante Marissa, tapi tidak berarti kamu boleh melukai dirimu sendiri demi menyalahkannya.”
Mama menatapku.
Air mata di matanya berubah menjadi kecurigaan.
“Lia,” katanya tegas, “drama apa lagi ini?”
Aku mundur.
“Tolong… jangan bahas itu lagi…”
Namun Bianca hanya tersenyum tipis.
“Karena kejadian tiga tahun lalu itu?” bisiknya. “Insiden di gang sempit? Sampai sekarang masih kamu pakai untuk mencari simpati?”
Dan semua kenangan itu kembali.
Gang gelap di Jakarta.
Sekelompok pria yang menghadangku setelah lomba sekolah.
Mereka tahu aku anak pengusaha terkaya di Kota Sentosa.
Mereka mengira aku membawa uang.
Mereka memintaku menelepon Mama.
Tapi aku tidak punya ponsel.
Karena menurut Mama, ponsel adalah kemewahan.
Saat mereka mengira aku berbohong…
Mereka mempermalukanku.
Mengancamku.
Dan kalau bukan karena seorang pengemudi ojek yang lewat dan berteriak, mungkin aku sudah tidak hidup lagi.
Saat pulang ke rumah, bibirku berdarah dan seragamku robek.
Tetapi yang kulihat adalah pesta ulang tahun Bianca.
Kue besar.
Balon.
Dan kalung seharga Rp500 juta.
Aku menghancurkan kuenya.
Aku menangis.
“Mama! Aku hampir celaka karena tidak punya ponsel! Kenapa Bianca punya segalanya sedangkan aku bahkan tidak punya pulsa?”
Dia tidak memelukku.
Dia tidak bertanya apakah aku terluka.
Dia hanya memandangku dengan dingin.
“Kamu iri pada Bianca.”
Dan keesokan harinya…
Dia membuangku ke pegunungan.
Di sanalah nerakaku dimulai.
Ramon Prasetyo, sepupu Bianca, adalah pria pertama yang menyambutku.
Dialah yang mengurungku di sebuah gubuk.
Dialah yang berkata:
“Perintah Bianca. Kamu harus diberi pelajaran.”
Beberapa bulan kemudian, mereka memaksaku menikah dengannya.
Aku mencoba melarikan diri.
Sekali.
Dua kali.
Sepuluh kali.
Tetapi seluruh desa berpihak padanya.
Mereka semua menerima uang dari Mama untuk “menjagaku”.
Mama mengira mereka merawatku.
Padahal mereka menjualku pada penderitaan.
Pada percobaan pelarianku yang terakhir…
Ramon sedang mabuk.
Dia mengejarku ke belakang gubuk sambil membawa parang.
Dan ketika aku sadar keesokan harinya…
Setengah hidupku telah hilang.
Kini Mama berdiri di depanku.
Mencari anak yang tidak pernah dia tanyakan kabarnya selama tiga tahun.
Dia menelepon kepala desa.
“Pak Kepala Desa,” katanya dingin, “saya memberi tiga miliar rupiah untuk menjaga putri saya. Kenapa keadaannya seperti ini? Dan kenapa lengannya hilang?”
Beberapa detik hening.
Lalu suara Kepala Desa Darma terdengar dari speaker.
“Bu Marissa, kami sudah merawat Lia dengan baik. Masalahnya, putri Ibu sangat keras kepala. Dia selalu iri pada Nona Bianca.”
Semua orang mengatakan hal yang sama.
Aku pembangkang.
Aku pembohong.
Semua salahku.
Setelah menutup telepon, Mama menatapku dengan marah.
“Lia, sampai sekarang kamu belum berubah.”
Dan sebelum aku sempat berbicara…
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajahku.
Kepalaku terlempar ke samping.
Dan di belakang Mama…
Aku melihat Bianca tersenyum.
Lalu dari bawah bukit…
Terdengar langkah sepatu bot yang berat.
Ramon mendekat.
Di tangannya ada sebilah parang.
Dan kalimat pertama yang keluar dari mulutnya sambil menatap Mama membuat seluruh dunia seolah berhenti.
“Bu Marissa…”
“Kembalikan istri saya.”

PART 2
“Bu Marissa… kembalikan istri saya.”
Suara Ramon membuat seluruh tubuhku membeku.
Mama memandang pria itu dengan jijik.
“Apa yang kamu katakan?”
Ramon tertawa.
“Tiga tahun lalu Ibu sendiri yang menyerahkannya pada kami. Semua orang di desa tahu. Lia adalah istriku.”
PLAK!
Tamparan Mama kali ini mendarat di wajah Ramon.
“Berani sekali kamu menyentuh putriku!”
Ramon terhuyung.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Mama berdiri di depanku.
Melindungiku.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Terlalu terlambat.
Aku mundur beberapa langkah.
“Sudah cukup…”
Air mata mengalir di wajahku.
“Tidak ada gunanya lagi, Ma.”
Mama berbalik.
“Lia…”
“Aku memanggil Mama saat aku ketakutan.”
“Aku memanggil Mama saat aku kelaparan.”
“Aku memanggil Mama saat aku dipukul.”
“Aku memanggil Mama saat aku kehilangan lenganku…”
“Tapi Mama tidak pernah datang.”
Suara tangisku bercampur dengan angin gunung.
Bianca tiba-tiba maju.
“Tante Marissa, jangan percaya dia! Dia memang pembohong!”
Namun, sebelum dia sempat mendekat, sebuah mobil polisi berhenti di bawah bukit.
Beberapa polisi turun bersama seorang wanita tua yang berjalan dengan tongkat.
Wajahku langsung pucat.
“Nenek Sari…”
Wanita itu adalah bidan tua yang menyelamatkanku setelah malam berdarah itu.
Dia menatap Ramon dengan mata penuh kebencian.
“Setan!”
“Anak ini hampir mati karena kamu!”
Lalu ia mengeluarkan sebuah flashdisk.
“Dan aku menyimpan semuanya.”
Video dari kamera keamanan klinik kecil miliknya diputar.
Semua orang terdiam.
Di layar terlihat jelas Ramon yang mabuk, mengejarku sambil membawa parang.
Terdengar suaraku menjerit.
Terdengar Ramon berteriak:
“Kalau kamu tidak mau jadi istriku, lebih baik kamu mati!”
Kemudian…
Jeritanku.
Darah.
Dan tubuhku yang tak sadarkan diri.
Mama jatuh berlutut.
Tubuhnya gemetar.
“Tidak…”
“Tidak…”
Bianca mendadak pucat.
Tetapi mimpi buruknya belum berakhir.
Karena polisi kemudian mengeluarkan dokumen transaksi bank.
Selama tiga tahun, miliaran rupiah yang dikirim Mama ternyata tidak pernah digunakan untuk merawatku.
Sebagian besar masuk ke rekening Kepala Desa Darma.
Dan sebagian lagi…
Ke rekening Bianca Prasetyo.
“Tidak!” teriak Bianca.
“Itu fitnah!”
Tetapi polisi menunjukkan bukti transfer, percakapan, dan rekaman suara.
Suara Bianca terdengar jelas:
“Buat Lia menderita. Biar Tante Marissa semakin membencinya.”
Mama seperti kehilangan napas.
Dia memandang gadis yang selama ini dicintainya seperti anak sendiri.
“Bianca…”
“Kamu…”
Air mata jatuh dari wajahnya.
“Aku mempercayaimu…”
Bianca menangis.
“Tante… aku takut kehilangan semuanya…”
Namun Mama hanya menutup mata.
Hari itu, Ramon dan beberapa orang yang terlibat dibawa polisi.
Kepala Desa Darma juga ditangkap.
Bianca kehilangan semua yang selama ini ia nikmati.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Mama menangis sambil memeluk kakiku.
Bukan aku yang berlutut.
Melainkan wanita yang pernah membuatku berlutut di bawah matahari.
“Maafkan Mama…”
“Maafkan Mama…”
“Aku gagal menjadi ibumu…”
Aku menangis.
Tetapi aku tidak bisa memeluknya kembali.
Karena luka yang ditinggalkan selama tiga tahun tidak bisa sembuh hanya dengan satu kata maaf.
Enam bulan kemudian.
Aku tinggal di Bandung.
Dengan bantuan tangan prostetik dan terapi yang panjang, aku mulai belajar hidup kembali.
Aku membuka sebuah restoran kecil.
Namanya…
“Rumah Lia.”
Semua resep di sana berasal dari nenek Sari.
Dan setiap akhir pekan, seorang wanita berambut mulai memutih selalu datang membawa bunga matahari.
Dia tidak pernah masuk tanpa izin.
Dia tidak pernah memaksaku memanggilnya Mama.
Dia hanya duduk di meja nomor tujuh.
Memesan teh hangat.
Dan menunggu.
Kadang-kadang aku berbicara dengannya.
Kadang-kadang tidak.
Sampai suatu sore hujan turun dengan deras.
Saat hendak pulang, aku melihat wanita itu tertidur di kursinya.
Di pangkuannya ada sebuah map.
Ketika kubuka…
Aku terdiam.
Seluruh saham Sentosa Group.
Semua rumah.
Semua tanah.
Semua aset.
Sudah dipindahkan atas namaku.
Dan di halaman terakhir ada surat tulisan tangan.
“Lia…
Mama tidak meminta warisan ini membuatmu memaafkan Mama.
Mama hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu.
Kalau suatu hari nanti kamu masih tidak bisa memanggilku Mama…
Tidak apa-apa.
Asal sebelum Mama mati…
Izinkan Mama mendengar sekali saja…
Kamu memanggilku seperti dulu.”
Air mataku jatuh mengenai surat itu.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Aku berjalan mendekati wanita yang telah menghancurkan hidupku…
Dan juga wanita yang telah melahirkanku.
Pelan-pelan aku menyelimuti pundaknya.
Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, aku berbisik:
“Ma…”
Wanita itu terbangun.
Dan saat mata kami bertemu…
Dia menangis seperti seorang ibu yang akhirnya menemukan anaknya kembali.
Karena terkadang…
Pengkhianatan yang paling menyakitkan datang dari keluarga.
Tetapi penyesalan yang paling dalam…
Juga lahir dari cinta seorang ibu yang terlambat menyadari bahwa selama ini, anak yang paling ia sakiti…
Adalah anak yang paling mencintainya.