BAGIAN 1
Selama delapan tahun, aku tidak pernah membeli pakaian baru.
Setiap bulan, aku mengirim Rp14.000.000 ke rumah.
Aku mengumpulkan hampir Rp730 juta untuk uang muka rumah pertamaku bersama Adrian.
Tetapi saat aku membuka buku tabungan, saldonya hanya tersisa:
Rp4.000.
“Ma…” tanyaku dengan suara gemetar, “ke mana uangku?”
Ibuku tidak langsung menjawab.
Ayahku yang duduk di ujung meja menghindari tatapanku.
Sementara Clarissa, sepupuku yang kami besarkan sejak kecil, hanya menunduk di sofa sambil mengupas biji semangka dengan tenang.
Di atas meja terbuka buku tabunganku.
Tiga hari yang lalu:
Penarikan: Rp560.000.000
Sebulan sebelumnya:
Penarikan: Rp170.000.000
Tubuhku langsung dingin.
“Ma…” ulangku dengan suara lebih pelan namun lebih tajam, “itu uangku. Delapan tahun aku bekerja keras untuk itu. Di mana uangnya?”
Ibu keluar dari dapur sambil memegang lap basah. Wajahnya pucat.
“Nak, duduk dulu. Kami akan jelaskan.”
“Aku tidak mau duduk.” Aku membanting buku tabungan ke meja. “Jawab aku!”
Ayah menghela napas.
“Jangan teriak, Lianne. Tetangga bisa mendengar.”
“Kalian mencuri tabunganku, lalu yang kalian khawatirkan justru tetangga?”
Bibir ibu bergetar.
“Kami tidak mencuri,” katanya. “Kami hanya meminjamnya.”
“Untuk apa?”
Rumah itu mendadak sunyi.
Sampai akhirnya terdengar suara Clarissa yang pelan dan gemetar.
“Kak Lianne… ini salahku.”
Aku menoleh kepadanya.
“Salah apa?”
Dia langsung menangis.
Seperti biasa.
Sedikit ditegur, air matanya langsung keluar.
Dan cara itu selalu berhasil meluluhkan ibuku.
“Keluarga Marco…” isaknya, “mereka meminta mahar besar. Katanya pihakku harus menunjukkan dana sebesar Rp980 juta sebelum pernikahan. Kalau tidak, aku akan dipermalukan seluruh kampung.”
Aku terdiam.
“Mahar?”
Ibu langsung memeluk bahunya.
“Kamu tahu sendiri, Clarissa sudah yatim piatu sejak kecil. Kita satu-satunya keluarganya. Kalau bukan kita yang menolongnya, siapa lagi?”
Aku tertawa pendek.
“Tolong?”
“Kalian mengambil Rp730 juta milikku lalu menyebutnya pertolongan?”
“Tidak semuanya untuk mahar,” sela Ayah. “Rp170 juta sebelumnya dipakai untuk pemeriksaan kesehatan, vitamin, dan persiapan pernikahan. Tubuh Clarissa kan lemah.”
Aku memandang Clarissa.
Dia mengenakan blus bermerek baru.
Jam tangan mahal menghiasi pergelangan tangannya.
Di sampingnya ada ponsel baru seharga hampir Rp20 juta.
Sedangkan aku?
Sudah tiga tahun memakai jaket yang sama.
Sepatuku yang robek hanya kutambal lem.
Saat gigi gerahamku retak, aku menahan sakit selama dua bulan karena tak ingin mengurangi tabungan rumahku bersama Adrian.
“Sakit?” tanyaku dingin.
“Sakit apa?”
“Sakit karena terlalu mewah?”
“LIANNE!” teriak ibu.
Aku tidak mundur.
“Setiap bulan aku kirim Rp14 juta ke rumah. Aku hanya menyisakan sekitar Rp3 juta untuk hidupku sendiri. Itu sudah untuk makan, transportasi, tagihan, pakaian, dan obat-obatan.”
“Sedangkan Clarissa hanya memberi Rp5 juta, tapi bisa facial, ikut yoga, liburan, dan beli ponsel baru?”
Tangan ibu mulai gemetar.
“Kamu tidak boleh mengungkit bantuanmu kepada keluarga!”
“Keluarga?”
Aku tersenyum meski air mataku mulai jatuh.
“Memangnya aku benar-benar anak kalian?”
Ayah berdiri.
“Kamu anak kami. Justru karena itu kami tahu kamu pasti mengerti.”
“Mengerti?”
Aku menunjuk buku tabungan.
“Aku menikah bulan depan, Pa. Kalian tahu itu.”
“Kalian tahu uang itu untuk rumahku dengan Adrian.”
“Sekarang aku harus bilang apa padanya?”
Tidak ada yang menjawab.
“Apa kalian sudah menyiapkan sesuatu untuk pernikahanku?”
Ibu dan Ayah saling pandang.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku merasakan ketakutan yang sesungguhnya.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Takut.
Karena aku tahu…
Mereka punya jawaban.
Dan aku tidak ingin mendengarnya.
Ibu berbalik menuju lemari tua di ruang tamu.
Ia mengambil sebuah kantong plastik putih dari bagian paling bawah.
Lalu menyerahkannya kepadaku.
“Aku membelinya saat diskon di Pasar Tanah Abang,” katanya sambil tersenyum kaku.
“Bisa dipakai untuk rumah barumu.”
Kubuka kantong itu.
Sebuah baskom merah.
Dua handuk.
Sepasang sandal.
Label harganya masih menempel.
Baskom: Rp35.000
Handuk: Rp55.000
Sandal: Rp30.000
Total:
Rp120.000
Aku memandangi kantong plastik itu.
Lalu buku tabungan.
Clarissa mendapat mahar hampir Rp980 juta.
Aku?
Anak kandung mereka?
Hanya mendapat baskom.
Tiba-tiba aku tertawa.
Tertawa sampai air mata mengalir.
“Jadi…”
“Segini rupanya harga diriku di rumah ini.”
Ibu mendekat.
“Lianne, jangan bicara seperti itu. Hubunganmu dengan Adrian baik. Dia anak yang baik. Dia pasti mengerti.”
“Mengerti bahwa kalian mencuri uang hasil kerja kerasku?”
“Itu bukan mencuri!” bentak Ayah. “Kami orang tuamu!”
Aku mengambil ponselku.
Membuka aplikasi perbankan.
Menunjukkan semua tangkapan layar transaksi.
“Kalau kalian orang tuaku…”
kataku dingin,
“kenapa aku diperlakukan seperti mesin ATM?”
Semua orang terdiam.
Bahkan Clarissa berhenti menangis.
“Kalian punya dua pilihan.”
“Pertama, kembalikan seluruh Rp730 juta itu dalam tiga hari. Tidak boleh kurang satu rupiah pun.”
Wajah ibu langsung pucat.
“Atau…”
Aku mengangkat ponselku.
“Aku akan melapor ke polisi, ke bank, dan mengirim semua bukti ini ke keluarga Marco, para kerabat, dan kantor kalian.”
Wajah Clarissa memutih.
“Kamu tidak akan melakukan itu,” bisiknya.
Aku menatapnya lurus.
“Coba saja.”
Dan tepat pada saat itu…
Ponselku berdering.
Nama Adrian Wijaya muncul di layar.
Dengan tangan gemetar, aku menjawabnya.
“Lianne…”
suaranya terdengar berat dari seberang.
“Aku ada di depan rumahmu.”
Tubuhku langsung membeku.
“Dan…”
Ia menarik napas panjang.
“Aku mendengar semuanya.”
BAGIAN 2
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Beberapa detik kemudian, Adrian masuk ke ruang tamu.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Ia memandang ibu dan ayahku.
Lalu memandang Clarissa.
Dan akhirnya menatapku.
Aku hampir menangis.
“Maaf…”
hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
Tetapi Adrian justru menggenggam tanganku.
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Kamu bukan orang yang bersalah.”
Ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
“Justru aku yang minta maaf.”
“Aku seharusnya sudah curiga sejak lama.”
Semua orang memandangnya bingung.
Adrian membuka map itu.
Di dalamnya ada fotokopi surat kuasa bank.
Dan nama yang tertera membuat wajah ayahku langsung kehilangan warna.
“Aku bekerja di bidang hukum,” kata Adrian pelan.
“Dan selama seminggu terakhir, aku sudah meminta bantuan teman-temanku memeriksa transaksi ini.”
“Kalian tidak hanya mengambil uang Lianne.”
“Kalian memalsukan tanda tangannya.”
Ibu langsung gemetar.
“Adrian, dengarkan dulu—”
“Tidak, Bu.”
“Sekarang giliran saya yang bicara.”
Suara Adrian tidak keras.
Tetapi justru itu yang membuat seluruh ruangan terasa semakin dingin.
“Selama delapan tahun, tunangan saya hidup hemat.”
“Dia tidak membeli pakaian.”
“Dia menahan sakit gigi.”
“Dia bahkan berjalan kaki agar bisa menabung.”
“Dan kalian mengambil semuanya…”
“Untuk membeli harga diri orang lain?”
Clarissa menangis semakin keras.
“Tapi aku mau menikah…”
Adrian tersenyum dingin.
“Kalau calon suamimu membutuhkan harga Rp980 juta untuk menikahimu…”
“Mungkin yang dia cintai bukan dirimu.”
“Tapi uangmu.”
Clarissa langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kecil…
Tak ada yang membelanya.
Dua hari kemudian…
Keluarga Marco membatalkan pernikahan.
Begitu mengetahui bahwa uang mahar itu berasal dari hasil pengambilan ilegal, mereka langsung mundur.
Marco bahkan pergi bersama wanita lain.
Clarissa pingsan saat mendengar kabar itu.
Ibu menangis selama berhari-hari.
Ayah menjual mobilnya.
Mereka meminjam uang dari saudara.
Menjual tanah warisan.
Dan akhirnya…
Empat bulan kemudian…
Mereka mengembalikan seluruh uangku.
Lengkap.
Tanpa kurang satu rupiah pun.
Tetapi saat ibu datang sambil menangis dan berkata,
“Pulanglah, Nak. Rumah ini tetap rumahmu…”
Aku hanya tersenyum pelan.
Lalu menggeleng.
Karena aku akhirnya mengerti sesuatu.
Rumah…
Bukan tempat di mana darah yang sama tinggal bersama.
Rumah…
Adalah tempat di mana seseorang menjaga air matamu seolah itu miliknya sendiri.
Enam bulan kemudian…
Aku dan Adrian pindah ke rumah kecil kami di Bandung.
Tidak mewah.
Tidak besar.
Tetapi dibeli dengan keringat kami sendiri.
Pada malam pertama di rumah itu, Adrian memberikan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya tidak ada berlian.
Tidak ada emas.
Hanya sebuah gantungan kunci berbentuk baskom merah.
Aku langsung tertawa sambil menangis.
“Kenapa ini?” tanyaku.
Adrian tersenyum.
“Supaya kamu ingat…”
“Orang yang pernah dihargai hanya seharga sebuah baskom…”
Tetap pantas mendapatkan seluruh dunia.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak merasa miskin lagi.
Karena akhirnya…
Aku dicintai dengan benar.

Setahun kemudian, tepat pada hari ulang tahun pernikahanku yang pertama dengan Adrian, bel rumah kami berbunyi.
Saat membuka pintu, aku membeku.
Mama berdiri di sana.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Rambut yang dulu selalu diwarnai hitam kini hampir seluruhnya memutih.
Di sampingnya tidak ada Papa.
Tidak ada Clarissa.
Hanya sebuah koper tua dan sebuah amplop kuning yang sudah lusuh.
“Lianne…” suara Mama serak.
“Mama cuma minta lima menit.”
Aku terdiam.
Adrian menggenggam tanganku dengan lembut.
“Keputusan ada di tanganmu,” bisiknya.
Aku mempersilakan Mama masuk.
Beliau memandangi rumah kecil kami.
Tidak ada lampu kristal mewah.
Tidak ada furnitur mahal.
Tidak ada pembantu.
Namun di sudut ruang tamu tergantung foto pernikahanku dan Adrian.
Di atas meja makan, dua mangkuk mi masih mengepulkan uap hangat.
Dan di wajah kami…
Ada ketenangan.
Mama tiba-tiba menangis.
“Rumahmu kecil sekali…”
Aku tersenyum.
“Tapi cukup besar untuk kebahagiaan.”
Beliau menunduk.
“Ayahmu sudah meninggal.”
Gelas di tanganku terlepas dan jatuh ke lantai.
“Papa… meninggal?”
Mama mengangguk sambil menangis.
Setelah menjual hampir semua yang dimiliki demi mengembalikan uangku, Papa bekerja tanpa henti.
Ia menyembunyikan penyakit jantungnya dari semua orang.
Tiga bulan lalu, ia terkena serangan jantung.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia hanya mengatakan satu kalimat.
“Jangan bilang pada Lianne. Aku sudah tidak punya muka untuk menemuinya.”
Air mataku langsung jatuh.
Betapapun sakitnya masa lalu…
Dia tetap ayahku.
Mama lalu menyerahkan amplop kuning itu.
“Ayahmu berpesan, ini harus sampai ke tanganmu.”
Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Di dalamnya ada sebuah buku tabungan.
Saldo terakhir:
Rp1,1 miliar.
Aku menatap Mama dengan mata membesar.
Beliau menangis semakin keras.
“Selama setahun terakhir, Ayahmu bekerja sampai tubuhnya hancur…”
“Dia bilang, uang yang dikembalikan kepadamu adalah hutang.”
“Sedangkan uang ini…”
“Adalah hadiah pernikahan yang seharusnya sudah lama kami siapkan untukmu…”
Di tengah buku tabungan itu, ada sebuah surat tulisan tangan Papa.
Aku langsung mengenali tulisan itu.
“Lianne, anak Papa…
Kalau kamu membaca surat ini, mungkin Papa sudah tidak sempat lagi meminta maaf secara langsung.
Papa tahu, Papa adalah ayah yang buruk.
Papa diam ketika kamu diperlakukan tidak adil.
Papa melihat air matamu, tetapi memilih kedamaian semu di dalam rumah.
Papa pengecut.
Maafkan Papa.
Uang bisa dicari lagi.
Tetapi masa mudamu…
Malam-malam saat kamu menangis sendirian…
Jaket yang kamu pakai bertahun-tahun…
Rasa sakit pada gigimu yang kamu tahan demi menabung…
Papa tahu semuanya.
Dan itulah penyesalan terbesar Papa.
Kalau ada kehidupan berikutnya…
Papa ingin menjadi ayahmu sekali lagi.
Dan kali itu…
Papa berjanji akan berdiri di sisimu.
Hiduplah dengan bahagia, putri kecil Papa.
Jangan membawa kebencian sampai akhir hidupmu.
Papa mencintaimu.”
Aku tidak sanggup melanjutkan membaca.
Aku memeluk surat itu sambil menangis seperti anak kecil.
Adrian yang berdiri di sampingku juga tidak mampu menahan air matanya.
Mama tiba-tiba berlutut.
“Lianne…”
“Mama tahu Mama tidak pantas dimaafkan…”
“Tapi Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi…”
Aku memandang wanita yang pernah melukaiku paling dalam.
Ia telah menua.
Tangannya yang dulu kuat kini dipenuhi kerutan.
Dan untuk pertama kalinya…
Aku tidak melihat seorang ibu yang pilih kasih.
Aku hanya melihat seorang wanita tua yang telah kehilangan hampir segalanya.
Aku membantu Mama berdiri.
“Mama…”
“Aku memaafkan Mama.”
“Bukan karena Mama pantas mendapatkannya…”
“Tetapi karena aku tidak ingin hidupku dipenuhi kebencian.”
Mama langsung memelukku sambil menangis.
Di luar, matahari sore bersinar lembut.
Adrian diam-diam mengambil satu mangkuk lagi dan meletakkannya di meja makan.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Kalau terlalu lama menangis, mi kita keburu dingin.”
Di tengah air mata, kami bertiga tertawa pelan.
Dan saat itulah aku mengerti.
Ada luka yang tidak akan pernah hilang.
Tetapi memaafkan…
Bukan berarti melupakan.
Melainkan membebaskan hati kita agar bisa melangkah maju.
Karena pada akhirnya…
Rumah terindah bukanlah rumah yang bernilai miliaran rupiah.
Melainkan tempat di mana, setelah semua kesalahan dan penderitaan…
Masih ada seseorang yang menunggumu pulang…
Dan berkata dengan sederhana:
“Cepat makan, nanti makanannya dingin.”