Namun Satu Panggilan Darurat Setelah Itu Membuat Mobil Mereka Langsung Dihentikan di Pos Pemeriksaan…
Aku baru hamil dua bulan ketika keluarga tunanganku, Rizky Pratama, mengajakku menghadiri acara kumpul keluarga tahunan mereka di daerah Yogyakarta.
Sebelum berangkat, ibunya, Bu Ratna, menggenggam tanganku erat sambil tersenyum.
“Ana, sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami. Tahun ini semua saudara harus mengenalmu.”
Karena itulah, aku mengatur ulang jadwal kerjaku dan ikut dalam perjalanan panjang bersama mereka.
Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa dalam perjalanan itu, aku akan melihat wajah asli mereka.
Menjelang sore, kami berhenti di sebuah rest area besar di pinggir jalan tol.
Saat itulah telepon Bu Ratna berdering.
Ternyata paman mereka, Pak Surya, dan istrinya mengalami masalah dengan mobil mereka dan terjebak di jalan.
Semua orang mulai berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan.
Lalu Bu Ratna tiba-tiba berkata,
— Ana, mungkin kamu bisa menunggu di sini sebentar.
Aku menatapnya.
Dia masih tersenyum.
— Kami harus menjemput Pak Surya dan istrinya. Mereka sudah tua, tidak mungkin dibiarkan sendirian di jalan.
Aku mengerutkan dahi.
— Kalau begitu bagaimana dengan saya?
— Tunggu saja di sini. Nanti kami kembali menjemputmu.
Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar.
Matahari sudah hampir tenggelam.
Udara mulai dingin.
Dan aku sedang hamil.
Tetapi mereka ingin meninggalkanku sendirian?
Aku berusaha tetap tenang.
— Saya tidak mungkin menunggu berjam-jam di sini.
Senyum Bu Ratna langsung menghilang.
— Sebentar saja.
— Tempat tujuan kalian masih jauh. Kalau harus kembali lagi ke sini, pasti memakan waktu berjam-jam.
— Tapi paman Rizky sudah tua.
Aku melihat ke dalam mobil.
Ada tujuh orang dewasa yang sehat.
Dan hanya aku satu-satunya yang sedang hamil.
Tetapi justru aku yang ingin mereka tinggalkan.
Aku menoleh pada Rizky.
— Rizky, menurutmu bagaimana?
Dia terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
— Bersabarlah sedikit.
Seolah ada air dingin yang disiramkan ke kepalaku.
— Jadi kamu benar-benar ingin meninggalkanku sendirian di sini?
Dia menghela napas.
— Jangan dibesar-besarkan.
— Ini bukan masalah besar?
Wajahnya mengeras.
— Kamu bertingkah seolah-olah sedang dianiaya.
Aku tertawa pahit.
— Kalau ini bukan meninggalkan orang, lalu apa?
Suasana di dalam mobil langsung menjadi tegang.
Dari kursi belakang terdengar suara salah satu kerabatnya.
— Perempuan zaman sekarang terlalu dimanjakan.
— Belum menikah saja sudah ingin semuanya mengikuti kemauannya.
Semua mata tertuju padaku.
Seolah-olah akulah yang bersalah.
Seolah-olah akulah penyebab masalah.
Aku menarik napas panjang.
— Baiklah.
— Aku tidak butuh dunia kalian berputar di sekelilingku.
— Aku hanya ingin mengambil kembali milikku.
Mereka saling berpandangan.
Rizky mengerutkan kening.
— Maksudmu apa?
Dengan tenang aku mengeluarkan kunci dari tas.
Mobil yang mereka tumpangi selama ini adalah milikku.
Hadiah dari orang tuaku ketika aku mendapatkan pekerjaan tetap.
Mobil itu dipakai untuk liburan.
Dipakai untuk mengantar saudara.
Dipakai untuk berbagai acara keluarga.
Dan seiring waktu, mereka seolah lupa bahwa mobil itu bukan milik mereka.
Aku memandang Rizky.
— Kalau kalian ingin menjemput paman kalian, tidak masalah.
— Tapi turunlah dulu dari mobilku.
Semua orang langsung terdiam.
Bu Ratna berdiri.
— Apa yang kamu katakan?
Aku tersenyum tipis.
— Kalau kalian menganggapku orang luar…
— Maka kalian juga tidak berhak memakai mobilku.
Wajah Rizky berubah gelap.
Tiba-tiba dia merebut kunci dari tanganku.
— Jangan keterlaluan, Ana!
Belum sempat aku bereaksi, dia mendorongku dengan keras.
Aku terhuyung ke belakang.
Refleks, aku langsung memegang perutku.
Seluruh tubuhku menjadi dingin.
Pada saat itu, aku mengerti semuanya.
Pria di depanku bukan lagi laki-laki yang pernah berjanji akan melindungi aku dan anak kami.
Dia hanyalah seseorang yang selalu memilih keluarganya.
Sekalipun aku yang harus terluka.
Udara malam semakin dingin.
Aku berdiri diam memandangi mobil itu.
Rizky duduk di kursi pengemudi.
Ibunya membanting pintu.
Dan dari belakang aku mendengar bisikan pelan.
— Tidak tahu malu.
Lalu mereka pergi begitu saja.
Meninggalkanku sendirian di rest area yang gelap.
Sepuluh menit.
Tiga puluh menit.
Satu jam.
Aku menggigil di atas bangku besi yang dingin.
Rizky tidak menjawab teleponku.
Pesanku pun diabaikan.
Saat aku hampir putus asa, sebuah mobil hitam berhenti di depanku.
Seorang pria berseragam turun dan mendekat.
— Apakah Anda Ana Wijaya yang menghubungi layanan darurat?
Aku mengangguk.
Dia segera berbicara melalui radionya.
— Informasi telah dikonfirmasi.
— Kendaraan tersebut terdaftar atas nama korban.
— Hentikan kendaraan itu di pos pemeriksaan berikutnya.
Aku tertegun.
— Hentikan?
Dia menatapku.
— Bu, ada laporan bahwa kendaraan tersebut digunakan tanpa izin dari pemiliknya.
— Tim kami sudah melacak lokasinya.
Tiba-tiba radio di tangannya berbunyi.
— Kendaraan sudah ditemukan.
— Penumpangnya mulai panik.
— Kami membutuhkan bantuan tambahan.
Aku menggenggam ponselku erat.
Layar ponsel tiba-tiba menyala.
Nama Rizky muncul.
Begitu kuangkat, dia langsung berteriak.
— ANA!
— Apa yang sudah kamu lakukan?!
— Kami dihentikan petugas!
Lalu terdengar suara tegas dari seseorang di seberang sana.
— Seluruh penumpang harap turun dari kendaraan dan siapkan identitas masing-masing.
Dan setelah itu…
Sambungan telepon langsung terputus.
BAGIAN 2
Baca kelanjutan cerita di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk melihat bagian selanjutnya…👇

Suara di telepon terputus.
Aku memejamkan mata dan menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak menangis.
Aku hanya merasa lelah.
Lelah mempertahankan hubungan yang selama ini hanya ditopang oleh pengorbananku.
Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil polisi mengantarkanku ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa kondisi bayiku.
Syukurlah, dokter mengatakan bahwa janinku baik-baik saja.
Aku menangis saat mendengar detak jantung kecil itu.
Dan saat itulah aku mengambil keputusan.
Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di tengah keluarga yang menganggap ibunya tidak berharga.
Pukul dua dini hari, ponselku berdering tanpa henti.
Rizky.
Bu Ratna.
Saudara-saudaranya.
Bahkan sepupu-sepupunya.
Aku tidak menjawab satu pun.
Sampai akhirnya sebuah pesan suara masuk dari nomor Rizky.
Suaranya gemetar.
“Ana… tolong angkat teleponnya.”
“Petugas menyita mobilmu.”
“Ibu menangis.”
“Paman Surya pingsan karena tekanan darahnya naik.”
“Semua orang marah padaku.”
“Tolong… jelaskan kepada mereka bahwa ini hanya salah paham.”
Aku tertawa pelan.
Salah paham?
Meninggalkan wanita hamil sendirian di tengah malam bukanlah salah paham.
Merebut kunci mobil dan mendorongku hingga hampir terjatuh bukanlah salah paham.
Selama ini, mereka hanya mengira aku akan selalu memaafkan.
Dan malam itu, mereka akhirnya belajar bahwa kesabaran seseorang juga ada batasnya.
Keesokan paginya, ayah dan ibuku datang dari Jakarta setelah mendengar semuanya.
Begitu melihat wajahku yang pucat, ibuku langsung memelukku sambil menangis.
Ayahku yang biasanya tenang hanya berkata pelan:
“Kamu tidak akan kembali kepada mereka.”
Dan aku mengangguk.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak ingin mempertahankan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjagaku.
Dua hari kemudian, Rizky datang ke rumah orang tuaku.
Dia berlutut di depan pagar.
Matanya merah.
“Ana, aku salah.”
“Aku panik.”
“Aku tidak bermaksud mendorongmu.”
“Aku mohon, demi anak kita… maafkan aku.”
Tetapi sebelum aku sempat berbicara, ayahku melangkah maju.
Beliau menyerahkan sebuah amplop putih kepada Rizky.
“Apa ini, Pak?” tanya Rizky.
Ayahku menjawab dengan tenang.
“Surat pembatalan pertunangan.”
“Dan hasil pemeriksaan CCTV dari rest area.”
Wajah Rizky langsung pucat.
Di rekaman itu terlihat jelas bagaimana dia merebut kunci mobil, mendorongku, lalu meninggalkanku sendirian.
“Ana… aku bisa menjelaskan…”
“Kepada siapa?” tanyaku pelan.
“Kepadaku?”
“Atau kepada anak kita yang hampir kehilangan ibunya malam itu?”
Dia menangis.
Benar-benar menangis.
Tetapi anehnya…
Hatiku sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Tiga bulan kemudian.
Aku mengetahui bahwa keluarga Rizky harus menjual rumah mereka untuk membayar berbagai utang dan biaya yang menumpuk.
Saudara-saudara yang dulu paling banyak menghina justru saling menyalahkan.
Dan Bu Ratna, yang dulu selalu berkata bahwa aku akan segera menjadi bagian dari keluarga mereka, kini mendatangi rumahku hampir setiap minggu.
Dia menangis.
Dia memohon.
Dia berkata bahwa cucunya membutuhkan seorang ayah.
Tetapi aku hanya menjawab dengan tenang:
“Anakku memang membutuhkan kasih sayang.”
“Tapi dia tidak membutuhkan keluarga yang menganggap ibunya bisa ditinggalkan kapan saja.”
Tujuh bulan kemudian.
Seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Saat aku menggendongnya untuk pertama kali, air mataku jatuh.
Ibuku berdiri di sampingku.
Ayahku memegang tangan kecil cucunya dengan mata berkaca-kaca.
Dan aku menyadari sesuatu.
Keluarga sejati bukanlah orang yang menuntut kita berkorban tanpa batas.
Keluarga sejati adalah mereka yang tidak akan pernah meninggalkan kita saat kita paling membutuhkan mereka.
Pada hari itu, aku memberi nama putriku:
Harapan.
Karena setelah malam tergelap dalam hidupku…
Dialah alasan mengapa aku percaya bahwa kebahagiaan masih menunggu di depan.
Dan di luar ruang bersalin, seorang pria berdiri diam sambil menangis.
Rizky.
Tetapi ketika perawat bertanya apakah aku ingin menemuinya, aku hanya tersenyum pelan.
“Lukanya sudah sembuh.”
“Tapi beberapa pintu, sekali tertutup… tidak perlu dibuka lagi.”
Dan untuk pertama kalinya sejak malam aku ditinggalkan di rest area itu…
Aku benar-benar merasa bebas.
TAMAT.