Rania duduk di ruang tunggu sebuah klinik swasta mewah di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, tubuhnya gemetar dari ujung kepala hingga kaki.

Telapak tangannya basah oleh keringat, dan jantungnya berdegup begitu keras seolah akan melompat keluar dari dadanya kapan saja.

Ia baru saja membayar Rp850.000 untuk konsultasi darurat—uang yang hampir menghabiskan seluruh saldo tabungannya.

Namun ia tidak punya pilihan.

Ketakutan sudah menggerogoti dirinya selama berminggu-minggu, dan ia membutuhkan jawaban secepat mungkin.

Siklus haidnya terlambat cukup lama, dan hanya memikirkan kemungkinan dirinya hamil sudah membuat seluruh tubuhnya membeku.

Rania berasal dari keluarga konservatif dan terpandang di Yogyakarta.

Bagi keluarganya, kehormatan dan nama baik adalah segalanya.

Ayahnya, Pak Surya, adalah pria yang sangat keras dan menjunjung tinggi tradisi.

Jika ia tahu putri bungsunya hamil di luar nikah, mungkin ia akan menganggap Rania telah mempermalukan seluruh keluarga.

Melalui bantuan sahabatnya yang bekerja di bagian administrasi, Rania berhasil mendapatkan jadwal pemeriksaan mendadak.

Ketika perawat memanggil namanya, lututnya terasa lemas seperti kapas.

Dengan kepala yang pusing dan perut yang mual, ia melangkah masuk ke ruang konsultasi.

Dokter yang sedang membelakanginya mengenakan jas putih bersih dan masker yang menutupi sebagian wajahnya.

Pria itu sedang memegang berkas pasien.

“Silakan duduk. Keluhannya apa?”

Suara dingin dan profesional itu membuat napas Rania terhenti.

Dadanya sesak.

Suara itu…

Bahu lebar itu…

Bahkan aroma parfum bercampur aroma sabun yang begitu dikenalnya…

Adrian.

Mantan kekasihnya.

Pria yang telah menemaninya selama tiga tahun…

Dan pria yang ia hancurkan harga dirinya satu bulan lalu.

Ketika dokter itu berbalik, mata mereka bertemu.

Adrian tampak terkejut sesaat.

Namun hanya sesaat.

Ekspresi dingin yang dulu selalu membuat Rania kesal langsung kembali menghiasi wajahnya.

“Dok… haid saya telat,” ucap Rania pelan, berharap lantai bisa menelannya hidup-hidup.

“Kapan hari pertama menstruasi terakhir?”

Adrian mengetik sesuatu di komputer tanpa menatapnya.

“Mungkin tanggal 18 Agustus… saya nggak terlalu ingat.”

Tangannya berhenti mengetik.

“18 Agustus?”

Tatapan Adrian berubah tajam.

“Yakin?”

“Atau tanggal 16. Saya nggak pernah nyatet hal beginian.”

Rania berusaha tersenyum.

“Mungkin cuma stres. Kasih obat pelancar aja, nanti juga normal lagi.”

Adrian mengerutkan dahi.

“Banyak penyebab terlambat haid, Rania.”

“Dan salah satu yang paling umum…”

“Kehamilan.”

Seolah dunia berhenti berputar.

“Hah? Adrian, masa sih? Aku nggak muntah-muntah. Malah makanku banyak banget!”

Nada suaranya meninggi karena panik.

“Kamu akan tes darah dan USG.”

“Perawat akan kasih formulir. Setelah itu kembali ke sini.”

“Dok, nggak usah segitunya. Kasih obat aja.”

Adrian tidak menjawab.

Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang sama seperti dulu.

Tatapan yang mengatakan:

Aku dokter di sini.

Dan akhirnya, Rania tidak punya pilihan selain menurut.


Setelah tes darah selesai, ia duduk sendirian di ruang tunggu.

Dari kejauhan, ia melihat beberapa perawat perempuan tertawa kecil saat berbicara dengan Adrian.

Dan tanpa sadar, pikirannya kembali pada malam perpisahan mereka.

Adrian selalu sibuk.

Selalu bertugas.

Selalu mendahulukan pasien daripada dirinya.

Dan dalam kemarahan yang memuncak, Rania telah melukai harga diri Adrian dengan kata-kata paling kejam.

“Ada pria lain yang bisa membuat wanita bahagia selama berjam-jam!”

“Kamu?”

“Lima menit saja belum tentu cukup!”

Wajah Adrian langsung pucat.

Ia tidak membantah.

Tidak marah.

Ia hanya pergi.

Dan sejak malam itu, ia memblokir seluruh kontak Rania.

Tidak pernah kembali.


Lamunannya buyar ketika seorang perawat menghampiri sambil menyerahkan amplop putih.

“Hormon kehamilannya tinggi banget, Mbak.”

“Selamat ya.”

“Hasilnya positif.”

Dunia Rania runtuh.

Yang terbayang di kepalanya adalah wajah ayahnya yang marah.

Ibunya yang menangis.

Bisik-bisik tetangga.

Rasa malu yang akan menjadi bahan pembicaraan seluruh keluarga besar.

Dengan tangan gemetar, ia kembali ke ruang konsultasi.

Ia menutup pintu perlahan.

Adrian masih duduk di mejanya.

Rania berdiri di hadapannya.

“Aku… hamil…”

Suara itu begitu pelan, nyaris tak terdengar.

Adrian hanya menjawab singkat.

“Hmm.”

Namun detik berikutnya—

Stetoskop di tangannya terjatuh ke lantai dengan suara keras.

Rania menggigit bibirnya.

“Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab…”

“Tidak apa-apa.”

“Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri…”

“Aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi…”

Namun sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya—

Adrian tiba-tiba berdiri.

Dan tindakan yang ia lakukan setelah itu…

akan mengubah seluruh hidup mereka berdua.

Karena bahkan Rania sendiri…

belum pernah melihat Adrian kehilangan kendali seperti itu sebelumnya.

“Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri…”

“Aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi…”

Namun sebelum Rania sempat menyelesaikan kalimatnya, Adrian tiba-tiba berdiri.

“Kamu bilang apa?”

Matanya yang selalu tenang kini dipenuhi kepanikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Aku bilang… kalau kamu tidak ingin bertanggung jawab—”

“Siapa bilang aku tidak mau bertanggung jawab?”

Suara Adrian meninggi untuk pertama kalinya selama mereka saling mengenal.

Bahkan dirinya sendiri tampak terkejut.

Rania membeku.

Air matanya mulai menggenang.

“Tapi… aku sudah menghancurkan harga dirimu…”

“Aku bilang hal yang paling kejam…”

“Aku mempermalukanmu…”

Adrian tertawa kecil.

Namun matanya memerah.

“Rania…”

“Kamu pikir aku memblokirmu karena aku membencimu?”

“Aku memblokirmu karena setiap kali melihat namamu, aku ingin kembali.”

“Aku marah.”

“Aku terluka.”

“Tapi aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”

Kalimat itu langsung membuat air mata Rania jatuh.

Selama sebulan terakhir, ia hidup dalam penyesalan.

Setiap malam, ia ingin meminta maaf.

Tetapi gengsinya terlalu besar.

Dan sekarang…

Ia sedang mengandung anak dari pria yang paling ia sesali telah ia sakiti.


Malam itu, Adrian mengantarnya pulang.

Namun ketika mereka sampai di rumah, sesuatu yang paling ditakutkan Rania terjadi.

Ayahnya, Pak Surya, sedang berdiri di depan pintu.

Dan di tangannya…

ada hasil pemeriksaan kehamilan yang tanpa sengaja tertinggal di dalam tas Rania.

“RANIA!”

Suara keras itu membuat seluruh rumah bergetar.

Ibunya keluar sambil menangis.

“Apa ini?”

“Kamu hamil?!”

Pak Surya mengangkat tangannya, siap menampar putrinya.

Tetapi sebuah tangan langsung menahan pergelangan tangannya.

Itu Adrian.

Dengan wajah dingin, ia berdiri di depan Rania.

“Jangan sentuh dia.”

Pak Surya terkejut.

“Dokter Adrian?”

Adrian menatapnya lurus.

“Anak itu adalah anak saya.”

“Dan Rania adalah wanita yang akan saya nikahi.”


Sebulan kemudian, keluarga mereka mengadakan pertunangan sederhana.

Namun justru pada saat itulah Rania mengetahui sesuatu yang membuatnya menangis semalaman.

Sahabat Adrian diam-diam menunjukkan sebuah kotak kecil yang selama ini disimpan Adrian.

Di dalamnya terdapat cincin pertunangan.

Dan sebuah kuitansi yang tanggalnya…

dua minggu sebelum mereka putus.

Rania menatap sahabat Adrian dengan mata merah.

“Ini…”

Pria itu tersenyum pahit.

“Dia sudah memesan cincin itu sejak lama.”

“Waktu itu Adrian bahkan sudah menyiapkan uang muka rumah dan sedang memilih tanggal untuk melamarmu.”

“Dia ingin memberimu kejutan.”

“Sayangnya…”

“Kalian keburu bertengkar.”

Dunia Rania runtuh.

Jadi selama ini…

Saat ia sedang meragukan cinta Adrian…

Pria itu justru sedang mempersiapkan masa depan mereka.

Malam itu, Rania menangis di pelukan Adrian.

“Aku jahat…”

“Aku sudah menghancurkan hati kamu…”

Adrian mengusap rambutnya pelan.

“Kita sama-sama salah.”

“Yang penting, kita masih punya waktu untuk memperbaikinya.”


Enam bulan kemudian, saat usia kandungan Rania memasuki bulan ketujuh, ia mengalami pendarahan mendadak.

Adrian yang sedang melakukan operasi langsung menyerahkan pasien kepada rekannya dan berlari keluar dari ruang operasi.

Untuk pertama kalinya dalam kariernya, dokter yang dikenal paling tenang itu gemetar.

Sepanjang perjalanan menuju IGD, ia terus memegang tangan Rania.

“Jangan tidur.”

“Lihat aku.”

“Kalau kamu marah, kalau kamu benci aku, kalau kamu ingin memarahiku seumur hidup, lakukan saja…”

“Asal jangan tinggalkan aku…”

Air mata Adrian jatuh satu demi satu.

Perawat-perawat yang mengenalnya hanya bisa terdiam.

Karena mereka belum pernah melihat dokter Adrian menangis.

Untungnya…

Ibu dan bayinya berhasil diselamatkan.

Dan ketika mendengar tangisan putri kecil mereka untuk pertama kalinya…

Adrian berlutut di samping tempat tidur.

Tangannya gemetar saat mencium dahi Rania.

“Terima kasih…”

“Terima kasih sudah kembali padaku…”


Tiga tahun kemudian.

Rania sedang memasak di dapur ketika putri kecil mereka berlari sambil tertawa.

“Papa pulang!”

Adrian yang baru selesai bertugas langsung mengangkat putrinya.

Namun sebelum masuk, ia selalu melakukan hal yang sama.

Mencium kening istrinya.

Dan berbisik pelan:

“Aku pulang.”

Suatu malam, saat putri mereka sudah tertidur, Rania bertanya sambil tersenyum:

“Kalau waktu itu aku tidak hamil…”

“Kalau aku tidak datang ke klinikmu…”

“Apakah kita akan benar-benar berpisah selamanya?”

Adrian terdiam lama.

Kemudian ia memeluknya erat.

“Tidak tahu.”

“Mungkin ya.”

“Mungkin tidak.”

“Tapi ada satu hal yang aku tahu.”

Ia menatap wanita yang masih dicintainya seperti tiga tahun lalu.

“Dalam hidup ini, aku bisa kehilangan harga diri.”

“Aku bisa kehilangan tidur.”

“Aku bisa kehilangan uang dan karier.”

“Tapi…”

“Aku tidak pernah siap kehilangan kamu.”

Rania tersenyum sambil menahan air mata.

Dan akhirnya ia mengerti.

Cinta sejati bukanlah hubungan yang tidak pernah terluka.

Melainkan dua orang…

yang setelah saling menyakiti…

masih memilih untuk saling kembali.

Karena di dunia ini, ada banyak orang yang saling jatuh cinta.

Tetapi tidak semua orang…

diberi kesempatan kedua.