Namun aku tidak pernah menyangka bahwa proyek pertama yang kuterima setelah kembali adalah pernikahan megah milik Leonard Wijaya—pewaris paling terkenal di kalangan elite Indonesia.
Asistenku hampir berteriak kegirangan sambil memeluk map kontrak tebal senilai Rp250 miliar.
“Mbak Alina, Mbak kenal calon pengantin prianya? Katanya dia romantis banget!”
Dia mendekat sambil berbisik.
“Semua media hiburan lagi bahas mereka. Katanya selama enam tahun dia menunggu tunangannya yang kuliah di New York. Begitu ceweknya pulang, dia langsung menyewa seluruh resort mewah di Bali buat pernikahan mereka.”
Aku menunduk dan tanpa sadar menyentuh cincin yang masih kusimpan di saku mantelku.
“Hmm… sepertinya memang benar.”
Dan tiba-tiba aku teringat malam ketika Kevin memutuskan hubungan kami.
Makanan yang kumasak masih hangat di atas meja.
Meski demam seharian, aku tetap membuat rendang kesukaannya.
Hujan turun deras di luar apartemen kami di Jakarta.
Belum sempat aku menyalakan lilin, ia sudah meletakkan sebuah amplop kuning di depanku.
“Kita akhiri saja.”
Aku membeku.
“Maksudmu?”
Dengan tenang ia melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas meja.
“Nadine sudah kembali.”
“Dan baru sekarang aku sadar… wanita yang aku cintai bukan kamu.”
Tanganku menggenggam erat hasil tes kehamilan yang kusimpan di dalam tas.
“Kalau begitu…”
“Bagaimana dengan bayi kita?”
Kevin terdiam beberapa detik.
Dan jawaban dinginnya menghancurkan seluruh duniaku.
“Kalau kamu ingin mempertahankannya, terserah.”
“Aku tetap akan memberi nafkah.”
Di luar, hujan semakin deras.
Dan di dalam apartemen itu…
Hatiku perlahan hancur menjadi ribuan keping.
“Mbak Alina? Mbak baik-baik saja?”
Suara asistanku membuyarkan lamunanku.
Aku berkedip dan mengembalikan map kontrak kepadanya.
“Aku tidak bisa menerima proyek ini.”
“Apa?!”
Matanya langsung membesar.
“Itu proyek terbesar kita tahun ini!”
“Uang mukanya saja cukup buat beli penthouse di SCBD!”
Aku hanya memandang lampu-lampu kota di balik jendela.
“Aku tidak sanggup.”
Bukan karena aku tidak mau.
Melainkan karena…
Leonard Wijaya…
Adalah kakak tiri Kevin.
Tiga tahun lalu, sebelum aku mengetahui identitas asli Kevin, ia pernah memperingatkanku.
“Kalau suatu hari kamu bertemu keluargaku…”
“Jangan pernah bilang pekerjaanmu.”
“Bahkan kepada Kak Leonard.”
Saat itu aku mengira ia hanya malu karena aku bekerja sebagai wedding planner.
Namun setelah ia meninggalkanku…
Barulah aku mengerti.
Bukan aku yang membuatnya rendah diri.
Melainkan Leonard.
Pewaris sempurna yang dipuja seluruh kalangan elite Indonesia.
Seminggu kemudian, aku pikir aku sudah siap memulai hidup baru.
Sampai malam itu.
Aku baru saja keluar dari ruang rapat ketika seorang rekan pria yang membawa miniatur panggung besar tidak sengaja menabrakku.
Tubuhku hampir terjatuh.
Dan refleks, ia memegang pinggangku untuk menahan tubuhku.
Tepat saat itu…
Pintu lift terbuka.
Di sana berdiri Kevin.
Bersama Nadine yang memeluk erat lengannya sambil mengenakan gaun putih mahal.
Wajah Kevin langsung berubah gelap.
Nadine hanya tersenyum tipis.
“Cepat sekali kamu move on.”
Aku pikir aku sudah tidak akan merasa sakit lagi.
Ternyata aku salah.
Sebelum sempat menjawab, Kevin langsung menarik pergelangan tanganku.
“Ikut aku.”
Dia membawaku ke ruang penyimpanan dan langsung menutup pintu.
Aku mundur hingga punggungku menempel pada rak bunga pernikahan.
Aroma parfumnya yang begitu familiar langsung memenuhi udara.
Tatapannya dingin.
“Kamu melakukan ini untuk membuatku cemburu?”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Baru putus seminggu dan kamu sudah dipeluk pria lain.”
Senyum pahit muncul di wajahnya.
“Kamu ingin menyakitiku?”
Dadaku terasa sesak.
Lucu sekali.
Dia yang meninggalkanku lebih dulu.
Tetapi sekarang…
Seolah aku yang bersalah.
Aku menepis tangannya.
“Kevin…”
“Kamu yang pertama kali menyakitiku.”
Ekspresinya langsung membeku.
“Aku tidak pernah mengkhianatimu.”
Aku tertawa pahit.
“Benar.”
“Kamu hanya langsung meninggalkanku begitu mantanmu kembali.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak perpisahan kami…
Aku melihat keraguan di matanya.
Namun sebelum ia sempat berbicara…
Ponselnya berbunyi.
Aku langsung melihat nama yang muncul di layar.
“Kak Leonard.”
Kevin segera mengangkat telepon.
“Halo?”
Perlahan wajahnya berubah.
“Apa maksudmu?”
Suara Leonard terdengar dingin dari seberang telepon.
“Bawa Alina ke hotel sekarang.”
Kevin mengerutkan dahi.
“Kenapa?”
Beberapa detik berlalu.
Lalu Leonard mengucapkan kalimat yang membuat jantungku berhenti berdetak.
“Tunanganku hilang.”
“Dan menurut rekaman CCTV…”
“Alina adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya sebelum dia menghilang.”
Bersambung…

Aku langsung membeku.
Kevin pun menatapku dengan tajam.
“Alina…”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Sebelum aku sempat menjawab, telepon di tangan Kevin sudah berpindah ke mode video.
Wajah Leonard muncul di layar.
Tatapannya dingin dan penuh kekhawatiran.
Namun saat melihatku berdiri di samping Kevin, pria itu justru tampak terkejut.
“Jadi benar…”
“Orang terakhir yang bersama Bianca adalah kamu.”
Aku mengerutkan dahi.
“Bianca?”
Leonard mengangguk.
“Tunanganku.”
“Dia menghilang tiga jam yang lalu.”
“Tapi CCTV menunjukkan kalian berdua sedang berbicara di lobi hotel.”
Barulah aku teringat.
Memang ada seorang wanita cantik yang tiba-tiba menghampiriku sore tadi.
Dia bahkan tahu namaku.
Saat itu aku mengira dia salah orang.
Namun sebelum pergi, wanita itu hanya tersenyum.
“Kalau suatu hari nanti aku menghilang…”
“Tolong jangan salahkan dirimu.”
Saat itu aku menganggap perkataannya aneh.
Dan sekarang…
Tubuhku mulai dingin.
Ketika kami sampai di hotel, suasana sudah kacau.
Seluruh keluarga Wijaya hadir.
Media bahkan sudah mulai berkumpul.
Dan begitu melihatku masuk, seorang wanita paruh baya langsung menamparku.
Plak!
“Kamu!”
“Pelakor murahan!”
“Kamu pasti cemburu karena Leonard akan menikah!”
“Apa yang kamu lakukan pada Bianca?!”
Itu adalah ibu Kevin.
Dan juga ibu tiri Leonard.
Aku hampir terjatuh.
Namun sebuah tangan besar langsung menahanku.
Leonard.
Untuk pertama kalinya kami bertemu.
Dan hal pertama yang dia lakukan…
Adalah berdiri di depanku.
“Jangan sentuh dia.”
Suara pria itu tenang.
Namun cukup membuat seluruh ruangan terdiam.
“Ibu.”
“Belum ada bukti apa pun.”
Tatapan ibu Kevin berubah.
“Leonard!”
“Kamu membela perempuan asing ini?”
Namun Leonard hanya menjawab singkat.
“Aku membela kebenaran.”
Empat jam kemudian…
Seseorang akhirnya ditemukan.
Bianca.
Dia ternyata berada di sebuah vila pribadi milik keluarganya.
Dan ketika semua orang mengira ia diculik…
Wanita itu justru muncul sambil tersenyum tenang.
“Aku baik-baik saja.”
Semua orang terkejut.
Termasuk Leonard.
“Bianca…”
“Mengapa?”
Wanita itu tersenyum pahit.
“Karena aku tidak sanggup lagi.”
“Leonard…”
“Aku tidak pernah mencintaimu.”
Ruangan itu langsung hening.
Bianca menundukkan kepala.
“Selama enam tahun di New York…”
“Aku sudah jatuh cinta pada orang lain.”
“Aku kembali hanya karena tidak sanggup mengecewakan keluarga.”
“Tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
Air mata jatuh dari matanya.
“Maaf…”
Dan tepat di depan semua orang…
Ia melepaskan cincin pertunangannya.
Sebulan kemudian.
Berita pembatalan pernikahan keluarga Wijaya menggemparkan seluruh Indonesia.
Dan aku pun berpikir bahwa hubunganku dengan keluarga itu akan berakhir.
Sampai suatu hari…
Asistanku berlari masuk ke kantorku.
“Mbak Alina!”
“Pak Leonard datang!”
Aku hampir tersedak kopi.
Dan benar saja.
Pewaris nomor satu keluarga Wijaya itu sedang berdiri di ruang tamu.
Dengan setelan hitam sederhana.
Dan…
Dengan sebuah map kontrak baru di tangannya.
“Aku ingin memakai jasamu.”
Aku menghela napas lega.
“Oh, acara perusahaan?”
Leonard menggeleng.
“Bukan.”
“Pernikahanku.”
Aku membeku.
“Bukankah pertunanganmu sudah—”
“Kali ini…”
Tatapannya yang dalam tertuju langsung padaku.
“Aku ingin mempersiapkan pernikahan dengan calon pengantin yang berbeda.”
Jantungku hampir berhenti.
“Pak Leonard…”
Pria itu tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya…
Pewaris paling sempurna di kalangan elite Indonesia itu terlihat gugup.
“Alina…”
“Aku tahu ini terdengar gila.”
“Tapi sejak hari Bianca memperkenalkanmu di hotel…”
“Aku tidak bisa melupakanmu.”
“Dan setelah aku mengetahui semuanya…”
“Bahwa kamu membesarkan anak sendirian…”
“Bahwa kamu ditinggalkan saat sedang hamil…”
“Bahwa selama ini kamu tetap bertahan…”
“Aku semakin tidak bisa berhenti memikirkanmu.”
Di belakang pintu kantor…
Kevin yang datang untuk mencari ibunya tanpa sengaja mendengar semuanya.
Wajahnya seketika pucat.
“Anak?”
Matanya membesar.
“Hamil?”
Ia menerobos masuk.
Dan ketika melihat hasil USG yang terjatuh dari map di atas meja…
Tubuhnya langsung gemetar.
“Alina…”
“Saat itu…”
“Kamu sedang mengandung anakku?”
Air matanya jatuh.
“Kenapa…”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Aku tersenyum pahit.
“Aku sudah bilang.”
“Tapi waktu itu…”
“Kamu berkata…”
‘Kalau kamu ingin mempertahankannya, terserah.’
“Dan kamu bilang…”
‘Aku akan memberi nafkah.’
Setiap kata itu…
Menusuk hati Kevin seperti pisau.
Pria itu berlutut.
Menangis seperti orang yang kehilangan segalanya.
“Aku salah…”
“Aku benar-benar salah…”
“Aku kehilangan kalian…”
Tangisnya pecah.
Namun Leonard hanya berdiri tenang.
Lalu perlahan…
Ia menarikku ke belakangnya.
Sama seperti malam ketika ibunya menamparku.
“Kevin.”
Suara Leonard rendah dan tegas.
“Orang yang tidak tahu menghargai…”
Tidak berhak meminta kesempatan kedua.”
Dua tahun kemudian.
Aku tidak pernah menikah dengan Leonard.
Karena ia berkata,
“Aku sudah menunggumu selama dua tahun.”
“Aku bisa menunggu dua puluh tahun lagi.”
Dan pada suatu sore yang hangat di Bali…
Putriku yang berusia tiga tahun berlari sambil tertawa.
“Papa Leo!”
Leonard langsung mengangkatnya tinggi-tinggi.
Dan gadis kecil itu tertawa riang.
Di kejauhan…
Aku melihat Kevin berdiri sendirian.
Ia datang setiap ulang tahun putrinya.
Tidak pernah memaksa.
Tidak pernah mengganggu.
Hanya diam-diam melihat dari jauh.
Karena ia akhirnya mengerti.
Dalam hidup ini…
Penyesalan yang paling menyakitkan…
Bukanlah kehilangan orang yang kita cintai.
Melainkan menyadari…
Bahwa ketika orang itu paling membutuhkan kita…
Kitalah yang memilih untuk melepaskan tangannya.
Dan ada beberapa cinta…
Yang ketika sudah dilepaskan…
Tidak akan pernah bisa diraih kembali.