“Bu, kartu ini terhubung dengan rekening tabungan dengan saldo saat ini sebesar Rp12.500.000.000. Apakah Ibu yakin ingin melaporkan kartu ini hilang?”
Suara ketikan teller berhenti.
Aku yang sedang membungkuk mencari KTP di dalam tas langsung membeku.
Namaku Rina Prasetyo, tiga puluh dua tahun.
Aku tinggal di kamar loteng sebuah rumah kontrakan tua di Jakarta Timur, membesarkan putriku yang berusia lima tahun, Maya, seorang diri.
Pagi hari aku bekerja sebagai pembantu dapur di restoran cepat saji.
Malam hari aku membersihkan kantor-kantor.
Saat akhir pekan, aku bahkan membantu mengangkat barang di Pasar Tanah Abang.
Tiga pekerjaan.
Semuanya hanya untuk bertahan hidup.
Kartu ATM tua itu aku temukan secara tidak sengaja tiga hari sebelumnya.
Maya akan masuk TK tahun depan, dan biaya sekolah naik Rp250.000.
Karena itu, aku harus menghemat setiap rupiah.
Siang itu, aku sedang membongkar lemari untuk mencari pakaian lama yang bisa dijual ke toko barang bekas.
Di bagian paling bawah, aku menemukan sebuah jaket pria berwarna abu-abu yang sudah penuh debu.
Jaket itu milik Arman Wijaya.
Lima tahun lalu, ketika aku pindah rumah, aku mengemas barang dengan tergesa-gesa dan entah bagaimana jaket itu ikut terbawa.
Aku tidak pernah membuangnya.
Bukan karena masih mencintainya.
Aku hanya benar-benar lupa kalau benda itu masih ada.
Saat aku mengibaskan debunya, tanganku menyentuh sesuatu yang keras di dalam saku.
Ternyata sebuah kartu ATM lama.
Permukaannya sudah penuh goresan dan logo banknya hampir tidak terlihat.
Ketika kubalik, ada sebuah nama yang ditulis dengan spidol permanen.
Bukan nama Arman.
Melainkan namaku sendiri.
Rina Prasetyo.
Tulisan tangan itu milik Arman.
Aku menatapnya cukup lama.
Aku tidak pernah ingat membuka rekening seperti itu.
Selama kami masih menikah, semua keuangan dipegang oleh Arman.
Dia selalu berkata bahwa bisnisnya rumit dan aku tidak perlu ikut campur.
Dan aku memang tidak pernah ikut campur.
Aku memasukkan kartu itu ke dompet tanpa terlalu memikirkannya.
Kupikir mungkin isinya hanya beberapa ratus ribu rupiah.
Aku bahkan berniat menutup rekening itu saat sempat pergi ke bank.
Namun pagi ini, setelah mengantar Maya ke sekolah, aku mampir ke bank.
Dan di sanalah aku mendengar angka itu.
Dua belas miliar lima ratus juta rupiah.
Teller dan manajer bank memandangku sambil menunggu jawabanku.
Mulutku terbuka.
Tenggorokanku terasa kering.
Tanganku yang kasar dan penuh bekas luka akibat bertahun-tahun mencuci piring tanpa sadar saling menggosok.
“Bu?”
“Apakah Ibu tetap ingin melaporkan kartu ini hilang?”
“Tidak,” jawabku pelan.
“Bisakah Anda memeriksa kapan setoran terakhir dilakukan?”
Manajer bank mengetik beberapa saat.
“Setoran terakhir dilakukan lima tahun yang lalu.”
“Tepat pada tanggal 17 Oktober.”
17 Oktober.
Tanggal aku menandatangani surat perceraian dengan Arman adalah 20 Oktober tahun itu.
Artinya…
Tiga hari sebelum aku menandatangani perceraian…
Seseorang memasukkan uang ke rekening ini.
“Berapa jumlah setoran terakhir?”
“Untuk melihat rincian lengkap, Ibu perlu mencetak rekening koran di layanan VIP.”
Aku menyerahkan KTP-ku.
Beberapa menit kemudian, selembar kertas A4 keluar dari printer.
Aku melihat daftar transaksi yang panjang.
Setoran demi setoran.
Selama tujuh tahun.
Yang terkecil Rp3 juta.
Yang terbesar hampir Rp1,5 miliar.
Dan pada tanggal 17 Oktober…
Setoran terakhir sebesar Rp920 juta.
Aku melipat kertas itu.
Melipatnya sekali lagi.
Lalu menyimpannya dalam-dalam ke saku celana.
“Apakah ada lagi yang bisa kami bantu, Bu?”
“Tidak.”
“Terima kasih.”
Aku keluar dari bank.
Sinar matahari terasa begitu menyilaukan hingga aku hampir tidak bisa membuka mata.
Orang-orang masih berlalu-lalang seperti biasa.
Semuanya tampak normal.
Tetapi di tanganku ada sebuah kartu ATM rusak.
Dan di sakuku ada bukti yang menghancurkan seluruh hidupku.
Lima tahun lalu…
Arman berlutut di hadapanku sambil menangis.
Dia mengatakan perusahaannya bangkrut.
Dia terlilit utang.
Para penagih akan segera menyita rumah.
Satu-satunya cara untuk melindungiku dan Maya adalah dengan bercerai dan memisahkan harta.
Ibunya, Bu Ratna Wijaya, juga menangis sambil menggenggam tanganku.
“Rina…”
“Tolong bantu Arman.”
“Kalau dia sudah bangkit lagi, dia pasti akan menjemput kalian.”
Aku percaya.
Aku menandatangani surat perceraian.
Tidak mengambil rumah.
Tidak mengambil mobil.
Bahkan tidak mengambil satu rupiah pun.
Aku pergi hanya dengan membawa Maya yang masih bayi dan beberapa kantong pakaian.
Kami pindah ke sebuah kamar kontrakan kecil di Jakarta Timur.
Maya menangis setiap malam.
Aku bekerja siang dan malam.
Kadang aku harus meminjam uang dari ibuku hanya untuk membeli susu.
Dan baru kemudian aku tahu…
Tiga hari setelah perceraian kami…
Arman sudah pindah dan tinggal bersama wanita lain.
Namanya…
Clara Santoso.
Selama lima tahun.
Lebih dari seribu delapan ratus hari.
Tanganku dipenuhi luka karena pisau dapur.
Jam tiga pagi di musim hujan aku sudah harus bangun untuk membantu mengangkat barang di pasar.
Saat Maya demam empat puluh derajat, aku menggendongnya ke IGD sambil menghitung uang receh di saku.
Setiap rupiah…
Aku hitung.
Setiap hari…
Aku bertahan.
Dan pria yang menangis sambil berlutut di hadapanku lima tahun lalu…
Pria yang mengaku tidak memiliki apa-apa…
Ternyata telah menabung lebih dari Rp12,5 miliar atas namaku.
Dia tidak pernah bangkrut.
Dia menggunakan namaku untuk membuka rekening.
Dan diam-diam menyimpan uang di sana selama bertahun-tahun.
Bahkan tiga hari sebelum memaksaku pergi tanpa membawa apa pun…
Dia masih sempat memasukkan hampir satu miliar rupiah lagi.
Rekening itu seperti brankas.
Atas namaku.
Tetapi kuncinya berada di tangannya.
Dan dia tidak pernah menyangka…
Bahwa kartu ATM itu akan tertinggal di saku jaket tua yang tanpa sengaja kubawa pergi.
Aku melihat jam di ponselku.
Pukul sepuluh tiga puluh.
Pukul sebelas tiga puluh Maya pulang sekolah.
Pukul satu siang aku harus masuk kerja.
Pukul enam sore selesai.
Pukul tujuh tiga puluh malam mulai membersihkan kantor.
Dan pukul sebelas malam baru bisa pulang.
Jadwalku hari ini…
Sama seperti kemarin.
Sama seperti minggu lalu.
Dan sama seperti setiap hari selama lima tahun terakhir.
Tetapi…
Mulai hari ini.
Semuanya akan berubah.
Aku menyimpan kartu ATM itu di bagian terdalam dompetku.
Lalu menutupnya rapat-rapat.
Arman Wijaya…
Seluruh utang yang kau tinggalkan padaku…
Akan kupikirkan baik-baik…
Bagaimana cara membuatmu membayarnya.
Ketika aku tiba di depan TK Maya, matahari Jakarta terasa sangat terik.
Aku berdiri di dekat pagar sekolah menunggu jam pulang.
Saat itulah sebuah sedan hitam berhenti di seberang jalan.
Pintu mobil terbuka.
Seorang wanita dengan gaun bunga turun dengan anggun.
Darahku langsung mendidih.
Itu adalah…
Clara Santoso.
Wanita yang merebut suamiku lima tahun lalu.
Wanita yang selama ini hanya kudengar namanya.
Dan sekarang…
Dia berdiri tepat di depanku.

Namun, ketika Clara Santoso melihatku, wajahnya langsung berubah pucat.
Dia tidak menunjukkan ekspresi menang seperti yang kubayangkan selama lima tahun.
Sebaliknya, matanya dipenuhi rasa takut.
Dan sebelum aku sempat berbicara, dia justru berjalan cepat ke arahku.
“Rina…”
Suaranya bergetar.
“Aku sudah mencarimu selama lima tahun.”
Aku membeku.
Mencariku?
Belum sempat aku bertanya, pintu belakang mobil terbuka.
Seorang pria turun perlahan.
Tubuhnya kurus.
Wajahnya jauh lebih tua dari lima tahun lalu.
Rambutnya bahkan sudah dipenuhi uban.
Dan ketika aku melihat wajah itu, seluruh tubuhku gemetar.
Arman.
Mantan suamiku.
Pria yang paling kubenci.
Pria yang membuatku dan Maya hidup dalam penderitaan selama lima tahun.
Namun, saat melihatku, matanya langsung memerah.
Bibirnya bergetar.
Dan detik berikutnya…
Dia berlutut.
Di depan gerbang TK.
Di depan semua orang.
“Maafkan aku…”
Suara Arman pecah.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf.”
“Tapi selama lima tahun ini…”
“Aku hidup lebih buruk daripada orang mati.”
Aku menatapnya dingin.
“Buruk?”
“Apakah hidup bersama selingkuhanmu sangat menyedihkan?”
Arman langsung menggeleng.
Air matanya jatuh.
“Clara bukan selingkuhanku.”
Aku tertawa dingin.
“Lalu apa?”
Clara sendiri yang menjawab.
“Aku adik tirinya.”
“Ayah kami sama.”
Duniaku seperti berhenti berputar.
“Apa?”
Clara menangis.
“Dulu perusahaan keluarga kami benar-benar hampir bangkrut.”
“Paman-paman kami berusaha merebut seluruh aset.”
“Kalau mereka tahu Kak Arman masih memiliki istri dan anak, kalian akan dijadikan sandera untuk memaksanya menyerahkan saham perusahaan.”
“Karena itu…”
“Satu-satunya cara melindungimu adalah membuat semua orang percaya bahwa kalian sudah tidak memiliki hubungan.”
Tubuhku membeku.
“Kalau begitu… uang ini?”
Arman mengeluarkan sebuah buku catatan yang sudah lusuh.
“Semuanya milikmu.”
“Aku membuka rekening itu atas namamu.”
“Awalnya aku ingin memberikannya saat semuanya selesai.”
“Tapi aku takut…”
“Kalau sesuatu terjadi padaku, setidaknya kamu dan Maya masih bisa hidup.”
“Karena itu aku terus menabung.”
“Dan kartu ATM itu…”
“Aku pikir sudah hilang.”
“Aku mencarinya selama lima tahun.”
Tanganku mulai gemetar.
“Tapi kenapa?”
“Kenapa tidak memberitahuku?”
Arman tersenyum pahit.
“Karena aku terlalu bodoh.”
“Aku berpikir selama kalian aman, tidak masalah kalau aku dibenci.”
“Aku pikir setelah semuanya selesai, aku bisa menjelaskan.”
“Tapi ternyata…”
“Lima tahun berlalu.”
“Dan aku kehilangan hak untuk menjelaskan.”
Saat itu, seorang suara kecil terdengar dari belakang.
“Mama?”
Maya keluar dari gerbang sekolah.
Matanya yang bulat menatap Arman.
Pria yang sudah lima tahun tidak pernah dilihatnya.
Arman langsung menundukkan kepala.
Dia tidak berani mendekat.
Tidak berani memanggilnya.
Dia hanya menangis.
“Mama…”
Anak kecil itu menarik bajuku.
“Kenapa Om itu menangis?”
Aku tidak bisa menjawab.
Karena air mataku sendiri sudah mengalir tanpa henti.
Dan saat itulah Maya berjalan mendekati Arman.
Dengan suara polos, dia bertanya:
“Om…”
“Apakah Om ayahku?”
Tubuh Arman membeku.
Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.
Lalu perlahan mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Pria yang tidak pernah menangis di depan siapa pun itu menangis seperti anak kecil.
Maya mengeluarkan tisu kecil dari tas sekolahnya.
Lalu dengan canggung mengusap air matanya.
“Jangan menangis.”
“Bu Guru bilang, orang dewasa yang menangis pasti sangat sedih.”
Kalimat sederhana itu menghancurkan pertahanan terakhir Arman.
Dia memeluk putrinya sambil menangis tersedu-sedu.
Dan aku…
Aku akhirnya tahu.
Selama lima tahun ini.
Tidak hanya aku yang hidup dalam penderitaan.
Pria yang kucintai dan kubenci itu…
Ternyata juga menjalani hukuman yang tidak kalah menyakitkan.
Dua tahun kemudian.
Aku sudah berhenti dari tiga pekerjaan itu.
Dengan uang yang ada di rekening tersebut, aku membuka restoran kecil milikku sendiri di Jakarta.
Maya masuk sekolah terbaik.
Dan Arman…
Dia tidak pernah lagi menyentuh bisnis keluarganya.
Setiap hari, dia bangun pagi untuk mengantar Maya ke sekolah.
Memasak sarapan.
Dan setiap malam, dia akan menungguku pulang di depan restoran.
Suatu malam, saat kami bertiga berjalan pulang sambil bergandengan tangan, Maya tiba-tiba bertanya:
“Papa, kalau Papa kehilangan Mama lagi, Papa akan bagaimana?”
Arman berhenti melangkah.
Dia menggenggam tanganku erat.
Lalu tersenyum sambil menatapku dengan mata yang masih memerah.
“Ayah akan mencarinya.”
“Sehari.”
“Sebulan.”
“Setahun.”
“Sepuluh tahun.”
“Bahkan sampai akhir hidup Ayah.”
“Karena sekali kehilangan Mama kalian…”
“Sudah cukup untuk membuat Ayah menyesal seumur hidup.”
Angin malam Jakarta bertiup pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Aku tidak lagi merasa sendirian.
Karena akhirnya aku mengerti.
Cinta sejati bukanlah seseorang yang tidak pernah membuat kita menangis.
Melainkan seseorang yang…
Meski terlambat…
Tetap memilih kembali.
Dan tidak pernah pergi lagi.