Aku datang ke pesta pertunangan sahabat terdekatku.

Tapi pria yang berdiri di sampingnya di panggung penuh bunga putih itu… adalah pria yang sama yang sudah tinggal satu atap denganku selama sembilan tahun.

Ia memakai jas yang malam tadi kupastikan licin dengan setrika.

Jam di pergelangan tangannya adalah hadiah yang kubeli dari tabungan setengah tahun gajiku.

Namun ketika melihatku masuk ke venue, ia hanya sedikit mengernyit, seolah aku hanyalah kurir yang salah alamat.

Di depan ratusan tamu, ia dengan tenang mengambil mikrofon dan berkata:

“Sepertinya sudah saatnya aku menjelaskan semuanya.”

“Sembilan tahun lalu, aku tidak pernah secara legal menikahi Althea.”

“Itu hanya dokumen palsu yang dia gunakan untuk menipu keluarganya.”

“Kalau tidak, bagaimana mungkin dia rela merawat ibuku tanpa bayaran selama bertahun-tahun?”

Ruangan langsung gempar.

Wanita di sampingnya mengusap perutnya yang mulai membesar dan tersenyum manis.

“Kalau tidak ada pernikahan legal… sebenarnya siapa yang menyusup dalam hubungan ini?”

Ibu pria itu mendekat dan menyodorkan amplop tebal ke tanganku.

“Ambil ini dan pergilah.”

“Jangan hancurkan masa depan cucuku.”

Aku menunduk.

Bahuku sedikit bergetar.

Mereka mengira aku menangis karena malu.

Padahal…

Aku sedang menahan tawa di tengah pesta ini.

Karena pagi ini saja, aku sudah menerima konfirmasi warisan dari bibiku yang lama tinggal di luar negeri.

Dan seluruh aset yang ia tinggalkan…

cukup untuk membeli perusahaan yang selama ini ia perjuangkan seumur hidup.


Bab 1

Suara biola mengalun lembut di ballroom hotel.

Lampu chandelier memantulkan cahaya di lantai marmer hingga menyilaukan mata para tamu.

Aku berdiri di meja registrasi, menatap nama besar di tengah ruangan:

“Pesta Pertunangan Rafael & Camille”

Aku meremas kartu undangan itu.

Jari-jariku memutih.

Rafael.

Aku membaca namanya berulang kali.

Tidak mungkin salah.

Tapi itu benar-benar dia.

Pria yang tadi malam masih menyuruhku merebus teh herbal untuk ibunya.

Pria yang pagi ini pergi dengan alasan ada rapat penting.

“Althea!”

Suara ceria terdengar dari belakang.

Camille memelukku.

Gaun putihnya elegan, perutnya sedikit membesar, wajahnya bersinar bahagia.

“Aku kira kamu tidak datang!”

“Aku kangen kamu!”

Aku menatapnya.

Sahabat yang dulu menangis bersamaku di masa kuliah.

Yang pernah berjanji jadi pengiring pengantinku.

Tenggorokanku kering.

“Camille…”

Aku mencoba berbicara.

“Tunanganmu itu…”

“Rafael.”

Ia tersenyum manis.

“Kamu kaget ya?”

“Kami sudah hampir empat tahun bersama.”

Empat tahun.

Aku mendengar itu jelas.

Sedangkan aku sudah sembilan tahun bersama Rafael.

Artinya…

Sejak tahun kelima hubungan kami…

“Kenapa wajahmu pucat?”

Belum sempat aku menjawab, suasana berubah.

Rafael turun dari tangga.

Jas hitam, dasi perak.

Persis pria yang kubentuk dari nol.

Dari pria tanpa pekerjaan.

Menjadi pemilik perusahaan kecil.

Semua lemburku.

Semua tabunganku.

Semua malam ketika aku hampir pingsan demi membayar utangnya—

Semua kembali di kepalaku.

Dia berhenti saat melihatku.

Tapi ekspresinya segera kembali dingin.

“Kamu datang juga.”

Tiga kata.

Seperti aku orang asing.

Camille menggandeng lengannya dengan manja.

“Sayang, lihat siapa yang datang!”

Tapi Rafael tidak menjawabku.

Matanya dingin.

“Jangan buat keributan di sini.”

Aku tersenyum pahit.

“Keributan?”

“Aku masih punya hak?”

Wajahnya mengeras sedikit.

Aku tahu ekspresi itu.

Ekspresi yang selalu muncul saat aku bertanya kenapa dia pulang larut.

Saat aku menemukan struk hotel di sakunya.

Saat aku mempertanyakan pernikahan kami—

Dia selalu menatapku seperti gangguan.


Acara dimulai.

Host berbicara meriah.

“Selamat malam untuk perayaan Camille dan Rafael…”

Tepuk tangan bergemuruh.

Aku duduk di sudut paling belakang.

Menatap pria yang dulu berjanji hanya mencintaiku.

Kini berdiri di sana.

“Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum pertunangan…”

Rafael menerima mikrofon.

Semua lampu tertuju padanya.

Ia tersenyum ke arah Camille.

“Hal paling beruntung dalam hidupku…”

“Adalah bertemu dengan wanita yang tepat.”

Sorak-sorai memenuhi ruangan.

Camille tersipu bahagia.

Namun detik berikutnya—

Rafael menoleh ke arahku.

Dan tersenyum dingin.

“Dan karena dia juga ada di sini…”

“Aku akan mengakhiri masalah lama.”

Ruangan langsung sunyi.

Aku berdiri perlahan.

Dia menatapku seperti lelucon.

“Althea.”

“Kamu pikir kamu istriku?”

Hening.

“Tidak pernah ada pernikahan legal.”

“Semua dokumen itu palsu.”

“Semua yang kamu lakukan untuk keluargaku… kamu lakukan sendiri.”

“Jangan pikir beberapa tahun tinggal bersama bisa membuatmu jadi Mrs. Villareal.”

Bisik-bisik memenuhi ruangan.

Camille memeluknya erat.

“Althea…”

“Jangan salahkan kami.”

“Orang yang tidak punya status hukum… tidak punya hak untuk bertahan.”

Ibu Rafael melemparkan amplop ke kakiku.

“Ini bayaran sembilan tahunmu.”

“Pergi dari hidup anakku.”

Hening.

Semua mata tertuju padaku.

Aku menatap amplop itu.

Lalu…

Aku tertawa.

Awalnya pelan.

Lalu semakin jelas.

Bahuku bergetar.

Wajah Camille berubah.

Rafael mengernyit.

“Apa yang lucu?”

Aku mengangkat kepala.

Dan untuk pertama kalinya—

tidak ada sedikit pun kelemahan di mataku.

“Aku hanya berpikir…”

“Kalau kamu tahu perusahaan tempat kamu meminjam uang minggu lalu…”

“Sudah menjadi milik perusahaan warisan yang baru kuterima…”

“Apakah kamu masih akan setegas ini?”

Ruangan itu langsung membeku.

Senyum di wajah Camille perlahan menghilang. Ibu Rafael yang tadi penuh wibawa kini tampak ragu. Bahkan tangan Rafael yang memegang mikrofon sedikit bergetar.

“Apa maksudmu?” suaranya lebih rendah, tidak lagi setegas tadi.

Aku melangkah satu langkah ke depan, mengambil amplop yang jatuh di kakiku, lalu menepuknya pelan seperti membersihkan debu.

“Perusahaan yang kamu gunakan untuk pinjaman modal minggu lalu,” kataku tenang, “adalah anak perusahaan dari grup warisan bibiku.”

Aku mengangkat mata.

“Dan mulai hari ini… aku adalah pemegang saham pengendali.”

Bisik-bisik langsung pecah di seluruh ruangan.

Beberapa tamu saling menatap, mulai menyadari bahwa pesta ini tidak lagi sekadar drama cinta.

Rafael mengernyit keras. “Kamu berbohong.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu bisa cek sendiri kontraknya besok pagi. Kalau masih punya akses ke sistem perusahaan itu.”

Kalimat itu jatuh seperti tamparan.

Wajahnya mengeras.

Camille mundur setengah langkah, refleks memegang perutnya lebih erat.

Ibu Rafael mencoba berbicara, tapi suaranya tidak keluar dengan jelas.

“Ini… ini tidak mungkin…”

Aku menatap mereka satu per satu.

Sembilan tahun.

Aku pernah berdiri di dapur, memasak untuk keluarganya saat listrik mati.

Aku pernah tidur dua jam sehari agar dia bisa mengejar proyeknya.

Aku pernah menjual barangku sendiri agar dia tidak dipermalukan di depan investor.

Dan malam ini, aku berdiri di sini—di ruangan yang sama—hanya saja perannya sudah berubah.

Aku menoleh ke arah Rafael.

“Kalau kamu masih ingin mengakhiri masalah lama…”

Aku berhenti sejenak.

“Sekarang aku yang menentukan masalah mana yang masih boleh berjalan.”

Hening.

Tidak ada yang berani tertawa lagi.

Tidak ada yang berani berbisik.

Aku melangkah mundur, mengambil tasku.

Sebelum pergi, aku menatap Camille.

“Selamat untuk pertunanganmu.”

Lalu aku menatap Rafael.

“Dan selamat… kamu baru saja menjual masa depanmu sendiri tanpa sadar.”

Aku berbalik.

Langkahku tidak terburu-buru.

Tidak ada air mata.

Tidak ada suara pecah di belakangku.

Hanya suara musik pesta yang perlahan terdengar seperti milik orang lain.

Dan saat pintu ballroom tertutup di belakangku—

untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun—

aku tidak meninggalkan seorang pun.

Aku meninggalkan mereka di dalam dunia yang sebentar lagi tidak lagi mereka kuasai.