Di belakang kami, suara Roberto masih terdengar samar—teriakan, benturan pintu, dan kepanikan yang mulai pecah jadi kekacauan.
Tapi aku tidak berhenti.
Tidak sekali pun.
Lani menggenggam tanganku erat.
“Ma, kita mau ke mana sekarang?”
Aku menatap langit yang mulai berubah jingga.
“Kita mulai hidup baru.”
—
Beberapa bulan kemudian
Aku pindah ke apartemen kecil di pusat kota.
Tidak mewah.
Tapi sunyi.
Dan yang paling penting… milik kami sendiri.
Aku kembali bekerja sebagai desainer grafis, tapi kali ini aku memilih proyek yang aku suka, bukan yang membuatku begadang sampai mati pelan-pelan.
Lani mulai tersenyum lebih sering.
Tidak ada lagi suara bentakan pagi.
Tidak ada lagi perintah tanpa henti.
Tidak ada lagi rasa takut di dalam rumah.
—
Suatu hari, aku menerima surat.

Dari pengadilan.
Kasus: Roberto vs Maria — Penolakan hak dan tuntutan balik harta
Aku hanya tersenyum kecil saat membacanya.
Aku sudah menduganya.
Di akhir surat, ada catatan:
“Pihak tergugat memiliki bukti transfer, rekaman kekerasan, dan saksi keluarga.”
Aku menutup surat itu pelan.
Tidak ada rasa takut.
Tidak ada rasa marah.
Hanya lega.
—
Hari sidang
Roberto duduk di seberang ruangan.
Kali ini, dia tidak lagi berteriak.
Dia terlihat jauh lebih kecil dari ingatanku.
Tidak lagi dominan.
Tidak lagi berkuasa.
Ketika hakim membacakan putusan, ruangan menjadi sunyi:
“Semua aset sah milik Maria dan anaknya, Lani.”
“Gugatan ditolak sepenuhnya.”
Palu diketuk.
Tok.
Selesai.
—
Roberto menatapku dengan mata yang kosong.
“Maria…”
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa takut pada suaranya.
“Aku sudah tidak ada di hidupmu lagi,” kataku pelan.
“Dan kamu… juga sudah tidak ada di hidupku.”
Aku berbalik.
Tidak ada drama.
Tidak ada air mata.
Hanya langkah yang pasti.
—
Epilog
Malam itu, aku pulang bersama Lani.
Kami makan mie instan di meja kecil.
Sederhana.
Tapi hangat.
Lani tersenyum sambil berkata, “Ma, sekarang kita lebih bahagia ya?”
Aku mengusap rambutnya.
“Bukan lebih bahagia.”
“Kita baru benar-benar hidup.”
Di luar jendela, lampu kota menyala.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Maria…
dia tidak lagi bertahan.
Dia benar-benar bebas.