Rekan sekamarku menerobos naik ke panggung, merebut mikrofon, lalu menunjuk ke arahku sambil berteriak:

“Dia! Dia yang menggoda daddy-ku! Pelakor tidak tahu malu!”

Tiga ribu pasang mata langsung menatapku seperti belati tajam.

Aku tidak menangis. Tidak berteriak. Tidak menjelaskan apa pun.

Aku hanya mengeluarkan ponselku, menekan nomor ayahnya, lalu menyalakan speaker.

Kalimat pertama yang terdengar dari telepon itu adalah:

“Dao Dao, kenapa kamu mengembalikan 500.000 peso yang aku kirim…?”


1

Panas bulan September terasa menyengat, sementara AC di auditorium utama University of the Philippines (UP) berdengung keras tanpa henti.

Lebih dari tiga ribu mahasiswa baru memenuhi ruangan; udara bercampur bau keringat dari latihan ROTC dan sabun deterjen murah.

Upacara Pembukaan Kampus.

Salah satu ritual paling membosankan dalam hidup perkuliahan.

Di atas panggung, Rektor membaca naskah panjang dengan suara formal:

“Mahasiswa sekalian, kalian adalah harapan bangsa—”

Sudah tiga kali kalimat itu diulang.

Aku duduk di baris ke-17 dekat lorong, memegang botol air, sambil menghitung sesuatu di kepala:

Harga fishball 8 peso per mangkuk, sayur gratis, tambah 2 peso kalau pakai bakso… saldo kartu mahasiswa masih 130 peso…

Pria di sebelahku sudah tertidur, air liurnya mengalir setengah wajah.

Perempuan di depanku menonton drama di ponsel tanpa headset, suaranya masih terdengar: “bida-bida”, “anak orang kaya”.

Tenang.

Hening.

Sangat hening.

Sampai—

“Menyingkir!! Kalian semua, minggir!!”

Jeritan tajam memecah aula seperti pisau.

Tiga ribu kepala langsung menoleh ke pintu.

Seorang perempuan menerobos masuk.

Rambut bergelombang yang tadinya rapi kini seperti sarang burung.

Heels-nya menghentak lantai dengan keras, setiap langkah seperti ingin melubangi keramik.

Make-up-nya berantakan; eyeliner-nya mengalir sampai pipi, seperti lukisan abstrak.

Thea Mendoza.

Roommate-ku.

Room 402, Bed 4—perempuan yang tadi malam masih berbagi denganku memesan kotak penyimpanan di Shopee.

Sekarang wajahnya merah, penuh amarah, matanya menyala-nyala.

Dua petugas keamanan mengejarnya, tetapi ia mendorong satu, menendang satu lagi.

Dia naik ke panggung.

Tiga langkah saja sudah sampai.

Rektor belum sempat selesai berbicara, tiba-tiba seseorang menyusup melewatinya.

Mikrofon direbut.

Rektor terdiam, kaca matanya miring.

Thea menggenggam mikrofon erat, lalu menatap ke arah ribuan mahasiswa.

Matanya mencari target.

Baris pertama… kelima… kesepuluh…

Terkunci.

Baris ke-17.

Dekat lorong.

Aku.

Dia menunjuk ke arahku dengan tangan gemetar.

“Dia orangnya——!!”

Suara feedback mikrofon melengking menyakitkan.

“Thalia Reyes!!”

Seluruh aula seketika hening.

Hening seperti dunia berhenti sebelum badai.

Lalu—

“Dia menggoda ayahku!!!”

“Dia pelakor tidak tahu malu!!!”

Suara itu meledak lewat speaker.

Tiga ribu orang membeku.

Beberapa masih memegang ponsel, beberapa masih menganga.

Lalu suara “wooooh!!” pecah dari seluruh ruangan.

Semua orang menatapku.

Seperti spotlight.

“Siapa dia?”
“Itu yang ditunjuk?”
“Pelakor?”
“Gila, ini live drama?”

Semua kamera terangkat.

Aku menunduk.

Air tumpah di celanaku.

Sepatu canvas baruku.

380 peso.

Itu yang pertama kupikirkan.

Yang kedua:

Akhirnya datang juga.


Aku tidak kaget.

Ayah Thea adalah Ricardo Mendoza, 52 tahun, CEO Mendoza Construction, salah satu donor beasiswa terbesar di UP.

Tiga bulan lalu di acara beasiswa, dia melihatku.

Jam 11:47 malam, dia menambahkan aku di Viber.

Pesan pertama:
“Anak muda, kamu sangat cantik. Maukah makan malam denganku?”

Aku tidak membalas.

Pesan kedua:
“Aku sudah siapkan apartemen dekat kampusmu. Lebih nyaman dari asrama.”

Aku hanya menjawab dua kata:
“Tidak perlu.”

Lalu block.

Dia ganti nomor. Aku block lagi.

Tiga bulan. 7 nomor. 237 pesan.

Transfer uang 14 kali, dari 20.000 sampai 50.000 peso.

Total hampir 500.000 peso.

Semua aku kembalikan.

Semua screenshot aku simpan.

Semua bukti transfer aku arsipkan.

Semua telepon aku rekam.

Termasuk saat dia mabuk dan berkata:

“Aku bisa menceraikan istri Thea demi kamu…”

Semua tersimpan di cloud.

Aku tahu ini akan terjadi.

Hanya tidak menyangka dia memilih panggung ini.


Aku berdiri.

Langkahku menuju panggung.

Tug. Tug. Tug.

Aula menjadi sunyi seperti kuburan.

Thea berhenti menunjuk.

Tangannya gemetar.

Di matanya ada amarah, malu, dan kepanikan.

Aku berhenti di depan panggung.

Tidak naik.

Cukup di sini.

Aku mengangkat ponsel.

Dial.

Nama kontak:
“Ricardo Mendoza – Jangan Angkat – Bukti”

Call.

Speaker.

Tut— tut— tut—

Tiga ribu orang menahan napas.

Thea menatap ponselku.

Klik.

Diangkat.

Suara pria paruh baya terdengar di seluruh aula:

“Thalia?!”

Nada suaranya penuh harapan.

“Kenapa kamu akhirnya mengangkat? Aku khawatir sekali sejak kamu blokir aku…”

Seluruh ruangan diam.

“Kenapa kamu mengembalikan uangnya?”

“Tidak ada niat buruk, aku hanya peduli padamu…”

Wajah Thea berubah pucat.

“Meskipun kamu masih muda… aku bisa meninggalkan istri aku untukmu…”

“DADDY!!!”

Jeritan Thea pecah di mikrofon.

Di ujung telepon, hening.

“…Thea?”

Suara Ricardo bergetar.

Aku menatap layar.

Lalu berkata pelan:

“Pak Mendoza.”

“Ini speaker.”

“Dan putri Anda baru saja menuduh saya sebagai pelakor Anda, di depan tiga ribu orang.”


Di dalam aula, suasana masih belum pulih sepenuhnya.

Tiga ribu mahasiswa tetap diam, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak bisa mereka proses dengan cepat.

Petugas keamanan sudah membawa Thea keluar dari panggung.

Tapi suara tangisnya masih terdengar samar dari lorong belakang:

“Daddy… itu bukan aku… itu semua salah dia…”

Namun tidak ada lagi yang meresponsnya.

Tidak ada yang percaya sepenuhnya lagi.


Aku berdiri diam di dekat sisi panggung.

Ricardo Mendoza masih belum menutup telepon.

“Thalia…” suaranya sekarang jauh lebih pelan, seperti orang yang baru sadar telah jatuh dari ketinggian.

“Aku akan jelaskan semuanya… ini salah paham…”

Aku menatap layar ponselku, lalu menjawab dengan tenang:

“Penjelasan Anda tidak dibutuhkan lagi, Pak Mendoza.”

Hening.

Di ujung sana, hanya terdengar napas berat.

Aku melanjutkan:

“Semua pesan, semua transfer, semua rekaman percakapan Anda… sudah cukup untuk menjelaskan segalanya.”

“500.000 peso sudah saya kembalikan.”

“Dan semua bukti sudah saya kirim ke pihak kampus dan pengacara beasiswa.”

Suara itu berhenti total.

Untuk pertama kalinya, tidak ada kata balasan.


Aku menutup telepon.

Klik.

Lalu memasukkan ponsel kembali ke saku.

Tanpa drama.

Tanpa emosi berlebihan.


Di sekitar aula, bisik-bisik mulai muncul lagi, tapi kali ini nadanya berbeda.

“Jadi dia yang benar…”
“Yang tadi itu salah tuduh…”
“Gila, dia simpan semua bukti…”

Ada juga yang menunduk malu karena tadi ikut merekam.


Aku berjalan turun dari area aula.

Tidak ada yang menghalangi.

Tidak ada yang berani menatap lama.

Langkahku terdengar pelan di lantai marmer.

Tug… tug… tug…


Saat sampai di pintu keluar, angin panas bulan September menyapu wajahku.

Terasa nyata.

Terasa bebas.

Aku berhenti sebentar.

Tidak menoleh ke belakang.

Karena tidak ada lagi alasan untuk kembali ke sana.


Ponselku bergetar sekali lagi.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal:

“Thalia… please… aku bisa memperbaiki ini…”

Aku melihat pesan itu beberapa detik.

Lalu menghapusnya.

Tidak diblokir.

Tidak dibalas.

Hanya dihapus.


Aku melangkah keluar dari gedung UP.

Langit Manila sangat terang hari itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

aku tidak lagi menjadi “korban” dalam cerita siapa pun.

Aku adalah orang yang memegang akhir ceritanya sendiri.