Karena setiap kali permainan dimulai, tempat persembunyian Kak Maya selalu langsung muncul di depan mataku.
Bagiku, permainan itu terlalu mudah, tidak ada tantangannya sama sekali.
Sampai suatu hari…
Kak Maya benar-benar menghilang.
Di ruang sidang, kakak iparku, Arman, menangis seolah hatinya tercabik.
— “Kami sudah menikah tujuh tahun. Kami sangat mencintai satu sama lain.”
— “Dia sedang hamil tujuh bulan. Malam itu dia bilang ingin berjalan-jalan. Aku tidak menyangka itu akan menjadi terakhir kalinya.”
— “Aku sangat mencintainya. Aku bahkan ingin menyimpannya hanya untuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku menyakitinya?”
Tangisnya terdengar tulus dan penuh penderitaan.
Hakim menyampaikan belasungkawa dengan suara pelan, sementara isak tangis terdengar di seluruh ruang sidang.
Bahkan ibuku memeluk Arman sambil menangis.
— “Arman, keluarga kami yang telah membuatmu menderita.”
Semua orang tersentuh.
Bahkan hakim pun berusaha menenangkannya.
Namun tepat di depan mataku…
muncul pesan yang sudah sangat kukenal sejak kecil:
“Koper.”
…
— “Karena kurangnya bukti, permohonan penetapan kematian ditolak.”
— “Sidang ditunda sampai waktu yang akan ditentukan.”
Palu hakim diketukkan.
Arman masih berdiri di kursi terdakwa dengan bahunya bergetar.
Air mata terus mengalir di dagunya.
Dia benar-benar pandai berakting.
Begitu pandainya hingga hakim sendiri berkata:
— “Tuan Arman, kuatlah.”
Begitu pandainya hingga hampir seluruh ruang sidang menangis bersamanya.
Aku berdiri.
— “Yang Mulia, kakak saya tidak bunuh diri. Saya punya bukti.”
Aku mengangkat sebuah buku harian berwarna merah muda bunga sakura, warna kesukaan Kak Maya.
Kalimat terakhir yang dia tulis sebelum menghilang bahkan sudah kuhafal:
“Dia tahu aku sudah mengetahui semuanya. Dia akan membunuhku.”
Pengacara Arman langsung berdiri dan memprotes.
Hakim meminta ketenangan dan memintaku menyerahkan buku harian itu.
Namun Arman sama sekali tidak panik.
Dia bahkan tidak melirik buku tersebut.
Dengan tenang, dia mengeluarkan sebuah dokumen tebal dari sakunya.
— “Yang Mulia, ini hasil evaluasi psikologis istri saya selama kehamilan.”
— “Dia mengalami depresi prenatal berat disertai delusi paranoid.”
— “Semua yang ditulisnya dalam buku harian hanyalah khayalan akibat penyakitnya.”
Hakim memeriksa dokumen itu.
Beberapa saat kemudian, dia menatapku.
— “Sita, laporan ini asli. Bahkan ditandatangani dokter kakakmu sendiri.”
Tanganku membeku.
Buku harian yang kupegang seolah berubah menjadi kertas tak berharga.
Arman menghela napas.
Matanya masih merah.
— “Sita, aku tahu kamu tidak bisa menerima kenyataan.”
— “Aku pun sama.”
— “Tapi Kak Maya sakit. Dia membutuhkan pengobatan, bukan gosip.”
Bisik-bisik mulai terdengar di belakang.
— “Suaminya pria yang sangat baik.”
— “Adiknya yang sudah kehilangan akal.”
— “Sudah dijelaskan, tapi masih membuat masalah.”
Tiba-tiba ibuku menerjang.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipiku.
— “Sita! Pulang!”
Pipiku terasa panas.
Namun aku tetap berdiri.
Ibuku buru-buru menggenggam tangan Arman.
— “Arman, maafkan dia. Dia masih muda. Jangan masukkan ke hati.”
Ayahku yang duduk di kursi roda bahkan tidak berani menatapku.
Arman menggeleng pelan.
— “Bu, saya tidak menyalahkan Sita.”
— “Dia hanya belum bisa menerima kenyataan.”
Semua orang memandangku dengan iba.
Seolah aku sudah gila.
Namun tepat saat Arman berjalan melewatiku…
aku melihatnya.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
Senyuman mengejek.
Sangat cepat.
Tapi aku melihatnya dengan jelas.
Tidak ada orang lain yang menyadarinya.
Aku menggenggam erat buku harian Kak Maya.
Dan tulisan di depan mataku masih berkedip:
“Koper.”
Aku harus menemukan koper itu.
…
Setelah sampai di rumah, aku membongkar seluruh barang milik Kak Maya.
Lemari.
Gudang.
Bawah tempat tidur.
Tidak ada.
Koper tua yang dia gunakan sebelum menikah masih ada.
Tapi kosong.
Aku terduduk di lantai kamarnya.
Tulisan itu masih ada.
“Koper.”
Sejak kecil, kemampuan aneh ini memang seperti itu.
Ia hanya memberitahuku lokasi benda yang disembunyikan.
Tidak pernah memberitahuku cara menemukannya.
Bel rumah berbunyi.
Sahabat Kak Maya, Rina, datang bersama ibuku.
— “Sita, Arman sudah menghubungi rumah sakit jiwa.”
— “Besok dia akan menjemputmu.”
— “Kamu harus ikut.”
— “Aku tidak akan pergi.”
— “Kamu tidak punya pilihan.”
Ibu masuk ke kamar dan melihat semuanya berantakan.
— “Lihat dirimu!”
— “Kalau kakakmu melihat keadaanmu seperti ini, apakah dia akan tenang di alam sana?”
Aku mengangkat kepala.
Dan menjawab dengan tenang:
— “Dia tidak berada di alam sana.”
— “Dia berada di dalam koper.”
Ibu langsung menangis.
Rina buru-buru memeluknya.
Keesokan paginya, Arman datang.
Dia membawa sekeranjang stroberi dan dua wartawan.
— “Sita, aku membawakan stroberi. Kak Maya paling suka buah ini.”
Dia sengaja menunjukkannya di depan kamera.
Aku tidak menerimanya.
Dia tidak marah.
Sebaliknya, dia berkata kepada wartawan:
— “Sita masih terpukul. Saya tidak menyalahkannya.”
Tetangga yang melihat bahkan mengacungkan jempol.
— “Suami yang luar biasa.”
— “Pria sebaik itu sulit ditemukan.”
Semua orang percaya padanya.
Semua orang memujanya.
Dan hanya aku…
yang terus menatap tulisan yang tidak berubah itu.
“Koper.”
Karena aku tahu…
Kak Maya belum pergi.
Dan suatu hari…
aku akan menemukan koper itu.
Bersama seluruh kebenaran yang selama ini disembunyikan Arman.

Malam itu, aku tidak tidur.
Aku duduk di lantai kamar Kak Maya, menatap koper tua kosong yang dulu dia bawa saat menikah.
Tulisan di depan mataku masih berkedip pelan.
“Koper.”
Untuk pertama kalinya sejak kecil…
aku mulai bertanya-tanya.
Bagaimana jika benda yang dimaksud bukan koper ini?
Bagaimana jika…
yang disembunyikan bukan sebuah benda, tetapi seseorang?
Saat itulah aku teringat sesuatu.
Malam sebelum Kak Maya menghilang, dia meneleponku.
Dengan suara gemetar, dia berkata:
— “Sita, kalau suatu hari aku bermain petak umpet lagi, kamu pasti bisa menemukanku, kan?”
Waktu itu aku hanya tertawa.
Sekarang…
seluruh tubuhku membeku.
Petak umpet.
Sejak kecil, aku selalu bisa menemukan Kak Maya.
Tidak peduli dia bersembunyi di lemari, di bawah tempat tidur, atau di gudang belakang.
Aku selalu menemukannya.
Karena itulah dia sangat membenci bermain petak umpet denganku.
Tanganku mulai gemetar.
Lalu aku berbisik pelan:
— “Kak… di mana kamu bersembunyi?”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
tulisan di depan mataku berubah.
Tulisan “Koper” perlahan memudar.
Lalu muncul dua kata baru.
“Gudang Pendingin.”
…
Aku langsung melapor ke polisi.
Tidak ada yang percaya padaku.
Bahkan ibuku menangis dan memohon agar aku berhenti mempermalukan keluarga.
Namun seorang polisi senior yang pernah menangani kasus orang hilang akhirnya memutuskan untuk memeriksa gudang pendingin milik perusahaan logistik Arman.
Dan di sanalah…
mereka menemukan sebuah koper besar berwarna hitam.
Di dalamnya…
terdapat Kak Maya.
Masih hidup.
Kurus.
Lemah.
Tetapi masih hidup.
Saat melihat cahaya masuk, air mata langsung mengalir dari matanya.
Kalimat pertama yang dia ucapkan adalah:
— “Aku tahu… Sita pasti akan menemukanku.”
…
Ternyata, pada malam itu, Kak Maya mengetahui bahwa Arman telah menggelapkan dana perusahaan dan membunuh rekan bisnisnya.
Karena takut rahasianya terbongkar, Arman menyekap Kak Maya dan berencana memalsukan kematiannya secara perlahan.
Laporan depresi, dokter, saksi, bahkan air matanya di pengadilan…
semuanya hanyalah sandiwara.
Ketika polisi menangkapnya, Arman masih berteriak:
— “Aku mencintainya! Aku melakukan semua ini karena aku mencintainya!”
Namun Kak Maya menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun pernikahan mereka, dia berkata:
— “Itu bukan cinta.”
— “Cinta tidak mengurung seseorang.”
— “Cinta tidak membuat seseorang menghilang.”
— “Dan cinta tidak pernah membutuhkan kebohongan.”
Arman dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Dokter yang membantunya dicabut izin praktiknya.
Media yang dulu memujinya kini berbalik mengutuknya.
Tetangga yang pernah mengacungkan jempol hanya bisa menundukkan kepala saat melihatku.
Namun aku tidak membenci mereka.
Karena aku sudah mendapatkan kembali orang yang paling penting bagiku.
Suatu sore, setelah Kak Maya pulih, kami duduk bersama di halaman rumah seperti saat kecil.
Dia tersenyum dan bertanya:
— “Sita, kalau sekarang kita main petak umpet, apakah kamu masih bisa menemukanku?”
Aku tertawa sambil menggenggam tangannya.
— “Tentu.”
— “Karena selama aku masih hidup…”
— “Aku tidak akan pernah membiarkanmu hilang lagi.”
Angin sore berembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
kami berdua tersenyum.
Seperti dua gadis kecil yang belum pernah dipisahkan oleh dunia.
Karena ternyata…
di antara semua kemampuan aneh yang kumiliki sejak lahir…
keajaiban terbesar bukanlah bisa menemukan benda yang hilang.
Melainkan…
bahwa Tuhan memberiku kesempatan untuk menemukan kembali orang yang paling kucintai.