Tiga anak sebelum kami tampil luar biasa—yang satu memainkan piano dengan sangat baik, yang lain bahkan mampu membaca cerita bahasa Inggris dengan lancar.
Ketika giliran putraku tiba, dengan tas ransel dinosaurus di punggungnya, ia memanjat kursi dan dengan wajah serius bertanya kepada pewawancara utama:
“Pak, apakah sekolah ini menerima anak yang tidak punya ayah, tapi sangat pintar?”
Seluruh ruangan mendadak hening.
Aku baru saja hendak meminta maaf ketika pria yang duduk di tengah perlahan mengangkat kepalanya.
Julian Pratama.
Mantan pacarku—pria yang enam tahun lalu kutinggalkan dengan mengatakan, “Aku tidak pernah mencintaimu,” hingga matanya memerah—ternyata sekarang sudah menjadi salah satu direktur yayasan pendidikan ini.
Tatapannya jatuh pada kolom “Ayah” yang kosong di formulir pendaftaran, lalu beralih kepada putraku.
“Kenapa tidak ada ayah?”
Putraku berpikir sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan:
“Kata Mama, Papa pergi ke tempat yang sangat jauh.”
Tangan Julian yang sedang memegang pena langsung membeku.
Saat itu juga, aku hanya ingin menggendong putraku dan melarikan diri.
1
Aku menggenggam tas erat-erat dan berbisik pelan,
“Dante.”
Dante berkedip beberapa kali, lalu segera duduk dengan rapi.
“Mama, aku tidak bohong,” bisiknya pelan. “Tadi Bu Guru bertanya siapa saja yang tinggal di rumah.”
Tenggorokanku terasa tercekat.
Pandangan Julian tertuju kepadaku.
Enam tahun berlalu, dan sekarang dia tampak lebih dingin.
Kemeja putihnya tersetrika sempurna.
Tatapannya dalam.
Dia duduk di sana seperti tembok yang tak akan pernah bisa kulewati lagi.
Guru bagian penerimaan siswa tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
“Tidak apa-apa. Anak yang jujur itu bagus. Dante, ya? Bisa beri tahu Bu Guru kenapa kamu bilang kamu pintar?”
Dante berpikir dengan serius.
“Waktu umur tiga tahun aku sudah bisa membaca lebih dari seratus kata.”
“Waktu umur empat tahun aku sudah bisa merakit model dinosaurus.”
“Dan Mama bilang aku anak terpintar di dunia.”
Guru itu tertawa.
Sedangkan aku bahkan tak mampu tersenyum.
Julian menunduk dan melihat formulir pendaftaran.
Nama: Dante Wijaya.
Usia: lima setengah tahun.
Ibu: Liana Wijaya.
Ayah: (kosong).
Tatapannya berhenti cukup lama di sana hingga telapak tanganku mulai berkeringat.
Setelah wawancara selesai, guru mengatakan bahwa kami tinggal menunggu pemberitahuan.
Saat aku dan Dante berjalan keluar, suara Julian terdengar dari belakang.
“Liana.”
Aku membeku.
Nama yang keluar dari mulutnya terdengar ringan seperti debu.
Tetapi cukup untuk membuat mataku memanas.
Aku berbalik dan memaksakan diri untuk tenang.
“Pak Direktur Pratama, apakah ada yang bisa saya bantu?”
Dia menatapku.
“Putramu sangat hebat.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
“Kenapa kamu datang ke sini?”
Aku sedikit terkejut.
Biaya sekolah ini sangat mahal.
Awalnya aku bahkan tidak berani mendaftar.
Namun beberapa minggu lalu, salah satu klien di studio desainku merekomendasikan sekolah ini dan memberiku kesempatan mengikuti jalur wawancara internal.
Karena Dante semakin besar, aku hanya ingin memberinya pendidikan terbaik.
Aku menjawab pelan,
“Kami hanya mencoba.”
“Kalau memang tidak memenuhi syarat, kami tidak akan memaksakan diri.”
“Kenapa tidak memenuhi syarat?” tanyanya.
Aku menggenggam tangan Dante.
“Pak Direktur Pratama, kami masih ada urusan. Permisi.”
Aku hampir berlari keluar.
Sesampainya di lobi, Dante mendongak ke arahku.
“Mama, Mama kenal Pak tadi?”
“Dulu.”
“Dia ganteng ya.”
“Hm.”
“Dia tidak suka sama aku ya, Mama?”
Aku berhenti dan berjongkok untuk merapikan tasnya.
“Tidak.”
“Hanya saja wajahnya memang terlihat serius.”
Dante langsung tersenyum lega.
“Syukurlah.”
“Aku suka sama dia.”
2
Tiga hari kemudian, surat penerimaan masuk dikirim ke emailku.
Aku menatap layar komputer dalam waktu yang lama.
Selain surat penerimaan, ada pula rencana pendidikan yang sangat rinci.
Alergi kacang milik Dante ditandai dengan warna merah.
Tempat tidur siangnya berada dekat jendela tetapi jauh dari hembusan AC.
Bus sekolah bahkan akan menjemput tepat di depan apartemen kami di Jakarta Timur, pada jam yang menghindari kemacetan.
Bahkan wali kelasnya adalah guru paling berpengalaman di seluruh sekolah.
Aku segera menelepon bagian administrasi untuk memastikan apakah ada kesalahan.
Dan suara yang menjawab dari seberang telepon adalah—
Julian Pratama.
“Tidak ada kesalahan.”
Aku tertegun.
“Kenapa justru Anda yang mengangkat telepon?”
“Telepon bagian penerimaan dialihkan ke ponsel saya.”
Pembohong.
Dia adalah pewaris salah satu yayasan pendidikan terbesar di Indonesia.
Mustahil seorang direktur menjawab telepon administrasi sendiri.
Aku menarik napas panjang.
“Pak Pratama, pengaturan ini terlalu istimewa.”
“Dante tidak membutuhkan perlakuan khusus seperti ini.”
Suara Julian terdengar dingin.
“Ini standar sekolah.”
“Semua murid punya jalur bus sendiri?”
“Kalau muridnya istimewa, bisa.”
“Semua informasi alergi sampai dilaporkan langsung kepada dewan direksi?”
Hening.
Beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lebih pelan.
“Liana.”
“Apakah kamu benar-benar harus bicara seperti ini kepadaku?”
Buku-buku jariku memutih karena terlalu kuat menggenggam ponsel.
“Apa lagi yang harus kulakukan?”
Enam tahun lalu, ketika aku meninggalkannya, aku mengucapkan kata-kata yang sangat kejam.
Aku mengatakan bahwa aku muak dengan sifatnya yang seperti pangeran.
Aku mengatakan bahwa uang yang diberikannya membuatku jijik.
Aku mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintainya.
Bahwa aku hanya memanfaatkannya untuk memperbaiki hidupku.
Hari itu hujan deras.
Dia berdiri di bawah asrama dengan mata merah.
“Liana,” katanya.
“Ulangi sekali lagi.”
Dan aku benar-benar mengulanginya.
Lalu aku pergi.
Tanpa pernah menoleh lagi.
Sekarang, ketika kami bertemu kembali, dia jauh lebih tenang.
Dan justru itulah yang membuatku takut.
Aku takut dia masih membenciku.
Dan yang lebih aku takuti…
adalah jika suatu hari dia mengetahui…
siapa sebenarnya Dante.

3
Aku tidak pernah membayangkan bahwa rahasia yang kusimpan selama enam tahun akan terbongkar oleh orang yang paling tidak terduga.
Dante.
Hari pertama sekolah, aku mengantarnya ke kelas lalu buru-buru pergi ke studio.
Menjelang siang, ponselku berdering.
Nomor sekolah.
Jantungku langsung berdegup kencang.
“Halo?”
Suara guru terdengar panik.
“Bu Liana, Dante baik-baik saja. Hanya saja…”
“Ada sedikit masalah.”
Aku langsung berdiri.
“Ada apa?”
“Pak Direktur Julian sedang berada di ruang kesehatan.”
“Dan… Dante menangis sambil memeluk beliau.”
Aku membeku.
Ketika aku tiba di sekolah, kulihat Dante duduk di pangkuan Julian.
Matanya merah karena menangis.
Dan Julian…
Julian yang selalu dingin dan tenang…
tampak sedikit bingung.
Begitu melihatku, Dante langsung melompat turun.
“Mama!”
Dia berlari memelukku.
“Aku minta maaf!”
Aku berjongkok.
“Kenapa?”
Dante menangis semakin keras.
“Karena aku bilang sama Pak Julian kalau aku berharap dia jadi papaku!”
Wajahku langsung pucat.
Sedangkan guru-guru di sekeliling kami serentak menahan napas.
Aku bahkan tidak berani melihat Julian.
Namun suara kecil Dante belum berhenti.
“Aku juga bilang kalau aku sering mimpi punya ayah.”
“Dan Pak Julian mirip sekali sama foto yang Mama simpan di dompet.”
Darahku langsung berhenti mengalir.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Dan melihat tatapan Julian.
Tatapan yang belum pernah kulihat selama enam tahun.
Tangannya yang memegang gelas bergetar.
“Liana…”
Suara Julian terdengar serak.
“Foto apa?”
Malam itu, aku tidak bisa menghindar lagi.
Untuk pertama kalinya setelah enam tahun, kami duduk berdua di sebuah kafe kecil.
Aku menangis sejak awal sampai akhir.
Dan menceritakan semuanya.
Hari ketika aku mengetahui diriku hamil.
Hari ketika ayah Julian datang mencariku.
Hari ketika beliau melemparkan cek senilai lima miliar rupiah ke depanku.
Dan kalimat yang sampai sekarang masih menghantuiku.
“Kalau kamu benar-benar mencintai Julian, pergilah.”
“Keluarga kami tidak akan menerima perempuan sepertimu.”
“Aku bisa menghancurkan hidupmu kapan saja.”
Aku tidak pernah menerima uang itu.
Tetapi aku takut.
Aku takut pada kekuasaan keluarganya.
Aku takut Dante akan diambil dariku.
Karena itu…
aku memilih menjadi orang jahat.
Aku menghancurkan hati Julian dengan tanganku sendiri.
Aku membuatnya membenciku.
Supaya dia bisa melupakanku.
Supaya dia tidak perlu memilih antara aku dan keluarganya.
Ketika semuanya selesai, aku tidak berani lagi menghubunginya.
Dan aku membesarkan Dante sendirian.
Sepanjang cerita itu, Julian tidak mengatakan sepatah kata pun.
Sampai akhirnya…
air mata jatuh dari matanya.
Untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Dia menangis.
“Jadi…”
“Selama enam tahun…”
“Aku punya anak?”
Aku menangis sambil mengangguk.
Julian tertawa pelan.
Namun tawanya penuh dengan rasa sakit.
“Liana…”
“Aku benci diriku sendiri.”
“Aku selalu berpikir aku tidak cukup baik untukmu.”
“Aku pikir aku gagal membuatmu bahagia.”
“Aku bahkan membenci diriku selama bertahun-tahun.”
“Ternyata…”
“Aku bahkan tidak tahu kalau aku sudah menjadi seorang ayah.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Dan saat itulah Julian berdiri.
Berjalan ke arahku.
Lalu memelukku.
Sama seperti enam tahun lalu.
Namun kali ini…
dia memelukku sambil menangis.
“Bodoh.”
“Kamu benar-benar bodoh.”
“Kenapa menanggung semuanya sendirian?”
Seminggu kemudian.
Julian membawa Dante ke toko mainan terbesar di Jakarta.
Mereka pulang dengan tujuh kotak dinosaurus.
Aku hampir pingsan melihat tagihannya.
Tetapi yang membuatku menangis…
adalah ketika aku mendengar suara kecil Dante di kamar.
“Papa.”
Julian yang sedang merakit dinosaurus tiba-tiba membeku.
Perlahan dia mengangkat kepala.
Dante tersenyum malu.
“Boleh aku memanggilmu Papa?”
Mata Julian langsung memerah.
Pria berusia tiga puluh empat tahun itu…
menangis seperti anak kecil.
Dia memeluk Dante erat-erat.
Dan menjawab dengan suara gemetar:
“Papa sudah menunggu mendengar kata itu… selama enam tahun.”
Setahun kemudian.
Di hari wisuda TK Dante, guru meminta setiap anak naik ke panggung bersama kedua orang tuanya.
Saat namanya dipanggil, Dante berdiri di tengah panggung.
Kemudian dia memegang tanganku.
Dan tangan Julian.
Dengan bangga dia berkata kepada seluruh aula:
“Dulu aku bilang aku tidak punya Papa.”
“Tapi ternyata Papa hanya pergi ke tempat yang sangat jauh.”
“Dan sekarang…”
“Papa sudah pulang.”
Seluruh aula bertepuk tangan.
Sedangkan aku sudah menangis tanpa suara.
Julian memegang tanganku erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak enam tahun lalu…
dia berbisik di telingaku:
“Liana.”
“Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita.”
“Dan terima kasih…”
“Karena akhirnya memberiku kesempatan untuk pulang.”
Di bawah cahaya sore yang hangat, Dante berdiri di antara kami sambil memegang kedua tangan kami erat-erat.
Seolah takut kami akan berpisah lagi.
Namun kali ini…
tidak ada seorang pun yang akan melepaskan tangannya.
Karena setelah kehilangan enam tahun…
kami akhirnya menemukan jalan pulang menuju satu sama lain.
TAMAT