Ibu Tiriku Memaksaku Menikahi Putra Konglomerat yang Lumpuh — Namun Pada Malam Pernikahan Kami, Saat Aku Membantunya Naik ke Tempat Tidur, Kami Berdua Jatuh Bersamaan… dan Saat Itulah Aku Menemukan Sebuah Rahasia yang Mengejutkan.”

Namaku Aurelia Prasetyo, 24 tahun.

Sejak kecil, aku dibesarkan oleh ibu tiriku yang dingin dan sangat realistis. Berkali-kali dia mengajarkan satu hal yang sama kepadaku:

“Nak, jangan pernah menikah dengan pria miskin.

Kamu tidak membutuhkan cinta. Yang kamu butuhkan adalah hidup yang tenang dan terjamin.”

Awalnya, aku mengira itu hanya nasihat dari seorang wanita yang terlalu banyak mengalami pahitnya kehidupan.

Sampai hari ketika dia memaksaku menikah dengan seorang pria penyandang disabilitas.

Namanya Adrian Wijaya, putra tunggal dari salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di Jakarta.

Lima tahun lalu, dia mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya dikabarkan mengalami kelumpuhan. Sejak saat itu, Adrian hidup tertutup dan hampir tidak pernah muncul di depan publik.

Banyak rumor beredar tentang dirinya.

Ada yang mengatakan bahwa dia dingin, kasar, dan sangat membenci wanita.

Namun karena ayahku terlilit utang sebesar Rp8 miliar, ibu tiriku memaksaku menerima pernikahan itu.

“Aurelia, kalau kamu menikahi Adrian, bank tidak akan menyita rumah kita.”

“Tolong… demi ayahmu.”

Aku menggigit bibir dan mengangguk.

Tetapi jauh di dalam hati, rasa malu lebih besar daripada perasaan apa pun.

Pernikahan kami diselenggarakan dengan sangat mewah di sebuah vila tua milik keluarga Wijaya di kawasan Puncak, Bogor.

Aku mengenakan gaun merah tua dengan sulaman emas yang indah.

Namun hatiku terasa kosong.

Pria yang akan menjadi suamiku itu hanya duduk diam di kursi roda.

Wajahnya dingin seperti pahatan marmer.

Dia tidak tersenyum.

Dia tidak berbicara.

Hanya sepasang mata yang dalam dan misterius yang terus memandangku.

Malam pernikahan pun tiba.

Dengan gugup aku memasuki kamar pengantin.

Dia masih duduk di kursi roda, sementara cahaya lilin menari-nari di wajahnya yang tampan namun serius.

“Biarkan aku membantumu naik ke tempat tidur,” kataku pelan dengan suara yang gemetar.

Bibirnya bergerak sedikit.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.”

Aku mundur.

Namun aku melihat tubuhnya sedikit bergetar.

Refleks, aku segera mendekat.

“Hati-hati!”

Tetapi pada saat berikutnya…

Kami berdua kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Suara benturan keras menggema di dalam kamar yang sunyi.

Aku terjatuh tepat di atas tubuhnya.

Wajahku langsung memerah karena malu.

Namun pada detik berikutnya…

Seluruh tubuhku membeku.

Karena saat aku tanpa sengaja memegang pinggangnya untuk menopang diri…

Aku merasakan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi.

Otot-ototnya menegang.

Dan…

Pria yang selama lima tahun terakhir dikenal seluruh Indonesia sebagai “putra konglomerat yang lumpuh”…

baru saja secara refleks…

menggerakkan kedua kakinya.

Aku membelalakkan mata.

Dan Adrian Wijaya…

yang selama ini selalu tenang dan dingin…

untuk pertama kalinya memperlihatkan ekspresi panik di wajahnya.

Dengan suara rendah yang serak, dia berkata:

“Aurelia…”

“Apa yang baru saja kamu rasakan…”

“Jangan katakan kepada siapa pun.”

Dan pada saat itu juga…

Aku sadar bahwa pernikahan ini…

ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang pernah kubayangkan.

Bab 2: Rahasia di Balik Kursi Roda

Seluruh tubuhku membeku.

Adrian juga membeku.

Selama beberapa detik, kami hanya saling menatap.

Tatapan dinginnya yang selama ini seperti tidak memiliki emosi, kini dipenuhi kepanikan.

“Aurelia…”

Suara Adrian terdengar rendah.

“Aku mohon…”

“Jangan katakan kepada siapa pun.”

Aku segera bangkit dari atas tubuhnya.

“Ka-kamu bisa menggerakkan kakimu?”

Wajah Adrian berubah pucat.

Dia menutup mata sejenak, seolah telah kehilangan kekuatan untuk berbohong.

“Ya.”

“Selama tiga tahun terakhir.”

Aku tercengang.

“Kalau begitu kenapa…”

“Kenapa kamu berpura-pura lumpuh?”

Adrian tertawa pahit.

“Karena kalau aku berdiri…”

“…aku akan mati.”

Aku membelalak.

Adrian menghela napas panjang.

“Lima tahun lalu, kecelakaan itu memang terjadi.”

“Tapi bukan kecelakaan biasa.”

“Ada seseorang yang ingin membunuhku.”

“Dan orang itu…”

“…berasal dari keluarga Wijaya sendiri.”

Jantungku berdegup kencang.

“Keluargamu?”

Adrian mengangguk.

“Aku satu-satunya pewaris resmi.”

“Kalau aku mati, seluruh aset keluarga senilai hampir Rp200 triliun akan jatuh ke tangan pamanku.”

“Jadi setelah kecelakaan itu, aku memanfaatkan kesempatan.”

“Aku berpura-pura lumpuh.”

“Berpura-pura menjadi pria yang tidak berbahaya.”

“Dan selama lima tahun…”

“Orang-orang yang menginginkan kematianku mulai lengah.”

Aku tidak sanggup berkata-kata.

Pria yang selama ini dikabarkan kasar dan dingin ternyata hidup setiap hari dalam ancaman.

Lalu Adrian memandangku.

“Maaf.”

“Aku seharusnya tidak menyeretmu ke dalam semua ini.”

“Aku sudah meminta Ibu untuk membatalkan pernikahan.”

“Tapi beliau berkata ayahmu berutang dan keluargamu membutuhkan bantuan.”

“Karena itu aku setuju.”

“Tapi aku berjanji…”

“Aku tidak akan menyentuhmu.”

“Begitu semuanya selesai, aku akan memberimu kebebasan.”

Entah mengapa, mendengar kata-kata itu, dadaku terasa sesak.

Aku menunduk.

“Jadi…”

“Selama ini kamu tidak pernah membenci wanita?”

Adrian tersenyum tipis.

“Sebenarnya…”

“Aku hanya tidak tahu cara memperlakukan mereka.”

“Karena sejak kecil, semua orang yang mendekatiku selalu menginginkan sesuatu.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat kesepian di balik mata pria itu.

Dan tanpa sadar, aku berkata:

“Kalau begitu…”

“Mulai sekarang biar aku yang menjagamu.”

Adrian terdiam.

Tatapannya bergetar.

“Kenapa?”

Aku tersenyum.

“Karena sekarang aku adalah istrimu.”

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu…

Adrian Wijaya tersenyum.

Senyuman yang begitu tampan hingga membuatku kehilangan napas.


Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Tiga hari kemudian.

Saat aku sedang menyiram bunga di taman vila, aku mendengar suara pertengkaran dari ruang kerja.

“Paman Surya, aku sudah bilang, jangan paksa Adrian lagi!”

Suara itu milik ibu mertua.

Lalu terdengar suara pria lain.

“Kakak ipar, sudah lima tahun.”

“Orang lumpuh itu tidak mungkin hidup lama.”

“Serahkan saja hak warisnya.”

“Keluarga Wijaya membutuhkan pemimpin baru.”

Aku mengintip melalui celah pintu.

Dan melihat seorang pria berusia lima puluhan.

Tatapannya licik.

Di belakangnya berdiri seorang wanita cantik dengan gaun mewah.

Begitu melihatku, wanita itu langsung tersenyum.

“Jadi ini pengantin baru Adrian?”

Dia berjalan mendekat.

Lalu berbisik di telingaku:

“Kamu pasti belum tahu, ya?”

“Sebelum menikah denganmu…”

“Aku adalah tunangan Adrian.”

“Tapi sayangnya…”

“Pria lumpuh sepertinya tidak bisa memuaskan seorang wanita.”

Dia tertawa mengejek.

Dan pada saat itu juga…

Suara dingin Adrian terdengar dari belakang.

“Kalau begitu…”

“Bagaimana kalau aku memuaskanmu dengan mengusirmu dari rumah ini?”

Semua orang membeku.

Karena…

Di depan mereka.

Adrian Wijaya…

Berdiri.

Dengan kedua kaki yang kokoh.

Dan wajah Paman Surya berubah putih seperti mayat.

Sedangkan wanita itu…

Menjerit ketakutan.

Karena orang yang seharusnya lumpuh seumur hidup…

Kini berdiri di hadapan mereka seperti raja yang kembali merebut takhtanya.


Enam bulan kemudian.

Paman Surya ditangkap polisi.

Ternyata dialah dalang kecelakaan lima tahun lalu.

Semua bukti yang diam-diam dikumpulkan Adrian akhirnya cukup untuk menjatuhkannya.

Seluruh Indonesia gempar.

Dan pada konferensi pers hari itu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Adrian muncul di depan publik.

Dia berdiri tegak.

Di sampingnya…

Aku.

Di hadapan ratusan wartawan, seseorang bertanya:

“Pak Adrian, siapa orang yang paling berjasa dalam hidup Anda?”

Adrian tersenyum.

Tatapannya jatuh kepadaku.

Lalu, di depan seluruh kamera, dia berlutut dengan satu kaki.

Mengeluarkan sebuah cincin baru.

Dan berkata dengan mata yang memerah:

“Aurelia.”

“Pernikahan kita dimulai karena keterpaksaan.”

“Tapi cintaku kepadamu…”

“Adalah pilihan yang kubuat setiap hari.”

“Terima kasih…”

“Karena pada malam ketika kita jatuh bersama…”

“Kamu tidak meninggalkanku.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Dan di tengah tepuk tangan semua orang, aku mengangguk sambil menangis.

Karena akhirnya aku mengerti.

Terkadang…

Takdir memang mempertemukan dua orang dengan cara yang paling aneh.

Namun orang yang bersedia menangkapmu saat kamu jatuh…

Adalah orang yang pantas menemanimu seumur hidup.

TAMAT