Karena di kehidupan sebelumnya, sepuluh menit setelah ujian dimulai, teman sebangkuku, Vina, tiba-tiba muntah, dan muntahannya membasahi setengah lembar jawabanku.
Saat itu aku tidak membuat keributan. Aku hanya meminta lembar jawaban baru dan berusaha mengerjakan ulang. Namun karena waktu yang terbuang, aku tidak sempat menyelesaikan esai Bahasa Indonesia, sehingga nilaiku turun lebih dari dua puluh poin.
Setelah ujian selesai, Vina bahkan mengunggah postingan di media sosial, memutarbalikkan fakta seolah-olah akulah yang membuat keributan hingga membuatnya panik. Ayahnya membawa beberapa kenalannya ke depan rumahku, memaksaku meminta maaf secara terbuka karena katanya aku telah menghancurkan mimpinya masuk universitas terbaik.
Tetapi setelah mendapatkan rekaman CCTV, aku akhirnya mengetahui kebenarannya.
Dia sengaja meminum susu kedaluwarsa sebelum ujian hanya untuk menjatuhkan saingan terbesarnya—
Aku.
Ibuku sampai terkena stroke karena tekanan mental, sementara wali kelasku saat itu hanya menyuruhku mengalah.
Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke waktu sebelum ujian Bahasa Indonesia dimulai.
Vina duduk di sampingku dengan wajah pucat.
“Perutku sakit. Maaf ya…”
Aku langsung mengangkat tangan dan menatap pengawas.
“Bu, kondisi kesehatan peserta di sebelah saya terlihat tidak normal. Saya berharap hal ini dapat ditangani dengan baik.”
1
Tatapan Bu Ratna langsung membeku.
Vina memegang perutnya, dan matanya segera memerah.
“Clara, maksudmu apa?”
Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk didengar oleh siswa di depan dan belakang kami.
“Perutku cuma sakit, bukan penyakit menular. Apa kamu memang seperti ini? Sengaja ingin mempermalukanku di depan semua orang?”
Anak laki-laki di belakang kami mengerutkan kening.
“Ujian mau mulai, bisa tidak berhenti bikin drama?”
Kartu peserta ujian sudah terbuka di atas meja. Pena hitamku tersusun rapi, tetapi jari-jariku gemetar karena dingin.
Lembar jawaban yang penuh muntahan…
Esai yang tidak selesai…
Wajah ibuku yang kesulitan bernapas di rumah sakit…
Semua kenangan itu kembali.
Namun ruang ujian bukan tempat untuk bertengkar.
Aku mengangkat tanganku lebih tinggi.
“Bu, dia sendiri mengakui bahwa perutnya sakit dan wajahnya pucat. Sesuai prosedur darurat ujian, kondisi ini seharusnya dilaporkan kepada pengawas utama untuk menentukan apakah dia membutuhkan ruang khusus atau bantuan medis.”
Bu Ratna berusia sekitar empat puluh tahun.
Beliau mendekat dan berbisik:
“Nak, tinggal tiga menit lagi sebelum ujian dimulai. Apa kamu yakin ingin memproses ini?”
“Saya yakin.”
Tiba-tiba Vina menarik lengan bajuku.
Kukunya mencengkeram kain seragamku, sementara suaranya terdengar serak memohon.
“Clara, aku tahu kamu ingin menjadi peringkat pertama, tapi jangan seperti ini…”
Kata-katanya seperti jarum yang menusuk telinga semua orang.
Siswi di depanku langsung menoleh dengan tatapan jijik.
“Mau ujian masih saja bikin drama. Menyebalkan.”
Ekspresi Bu Ratna berubah.
Seorang pengawas laki-laki turun dari podium.
“Peserta ujian dilarang berbicara.”
Vina melepaskan tangannya dariku, air mata menggantung di bulu matanya.
“Bu, saya akan berusaha menyelesaikan ujian. Jangan melibatkan orang lain.”
Dia terdengar sangat baik.
Seolah-olah akulah orang gila yang memanfaatkan penyakit orang lain untuk membuat masalah.
Bu Ratna menatapku.
“Clara, kalau dia bilang masih bisa melanjutkan ujian, pada prinsipnya kami tidak bisa memindahkan tempat duduk begitu saja.”
Persis sama seperti kehidupan sebelumnya.
Dulu, karena pengawas berkata tidak bisa pindah, aku memilih diam.
Sepuluh menit kemudian, Vina muntah.
Dia meminta maaf sambil menangis.
Dan justru aku yang dimarahi karena membuang waktu.
Kali ini, aku mengeluarkan kartu peserta dan KTP, lalu meletakkannya di bagian paling terlihat di meja.
“Bu, saya tidak meminta dia dipindahkan.”
“Saya meminta agar saya dipindahkan ke ruang cadangan, atau setidaknya diberikan jarak yang lebih aman untuk melindungi diri saya.”
Pengawas laki-laki mengerutkan kening.
“Tidak ada aturan tentang ‘jarak perlindungan’.”
“Kalau begitu, mohon dicatat bahwa sebelum ujian dimulai, saya telah melaporkan bahwa peserta di sebelah saya menunjukkan gejala sakit.”
Bu Ratna mengatupkan bibir.
Tiba-tiba pengeras suara berbunyi.
“Pengawas dipersilakan membuka paket soal.”
Suara kertas yang disobek bergema di seluruh ruangan.
Vina menunduk, bahunya bergetar.
Dengan suara yang hanya bisa kudengar, dia berbisik:
“Clara… menurutmu pindah tempat akan menyelamatkanmu?”
Jantungku langsung tenggelam.
Mereka mulai membagikan soal ujian.
Begitu lembar soal sampai di mejaku, Vina mendadak menutup mulutnya dan mengeluarkan suara mual.
Bu Ratna langsung memegang meja Vina.
“Vina, ada apa?”
Vina menggeleng sambil menangis.
“Saya baik-baik saja, Bu. Saya cuma stres karena perkataannya tadi…”
Beberapa pasang mata langsung menoleh kepadaku.
Bel ujian sudah berbunyi.
Vina menunduk, bibirnya hampir menyentuh tepi meja.
Dan sekali lagi…
Dia mengeluarkan suara mual.
2
Huruf-huruf di soal seolah menari di depan mataku.
Para pengawas berdiri di antara kami, menghalangi sebagian cahaya.
Napasku semakin berat.
Vina tidak membawa air minum.
Tetapi di kehidupan sebelumnya, aku masih ingat susu yang dibawanya.
Tanggal kedaluwarsanya sudah dia kikis dengan kukunya.
Susu itu sudah kedaluwarsa selama tiga belas hari.
Sekarang dia tidak membawa susu.
Namun bukan berarti dia tidak meminumnya.
Akhirnya Bu Ratna menekan radio komunikasi.
“Ruang tiga, ada peserta yang diduga mengalami gangguan pencernaan. Mohon tim medis segera datang.”
Vina mengangkat kepalanya.
Wajahnya pucat seperti kertas.
“Bu, saya masih bisa ujian.”
“Kerjakan dulu soalmu.”
Nada suara Bu Ratna sedikit melunak.
“Kita tunggu tim medis datang.”
Saat mendengar itu, tatapan Vina kepadaku berubah dingin sesaat.
Namun dingin itu segera tertutupi oleh air matanya sehingga tidak ada yang menyadarinya.
Aku mulai membaca topik esai dan memaksa diriku untuk menulis.
Setiap kata yang kutulis selalu diiringi suara mual dari sebelah.
Anak laki-laki di belakang akhirnya tidak tahan.
“Kalau sakit, keluar saja!”
Vina segera menoleh.
“Maaf… aku tidak sengaja…”
Namun laki-laki itu malah memelototiku.
“Tadi kamu paling banyak bicara. Kenapa tidak suruh guru bergerak lebih cepat?”
Amarah kembali menyelimuti dadaku.
Bu Ratna langsung menegurnya.
“Diam dan kerjakan soal!”
Sepuluh menit berlalu.
Tim medis masih belum datang.
Tiba-tiba Vina duduk tegak dan menghadap ke arahku.
Gerakannya…
Persis sama seperti di kehidupan sebelumnya.
Pada saat itu, refleksku lebih cepat daripada pikiranku.
Aku langsung menarik lembar jawabanku menjauh.
Detik berikutnya…
Bau asam yang menyengat menghantam sudut mejaku.
Cairan kuning pekat terciprat ke sisi lembar soal, tetapi tidak mengenai lembar jawabanku.
Seluruh ruangan langsung kacau.
Ada yang menutup hidung.
Ada yang memaki.
Bu Ratna bergegas membantu Vina.
“Nak, cepat keluar untuk diperiksa!”
Namun Vina justru memegang meja dengan erat.
“Tidak!”
“Aku ingin ujian!”
“Aku tidak boleh keluar!”
Muntahannya mengalir di sisi meja.
Sudut kanan lembar soalku basah.
Bagian itulah yang berisi teks bacaan.
Pengawas laki-laki datang membawa kantong cadangan dan tisu dengan wajah marah.
“Lembar soal yang terkontaminasi harus disegel. Saya akan meminta paket soal cadangan untukmu.”
Disegel.
Paket cadangan.
Mengerjakan ulang lagi.
Mimpi buruk kehidupan sebelumnya…
Akan kembali menghantuiku dengan cara yang berbeda.
Aku menggenggam erat lembar jawabanku.
“Bu…”
“Lembar jawaban saya tidak terkena. Hanya lembar soal yang terkontaminasi.”
“Saya meminta agar hanya lembar soal yang diganti, bukan lembar jawabannya.”
“Dan mohon catat waktu terjadinya kontaminasi ini.”

“Bu…”
“Lembar jawaban saya tidak terkena. Hanya lembar soal yang terkontaminasi.”
“Saya mohon agar hanya lembar soalnya yang diganti, bukan lembar jawabannya.”
“Dan mohon dicatat waktu terjadinya insiden ini.”
Seluruh ruangan mendadak hening.
Bu Ratna menatapku beberapa detik, lalu mengangguk.
“Catat pukul 09.18.”
“Lembar jawaban peserta tidak rusak. Hanya paket soal yang akan diganti.”
Pengawas laki-laki segera mencatat laporan tersebut.
Saat itulah, Vina yang masih memegang meja tiba-tiba berubah panik.
“Tidak!”
“Maksud saya… saya masih bisa mengerjakan ujian!”
Wajahnya langsung memucat.
Untuk pertama kalinya…
Dia benar-benar panik.
Karena semuanya tidak berjalan seperti yang dia rencanakan.
Tak lama kemudian, tim medis datang.
Setelah memeriksa keadaannya, mereka langsung memutuskan untuk membawanya ke ruang kesehatan.
Vina menangis sambil memegang lengan Bu Ratna.
“Bu… saya tidak boleh keluar…”
“Saya harus tetap di sini…”
Namun kali ini, Bu Ratna tidak melunak.
“Kesehatanmu lebih penting.”
“Bawa dia keluar.”
Melihat Vina dibawa pergi, aku akhirnya menarik napas panjang.
Dan untuk pertama kalinya setelah hidup kembali…
Tanganku tidak lagi gemetar.
Aku kembali menulis.
Satu kalimat.
Dua kalimat.
Tiga halaman penuh.
Esai yang dulu tidak pernah sempat kuselesaikan…
Kali ini akhirnya selesai.
Sebulan kemudian, hasil ujian nasional diumumkan.
Namaku, Clara Wijaya…
Berada di peringkat pertama se-Kota Surabaya.
Aku diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan nilai hampir sempurna.
Ibuku menangis sambil memelukku erat.
“Syukurlah…”
“Syukurlah…”
“Akhirnya Tuhan melindungi putriku…”
Melihat wajah ibuku yang sehat dan bahagia…
Air mataku ikut jatuh.
Karena dalam kehidupan sebelumnya…
Beliau sudah terbaring di rumah sakit akibat stroke.
Namun kali ini…
Takdir telah berubah.
Dua minggu kemudian, sebuah video dari CCTV minimarket menyebar di internet.
Dalam rekaman itu, terlihat jelas Vina membeli susu.
Kemudian, setelah keluar dari toko, dia mengambil benda kecil dari tasnya dan menggores tanggal kedaluwarsa yang sudah lewat dua minggu.
Setelah itu…
Dia meminum susu tersebut sambil tersenyum.
Video kedua berasal dari kamera koridor sekolah.
Suara Vina terdengar jelas.
“Kalau aku tidak bisa menjadi nomor satu…”
“Clara juga tidak boleh.”
“Aku akan menariknya jatuh bersamaku.”
Seluruh sekolah gempar.
Orang-orang yang dulu memandangku dengan sinis mulai meminta maaf.
Anak laki-laki yang duduk di belakangku bahkan datang secara khusus.
“Clara…”
“Maaf.”
“Aku salah menilaimu.”
Aku hanya tersenyum.
Karena aku sudah tidak membutuhkan penjelasan dari siapa pun lagi.
Ayah Vina yang dulu membawa orang-orang ke depan rumahku…
Kini datang seorang diri.
Rambutnya yang dulu hitam mulai dipenuhi uban.
Begitu melihat ibuku, dia langsung membungkuk dalam-dalam.
“Saya minta maaf…”
“Saya telah mempercayai anak saya tanpa mencari kebenarannya…”
Ibuku hanya menjawab pelan.
“Anak-anak bisa salah…”
“Tetapi orang dewasa seharusnya mengajari mereka bertanggung jawab, bukan melindungi kesalahan mereka.”
Pria itu langsung menangis.
Empat tahun kemudian.
Hari wisuda Universitas Indonesia.
Aku berdiri di atas panggung sebagai lulusan terbaik.
Saat menerima medali emas, aku melihat ibuku di barisan depan.
Beliau berdiri sambil menangis dan bertepuk tangan.
Dan di saat itulah…
Aku melihat seseorang berdiri jauh di luar aula.
Itu Vina.
Tubuhnya jauh lebih kurus.
Dia mengenakan seragam kasir minimarket.
Ketika acara selesai, dia menghampiriku.
“Clara…”
Suaranya bergetar.
“Aku iri padamu…”
“Aku iri karena kamu selalu lebih baik…”
“Aku iri karena semua orang memuji kamu…”
“Dan karena iri itu…”
“Aku menghancurkan diriku sendiri…”
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Aku minta maaf…”
“Aku benar-benar menyesal…”
Aku memandang wanita yang pernah menghancurkan hidupku dalam kehidupan sebelumnya.
Namun anehnya…
Aku sudah tidak membencinya.
Karena orang yang paling menghukumnya…
Bukan aku.
Melainkan pilihan yang dia buat sendiri.
Aku tersenyum kecil.
“Vina…”
“Kita semua bertanggung jawab atas hidup kita.”
“Kamu tidak kalah karena aku.”
“Kamu kalah ketika kamu memilih menjatuhkan orang lain daripada memperbaiki dirimu sendiri.”
Vina menundukkan kepala dan menangis tersedu-sedu.
Sedangkan aku…
Berjalan menuju ibuku.
Beliau langsung memelukku erat.
Dan di bawah langit senja Jakarta yang hangat…
Aku akhirnya mengerti.
Kadang…
Kesempatan kedua yang diberikan Tuhan bukan untuk membalas dendam.
Melainkan untuk melindungi orang-orang yang kita cintai.
Dan terkadang…
Nasib seseorang dapat berubah sepenuhnya…
Hanya karena keberanian untuk mengangkat tangan beberapa menit sebelum ujian dimulai.