*KETIKA AKU AKHIRNYA MEMUTUSKAN MEMBERIKAN NAMA KELUARGANYA KEPADA ANAK KEDUA KAMI, BARULAH AKU MENGETAHUI BAHWA AKU BUKAN ISTRINYA YANG SAH**
### Bagian 1: Aku Menggendong Bayiku ke Kantor Catatan Sipil, Tanpa Menyadari Retakan Pertama dalam Delapan Tahun Pernikahanku
Saat melahirkan anak pertama kami, Julian Villanueva sendirilah yang bersikeras agar anak kami tidak menggunakan nama keluarganya.
Saat itu aku masih terbaring di ruang pemulihan sebuah rumah sakit swasta di Mandaluyong. Separuh tubuhku masih mati rasa, lututku masih gemetar, dan rasanya seperti ada batu besar yang menekan bagian bawah perutku.
Namun yang paling jelas dalam ingatanku justru wajah Julian.
Dia berdiri di samping tempat tidurku, menggenggam tanganku seolah takut kehilanganku jika melepaskannya walau hanya satu detik.
Ketika seorang perawat datang membawa formulir akta kelahiran, ibu mertuaku, Doña Elena, langsung angkat bicara.
“Gunakan nama keluarga Villanueva. Itu cucu pertama keluarga kami.”
Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Julian mengangkat kepalanya.
Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar tegas.
“Bu, anak kami akan memakai nama keluarga Santos.”
Ibu mertuaku mengernyit.
“Apa maksudmu?”
Julian merapikan selimut bayi kami yang baru lahir. Setelah itu, dia menatapku dengan kelembutan yang bisa membuat wanita mana pun menangis.
“Mara yang mengandungnya selama sembilan bulan. Dia yang muntah-muntah, kakinya bengkak, tidak bisa tidur, dan hampir mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan. Kenapa aku harus berebut nama keluarga?”
Dia mengusap pipiku.
“Aku bukan pria seperti itu. Menjadi ayah bukan ditentukan oleh nama di atas kertas. Dia anak kita, tetapi tubuh Mara yang membawanya ke dunia. Jadi dia berhak memutuskan.”
Saat itu, semua rasa sakit di tubuhku seperti tertutup oleh kehangatan di dadaku.
Aku menangis.
Bukan karena lelah.
Bukan karena sakit.
Aku menangis karena merasa sangat beruntung.
Di negara yang masih menganggap nama keluarga pria sebagai kebanggaan besar, suamiku justru mundur dengan sukarela.
Semua orang di sekelilingku mengatakan bahwa pria seperti Julian sangat langka.
Perawat yang merawatku bahkan tersenyum.
“Bu, Anda beruntung. Tidak semua suami menghormati istrinya seperti itu.”
Tetangga-tetangga kami di kondominium di Pasig juga sering mengatakan hal yang sama.
“Mara, jangan pernah lepaskan Julian. Dia tampan, perhatian, dan tidak egois.”
Mantan rekan kerjaku di agensi periklanan bahkan hampir iri setengah mati di grup chat.
“Girl, pria seperti itu sudah hampir punah. Kalau dia punya saudara laki-laki, kenalkan ke kami dong.”
Saat itu aku hanya tertawa mendengar candaan mereka.
Sejujurnya, aku juga percaya.
Aku benar-benar merasa telah menemukan pria yang berani memilihku meski harus berseberangan dengan keluarganya sendiri.
Aku pikir dia mencintaiku cukup dalam untuk membuat dunia yang sering berat bagi perempuan menjadi lebih ringan.
Dan selama delapan tahun, aku berpegang pada keyakinan itu.
Aku tetap mempercayainya meski ibu mertuaku berkali-kali mengatakan bahwa sayang sekali anak sulung kami tidak memakai nama keluarga Villanueva.
Aku tetap mempercayainya meski Julian sering bepergian ke Cebu, Davao, Baguio, dan berbagai lokasi proyek lainnya.
Aku tetap mempercayainya meski beberapa kali terbangun di tengah malam dan melihatnya berdiri di balkon, membelakangiku, berbicara di telepon dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Setiap kali kutanya siapa yang dia hubungi, jawabannya selalu sama.
“Hanya klien, sayang. Ada urusan proyek yang mendesak.”
Dan setiap kali dia memelukku setelah itu, aku memilih untuk percaya.
Sulit mencurigai pria yang pernah menggendongmu ke ruang gawat darurat ketika kamu mengalami keguguran.
Sulit mencurigai pria yang menangis lebih keras darimu saat kalian kehilangan anak pertama.
Sulit mencurigai pria yang bisa membuat susu, mengganti popok, memijat kakimu yang bengkak, dan begadang tanpa keluhan.
Karena itu, ketika aku hamil anak kedua, diam-diam aku membuat keputusan.
Kali ini, anak kami akan memakai nama keluarga Julian.
Bukan karena keluarganya memaksaku.
Bukan karena aku menyerah.
Melainkan karena aku ingin memberinya kejutan.
Aku ingin membalas semua “cinta” yang kukira telah dia berikan kepadaku.
Aku bahkan membayangkan wajahnya saat melihat akta kelahiran anak kedua kami.
Mungkin dia akan terkejut.
Mungkin dia akan tersenyum lebar.
Mungkin dia akan memelukku dan berkata:
“Sayang, kamu tidak perlu melakukan ini, tapi terima kasih. Terima kasih karena kita benar-benar keluarga.”
Itulah adegan yang kubayangkan saat mencuci pakaian bayi.
Itulah mimpi yang kupeluk saat menata ranjang bayi di samping tempat tidur kami.
Itulah hadiah kecil yang kusiapkan untuk pria yang kukira adalah suamiku.
Namun hati perempuan memang pandai menjahit mimpi.
Sayangnya, kenyataan jauh lebih pandai mengguntingnya.
Aku melahirkan anak kedua kami tanpa kehadiran Julian.
Pukul tiga dini hari, rasa sakit yang luar biasa menyerang. Saat itu aku masih duduk di ruang tamu, bersandar di sofa sambil memandangi lampu jalan dari jendela.
Ate Lorna, asisten rumah tangga yang sudah seperti keluarga sendiri, langsung berlari ketika mendengarku berteriak kesakitan.
“Ma’am Mara! Waktunya melahirkan!”
Dia segera menelepon Julian.
Butuh waktu lama sebelum panggilan itu dijawab.
Ketika suaranya terdengar dari speaker, aku mendengar embusan angin di belakangnya. Ada juga suara musik yang samar, seperti berasal dari lobi hotel atau restoran.
“Sayang? Ada apa?”
Ate Lorna hampir menangis.
“Sir, Ma’am Mara akan melahirkan. Saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang.”
Julian terdiam sesaat.
Kemudian dia berbicara cepat.
“Aku sedang di lokasi proyek di Cebu. Ada masalah darurat pada tim struktur. Aku akan memesan penerbangan paling pagi. Bilang pada Mara untuk bertahan. Bilang aku mencintainya.”
Meski tubuhku terpelintir karena kontraksi, aku memaksa diri tersenyum.
Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu karena pekerjaan.
Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu bukan salahnya.
Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa pria yang pernah meninggalkan rapat direksi hanya untuk menemaniku kontrol kehamilan tidak mungkin sengaja melewatkan kelahiran anaknya.
Karena itu, meskipun dia tidak berada di sisiku saat dokter mengangkat bayi perempuan kami ke dunia, aku tidak marah.
Ketika perawat meletakkan bayi kecil itu di dadaku, aku menangis diam-diam.
Momen itu terasa tidak lengkap.
Tetapi aku memaksanya menjadi utuh.
Siang harinya, Julian menelepon lewat video call.
Wajahnya terlihat pucat.
Rambutnya sedikit berantakan.
Dia mengenakan polo putih yang terlihat seperti dipakai dengan tergesa-gesa.
“Sayang, maaf. Aku tidak sempat sampai. Aku suami yang buruk.”
Aku memperhatikan latar belakangnya.
Dinding putih.
Pencahayaan lembut.
Tidak terlihat seperti lokasi proyek konstruksi.
Namun aku terlalu lelah.
Baru melahirkan.
Bayiku sedang menyusu di pelukanku.
Jadi alih-alih bertanya, aku memilih menelan keraguan kecil pertama itu.
“Pulanglah kalau sudah bisa.”
Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
“Aku akan menebus semuanya. Aku janji.”
Tiga hari kemudian, dia pulang.
Dia membawa buket melati putih dan satu kantong besar berisi perlengkapan bayi dari pusat perbelanjaan mewah.
Begitu masuk ke kamar, dia berlutut di samping tempat tidurku.
“Mara, maaf. Aku akan berutang padamu seumur hidup.”
Dia menggenggam tanganku dan mencium punggungnya.
Wanita lain mungkin juga akan menangis melihat itu.
Aku memang benar-benar menangis.
Sekali lagi, aku memilih untuk percaya.
Ada perempuan yang tidak langsung menjadi bodoh.
Mereka didorong perlahan ke arah itu oleh cinta.
Saat minggu keempat setelah melahirkan tiba, kami harus mengurus akta kelahiran anak perempuan kami.
Julian berkata dia yang akan mengurus semuanya.
“Sayang, kamu masih dalam masa pemulihan. Biar aku saja yang ke Kantor Catatan Sipil.”
Aku tersenyum.
“Tidak perlu. Aku ingin mengurusnya sendiri.”
Dia sempat terdiam.
Hanya sesaat.
Tetapi aku melihatnya.
Seolah ada bayangan yang melintas di wajahnya.
“Kamu yakin? Cuacanya panas, macet, dan kamu masih dalam masa nifas.”
“Aku sanggup.”
Dia mendekat dan mencium keningku.
“Baiklah. Tapi telepon aku kalau ada apa-apa.”
Pagi itu, hujan turun tipis di Manila.
Aku membungkus bayiku dengan selimut lembut.
Aku juga mengajak Ate Lorna dan putra sulung kami, Nico, karena aku tidak ingin meninggalkannya di rumah bersama ibu mertuaku yang sering datang tanpa pemberitahuan.
Aku membawa surat keterangan lahir dari rumah sakit, kartu identitas, fotokopi identitas Julian, dan surat nikah kami yang selama delapan tahun kusimpan di laci.
Dokumen itu adalah bukti hidup yang selama ini kupercaya.
Ada tanda tangan.
Ada stempel.
Ada nomor registrasi.
Aku masih ingat hari ketika Julian memberikannya kepadaku.
Tiga minggu setelah pernikahan kecil kami di sebuah kapel taman di Tagaytay.
Ada pastor.
Ada bunga.
Ada beberapa tamu dari pihaknya.
Orang tuaku tidak hadir karena mereka menentang hubungan kami saat itu.
Julian mengangkat dokumen itu di depanku dan tertawa.
“Sekarang kamu sudah menjadi Mrs. Villanueva, meskipun masih memakai Santos sebagai nama profesionalmu.”
Aku menepuk lengannya.
“Percaya diri sekali.”
Dia menarikku ke dalam pelukannya.

“Tentu saja. Karena sekarang kamu milikku.”
Saat itu aku tersipu malu.
Kini, sambil duduk di ruang tunggu Kantor Catatan Sipil dan menggenggam map itu erat-erat, aku sama sekali tidak menyadari bahwa dokumen yang paling lama kujaga itulah bukti pertama pengkhianatannya.
Bagian 2: “Nama Ini Tidak Terdaftar”
Ruang tunggu Kantor Catatan Sipil terasa pengap oleh aroma berkas lama dan AC yang tidak terlalu dingin. Di luar, rintik hujan Manila semakin deras, memukul jendela kaca dengan irama yang monoton. Aku mengayunkan bayiku pelan dalam pelukan, sementara Nico sibuk menggambar dengan krayon di atas kursi plastik di sebelahku.
“Nomor antrean 142, silakan ke Loket 4,” suara mesin pemanggil otomatis memecah lamunanku.
Aku berdiri, merapikan selimut bayiku, lalu melangkah menuju loket. Seorang petugas wanita paruh baya dengan kacamata bertali menatapku dengan wajah lelah yang khas.
“Selamat pagi. Ingin mendaftarkan akta kelahiran anak kedua,” kataku sambil menyodorkan map berisi seluruh dokumen.
Petugas itu mengambil map tersebut tanpa ekspresi. Dia membuka lembar demi lembar, mencocokkan surat keterangan lahir dari rumah sakit dengan kartu identitasku dan Julian.
“Anak kedua menggunakan nama keluarga ayah, ya? Villanueva?” tanyanya memastikan saat melihat formulir yang sudah kuisi.
“Iya, betul,” jawabku sambil tersenyum tipis. Jantungku berdebar agak cepat karena membayangkan reaksi Julian malam nanti saat aku memperlihatkan akta ini. “Anak pertama saya memakai nama keluarga saya, Santos. Tapi yang kedua ini, saya ingin memberikan nama keluarga suaminya sebagai kejutan.”
Petugas itu mengangguk pelan, lalu jemarinya mulai mengetik di atas papan ketik komputer tabungnya yang tua. Bunyi klik-klik yang berisik memenuhi keheningan di antara kami.
Satu menit berlalu.
Dua menit berlalu.
Dahi petugas itu mulai mengernyit. Dia membetulkan letak kacamata di hidungnya, lalu menatap layar komputer dengan lebih dekat. Dia mengetik ulang sesuatu, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
“Ada masalah, Bu?” tanyaku, mulai merasa tidak nyaman.
“Tunggu sebentar ya, Ma’am,” katanya, suaranya kini kehilangan nada datar yang tadi. Dia mengambil lembar surat nikah kami—dokumen berstempel resmi yang sudah kusimpan selama delapan tahun—dan memperhatikan nomor registrasinya dengan saksama.
Dia mengetik nomor itu ke dalam sistemnya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Hingga akhirnya, dia menghela napas panjang dan menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Ada rasa kasihan, namun juga kecemasan yang mendalam di matanya.
“Ma’am Mara Santos…” dia memanggil nama gadisku, bukan nama belakang Julian. “Saya sudah memeriksa nomor registrasi surat nikah ini di sistem catatan sipil nasional.”
“Lalu? Apakah ada kesalahan ketik dari pihak gereja dulu?”
Petugas itu menggelengkan kepala perlahan. “Bukan kesalahan ketik. Nomor registrasi ini… sebenarnya adalah milik surat nikah pasangan lain yang menikah di Iloilo sepuluh tahun lalu. Dokumen yang Anda bawa ini tidak sah. Secara hukum negara, pernikahan Anda dengan Tuan Julian Villanueva tidak pernah terdaftar.”
Duniaku mendadak kehilangan gravitasi.
“Apa maksud Anda?” Suaraku bergetar, nyaris seperti bisikan. “Itu tidak mungkin. Kami menikah di Tagaytay delapan tahun lalu. Ada pendeta, ada saksi, ada—”
“Ma’am, tolong dengarkan saya dulu,” petugas itu memotong dengan suara rendah, seolah takut orang lain di ruang tunggu akan mendengar. “Sistem kami tidak pernah berbohong. Dan ada satu hal lagi…”
Dia memutar layar monitornya ke arahku. Di sana, di bawah kolom pencarian nama Julian Villanueva, muncul sebuah data pernikahan yang valid. Lengkap dengan foto digital yang sangat jelas.
Itu foto Julian. Suamiku.
Dia mengenakan barong putih yang sangat mewah, tersenyum lebar ke arah kamera. Namun wanita yang berdiri di sampingnya, yang memakai gaun pengantin renda tradisional, bukanlah aku.
“Tuan Julian Villanueva sudah terdaftar menikah secara sah sejak sembilan tahun yang lalu di Katedral Cebu,” kata petugas itu dengan hati-hati. “Istrinya yang sah secara hukum bernama Alyssa Marie Valdez-Villanueva. Dan status pernikahan mereka sampai hari ini masih aktif. Mereka tidak pernah bercerai atau melakukan pembatalan.”
Bagian 3: Delapan Tahun dalam Sebuah Kebohongan
Aku tidak tahu bagaimana jalannya aku bisa keluar dari gedung itu. Yang kuingat hanyalah tangan Ate Lorna yang gemetar menahan lenganku agar aku tidak tumbang ke lantai, sementara Nico terus menarik ujung bajuku, bertanya mengapa Mommy menangis.
Pernikahan sembilan tahun lalu. Di Cebu.
Kepalaku mendadak memutar ulang setiap detail dari delapan tahun kehidupan kami bagaikan film horor yang diputar cepat.
“Aku sedang di lokasi proyek di Cebu, sayang.” “Gunakan nama keluarga Santos untuk anak pertama kita. Tubuhmu yang membawanya ke dunia, kamu yang berhak menentukan.”
Sekarang aku paham. Sekarang semuanya masuk akal dengan cara yang paling kejam.
Dia bukan pria langka yang menghormati hak-hak perempuan. Dia bukan suami teladan yang tidak egois tentang nama keluarga. Dia memaksaku menggunakan nama ‘Santos’ untuk anak pertama kami karena dia tahu jika anak itu menggunakan nama Villanueva, sistem catatan sipil akan langsung menolak pendaftarannya karena dia sudah memiliki anak terdaftar dari istri sahnya!
Dia membiarkanku melahirkan sendirian karena dia harus membagi waktunya dengan keluarga aslinya di Cebu. Dia memalsukan seluruh pernikahan kami, menyewa aktor sebagai pendeta dan saksi, dan mencetak surat nikah palsu hanya untuk menjadikanku gundik rahasia yang melahirkan anak-anaknya di Manila tanpa pernah membuat kesalahan hukum yang bisa menyeretnya ke penjara atas tuduhan bigami.
Aku duduk di dalam mobil yang terparkir di bawah guyuran hujan. Bayi perempuan di pelukanku mulai menangis, seolah merasakan hancurnya hati ibunya.
Aku mengambil ponselku dengan tangan yang sedingin es. Aku mencari nomor kontak pria yang selama delapan tahun ini kupanggil dengan sebutan ‘Suamiku’.
Panggilan pertama dialihkan. Panggilan kedua baru diangkat pada dering kelima.
“Ya, sayang? Ada apa? Kamu sudah selesai di Catatan Sipil? Maaf ya aku tidak bisa menemani…” suaranya terdengar begitu hangat, begitu penuh perhatian. Suara yang sama yang selalu menenangkanku di malam-malam sepi.
“Julian,” kataku. Suaraku tidak bergetar lagi. Suaraku mendadak mati rasa, sedatar permukaan makam. “Di mana kamu sekarang?”
“Aku di kantor, sayang. Ada rapat anggaran dengan dewan komisaris. Kenapa? Suaramu terdengar aneh.”
“Aku baru saja dari Loket 4 Kantor Catatan Sipil,” kataku, memotong kalimatnya. “Aku berniat memberikan nama ‘Villanueva’ untuk putri kita. Tapi petugas di sana mengatakan sesuatu yang sangat menarik.”
Keheningan yang pekat langsung terjadi di seberang telepon. Bahkan suara embusan napas Julian mendadak hilang.
“Dia bilang,” lanjutku, air mata mengalir deras tanpa suara di pipiku, “Nama itu sudah penuh di Cebu. Bersama Alyssa Marie Valdez.”
Hening lagi. Kali ini lebih lama. Tiga puluh detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya aku mendengar suara Julian berubah sepenuhnya. Kehangatan yang biasanya ada di sana lenyap, digantikan oleh kepanikan yang mendalam dan napas yang memburu.
“Mara… dengarkan aku dulu. Tolong jangan lakukan apa pun. Aku akan pulang sekarang juga. Aku bisa jelaskan semuanya, Mara! Aku mencintaimu, demi Tuhan aku mencintaimu dan anak-anak!”
“Jangan berani-berani menginjakkan kakimu di kondominiumku, Julian,” kataku dingin. “Kondominium ini dibeli dengan uang warisan orang tuaku, atas namaku sendiri. Kamu tidak punya hak satu inci pun di sini.”
“Mara, tolong—”
“Delapan tahun kamu menjadikanku orang bodoh,” aku memotongnya untuk terakhir kali. “Mulai hari ini, putriku akan tetap bernama Santos. Dan kamu… kamu hanyalah orang asing yang namanya akan kuhapus dari ingatan anak-anakku.”
Aku langsung mematikan sambungan telepon, mengeluarkan kartu SIM dari ponselku, lalu melemparnya ke luar jendela mobil, membiarkannya tenggelam di dalam genangan air hujan jalanan Manila. Aku memeluk kedua anakku erat-erat. Jembatan masa lalu kami sudah kubakar habis, dan dari abunya, aku akan membangun dunia baru di mana nama keluarga ‘Santos’ milikku sudah lebih dari cukup untuk melindungi mereka.
Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.