Posted in

TENGAH MALAM SUAMIKU MENELEPON DAN MENGATAKAN AYAHNYA TERKENA STROKE OTAK, SEHINGGA AKU HARUS SEGERA MENTRANSFER Rp255 JUTA. NAMUN SAAT AKU TIBA DI RUMAH SAKIT, PRIA YANG KATANYA BERADA DI ICU ITU SEDANG MAKAN MANGGA MATANG DAN MENYEBUTKU LEBIH BODOH DARIPADA KERBAU**

TENGAH MALAM SUAMIKU MENELEPON DAN MENGATAKAN AYAHNYA TERKENA STROKE OTAK, SEHINGGA AKU HARUS SEGERA MENTRANSFER Rp255 JUTA. NAMUN SAAT AKU TIBA DI RUMAH SAKIT, PRIA YANG KATANYA BERADA DI ICU ITU SEDANG MAKAN MANGGA MATANG DAN MENYEBUTKU LEBIH BODOH DARIPADA KERBAU**

### Bagian 1: Telepon Pukul Sebelas Malam dan ICU yang Tidak Memiliki Pasien

Pukul sebelas malam, ponselku tiba-tiba berdering saat aku sedang memeriksa laporan penjualan bulanan perusahaan logistik kecil kami di Pasig.

Rafael Dizon yang menelepon.

Suamiku.

Begitu aku mengangkat telepon, suaranya terdengar panik dan terengah-engah.

“Maya, Ayah kena stroke otak. Dokter bilang dia harus dioperasi malam ini juga. Besok pagi, segera transfer Rp255 juta dari rekening gabungan kita ke rekening pribadiku. Ingat, setelah transfer, tetaplah di rumah. Jangan datang ke rumah sakit.”

Tanganku berhenti di atas laptop.

Arturo Dizon, ayah mertuaku, baru kemarin masih duduk di meja makan dan mengkritik sup yang kubuat karena katanya rasanya seperti air bekas mencuci piring.

Bagaimana mungkin dalam semalam dia tiba-tiba terkena stroke otak?

Aku langsung bertanya.

“Di rumah sakit mana? Aku akan ke sana sekarang.”

Di seberang telepon, suasana mendadak hening selama dua detik.

Lalu suara Rafael tiba-tiba meninggi.

“Aku sudah bilang jangan datang!”

Seolah sadar bahwa dia terlalu keras, dia langsung melunakkan nada bicaranya.

Namun kelembutan itu terasa dipaksakan.

“Maya, dengarkan aku. Ibu sedang menangis di rumah sakit. Nico juga sedang mengurus semua administrasi. Kalau kamu datang, situasinya malah akan semakin kacau. Bantuan terbesar yang bisa kamu lakukan sekarang adalah mentransfer uang itu. Aku harus membayar uang muka operasi.”

Aku menatap layar laptop.

Laporan keuntungan perusahaan bulan ini masih terbuka.

Perusahaan itu terdaftar atas namaku.

Aku juga perwakilan hukumnya.

Aku pemegang saham mayoritas.

Dulu Rafael mengatakan bahwa lebih baik namaku yang dicantumkan dalam dokumen perusahaan karena riwayat kreditnya bermasalah akibat bisnis lamanya.

Aku percaya.

Aku percaya sepenuhnya.

Bahkan ketika ibunya pernah berkata bahwa setelah menikah tidak ada lagi “milikmu” dan “milikku”, aku tetap meyakinkan diriku bahwa keluarga tidak seharusnya berhitung soal uang.

Namun malam itu, cara Rafael terus-menerus melarangku datang ke rumah sakit terasa seperti tangan dingin yang mencengkeram tengkukku.

Aku bertanya lagi.

“Siapa nama dokternya?”

Dia menjawab cepat, tetapi terdengar kesal.

“Kenapa kamu menanyakan itu sekarang? Situasi di sini sedang kacau. Besok transfer saja dulu uangnya. Nanti aku kirimkan semua kuitansinya.”

Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon.

Aku duduk lama tanpa bergerak.

Di luar jendela kondominiumku di Mandaluyong, lampu kendaraan membentuk garis-garis panjang yang meluncur di malam hari.

Aku membuka aplikasi perbankan.

Uang Rp255 juta itu masih ada di rekening bersama kami.

Utuh.

Padahal uang itu sebenarnya disiapkan untuk membeli satu truk berpendingin tambahan bagi perusahaan.

Itu bukan uang berlebih.

Dan jelas bukan uang yang boleh digunakan Rafael tanpa alasan yang jelas.

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Pukul enam pagi, aku berpakaian, masuk ke mobil, dan langsung menuju rumah sakit swasta yang pernah disebut Rafael dalam sebuah pesan lama.

Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Aku juga tidak mentransfer uang itu.

Aku ingin melihat sendiri kondisi ayah mertuaku yang katanya sedang berada di ambang kematian.

Ruang rawat inap berada di lantai tujuh.

Koridornya terang, tetapi bau disinfektan sangat menyengat.

Aku tidak langsung menuju meja perawat untuk menanyakan nomor kamar.

Sebaliknya, aku berdiri di dekat lift yang agak tersembunyi lalu mengirim pesan kepada Rafael.

*”Aku akan segera mentransfer uangnya. Bagaimana kondisi Ayah?”*

Kurang dari sepuluh detik kemudian, balasannya masuk.

*”Operasinya sudah selesai. Ayah sekarang di ICU dan belum boleh dijenguk. Jangan datang ke sini. Tunggu saja telepon dariku.”*

Aku menatap pesan itu.

Dan tepat pada saat yang sama, dari sebuah ruang VIP di ujung koridor, terdengar suara tawa yang keras dan sehat.

Parau.

Berat.

Penuh kesombongan.

Aku tidak mungkin salah.

Itu suara Arturo Dizon.

Pria yang menurut suamiku sedang berada di ICU.

Aku berjalan perlahan menuju ruangan itu.

Pintunya tidak tertutup rapat.

Ada celah kecil.

Melalui celah itulah aku melihat Arturo bersandar santai di tempat tidur, wajahnya kemerahan, sepotong mangga matang di satu tangan dan remote televisi di tangan lainnya.

Di sampingnya duduk Lourdes, ibu mertuaku, yang bahkan sedang membuka kotak makanan ayam.

Nico, adik Rafael, berbaring santai di kursi dengan satu kaki dinaikkan ke atas tas rumah sakit sambil menyeringai.

Dan Rafael, suamiku, berdiri di dekat jendela.

Polo shirt-nya rapi.

Wajahnya tenang.

Terlalu tenang hingga membuatku merinding.

Nico tertawa lalu berkata,

“Kak, menurutmu Kak Maya benar-benar percaya? Itu Rp255 juta, lho. Bukan jumlah kecil.”

Arturo mengunyah mangga lalu tertawa meremehkan.

“Kalau dia tidak percaya, memangnya dia bisa apa? Sudah lima tahun. Apa pun yang Rafael katakan, dia ikuti. Suruh keluarkan uang, dia keluarkan. Suruh tanda tangan dokumen perusahaan, dia tanda tangan. Suruh tanda tangan lagi, dia juga tanda tangan. Menarik perempuan itu lebih mudah daripada menarik kerbau di sawah.”

Semua orang di dalam ruangan tertawa.

Tubuhku langsung membeku di luar pintu.

Lourdes berpura-pura menghela napas.

“Pelankan suaramu. Bagaimanapun juga Maya baik kepada keluarga kita. Dia sudah banyak membantu.”

Arturo langsung menyela.

“Baik? Lalu kenapa? Kebaikan tidak ada gunanya. Kondominiumnya di Mandaluyong masih atas namanya. Kita ambil dulu Rp255 juta ini. Setelah itu Rafael tinggal bilang perusahaan kekurangan arus kas dan perlu menjaminkan kondominium itu. Begitu asetnya sudah kita dapatkan, baru kita singkirkan dia dari hidup kita.”

Di dekat jendela, Rafael tetap diam.

Beberapa saat kemudian dia akhirnya berbicara.

Suaranya terdengar biasa saja, seolah sedang membahas cuaca.

“Ayah, kecilkan suara. Semua dokumen pinjaman sudah siap. Kalau dia percaya kondisi Ayah kritis, dia tidak akan curiga saat aku bilang perusahaan membutuhkan tambahan modal.”

Nico bersiul kagum.

“Gila, Kak. Aktingmu hebat sekali. Lima tahun tidur seranjang dengan seseorang, tapi kamu masih bisa menghabisinya seperti ini.”

Rafael tertawa kecil.

“Maya terlalu mudah percaya. Itu bukan salahku.”

Aku menggenggam ponselku erat-erat.

Semua percakapan itu terekam.

Saat itulah Arturo melempar kulit mangga ke tempat sampah dan berkata dengan nada menghina,

“Perempuan yang mengira dirinya pintar hanya karena bisa menghasilkan uang itu ternyata lebih bodoh daripada kerbau yang diikat hidungnya.”

Begitu kata-kata itu jatuh, aku diam-diam berbalik meninggalkan pintu.

Namun baru tiga langkah berjalan, ponselku bergetar.

Pesan baru dari Rafael.

*”Mana uangnya? Jangan sampai Ayah meninggal hanya karena kamu lambat.”*

Aku menatap layar ponsel itu.

Lalu menatap tombol rekaman yang masih menyala.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun pernikahan kami, aku tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena akhirnya aku tahu siapa musuhku sebenarnya.

Dan mulai hari itu, tidak satu rupiah pun dari uangku akan jatuh ke tangan keluarga Dizon lagi.

Bagian 2: Tanda Tangan Terakhir di Kamar VIP

Aku tidak langsung membalas pesan Rafael. Dengan langkah tenang, aku berbalik dan mendorong pintu kamar VIP nomor 702 itu hingga terbuka lebar.

Brak.

Suara pintu yang membentur dinding membuat tawa di dalam ruangan langsung terhenti.

Arturo tersedak potongan mangganya. Nico hampir terjatuh dari kursi, sementara Lourdes menjatuhkan kotak ayam gorengnya ke lantai. Rafael, yang berdiri di dekat jendela, mendadak mematung. Wajahnya yang tadi tenang langsung berubah pucat pasi, seperti melihat hantu di siang bolong.

“M-Maya?!” suara Rafael bergetar hebat. “Kenapa kamu… kenapa kamu ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu di rumah?”

Aku melangkah masuk dengan anggun, melirik Arturo yang masih memegang sisa mangga matang di tangannya.

“Maaf mengganggu waktu makan mangganya, Ayah,” kataku dengan nada suara yang sangat manis, namun sedingin es. “Aku khawatir operasi stroke otaknya menyisakan efek samping, tapi melihat Ayah bisa mengunyah dengan begitu lancar, sepertinya dokter di ‘ICU’ ini benar-benar ajaib.”

“Maya, ini… ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” Rafael buru-buru mendekat, mencoba meraih lenganku dengan wajah memelas yang biasa dia gunakan untuk memanipulasiku. “Ayah tadi malam memang kritis, tapi pagi ini mendadak membaik…”

“Membaik sampai bisa merencanakan cara menyita kondominiumku dan menyingkirkanku dari hidup kalian?” potongku tajam.

Aku mengangkat ponselku tinggi-tinggi, lalu menekan tombol play.

Suara rekaman percakapan mereka yang jernih langsung menggema di seluruh ruangan VIP itu. Suara Arturo yang menyebutku “lebih bodoh daripada kerbau”, suara Nico yang memuji akting kakaknya, hingga suara Rafael yang merencanakan penipuan aset perusahaan.

Wajah satu keluarga itu seketika berubah dari pucat menjadi abu-abu. Nico menunduk tak berani menatapku, sedangkan Lourdes mulai gemetar ketakutan.

Bagian 3: Pembekuan Total dan Pengusiran Tanpa Sisa

Arturo, dengan sisa-sisa kesombongannya, mencoba menggertakku. Dia melempar remote televisi ke atas kasur dan membentak, “Lalu kenapa kalau kamu tahu?! Kamu sudah menandatangani dokumen kerja sama lima tahun lalu! Kamu tidak bisa menarik kembali uang yang sudah masuk ke rekening bersama!”

Aku menatap pria tua itu dengan tatapan kasihan.

“Ayah benar. Aku memang tidak bisa menarik uang yang sudah masuk ke rekening bersama,” kataku sambil tersenyum tipis. “Tapi Ayah lupa satu hal. Rekening bersama itu membutuhkan otoritas ganda untuk penarikan di atas Rp50 juta. Dan uang Rp255 juta yang kalian tunggu-tunggu? Tidak akan pernah keluar.”

Aku membuka aplikasi perbankan di ponselku di depan wajah Rafael. Dengan satu ketukan sidik jari, aku memindahkan seluruh dana Rp255 juta itu kembali ke rekening utama perusahaan logistikku. Tidak hanya itu, aku juga memblokir akses kartu debit Rafael.

“Mulai detik ini, saldo Rafael Dizon adalah nol,” ucapku datar.

“Maya! Jangan lakukan ini! Aku suamimu!” Rafael berteriak panik, menjatuhkan harga dirinya dan berlutut di depanku. “Aku terpaksa melakukan ini karena utang judi Nico! Tolong, jangan hancurkan aku!”

“Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri, Rafael,” kataku sambil menarik kakiku mundur agar tidak disentuh olehnya. “Kamu bilang aku lebih mudah disetir daripada kerbau? Hari ini, kerbau ini memutuskan untuk menghancurkan seluruh sawahmu.”

Aku menoleh ke arah pintu. Dua orang pria berjas hitam yang merupakan pengacara dari firma hukum keluargaku masuk membawa beberapa map tebal.

“Tuan Rafael Dizon,” pengacaraku berbicara dengan tegas. “Klien kami, Ibu Maya, telah mengajukan gugatan cerai atas dasar penipuan dan konspirasi kriminal. Berdasarkan bukti rekaman ini, kami juga telah mengajukan pembekuan aset sementara terhadap seluruh fasilitas yang Anda gunakan.”

Aku menatap Rafael yang masih bersimpuh di lantai dengan air mata yang mulai mengalir.

“Mansion yang ditinggali ibumu di Quezon City? Itu dibeli atas nama perusahaanku. Kalian punya waktu 24 jam untuk mengosongkannya,” kataku dingin. “Mobil yang dikendarai Nico? Sore ini akan ditarik oleh debt collector perusahaan. Dan kamu, Rafael…”

Aku melempar sebuah kantong plastik hitam kecil ke hadapannya.

“Semua pakaian dan barang-barangmu di kondominium sudah dimasukkan Ate Lorna ke dalam plastik sampah. Jangan pernah berani menginjakkan kaki di propertiku lagi.”

Bagian 4: Akhir dari Sandiwara

Keluarga Dizon yang tadinya mengira mereka adalah dalang yang cerdik, kini hancur berkeping-keping dalam hitungan menit. Arturo terduduk lemas di ranjang rumah sakit—kali ini wajahnya benar-benar pucat seperti orang sakit beneran—menyadari bahwa kemewahan yang mereka nikmati selama lima tahun ini menguap tanpa sisa.

Lourdes menangis histeris sambil memegangi lengan Rafael, sementara Nico menyumpah serapah menyadari semua fasilitas gratisnya dicabut.

Aku membalikkan badan, merapikan blazer kerjaku, dan melangkah keluar dari kamar VIP itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di koridor rumah sakit yang panjang, aku menarik napas dalam-dalam. Udara terasa jauh lebih bersih.

Mereka salah menilai satu hal tentangku: aku diam selama lima tahun bukan karena aku bodoh, melainkan karena aku tulus mencintai. Namun, ketika ketulusan itu dibalas dengan belati, aku tidak akan ragu untuk membalasnya dengan hukum yang mematikan. Dan hari ini, “kerbau” yang mereka hina telah resmi mengirim mereka kembali ke kubangan kemiskinan tempat mereka berasal.

Disclaimer: This story is a work of fiction created for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.