Posted in

Saya yang membayar seluruh pesta house blessing rumah baru keluarga suami saya, tetapi di bawah cahaya lampu kuning meja, ibu mertua saya menarik wanita lain untuk duduk di kursi yang seharusnya untuk saya — sementara suami saya hanya menunduk dan merapikan cincin pernikahannya.

Saya yang membayar seluruh pesta house blessing rumah baru keluarga suami saya, tetapi di bawah cahaya lampu kuning meja, ibu mertua saya menarik wanita lain untuk duduk di kursi yang seharusnya untuk saya — sementara suami saya hanya menunduk dan merapikan cincin pernikahannya.

Bagian 1

Acara house blessing dimulai pukul enam sore.

Di sebuah vila di Tagaytay, udara terasa dingin. Tercium aroma rumput yang baru dipotong, kopi dari kafe-kafe di pinggir jalan, dan asap lechon yang berada di tengah meja panjang.

Halaman penuh dengan keluarga suami saya.

Para pria mengenakan barong Tagalog.

Para wanita memakai gaun berwarna cream, beige, dan pastel biru.

Ada pancit, lumpia, kare-kare, bibingka, buah-buahan, sampaguita, dan minuman mahal yang berjajar di bawah lampu kuning hangat.

Semua tersenyum.

Semua mengatakan ini adalah hari besar untuk keluarga Villarin.

Rumah peristirahatan pertama mereka di Tagaytay.

Rumah yang dari pagi hari bisa melihat Taal ketika kabut masih tebal.

Rumah yang sudah lama menjadi impian ibu mertua saya, Doña Lourdes Villarin.

Dan rumah yang lebih dari tujuh puluh persen biayanya berasal dari uang saya.

Saya berdiri di samping suami saya, Paolo Villarin.

Saya memegang lilin putih untuk house blessing.

Menurut pastor, saya yang seharusnya memegang lilin pertama. Saya yang akan mengikuti dia masuk ke ruang tamu, dapur, altar kecil, dan menyalakan api di depan patung Bunda Maria.

Saya mengurus semuanya untuk hari itu.

Perizinan.

Kontraktor.

Desain interior.

Pembayaran akhir.

Catering.

Bunga.

Daftar tamu.

Bahkan susunan kursi saya periksa tiga kali.

Saya bahkan membatalkan pertemuan penting di Singapura demi memastikan malam ini berjalan sempurna.

Saya pikir, setidaknya satu malam, mereka akan tahu cara menghargai saya.

Saya salah.

Setelah pastor membuat tanda salib, Doña Lourdes tiba-tiba mendekat.

Dia memakai terno warna pearl. Rambutnya disanggul rapi, dan di lehernya ada kalung mutiara yang saya belikan tahun lalu.

Dia tidak menatap saya.

Dia mengambil lilin dari tangan saya.

Saya membeku sesaat.

Lilin itu bahkan belum dinyalakan.

Tapi rasanya seperti sesuatu di dada saya sudah padam.

Doña Lourdes berbalik.

Dia menarik seorang perempuan muda dari belakang Paolo.

Perempuan itu memakai gaun putih. Rambutnya panjang, bergelombang lembut. Anting mutiaranya kecil.

Kulitnya putih, bibirnya merah muda pucat. Matanya lembut, seperti tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Namanya Bea Mercado.

Tiga bulan lalu, Paolo memperkenalkannya sebagai “asisten media sosial sementara” untuk bisnis keluarga.

Satu bulan lalu, saya melihat bukti email reservasi hotel di Batangas.

Paolo yang memesan.

Bea yang ikut menginap bersamanya.

Dua minggu lalu, saya melihat nama Bea di daftar tamu pribadi ibu mertua saya.

Saya bertanya pada Paolo.

Dia bilang saya terlalu curiga.

Dia bilang Bea hanya membantu acara.

Dia bilang saya terlalu lelah bekerja sampai berhalusinasi.

Sekarang Bea berdiri di depan pastor.

Dan lilin yang seharusnya di tangan saya, sudah diberikan ibu mertua saya kepadanya.

Doña Lourdes tersenyum.

Sangat lembut.

Jika tidak tahu, orang akan mengira dia ibu yang baik.

Dengan suara cukup keras, dia berkata:

“Bea, kamu yang pegang.”

“Rumah ini butuh perempuan yang tahu cara merawat. Perempuan yang tahu cara tinggal bersama keluarga.”

“Paolo sudah terlalu lelah. Dia butuh seseorang yang memberinya ketenangan.”

Seluruh halaman menjadi hening.

Beberapa bibi pura-pura batuk.

Sepupu menunduk memperbaiki tas.

Paman memainkan gelas wine di tangannya.

Tidak ada yang menatap saya langsung.

Tapi saya tahu, semua menunggu.

Apakah saya akan berteriak?

Menangis?

Merebut lilin?

Menampar Bea?

Menghancurkan acara ini?

Di semua grup keluarga Villarin besok, saya akan menjadi wanita kaya yang tidak punya sopan santun.

Saya menatap Paolo.

Dia berdiri hanya setengah langkah dari saya.

Cahaya mengenai wajahnya, membuatnya terlihat lebih dingin.

Dia masih memakai cincin pernikahan kami.

Cincin yang saya pilih sendiri enam tahun lalu di Makati.

Rahangnya menegang.

Tenggorokannya bergerak.

Tapi akhirnya, dia hanya menunduk.

Dia merapikan lengan bajunya.

Dia tidak berkata apa-apa.

Dia tidak mengambil lilin itu kembali untuk saya.

Bea menerima lilin dengan dua tangan.

Dia menatap saya dan berkata pelan:

“Ate Katrina, maaf ya. Mungkin Tita hanya ingin aku membantu.”

“Ate Katrina.”

Terdengar sopan.

Tapi matanya tidak meminta maaf.

Ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

Saya mengenali anting mutiaranya.

Itu milik saya.

Saya membelinya di Greenbelt setelah rapat melelahkan, lalu saya simpan di laci dan tidak pernah saya pakai.

Sekarang ada di telinganya.

Saya menelan pahit.

Pastor terlihat tidak nyaman.

Tapi Doña Lourdes tidak peduli.

Dia menggenggam tangan Bea dan menaruhnya di samping Paolo.

Tiga orang berdiri di depan vila baru itu.

Ibu. Anak. Dan perempuan muda dengan lilin pertama rumah itu.

Saya di belakang.

Seperti sponsor yang sudah selesai membayar.

Saya Katrina Dizon.

33 tahun.

CFO regional sebuah perusahaan logistik di BGC.

Penghasilan tahunan saya hampir 17 juta peso.

Orang tua saya guru sekolah negeri di Cavite.

Hidup mereka sederhana.

Saat saya menikah dengan Paolo, saya mendengar Doña Lourdes berkata:

“Dia pintar, tapi tidak cukup untuk setara dengan keluarga kita.”

Saya mendengar itu.

Tapi saya tetap menikah.

Karena saat itu Paolo berkata:

“Aku yang memilihmu. Bukan mereka.”

Enam tahun berlalu.

Dia masih berdiri di samping saya.

Tapi malam ini, dia memilih diam.

Saya pikir uang bisa membeli sedikit rasa hormat.

Saya yang membantu bisnis mereka saat krisis.

Saya yang mengenalkan mereka ke bank.

Saya yang menutup kekurangan dana showroom Paolo dalam satu malam.

Dan setiap kali itu, Doña Lourdes memanggil saya dengan lebih manis.

“Katrina dear.”

“My hardworking daughter-in-law.”

“She is very good with money.”

Saya pikir itu pujian.

Ternyata tidak.

Itu panggilan untuk dompet yang berguna.

Acara berlanjut.

Doa dimulai.

Bea memegang lilin.

Paolo di sampingnya.

Doña Lourdes di belakang, hampir menangis bahagia.

Saya tidak ikut.

Saya melepas anting berlian kecil saya.

Saya letakkan di meja koktail.

Itu hadiah Paolo dua tahun pernikahan kami.

Saya berjalan keluar.

Tidak ada yang memanggil.

Tidak ada yang bertanya.

Di gerbang, angin dingin Tagaytay menyambut saya.

Saya masuk mobil.

Ponsel saya bergetar.

Pesan dari manajer gedung condo saya:

“Ma’am Katrina, Mr. Paolo meminta akses Bea Mercado ke unit Anda. Dia bilang dia ‘Mrs. Villarin yang baru’. Apakah kami harus menyetujui?”

Saya menatap layar.

Lalu saya berkata:

“Jangan setujui. Cabut semua akses atas nama Paolo Villarin, berlaku sekarang.”

Beberapa detik kemudian, telepon berdering lagi.

“Ma’am, mereka sudah di lobby…”

Saya melihat vila yang bercahaya di kejauhan.

Berikut adalah kelanjutan dan babak penutup (ending) dari kisahmu:

Bagian 2 (Tamat)

“Biarkan mereka di lobi,” kataku ke pengawal gedung melalui telepon, suaraku sedingin angin malam Tagaytay. “Hubungi polisi jika mereka membuat keributan. Kamar itu dibeli atas nama pribadi saya sebelum saya mengenal kata ‘Villarin’.”

Aku menutup telepon, memutar kunci kontak, dan menginjak pedal gas. Mobilku membelah kegelapan jalanan menuju Manila.

Selama enam tahun, aku mengira kesabaranku adalah bentuk pengabdian. Aku mengira dengan melunasi utang showroom Paolo, membiayai gaya hidup Doña Lourdes yang glamor, dan membangun vila impian mereka di Tagaytay, aku bisa membeli tempat di hati mereka. Tapi malam ini, di bawah cahaya lampu kuning yang menyorot Bea Mercado memegang lilin pertamaku, aku sadar: beberapa orang tidak butuh menantu, mereka hanya butuh mesin ATM yang tidak bisa bicara.

Dan mereka lupa, mesin ATM bisa dimatikan kapan saja.

Tiga Jam Kemudian: Jam 10 Malam

Aku tidak pergi ke kondominiumku di BGC. Aku langsung menuju ke kantor pengacaraku, Atty. Roxas. Di atas mejanya, aku meletakkan sebuah folder hitam tebal yang sudah kusiapkan sejak aku melihat reservasi hotel Paolo dan Bea satu bulan lalu.

“Katrina, kamu yakin?” tanya Atty. Roxas, menatapku dengan simpati. “Vila di Tagaytay itu… 70 persen uangmu yang masuk. Jika kita menuntut sekarang, asetnya bisa tertahan.”

“Aku tidak ingin menahan asetnya, Atty,” jawabku datar sambil menandatangani surat gugatan pembatalan pernikahan dan laporan perzinaan. “Aku ingin menghancurkannya. Tarik semua modal logistikku dari showroom Paolo. Dan batalkan jaminan korporat yang saya berikan untuk pinjaman bank bisnis keluarga Villarin.”

Atty. Roxas tersenyum tipis, memahami arah permainanku. “Bank akan mengeksekusi vila Tagaytay itu sebagai jaminan utama dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam jika jaminanmu dicabut.”

“Tepat sekali. Biarkan mereka menikmati malam pertama di sana. Itu akan menjadi malam terakhir mereka.”

Keesokan Harinya: Vila Tagaytay, Jam 09.00 Pagi

Ponselku mulai berdering tanpa henti sejak jam tujuh pagi. Tiga puluh panggilan tak terjawab dari Paolo. Belasan pesan histeris dari Doña Lourdes. Aku sengaja mengabaikannya hingga aku selesai menikmati kopi pagiku di sebuah kafe di Makati.

Ketika aku mengangkat panggilan ke-31 dari Paolo, suaranya terdengar pecah, dipenuhi kepanikan yang luar biasa.

“Katrina! Apa yang kamu lakukan?! Bank BDO baru saja menelepon! Mereka membekukan rekening kredit showroom-ku! Mereka bilang jaminan dari perusahaan logistikmu ditarik!” Paolo berteriak, suaranya bergetar hebat. Di latar belakang, aku bisa mendengar suara Doña Lourdes yang sedang menangis histeris.

“Oh, jadi kamu sudah bangun?” kataku tenang.

“Katrina, jangan gila! Kami tidak bisa membayar cicilan bulan ini jika rekening itu dibekukan! Vila ini… bank bilang mereka akan menyita vila di Tagaytay ini jika jaminan tidak dikembalikan dalam waktu 24 jam! Tolong, jangan bawa urusan rumah tangga ke bisnis!”

Aku tertawa pelan, sebuah tawa yang membuat Paolo di ujung telepon terdiam seketika.

“Urusan rumah tangga? Paolo, bukankah ibumu yang bilang semalam bahwa rumah itu butuh perempuan yang tahu cara merawat? Perempuan yang memberimu ketenangan?” Aku menjeda kalimatku, membiarkan rasa sakit dari malam sebelumnya berbalik menghantamnya. “Tanyakan pada Bea Mercado, apakah kecantikannya bisa digunakan untuk membayar utang bank sebesar 45 juta peso?”

“Katrina… maafkan aku. Semalam itu cuma sandiwara Mama. Aku tidak bermaksud… aku mencintaimu, Katrina. Bea itu tidak ada apa-apanya!” Paolo mulai memohon, merendahkan dirinya seperti pengecut. Pria yang semalam hanya menunduk sambil merapikan cincinnya, kini mengemis di kakiku.

“Sudah terlambat, Paolo. Surat gugatan cerai dan bukti perselingkuhanmu dengan Bea di Batangas sudah dikirimkan ke rumah ibumu di Cavite pagi ini. Dan untuk anting mutiara yang dipakai asistenmu semalam… aku sudah melaporkannya ke polisi sebagai tindak pencurian barang berharga.”

“Katrina!!”

Aku mematikan telepon. Aku melepaskan kartu SIM dari ponselku, mematahkannya menjadi dua, dan membuangnya ke tempat sampah.

Aku melirik pantulan diriku di kaca jendela kafe. Tidak ada air mata. Hanya ada Katrina Dizon yang baru—wanita yang membangun kekayaannya dari nol, dan wanita yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan istana orang-orang yang tidak tahu diri.

Dari jendela, aku melihat langit Manila yang cerah. Vila di Tagaytay itu mungkin memiliki pemandangan Gunung Taal yang indah di pagi hari. Tapi mulai hari ini, keluarga Villarin hanya akan melihat bayang-bayang kebangkrutan yang mengejar mereka.

Aku bangkit berdiri, merapikan blazer kerjaku, dan melangkah keluar. Lilinku mungkin telah dipadamkan semalam, tetapi hari ini, aku menyalakan api yang akan membakar seluruh dunia mereka.