Posted in

Di pesta ulang tahun di barangay, paman saya mempermalukan Papa karena kue singkong yang kami bawa disebut “makanan orang miskin”. Sepupu saya memamerkan pekerjaannya di bidang finance di BGC, dan mereka menyebut saya tidak berguna—sampai Papa mengeluarkan sebuah amplop tebal dan bertanya: kalau kalian memang sehebat itu, bayarlah sekarang utang kalian sebesar 2,75 juta peso (≈ Rp 770.000.000) kepada kami.

Di pesta ulang tahun di barangay, paman saya mempermalukan Papa karena kue singkong yang kami bawa disebut “makanan orang miskin”. Sepupu saya memamerkan pekerjaannya di bidang finance di BGC, dan mereka menyebut saya tidak berguna—sampai Papa mengeluarkan sebuah amplop tebal dan bertanya: kalau kalian memang sehebat itu, bayarlah sekarang utang kalian sebesar 2,75 juta peso (≈ Rp 770.000.000) kepada kami.

Bagian 1: Kue singkong yang disimpan di sudut

Di aula barangay terbesar, perayaan ulang tahun keenam puluh Paman Roberto digelar.

Di luar, pintu masuk dihiasi balon emas. Di tengah ruangan, seekor lechon besar tergeletak mengkilap berminyak. Karaoke terdengar keras, bahkan dari jalan sudah bisa terdengar suara orang yang menyanyi sumbang tanpa nada.

Keluarga Paman Roberto merasa hari itu adalah momen untuk menunjukkan bahwa mereka sudah “sukses”.

Ia mengenakan polo putih dengan kalung emas tebal di lehernya. Di tangannya selalu ada bir dingin, dan kepada setiap tamu yang datang ia dengan sengaja berkata keras bahwa catering mereka sangat “eksklusif”, bukan masakan biasa dari gang.

Kami datang lebih awal bersama Papa.

Papa—Mang Ernesto—memakai polo biru lama yang sudah pudar di bagian kerah. Di tangannya ia membawa kotak kue singkong buatan sendiri, ditaburi kelapa parut di atasnya, masih hangat dan harum.

Ia memegangnya dengan sangat hati-hati, seolah itu hadiah paling berharga di dunia.

Aku tahu sejak jam empat pagi dia sudah bangun.

Dia tidak mau datang tanpa membawa apa-apa. Dia juga tahu kami tidak punya uang untuk dimasukkan ke amplop tebal, jadi dia memilih membawa makanan yang dibuat dengan usaha dan hati.

Saat masuk ke aula barangay, Tita Lourdes langsung melihat kotak di tangan Papa.

Dia tertawa pelan, cukup untuk didengar orang-orang di sekitar.

—Kuya Ernesto, masih ada ya yang bawa kue singkong buatan sendiri ke pesta sekarang? Ini acara orang penting. Taruh saja di samping. Jangan di meja utama.

Papa terdiam.

Dia menatap kotak itu, lalu menatapku. Dia memaksakan senyum.

—Ini bersih kok. Saya sendiri yang buat. Ini makanan favorit Roberto waktu kecil.

Tita Lourdes menutup hidungnya, seolah bau makanan itu menjijikkan.

—Itu dulu. Sekarang kita sudah beda kelas.

Tawa kecil muncul dari beberapa sepupu dan tante di sekitar kami.

Aku ingin membalas, tapi Papa menahan lenganku pelan.

Dia menggeleng.

Dia tidak mau ada keributan di pesta kakak dari ibuku.

Kami dipindahkan ke meja dekat pintu belakang, di samping cooler berisi es dan tumpukan kursi plastik. Dari sana kami bisa melihat meja utama tempat Paman Roberto duduk seperti seorang pejabat penting.

Aku duduk diam di sebelah Papa.

Papa membuka tas kain lamanya dan mengeluarkan botol jus calamansi buatan sendiri. Dia punya diabetes ringan, jadi tidak boleh minum soda.

Saat ia membuka tutup botol, tiba-tiba seorang anak berlari dan menabrak sikunya.

Botol itu miring.

Beberapa tetes jus calamansi jatuh ke taplak meja putih dan mengenai dekat lengan Paman Roberto yang kebetulan sedang lewat.

Suasana langsung berubah.

Paman Roberto menunduk dan menatap noda kecil itu seolah itu sebuah penghinaan besar.

Dia meninggikan suara, lebih keras dari karaoke.

—Ernesto! Apa-apaan minuman murahan ini? Tidak ada air di sini sampai kamu harus bawa sendiri?

Seluruh meja terdiam.

Papa langsung berdiri. Tangannya gemetar saat mengambil tisu.

—Roberto, maaf. Saya bersihkan. Tidak kena bajumu kan?

Paman Roberto mundur setengah langkah.

—Jangan sentuh aku. Polo ini dibeli di mall besar, bukan barang bekas pasar.

Tangan Papa berhenti di udara.

Semua keluarga kami hanya menatap, sebagian kasihan—tapi di sudut bibir mereka ada senyum mengejek.

Aku mengambil tisu dari tangan Papa dan pelan-pelan membersihkan noda di meja.

Lalu aku menatap Paman Roberto.

—Kalau hanya beberapa tetes jus calamansi saja sudah merusak harga diri kalian, berarti sebenarnya kalian yang bayar pesta ini, kan?

Paman Roberto langsung kehilangan senyumnya.

Dia menatapku dari atas ke bawah.

—Mara, orang dewasa sedang bicara. Jangan ikut campur.

Dia menoleh ke Papa.

—Ernesto, aku tidak menyalahkanmu karena miskin. Tapi kalau anakmu tidak tahu sopan santun, itu yang memalukan.

Aku tidak menjawab.

Papa menunduk. Bahunya semakin turun.

Paman Roberto makin merasa menang.

—Katanya anakmu tidak punya pekerjaan tetap ya? Kerja online macam apa itu? Bisa dapat 20.000 peso (≈ Rp 5.600.000) sebulan saja tidak?

Papa buru-buru menjawab.

—Mara punya pekerjaan. Dia bisa hidup sendiri.

Paman Roberto tertawa keras.

—Pekerjaan? Duduk di depan komputer seharian itu kerja? Lihat Clarissa saya. Dia kerja di finance di BGC. Gajinya lebih dari 200.000 peso (≈ Rp 56.000.000) per bulan. Bosnya bahkan akan datang sebentar lagi.

Begitu nama Clarissa disebut, wajah para keluarga langsung berubah cerah.

Clarissa adalah kebanggaan keluarga.

Sejak kecil dia sudah disebut “harapan keluarga Reyes”. Setiap pulang, selalu membawa tas branded, parfum mahal, dan berbicara campur English-Tagalog seolah bahasa sendiri membuatnya lebih tinggi.

Tepat saat itu pintu aula terbuka.

Clarissa masuk.

Gaun sutra warna champagne membalut tubuhnya. Sepatunya bertumit tipis. Jam di tangannya berkilau. Di sampingnya seorang pria bersetelan abu-abu, di belakang mereka dua teman membawa kotak hadiah besar.

Paman Roberto langsung berdiri, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya.

—Itu Clarissa saya!

Seluruh ruangan bertepuk tangan.

Hanya Papa yang masih menunduk, pelan memungut tutup botol jus calamansi yang terguling di bawah meja.

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian cerita tersebut:

Bagian 2: Jamuan Para “Pemenang”

Clarissa berjalan melintasi aula dengan dagu terangkat. Setiap langkahnya diikuti oleh bisik-bisik kagum dari para kerabat. Pria bersetelan abu-abu di sampingnya—yang belakangan kami ketahui bernama Mr. Henderson, salah satu ekspatriat direktur di perusahaannya—tersenyum sopan namun tampak canggung berada di aula barangay yang bising.

“Hi, Dad! Happy birthday!” Clarissa memeluk Paman Roberto, lalu menyerahkan kotak hadiah besar berisi jam tangan mewah yang langsung dipamerkan Paman ke seluruh ruangan.

Setelah menyapa semua orang di meja utama, tatapan Clarissa akhirnya jatuh ke sudut belakang. Ke tempat kami duduk. Dengan langkah anggun yang dibuat-buat, ia berjalan menghampiri meja kami, diikuti oleh Paman Roberto dan Tita Lourdes yang mengekor seperti pengawal pribadi.

“Oh, Halo Paman Ernesto. Halo, Mara,” sapa Clarissa, nadanya terdengar ramah namun matanya memancarkan rasa kasihan yang merendahkan. “Kalian duduk di sini? Di dekat tempat sampah dan pendingin es? Oh my god, Dad, kenapa tidak diberi meja yang lebih baik?”

“Meja di depan penuh untuk tamu-tamu penting, Clarissa. Lagipula, mereka sendiri yang memilih di sini agar tidak merusak pemandangan,” sahut Tita Lourdes ketus, melirik sinis ke arah kotak kue singkong Papa yang masih tergeletak di sudut.

Clarissa melihat kotak itu dan tertawa kecil. “Paman masih membuat kue singkong ini? Trisnya, di BGC kami sudah tidak makan yang seperti ini. Ini… makanan orang miskin di desa, kan? Kurang sehat untuk diet.”

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. “Makanan ini dibuat dengan ketulusan, Clarissa. Sesuatu yang sepertinya tidak bisa dibeli dengan gajimu di BGC.”

“Mara!” Paman Roberto membentak. “Jaga mulutmu! Clarissa ini aset keluarga. Dia menghasilkan ratusan ribu peso, sementara kamu? Hanya pengangguran yang mengandalkan komputer di kamar. Kamu tidak berguna bagi keluarga ini!”

Clarissa tersenyum penuh kemenangan, memandangi kuku-kukunya yang dimenikur rapi. “Sudahlah, Dad. Orang yang tidak punya karier memang biasanya sensitif. Wajar kalau dia iri.”

Papa, yang sejak tadi diam dan membiarkan dirinya dihina, tiba-tiba menghela napas panjang. Bahunya yang tadinya merosot kini tegak kembali. Ada kedamaian yang aneh di wajah tua itu—sebuah ketenangan sebelum badai.

“Roberto. Lourdes. Clarissa,” suara Papa tidak keras, tapi entah bagaimana, di tengah kebisingan karaoke, suaranya terdengar sangat jelas.

Papa meraba saku polo birunya yang pudar. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang sejak tadi tersembunyi di sana. Ia meletakkannya di atas meja plastik, tepat di depan Paman Roberto. Brak. Bunyi amplop tebal itu mendarat dengan bobot yang mengejutkan.

Bagian 3: Amplop di Atas Meja

“Apa ini? Kamu mau pamer uang receh hasil menjual singkong?” cibir Tita Lourdes.

Papa tidak marah. Ia membuka perekat amplop itu dengan perlahan, lalu mengeluarkan tumpukan kertas di dalamnya. Bukan uang tunai, melainkan lembaran-lembaran surat perjanjian legal berkop notaris, lengkap dengan tanda tangan Paman Roberto di atas meterai.

“Ini adalah surat pengakuan utang,” kata Papa tenang. “Tiga tahun lalu, ketika kalian berkata bisnis logistik Roberto hancur dan kalian terancam diusir dari rumah, siapa yang datang mengetuk pintu rumahku tengah malam?”

Suasana di sekitar meja langsung senyap. Beberapa kerabat yang menguping mulai mendekat.

“Kamu bilang kamu butuh uang untuk modal awal Clarissa bekerja di Manila, membeli pakaian bagusnya, mobil pertamanya, dan melunasi rentenir,” lanjut Papa, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Paman Roberto yang mulai memucat. “Total uang yang saya pinjamkan dari hasil penjualan tanah warisan Ibu adalah 2,75 juta peso (≈ Rp 770.000.000).”

“Er-Ernesto… jangan bahas itu di sini,” bisik Paman Roberto gagap, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya, bertolak belakang dengan kalung emas tebal yang dipakainya.

“Kenapa tidak?” aku menimpali, berdiri di samping Papa. “Tadi Paman bilang kami miskin dan tidak tahu sopan santun. Tapi ternyata, kemewahan yang kalian pamerkan hari ini—bahkan gaun champagne dan jam tangan mahal itu—dibeli dari uang Papa yang belum kalian kembalikan satu peso pun!”

Clarissa terbelalak. Wajahnya yang dilapisi makeup tebal berubah menjadi merah padam. Teman-teman dan bos ekspatriatnya di belakang mulai berbisik-bisik, mengartikan situasi lewat gestur ketegangan yang terjadi.

Papa mengetukkan jarinya ke atas tumpukan surat utang tersebut.

“Clarissa, kamu bilang gajimu lebih dari 200.000 peso sebulan? Baguslah,” ucap Papa dengan senyuman paling tulus yang pernah kulihat. “Kalau kalian semua memang se-sukses dan se-hebat itu, dan kami hanyalah orang miskin yang tidak berguna… bayarlah sekarang utang kalian yang 2,75 juta peso itu kepada kami. Tunai.

Bagian 4: Rasa Kue Singkong yang Sebenarnya

Aula barangay yang tadinya riuh oleh musik tiba-tiba terasa mencekam. Paman Roberto mematung, gelas bir di tangannya bergetar. Tita Lourdes menunduk, tidak berani lagi menatap mata Papa.

Clarissa mencoba menyelamatkan harga dirinya. “Paman, kami pasti bayar! Tapi tidak bisa sekarang, itu… itu uang besar!”

“Uang besar bagi kalian yang bergaul di BGC?” tanyaku retoris. “Kue singkong ini memang makanan murah, Clarissa. Tapi setidaknya, kue ini dibeli dengan uang halal dan keringat sendiri. Bukan dari hasil memakan hak saudara yang pura-pura lupa ingatan demi gengsi.”

Papa memasukkan kembali surat-surat itu ke dalam amplop dengan rapi, lalu menyelipkannya ke balik baju. Ia menatap kakaknya untuk terakhir kali hari itu.

“Selamat ulang tahun, Roberto. Surat somasi dari pengacaraku akan sampai ke rumahmu besok pagi. Kuharap manajer finance hebat di BGC ini bisa mengatur keuangan keluargamu untuk melunasinya dalam waktu tiga puluh hari, atau kita selesaikan di pengadilan.”

Papa berbalik, memegang lenganku. “Mari pulang, Mara. Di sini terlalu panas.”

Sebelum kami melangkah pergi, aku berbalik dan mengambil kotak kue singkong di sudut meja. Di depan mata Clarissa dan ibunya yang masih syok, aku membuka kotaknya, mengambil sepotong yang masih hangat, dan menggigitnya dengan nikmat.

“Kue singkong ini terlalu berharga untuk ditinggalkan di sini,” kataku sambil tersenyum manis.

Kami berjalan keluar dari aula barangay dengan kepala tegak. Di belakang kami, sayup-sayup terdengar suara Paman Roberto yang panik memarahi istrinya, dan Clarissa yang menangis malu di hadapan bos perusahaannya. Malam itu, angin jalanan terasa begitu sejuk, dan rasa kue singkong buatan Papa terasa jauh lebih manis dari biasanya.