Aku bercanda dan berkata bahwa aku tidak berniat menikah seumur hidup.
Begitu mendengarnya, kakak iparku langsung marah besar dan berkata dengan nada tinggi,
“Tidak bisa begitu! Waktu aku menikah dengan kakakmu, aku sudah mengajukan dua syarat yang jelas.”
“Pertama, sertifikat rumah ini harus atas namaku.”
“Kedua, adik perempuanmu harus segera angkat kaki dari rumahku!”
Mendengar kata-kata itu, aku terpaku di tempat.
Ibu perlahan melepaskan tanganku.
“Alya, Ibu sudah berjanji pada kakak iparmu.”
Aku menoleh ke arah Kakak, tetapi dia menghindari tatapanku. Dengan suara pelan dan canggung, dia hanya berkata,
“Alya, aku cuma mengikuti keinginan istriku. Kamu juga nurut saja, ya.”
Jadi, ternyata mereka bukan benar-benar ingin aku menikah.
Mereka hanya ingin mengusirku dari rumah.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, kakak iparku kembali berkata,
“Besok aku dan kakakmu mau ke dealer mobil untuk mengambil mobil baru. Sebelum kami pulang, kamarmu harus sudah bersih.”
“Jangan coba-coba tetap numpang di rumahku.”
Ibu masuk ke dapur untuk memasakkan camilan tengah malam bagi menantunya, sementara Kakak keluar ke balkon untuk merokok.
Aku menarik napas dalam-dalam dan diam-diam kembali ke kamarku.
Keesokan harinya, sekitar tengah hari, aku menerima panggilan ke-15 dari Ibu.
Dengan suara pelan, seolah sedang menutupi telepon agar tidak terdengar orang lain, dia berkata,
“Alya, kenapa kartu tambahan yang kamu kasih ke Ibu nggak bisa dipakai waktu bayar belanjaan?”
…
Mendengar itu, napasku seakan terhenti.
Ibu sedang berbohong.
Karena itu aku berpura-pura tidak tahu.
“Bu, memangnya belanjaannya berapa?”
“Limit kartu tambahan yang aku kasih lima puluh juta rupiah. Jangan-jangan Ibu kena penipuan?”
Di seberang telepon, suasana hening beberapa detik.
Dia tidak menyangka aku akan bertanya seperti itu.
Biasanya, setiap kali dia meminta uang, aku langsung mentransfernya dan tidak pernah bertanya untuk apa.
Beberapa saat kemudian, dia menjawab dengan terbata-bata.
“Belanjaannya memang agak banyak.”
“Kakakmu dan istrinya kan baru menikah, jadi Ibu beli daging sapi premium dan seafood supaya mereka makan enak.”
Pada akhirnya, kesabaran Ibu habis. Dari belakang terdengar suara orang-orang yang ramai dan tergesa-gesa.
“Alya! Jangan banyak tanya. Cepat transfer uang sekarang!”
Biasanya, setiap kali Ibu meminta “sedikit uang”, aku selalu mengirim ratusan juta rupiah.
Tetapi kali ini, satu rupiah pun tidak akan kuberikan.
Dengan dingin aku menjawab,
“Bu, belanja bahan makanan sampai lima puluh juta rupiah?”
“Menurutku kalian bukan sedang belanja di supermarket.”
“Kalian ada di dealer mobil untuk membeli mobil baru buat Kakak, kan?”
“Lalu kalian sadar kartu tambahanku tidak bisa dipakai, agen penjualan mulai mengejar kalian, dan barulah kalian teringat meneleponku?”
Karena aku menebak dengan tepat, Ibu langsung terdiam.
Yang terdengar hanya napasnya yang cepat dan gugup.
Detik berikutnya, kakak iparku merebut telepon.
“Alya, jangan bicara seperti itu pada ibumu!”
“Selama bertahun-tahun kamu makan dan tinggal di rumah ini. Memangnya berapa yang sudah kamu berikan sampai berani menguliahi kami?!”
Cara bicaranya seolah-olah semua uang yang kuhabiskan berasal dari kantongnya.
Aku malah tertawa karena marah.
Saat aku diterima di universitas di Jakarta, Ibu mengatakan keluarga kami tidak punya uang.
Padahal kenyataannya, seluruh tabungan keluarga diberikan kepada Kakak untuk membuka usaha.
Aku belajar sambil bekerja paruh waktu sampai akhirnya lulus.
Baru saja lulus, Ibu sudah meminjam uang dariku untuk melunasi utang Kakak setelah bisnisnya bangkrut dan dia pulang ke kampung halaman.
Bahkan uang muka rumah yang mereka tempati sekarang, lebih dari setengahnya berasal dari uangku.
Dan sekarang, aku justru dianggap sebagai benalu oleh kakak iparku.
Aku menahan amarah dan tersenyum.
“Kak, jangan marah.”
“Kakak baru menikah dan sekarang mau beli mobil. Wajar kalau aku juga ikut membantu.”
Di seberang telepon, semua makian yang sudah siap keluar dari mulut kakak iparku mendadak tertelan.
“Alya, jangan sampai kamu menipu kami.”
Aku juga mendengar Ibu ikut berkata,
“Benar, dari kecil Alya memang anak yang paling baik. Dia tidak akan tega pada kita.”
Aku melanjutkan dengan tenang.
“Aku tidak akan mengaktifkan lagi kartu tambahan itu.”
“Tapi di laci meja kerja di kamarku, aku meninggalkan sebuah Black Card.”
“Limitnya satu miliar rupiah. Pakailah kalau kalian ingin membuktikan apakah aku berbohong atau tidak.”
Mendengar itu, kakak iparku hampir berteriak kegirangan.
“Syukurlah kamu masih punya sedikit hati nurani!”
“Satu miliar rupiah cukup untuk membeli model paling mewah!”
“Karena kamu sudah bersikap baik, kartu ini akan kami anggap sebagai biaya selama kamu tinggal di rumah ini. Kami tidak akan menagih pengeluaran lain lagi.”
Setelah berkata demikian, dia langsung menutup telepon.
Aku memandangi layar ponsel yang sudah gelap.
Tawa pahit keluar dari bibirku.
Kakak iparku terlalu terburu-buru.
Aku bahkan belum sempat memberitahunya bahwa kartu itu bukan milikku.
Itu adalah kartu kredit atas nama Kakakku sendiri.
Enam bulan yang lalu, Ibu mengeluh bahwa terlalu melelahkan terus-menerus meminta uang dariku setiap bulan, sehingga dia memaksaku membuat kartu tambahan.
Saat itu, Kakak yang merasa malu dengan sukarela memberikan kartu kredit miliknya kepada Ibu.
Tetapi Ibu menolaknya.
Kartu itu akhirnya terlupakan di bawah karpet ruang tamu.
Aku sebenarnya berniat mengembalikannya kepada Kakak keesokan harinya, tetapi kemudian lupa.
Dan sekarang, karena aku telah diusir oleh kakak iparku, aku pun menarik kembali seluruh dukungan keuangan dan kartu tambahanku dari rumah itu.
Bagian 2: Kepergian dan Gelang Emas
Aku memanggil jasa pindahan untuk mengangkut barang-barangku.
Bagaimanapun juga, semua peralatan rumah tangga di rumah itu dibeli dengan uangku sendiri.
Bahkan mesin penggiling daging di dapur pun tidak berniat kutinggalkan.
Para pekerja segera membongkar dan mengemas semuanya.
Tepat ketika barang-barang hampir dimasukkan ke dalam truk, Kakak dan istrinya pulang dengan mobil baru mereka.
Begitu turun dari mobil, mereka terkejut melihat kulkas model terbaru sedang diangkat keluar oleh para pekerja.
Wajah kakak iparku langsung berubah muram. Dengan suara hak tinggi yang berderap keras, dia berlari masuk ke rumah.
“Tunggu!”
Dia menatapku dengan marah.
“Alya, apa kamu sudah gila?!”
“Kamu pergi saja belum cukup, sekarang masih berani mengambil semua perabotan dari rumahku?!”
Aku melewatinya dan menyuruh para pekerja untuk terus mengangkat barang.
“Semua ini kubeli dengan uangku sendiri.”
“Semua bukti transaksi dan struk masih ada di ponselku. Kamu bahkan tidak mengeluarkan satu rupiah pun. Dari mana keberanianmu mengakuinya sebagai milikmu?”
Karena dipermalukan oleh kenyataan, kakak iparku menghentakkan kaki dengan marah.
“Pokoknya, apa pun yang ada di rumah ini adalah milikku!”
“Kakakmu baru menikah. Kalau semua peralatan dibawa pergi, kami mau pakai apa?!”
Kakakku juga mendekat dengan wajah yang penuh rasa malu.
Dia berdiri di belakang istrinya sambil menggosok kedua tangannya.
“Alya, istri Kakak benar.”
“Tolong tinggalkan peralatan ini untuk kami.”
Melihat penampilannya yang pengecut dan menyedihkan, aku bahkan tidak mau memandangnya lagi.
Aku langsung memberi isyarat kepada para pekerja untuk terus bekerja.
“Kalian ingin aku pergi dengan bersih, bukan?”
“Aku hanya mengikuti perintah kakak iparku untuk membersihkan semua ‘sampah’ dari rumah ini.”
Ibu berlari mendekat dengan panik.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi?”
“Tetangga semua melihat. Malu sekali!”
Dia menggenggam lenganku erat-erat dan memohon dengan suara pelan.
“Alya, kakakmu baru menikah. Kalau rumah ini kosong, apa kata orang nanti?”
Tiba-tiba dia melepas gelang emas yang tidak pernah lepas dari tangannya dan memaksanya ke telapak tanganku.
“Alya, Ibu tahu kamu kecewa dan sakit hati.”
“Anggap gelang ini sebagai permintaan maaf Ibu.”
“Tolong tinggalkan semua barang ini di sini.”
Aku memegang gelang yang terasa berat itu.
Dadaku mendadak sesak oleh rasa pahit dan ejekan terhadap diriku sendiri.
Ternyata, demi membuat hidup Kakak nyaman, Ibu bahkan rela melepaskan perhiasan yang paling dia sayangi.
Mataku memerah karena air mata yang hampir jatuh.
Namun pada akhirnya, aku hanya mengangguk.
Setelah tiba di apartemen kecil yang kusewa, aku menjatuhkan diri ke sofa karena kelelahan.
Dengan sembarangan, aku meletakkan gelang itu di atas meja.
Ting!
Terdengar suara keras.
Gelang emas itu tiba-tiba menempel kuat pada magnet dekorasi di atas meja.
Jantungku langsung berdegup kencang.
Aku buru-buru memisahkan magnet itu dari gelang.
Lalu aku menggores permukaannya sedikit.
Yang muncul dari balik lapisan tipis itu ternyata bukan emas…
melainkan baja tahan karat.

Malam itu, Alya tidak thể ngủ.
Tangannya terus memegang gelang yang selama ini dianggap sebagai harta paling berharga milik ibunya.
Selama bertahun-tahun, Ibu selalu berkata bahwa gelang itu adalah peninggalan almarhum ayah mereka. Bahkan ketika keluarga mereka mengalami masa tersulit, Ibu tidak pernah mau menjualnya.
Karena itulah, ketika Ibu rela menyerahkan gelang itu kepadanya, hati Alya sempat luluh.
Namun kenyataan yang terbongkar di depannya jauh lebih menyakitkan.
Dengan tangan gemetar, ia membawa gelang itu ke toko emas keesokan paginya.
Pemilik toko hanya melihat sekilas lalu tertawa kecil.
“Nona, ini bukan emas.”
“Lapisan luarnya memang disepuh emas, tapi bagian dalamnya hanya baja tahan karat. Nilainya bahkan tidak sampai seratus ribu rupiah.”
Seolah disambar petir, Alya berdiri membeku.
Selama ini, Ibu ternyata tidak pernah menyerahkan benda yang paling berharga baginya.
Bahkan pada saat itu, yang diberikan kepadanya hanyalah sebuah barang palsu.
Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh.
Tetapi bukan karena sedih.
Melainkan karena hatinya akhirnya benar-benar mati.
Mulai hari itu, Alya memutuskan memutus seluruh hubungan keuangan dengan keluarganya.
Tidak ada lagi transfer bulanan.
Tidak ada lagi pembayaran cicilan.
Tidak ada lagi kartu tambahan.
Tidak ada lagi Alya yang selalu mengalah.
Tiga hari kemudian, ponselnya berdering tanpa henti.
Lebih dari lima puluh panggilan tak terjawab dari Ibu.
Alya akhirnya mengangkatnya.
Di seberang telepon terdengar suara Ibu yang panik dan menangis.
“Alya! Cepat pulang!”
“Kakakmu dan istrinya bertengkar besar!”
“Ternyata Black Card yang kamu tinggalkan itu milik kakakmu sendiri!”
“Waktu mereka membeli mobil, tagihan satu miliar rupiah langsung masuk ke rekeningnya. Sekarang bank menagih pembayaran, dan istri kakakmu marah karena mengira dia menyembunyikan uang!”
“Semalam mereka sampai hampir bercerai!”
“Kamu harus membantu keluarga kita!”
Mendengar semua itu, Alya hanya tersenyum tipis.
“Keluarga?”
“Bu, bukankah aku sudah diusir dari rumah?”
“Rumah itu milik menantu kesayangan Ibu.”
“Dan aku hanyalah orang asing yang numpang tinggal, bukan?”
Di ujung telepon, Ibu langsung terdiam.
Setelah beberapa saat, suara tangisnya semakin keras.
“Alya… Ibu salah…”
“Kembalilah…”
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alya tidak lagi merasa sakit mendengar tangisan itu.
Dengan tenang ia berkata,
“Bu, sejak gelang palsu itu diberikan kepadaku, aku sudah mengerti satu hal.”
“Di hati Ibu, aku tidak pernah lebih penting daripada Kakak.”
“Kalau begitu, mulai sekarang, biarkan anak yang paling Ibu sayangi yang merawat Ibu di masa tua.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alya memutus sambungan telepon.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup demi orang lain…
Ia merasa bebas.
Enam bulan kemudian.
Dengan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya, Alya berhasil mendirikan perusahaan konsultasi keuangan sendiri di Jakarta.
Bisnisnya berkembang sangat pesat.
Dalam waktu singkat, ia membeli apartemen mewah dan sebuah mobil baru dengan uang hasil jerih payahnya sendiri.
Suatu sore, saat menghadiri acara bisnis, Alya tidak sengaja melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Ibunya.
Tubuh wanita yang dulu selalu membela putra sulungnya itu kini tampak jauh lebih tua.
Rambutnya telah memutih.
Begitu melihat Alya, air mata Ibu langsung mengalir.
“Alya…”
Baru saat itulah Alya mengetahui bahwa setelah kepergiannya, kakaknya kembali gagal berbisnis.
Mobil baru mereka disita bank.
Rumah mereka dijual untuk membayar utang.
Dan menantu yang dulu begitu angkuh akhirnya menceraikan kakaknya dan pergi bersama pria lain.
Sekarang, kakaknya hidup dengan bekerja serabutan, sementara Ibu tinggal sendirian di rumah kontrakan kecil.
Dengan mata penuh penyesalan, Ibu berlutut di hadapan Alya.
“Maafkan Ibu…”
“Ibu baru sadar…”
“Anak yang paling berbakti selama ini ternyata adalah kamu…”
Melihat wanita tua yang menangis di depannya, hati Alya tidak lagi dipenuhi kebencian.
Tetapi juga tidak ada lagi harapan.
Ia hanya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
Di dalamnya terdapat gelang baja tahan karat yang dulu diberikan ibunya.
Alya meletakkannya perlahan ke tangan sang ibu.
Lalu tersenyum tenang.
“Bu…”
“Barang palsu bisa dilapisi emas.”
“Tetapi hati manusia tidak bisa dipalsukan.”
“Sayangnya, Ibu baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat.”
Setelah mengatakan itu, Alya berbalik dan melangkah pergi.
Sinar matahari senja menyinari punggungnya.
Dan kali ini…
Ia tidak menoleh lagi.
Tamat.