Karena dalam rekaman CCTV, terlihat jelas bahwa selama lebih dari dua jam, Juan terus menulis tanpa berhenti.
Tidak ada satu menit pun dia bermalas-malasan.
Tidak ada satu soal pun yang dia lewatkan.
Bahkan beberapa kali, dia masih mengangkat kepalanya untuk berpikir sebelum kembali menulis dengan serius.
Namun…
Saat Dr. Budi Ramos memperbesar gambar, wajahnya berubah pucat.
Karena di layar monitor, ujung pena Juan sama sekali tidak menyentuh kertas.
Selama dua jam penuh…
Pena itu melayang sekitar satu sentimeter di atas lembar jawaban.
Dari awal hingga akhir, tidak pernah benar-benar menyentuh kertas.
Seolah-olah…
Juan sedang menulis di udara.
Seketika, seluruh ruangan menjadi sunyi.
“Mustahil…”
“Bagaimana bisa…”
Tubuh Juan gemetar hebat.
Dia langsung merebut mouse dan memutar ulang rekaman itu berkali-kali.
Tetapi hasilnya sama.
Di matanya, dia jelas-jelas melihat tintanya keluar dan memenuhi seluruh lembar jawaban.
Namun di kamera…
Dia hanya sedang menggerakkan pena di udara.
Air mata Juan langsung mengalir.
“Ini tidak mungkin…”
“Aku benar-benar menulis…”
“Aku benar-benar mengerjakan semuanya…”
Melihat keadaan Juan yang hampir kehilangan akal sehat, Dr. Ramos segera memanggil tim psikolog sekolah.
Tetapi tepat pada saat itu…
Seorang profesor tua yang menjadi pengawas pusat ujian datang mendekat.
Namanya Profesor Rahmat Wijaya.
Beliau telah mengajar selama lebih dari empat puluh tahun.
Setelah melihat rekaman CCTV, beliau tiba-tiba bertanya:
“Juan, apakah ini pertama kalinya kamu mengalami hal seperti ini?”
Juan menggeleng sambil menangis.
“Lalu kenapa aku bisa kembali ke hari ini…”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Semua orang terdiam.
Namun Profesor Rahmat justru membelalakkan matanya.
“Kembali?”
“Kamu sudah pernah mengalami hari ini?”
Juan menceritakan semuanya.
Tentang kehidupan sebelumnya.
Tentang nilai nol.
Tentang kedua orang tuanya yang jatuh sakit.
Tentang dirinya yang melompat dari atap gedung.
Dan tentang kesempatan kedua yang ia dapatkan.
Setelah mendengarkan semuanya, Profesor Rahmat tidak menertawakannya.
Sebaliknya, beliau memejamkan mata lama sekali.
Lalu perlahan berkata,
“Kalau begitu, mungkin yang terlahir kembali bukan dirimu.”
“Kemungkinan…”
“Yang terjebak di hari ini adalah jiwamu.”
Kalimat itu membuat semua orang merinding.
Profesor Rahmat kemudian bertanya pelan:
“Juan…”
“Dalam kehidupan sebelumnya, sebelum kamu melompat dari atap…”
“Apakah kamu benar-benar sudah meninggal?”
Tubuh Juan membeku.
Meninggal?
Bukankah dia melompat dari gedung?
Namun…
Ingatan terakhirnya mulai menjadi kabur.
Dia hanya ingat dirinya berdiri di tepi atap.
Lalu…
Suara Ibunya.
Tangisan Ayahnya.
Dan…
Kegelapan.
Dia tidak pernah benar-benar ingat tubuhnya menghantam tanah.
Saat itu juga, seluruh tubuh Juan dipenuhi keringat dingin.
Profesor Rahmat berkata dengan suara bergetar:
“Anak muda…”
“Mungkin sejak awal kamu belum pernah mati.”
“Mungkin…”
“Kamu masih berada dalam keadaan koma.”
“Dan semua yang kamu alami sekarang hanyalah kesadaranmu yang terus mengulang hari paling penting dalam hidupmu.”
Boom!
Kepala Juan seperti disambar petir.
Tiba-tiba, suara monitor rumah sakit terdengar samar di telinganya.
Bip… Bip…
Bip…
Suara tangisan seorang wanita.
“Juan…”
“Nak… bangunlah…”
“Itu bukan salahmu…”
Air mata Juan langsung jatuh.
“Itu suara Ibu…”
“Ibu…”
Di sekelilingnya, ruang ujian mulai retak seperti kaca.
Para pengawas.
Para siswa.
Meja dan kursi.
Semuanya mulai berubah menjadi serpihan cahaya.
Profesor Rahmat tersenyum hangat.
“Pergilah.”
“Orang tuamu menunggumu.”
“Kamu sudah berjuang sangat keras.”
“Tidak ada siapa pun yang menyalahkanmu.”
“Ayah dan ibumu tidak pernah menginginkan nilai sempurna.”
“Mereka hanya ingin anak mereka kembali.”
Profesor tua itu perlahan ikut menghilang.
Dan untuk pertama kalinya…
Juan menangis sejadi-jadinya.
“Ayah…”
“Ibu…”
“Maafkan aku…”
“Aku terlalu takut mengecewakan kalian…”
“Aku terlalu takut menjadi anak yang gagal…”
Seluruh dunia runtuh menjadi cahaya putih.
…
…
…
Bip.
Bip.
Bip.
Kelopak mata Juan bergetar.
Lalu perlahan terbuka.
Langit-langit rumah sakit.
Bau obat-obatan.
Dan…
Dua sosok yang telah menua beberapa tahun.
Ibunya yang tertidur sambil memegang tangannya.
Ayahnya yang rambutnya sudah mulai memutih.
Melihat matanya terbuka, sang ibu membelalakkan mata.
Lalu menangis histeris.
“Juan!”
“Juan sudah bangun!”
Ayahnya yang selama ini tegar langsung berlutut sambil menangis.
“Dua tahun…”
“Kamu akhirnya bangun, Nak…”
Baru saat itulah Juan mengetahui kebenarannya.
Dua tahun lalu, setelah mengetahui dirinya gagal masuk Universitas Indonesia karena kesalahan sistem pemindaian lembar jawaban yang kemudian terbukti terjadi pada beberapa peserta, ia mengalami depresi berat dan mengalami kecelakaan saat pulang ke rumah.
Ia tidak pernah melompat dari gedung.
Dan selama dua tahun ini…
Ayah dan Ibunya tidak pernah meninggalkannya.
Mereka menjual sawah, motor, bahkan rumah mereka demi biaya pengobatan.
Mendengar semuanya, Juan menangis tanpa suara.
Di atas meja rumah sakit terdapat sebuah amplop tua yang sudah menguning.
Itu adalah surat penerimaan mahasiswa dari Universitas Indonesia yang terlambat dikirim setelah kesalahan sistem berhasil diperbaiki.
Di pojok kanan atas tertulis:
“Selamat kepada Juan Dela Cruz. Anda diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan peringkat ke-3 nasional.”
Melihat surat itu, Juan menangis tersedu-sedu.
Namun kali ini…
Bukan karena penyesalan.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti.
Dalam hidup ini…
Tidak ada nilai ujian yang lebih penting daripada orang-orang yang tetap menggenggam tanganmu saat seluruh duniamu runtuh.
Dan selama Ayah dan Ibu masih ada…
Dia tidak pernah benar-benar kalah.
Tamat.

Sepuluh tahun kemudian.
Nama Dr. Juan Dela Cruz sudah dikenal di seluruh Indonesia.
Dokter muda yang dahulu pernah terbaring koma selama dua tahun itu kini menjadi salah satu ahli bedah saraf terbaik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.
Namun di ruang kerjanya, di balik berbagai penghargaan dan sertifikat yang berjejer, terdapat sebuah benda yang tidak pernah ia pindahkan.
Bukan piala.
Bukan medali.
Melainkan sebuah lembar jawaban kosong.
Lembar jawaban yang dahulu hampir menghancurkan hidupnya.
Setiap kali ada mahasiswa kedokteran yang kehilangan semangat, Juan akan menunjukkan lembar itu sambil tersenyum.
“Dulu aku mengira hidupku berakhir karena selembar kertas ini.”
“Padahal, hidupku baru benar-benar dimulai setelahnya.”
Suatu hari, seorang anak laki-laki berusia tujuh belas tahun dibawa ke rumah sakit.
Dia mengalami depresi berat setelah gagal dalam ujian masuk universitas.
Bocah itu terus menangis.
“Hidup saya sudah selesai…”
“Saya mengecewakan orang tua saya…”
“Saya tidak pantas hidup…”
Mendengar kata-kata itu, Juan seperti melihat bayangan dirinya di masa lalu.
Dia duduk di samping ranjang pasien itu.
Lalu meletakkan sebuah amplop tua yang sudah mulai pudar.
“Ini surat penerimaan universitas saya.”
Anak itu terkejut.
“Tapi Dokter berhasil masuk universitas.”
Juan tersenyum.
“Ya.”
“Tapi aku baru menerimanya setelah tertidur selama dua tahun.”
“Lalu bagaimana kalau surat ini tidak pernah datang?”
“Apakah hidupku akan berakhir?”
Anak itu terdiam.
Juan menepuk pundaknya.
“Dengarkan aku.”
“Nilai ujian bisa menentukan ke mana kamu melangkah.”
“Tetapi nilai ujian tidak pernah menentukan siapa dirimu.”
“Kegagalan hari ini bukanlah hukuman seumur hidup.”
“Dan cinta orang tuamu tidak pernah bergantung pada angka yang tercetak di selembar kertas.”
Anak laki-laki itu mulai menangis.
Dan untuk pertama kalinya sejak dirawat, dia berkata pelan,
“Dokter…”
“Saya ingin hidup.”
Juan tersenyum.
“Bagus.”
“Itu sudah lebih dari cukup.”
Pada usia tujuh puluh delapan tahun, Ayah Juan meninggal dunia dengan tenang.
Di ranjang rumah sakit, pria tua itu masih memegang tangan putranya.
Dengan suara yang lemah, dia berkata:
“Juan…”
“Maafkan Ayah…”
“Dulu Ayah terlalu keras padamu…”
Juan langsung menggeleng sambil menangis.
“Ayah tidak pernah salah.”
“Kalau bukan karena Ayah dan Ibu, saya sudah menyerah sejak lama.”
Pria tua itu tersenyum.
“Anak bodoh…”
“Ayah dan Ibu tidak pernah berharap kamu menjadi nomor satu.”
“Kami hanya ingin kamu bahagia.”
“Itu saja.”
Beberapa detik kemudian…
Tangan yang menggenggam tangan Juan perlahan terlepas.
Ayahnya pergi dengan senyum di wajahnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi dokter, Juan menangis seperti anak kecil.
Dua tahun kemudian, Ibunya juga menyusul.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, wanita tua itu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari bawah bantal.
Di dalamnya terdapat puluhan lembar kertas.
Itu adalah surat-surat yang ditulisnya selama Juan berada dalam keadaan koma.
“Juan, hari ini Ibu melihat daun mangga mulai tumbuh.”
“Juan, hari ini hujan turun deras. Semoga kamu tidak kedinginan.”
“Juan, dokter bilang kondisi kamu membaik.”
“Juan, Ayahmu diam-diam menangis lagi malam ini.”
“Juan, cepat bangun ya Nak. Ibu sangat merindukanmu.”
Ada tujuh ratus tiga puluh surat.
Satu surat untuk setiap hari selama dua tahun.
Air mata Juan menetes tanpa henti.
Baru saat itulah dia menyadari…
Selama dirinya mengira hidupnya telah berhenti…
Ada dua orang yang tidak pernah berhenti menunggunya.
Malam itu, setelah pemakaman Ibunya selesai, Juan duduk sendirian di halaman rumah kecil peninggalan orang tuanya di Pangasinan.
Langit dipenuhi bintang.
Angin malam bertiup pelan.
Di sampingnya terdapat lembar jawaban kosong itu.
Perlahan, Juan mengambil sebuah pena.
Dengan tangan yang sudah mulai dipenuhi keriput, ia menulis di atas kertas itu:
“Ayah.”
“Ibu.”
“Kali ini…”
“Tulisan saya tidak akan menghilang lagi.”
“Karena semua jawaban yang paling penting dalam hidup…”
Sudah kalian ajarkan kepada saya.”
“Terima kasih telah menjadi orang tua saya.”
“Dan jika memang ada kehidupan berikutnya…”
“Saya masih ingin menjadi putra kalian.”
Air mata jatuh ke atas kertas.
Namun tulisan itu tidak hilang.
Tidak seperti mimpi buruk yang dahulu menghantuinya.
Karena pada akhirnya, Juan baru memahami satu hal.
Dalam hidup ini…
Yang paling ditakuti manusia bukanlah kegagalan.
Melainkan terlambat menyadari siapa orang-orang yang telah mencintainya tanpa syarat.
Dan keberhasilan terbesar seseorang…
Bukanlah masuk ke universitas terbaik.
Bukan pula menjadi dokter terkenal.
Melainkan…
Ketika di akhir hidupnya nanti, ia dapat tersenyum dengan tenang dan berkata:
“Aku telah hidup dengan baik.”
Tamat.