Tamparan itu membuat pipiku langsung panas dan perih.

Aku berdiri sambil memegang wajahku. Sumpit di tanganku terjatuh ke atas meja. Sepotong iga babi kecap yang baru saja kuambil menggelinding beberapa kali di lantai yang berminyak.

“Ada siapa yang mengizinkanmu menyentuh daging itu?!”

teriak Rendra Wijaya dengan wajah merah padam, hampir menuding tepat ke mukaku.

“Itu bagian untuk Ibu!”

“Siapa kamu berani memakannya?”

Aku mengangkat kepala dan menatapnya.

Pria yang dulu selalu menundukkan kepala dengan malu-malu saat kami pertama kali dikenalkan lewat perjodohan…

Pria yang dengan lembut berjanji akan menjagaku seumur hidup…

Kini wajahnya dipenuhi kemarahan dan kebengisan, seolah-olah aku berutang miliaran rupiah kepadanya.

Ibu mertuaku, Bu Ratna Wijaya, duduk di kursi utama. Dengan tenang ia mengambil sepotong daging, lalu tersenyum sinis.

“Benar. Baru masuk keluarga Wijaya sudah tidak tahu aturan.”

“Rendra, kalau kamu tidak mendidiknya dari sekarang, bagaimana nanti ke depannya?”

Aku perlahan meletakkan sumpit.

Bekas tamparan di wajahku terasa terbakar.

Aku bahkan bisa merasakan sedikit rasa darah di mulutku. Sudut bibirku pecah karena tamparan yang terlalu keras.

Namun aku tidak menangis.

Sejak umur sepuluh tahun, setelah aku ditampar dan didorong hingga jatuh ke tanah oleh ibu tiriku, Maya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri.

Aku tidak akan pernah menangis di depan siapa pun.

Aku menatap Rendra lurus-lurus.

Nada suaraku sedingin es.

“Kalau kamu berani memukulku sekali lagi…”

“Yang akan menanggung akibatnya adalah kamu.”

Rendra sempat terpaku sesaat.

Lalu ia tertawa keras dan menoleh kepada ibunya.

“Bu, dengar itu?”

“Dia malah berani mengancamku!”

Bu Ratna pun ikut tertawa.

“Dasar perempuan tidak tahu diri!”

“Kamu sudah menikah dengan keluarga Wijaya. Artinya kamu milik keluarga Wijaya!”

“Kamu pikir kamu ini siapa?”

Aku tidak menjawab.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku dan menelepon seseorang.

“Pak Adrian, tolong datang sekarang.”

“Anda tahu alamat rumah saya.”

Suara profesional dari seberang telepon terdengar jelas.

“Berapa lama?”

Aku berpikir sejenak.

“Sepuluh menit.”

Setelah menutup telepon, aku kembali duduk di tempat semula dan mengambil sumpit.

Rendra memandangku dengan marah.

“Siapa yang kamu telepon?”

Aku mengambil sedikit brokoli tumis bawang dan memasukkannya ke mangkukku.

Nada suaraku tenang, seolah kami hanya sedang membicarakan cuaca.

“Kamu akan tahu sebentar lagi.”

Wajahnya langsung menggelap.


Aku Sungguh-Sungguh Ingin Menikah

Mungkin tidak ada yang percaya.

Tapi aku benar-benar mencari suami dengan serius.

Bukan karena usia tiga puluh tahun membuatku terburu-buru.

Melainkan karena aku ingin memiliki sebuah rumah yang sesungguhnya.

Namaku Tania Prasetyo.

Usiaku tiga puluh tahun.

Selama lima belas tahun terakhir, aku berkecimpung di industri supermarket bahan makanan segar.

Dari sebuah minimarket kecil di Jakarta Timur, kini jaringan supermarket milikku telah berkembang menjadi lebih dari tiga ratus cabang di seluruh Indonesia.

Bagi diriku sekarang…

Uang hanyalah angka.

Namun semakin besar usahaku berkembang, semakin kosong hatiku.

Saat aku berusia sepuluh tahun, ayahku, Surya, meninggalkan ibuku dan menikahi perempuan lain bernama Maya.

Putri Maya, Cindy, diperlakukan seperti putri kerajaan.

Sedangkan aku…

Tidak lebih dari rumput liar di pinggir jalan.

Setelah lulus kuliah pada usia dua puluh tahun, aku membawa koper dan pergi meninggalkan keluarga itu.

Sejak saat itu, aku tidak pernah kembali.

Selama bertahun-tahun, aku mengabdikan seluruh hidupku untuk pekerjaan.

Jam dua belas malam aku masih memeriksa laporan keuangan.

Jam lima pagi aku sudah berada di Pasar Induk Kramat Jati memeriksa kualitas barang.

Orang-orang lama di perusahaan tahu…

Bahwa Tania Prasetyo adalah orang yang paling keras terhadap dirinya sendiri.

Tetapi manusia bukanlah mesin.

Pada malam Tahun Baru lalu, aku makan sendirian di kantor.

Di luar, suara petasan bergema meriah.

Semua orang sedang berkumpul bersama keluarga mereka.

Sedangkan aku…

Tiba-tiba merasakan kesepian yang luar biasa.

Saat itulah aku memiliki sebuah impian.

Aku ingin menemukan seseorang yang tulus.

Seseorang yang bisa menemaniku sampai tua.

Tidak perlu kaya.

Tidak perlu luar biasa.

Asalkan orang baik.

Seseorang yang bisa membuatku merasakan kehangatan rumah ketika pulang.

Lalu…

Rendra masuk ke dalam hidupku.


Pernikahan yang Terlalu Cepat

Kami dikenalkan oleh Bibi Linda.

Katanya, Rendra berusia tiga puluh lima tahun.

Seorang teknisi di pabrik mesin.

Pendiam, jujur, dan bertanggung jawab.

Ibunya juga terkenal baik hati.

Pada pertemuan pertama kami di sebuah warung makan kecil, Rendra mengenakan seragam kerja yang sudah pudar warnanya.

Namun rambutnya rapi.

Setiap berbicara denganku, telinganya selalu memerah.

“Tania…”

“Aku memang tidak pandai bicara…”

katanya dengan suara pelan sambil menggosok kedua tangannya.

“Tapi aku berjanji akan menjagamu dengan baik.”

Hatiku langsung melunak.

Pria ini…

Meskipun tidak kaya, tampak begitu dapat dipercaya.

Setelah itu, ibunya, Bu Ratna, juga sangat ramah kepadaku.

Ia menggenggam tanganku erat.

“Saya langsung menyukaimu sejak pertama melihatmu.”

“Kamu cantik, sopan, dan pintar.”

“Anak saya benar-benar beruntung bisa mendapatkanmu.”

Aku mengatakan bahwa pekerjaanku sangat sibuk dan aku sering bepergian ke luar kota.

Bu Ratna langsung menepuk dadanya.

“Tidak masalah!”

“Perempuan zaman sekarang juga harus punya karier!”

“Kami pasti mendukungmu!”

Saat itu…

Aku benar-benar percaya.

Bahwa akhirnya Tuhan berbaik hati kepadaku.

Karena desakan Bu Ratna, pernikahan kami berlangsung sangat cepat.

Mahar yang kuminta hanya simbolis.

Rp50 juta.

Bu Ratna langsung setuju.

Bahkan berkata mereka akan menyiapkan rumah baru untuk kami.

Namun aku menolak.

Aku sendiri sudah membeli rumah.

Rumah seluas 140 meter persegi di kawasan elite Jakarta Selatan.

Dibayar tunai.

Nilainya hampir Rp25 miliar.

Sertifikat rumah itu hanya atas namaku sendiri.

Aku sudah memikirkannya matang-matang sebelum menikah.

Aku berkata kepada Rendra:

“Aku yang membeli rumah. Kamu cukup mengurus perabotan dan peralatan rumah tangga.”

Rendra mengeluarkan uang sebesar Rp50 juta.

Namun…

Sejak saat itu…

Uang lima puluh juta itu terus ia sebut-sebut.

Seolah-olah ia telah menyumbang separuh isi rumah.

Dan kehidupan setelah pernikahan…

Sejak hari pertama…

Sudah mulai terasa salah.


Pagi Pertama Setelah Menikah

Pada malam pernikahan kami, setelah semua tamu pulang dan aku kelelahan…

Bu Ratna tiba-tiba masuk ke kamar kami tanpa mengetuk.

“Tania.”

“Besok pagi bangun jam setengah lima.”

“Rendra masuk kerja jam tujuh.”

“Jangan sampai dia terlambat.”

Aku mengangguk.

“Baik.”

Namun aku tidak menyangka…

Yang dimaksudnya dengan sarapan…

Adalah standar lima lauk dan satu sup.

Keesokan paginya, pukul setengah lima, saat aku memasuki dapur…

Aku melihat secarik kertas ditempel di dekat wastafel.

Di atasnya tertulis:

  • Bubur ayam
  • Telur dadar
  • Brokoli tumis bawang putih
  • Semur daging sapi
  • Tempe goreng
  • Sup rumput laut telur

Aku…

Seorang wanita yang mengelola perusahaan bernilai puluhan miliar rupiah…

Berdiri di dapur sebelum matahari terbit…

Memotong sayur dan memasak untuk seluruh keluarga.

Dan saat itu…

Aku masih belum tahu.

Bahwa itu hanyalah awal dari mimpi burukku.

Dan tamparan yang baru saja diberikan Rendra padaku…

Adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan keluarga Wijaya dalam hidup mereka.

Bab Penutup: Orang yang Salah Telah Mereka Sentuh

Sepuluh menit kemudian, bel rumah berbunyi.

Rendra mencibir.

“Pengacara? Memangnya kau pikir aku takut?”

Bu Ratna bahkan tertawa sambil menyilangkan tangan.

“Perempuan zaman sekarang memang kebanyakan drama.”

Namun ketika pintu terbuka, senyum di wajah mereka perlahan membeku.

Yang masuk bukan hanya seorang pria berjas.

Di belakangnya, ada empat orang lain dengan pakaian formal.

Pria yang berjalan paling depan segera membungkuk kepadaku.

“Nona Tania, maaf kami terlambat.”

Suasana ruang makan mendadak sunyi.

Pak Adrian Castro adalah kepala tim hukum Grup Segar Nusantara.

Dan empat orang di belakangnya adalah direktur dari beberapa cabang perusahaan yang telah bekerja bersamaku lebih dari sepuluh tahun.

Rendra berkedip beberapa kali.

“Ini… ini siapa?”

Aku menyeka darah di sudut bibirku dengan tisu.

Lalu dengan tenang berkata:

“Perkenalkan.”

“Aku Tania Prasetyo.”

“Pendiri dan pemegang saham mayoritas Segar Nusantara Group.”

“Perusahaan yang memiliki tiga ratus dua puluh enam cabang supermarket di seluruh Indonesia.”

“Nilai asetnya sekitar dua belas triliun rupiah.”

“Dan rumah yang sedang kalian tempati ini, seluruhnya dibeli dengan uangku sendiri.”

Suara garpu yang jatuh ke lantai terdengar sangat jelas.

Bu Ratna berdiri dengan gemetar.

“Ti… tidak mungkin…”

“Kau bilang kau hanya pegawai kantoran…”

Aku tersenyum tipis.

“Aku memang tidak pernah mengatakan siapa diriku.”

“Karena aku ingin menikahi orang yang mencintaiku, bukan uangku.”

“Sayangnya, kalian gagal dalam ujian itu.”

Wajah Rendra langsung pucat seperti kertas.

Ia akhirnya menyadari sesuatu.

Selama tujuh hari ini…

Wanita yang ia perintah memasak.

Wanita yang ditamparnya.

Wanita yang ibunya hina tanpa henti.

Adalah pemilik rumah ini.

Dan bahkan penghasilannya selama seratus kehidupan pun tidak akan mampu membeli setengah dari ruang tamu ini.

“Ta… Tania…”

Suara Rendra mulai bergetar.

“Aku… aku bisa menjelaskan…”

Pak Adrian mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

“Pak Rendra Wijaya.”

“Ini surat gugatan perceraian.”

“Dan ini laporan tindak kekerasan dalam rumah tangga.”

“Bekas luka di wajah Nona Tania telah didokumentasikan oleh rumah sakit.”

“Kami juga telah mengamankan rekaman CCTV ruang makan.”

Tubuh Rendra langsung lemas.

“Apa?”

Bu Ratna berteriak histeris.

“Perceraian?”

“Tidak! Tidak boleh!”

“Kalian baru menikah seminggu!”

Pak Adrian tersenyum profesional.

“Justru karena baru seminggu, prosesnya jauh lebih sederhana.”

“Selain itu…”

“Menurut perjanjian pranikah yang telah ditandatangani kedua belah pihak, Pak Rendra tidak memiliki hak atas satu rupiah pun dari seluruh aset Nona Tania.”

Kalimat itu seperti petir yang menyambar.

Bu Ratna hampir pingsan.

“Tidak mungkin!”

“Rumah ini…”

“Mobil ini…”

“Semua ini…”

“Bukan milik anakku?”

Aku berdiri perlahan.

Lalu berjalan mendekati mereka.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ke keluarga Wijaya, aku memandang mereka dari atas.

“Aku pernah berpikir…”

“Bahwa Tuhan akhirnya memberiku sebuah keluarga.”

“Aku rela bangun sebelum subuh.”

“Rela memasak.”

“Rela memperlakukan kalian dengan tulus.”

“Karena aku menganggap kalian keluargaku.”

“Tapi ternyata…”

“Yang kalian inginkan hanyalah seorang pembantu gratis.”

Aku berhenti sejenak.

Tatapanku dingin.

“Sayangnya…”

“Aku tidak dibesarkan untuk menjadi pelayan siapa pun.”

“Aku adalah Tania Prasetyo.”

“Dan dalam hidupku…”

“Aku tidak pernah membiarkan siapa pun menamparku dua kali.”

Hari itu, aku meninggalkan rumah dengan kepala tegak.

Di belakangku terdengar tangisan Bu Ratna dan suara Rendra yang memohon.

Namun aku tidak pernah menoleh.

Tiga bulan kemudian.

Perceraian selesai.

Rendra kehilangan pekerjaannya karena kasus kekerasan rumah tangga tersebar di lingkungan tempat ia bekerja.

Sedangkan Bu Ratna yang dulu selalu memamerkan diri di depan tetangga, kini bahkan tidak berani keluar rumah.

Suatu sore, ketika aku baru selesai memeriksa cabang baru di Surabaya, Pak Adrian menyerahkan sebuah surat kepadaku.

“Ini surat dari Pak Rendra.”

Aku bahkan tidak membukanya.

“Buang saja.”

Pak Adrian tersenyum.

“Baik, Nona.”

Aku memandang matahari senja di kejauhan.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidak merasa kesepian.

Karena akhirnya aku mengerti.

Rumah…

Bukanlah tempat yang dibangun dengan pernikahan.

Dan keluarga…

Bukanlah orang-orang yang memiliki nama belakang yang sama.

Keluarga sejati…

Adalah orang-orang yang menghargai kebaikanmu tanpa pernah menganggapnya sebagai kewajiban.

Sedangkan bagi orang-orang yang hanya tahu menerima dan menindas…

Kepergianmu adalah hukuman terbesar yang tidak akan pernah bisa mereka tebus seumur hidup.

Dan bagi keluarga Wijaya…

Tamparan yang mereka berikan hari itu…

Telah menghancurkan keberuntungan terbesar yang pernah Tuhan kirimkan kepada mereka.