Suatu malam, saat aku sedang menidurkan putra kami yang baru berusia tiga tahun, tiba-tiba ia mendekat ke telingaku dan berbisik:
“Ma, Ayah bersembunyi di loteng.”
Seluruh tubuhku langsung membeku.
Sudah empat bulan lamanya Arga berada di Jerman.
Setiap hari ia melakukan video call dengan kami, bahkan tadi malam ia masih menunjukkan pemandangan indah kota Munich kepadaku.
“Miko, tadi kamu bilang apa?”
“Ayah bersembunyi di loteng.”
Anakku menggenggam tanganku dan mengulanginya dengan wajah serius.
“Kalau siang, Ayah ada di atas. Ayah nunggu Mama berangkat kerja dulu baru turun.”
Rumah kami adalah rumah dua lantai di kawasan BSD City, Tangerang Selatan.
Di lantai dua terdapat sebuah loteng kecil yang digunakan sebagai gudang. Tempat itu hampir selalu terkunci sepanjang tahun.
“Kamu pasti cuma mimpi, Nak.”
Aku mengusap rambutnya.
“Ayahmu ada di Jerman. Jauh sekali.”
“Aku nggak mimpi.”
Wajah kecil Miko langsung cemberut.
“Ayah bilang ini rahasia. Jangan bilang Mama.”
“Lalu kenapa kamu bilang ke Mama?”
“Soalnya Ayah kelihatan takut sekali.”
Suara anak kecil itu terdengar pelan.
“Kadang Ayah juga suka nangis.”
Aku memandangnya cukup lama.
Anak berusia tiga setengah tahun sulit mengarang cerita sedetail ini…
Namun mungkin juga ia mencampuradukkan mimpi dan kenyataan.
“Sudah, tidur ya.”
Aku menyelimutinya.
“Besok Mama ajak kamu main ke AEON Mall.”
“Ma…”
Miko menarik lengan bajuku.
“Jangan bilang Ayah kalau aku cerita ya. Nanti Ayah khawatir.”
Aku menutup pintu kamarnya, lalu berdiri di lorong dan mendongak.
Pintu menuju loteng berada di ujung koridor, berupa papan kayu yang dapat ditarik ke bawah bersama tangga lipat.
Terakhir kali aku membuka pintu itu…
Seingatku enam bulan lalu, saat menyimpan pakaian musim dingin.
Tidak mungkin ada orang bersembunyi di sana.
Begitulah aku menenangkan diri sebelum kembali ke kamar.
Namun malam itu, hingga pukul tiga dini hari aku masih belum bisa tidur.
Kalimat Miko terus berputar di kepalaku.
“Ayah kelihatan takut sekali…”
“Kadang Ayah juga suka nangis…”
Bagian 2
Keesokan harinya adalah hari Sabtu.
Aku mengajak Miko bermain di taman.
Ia sangat bahagia, berlari mengejar burung dan tertawa riang sambil memegang kapas gula.
Dalam perjalanan pulang, ia tertidur di kursi mobil.
Aku menggendongnya masuk ke kamar, menyelimutinya, lalu berdiri sendirian di lorong dan kembali menatap pintu loteng.
Gemboknya masih utuh.
Lapisan debu tipis masih menempel.
Aku mengambil kunci, menaiki tangga, membuka gembok, lalu mendorong pintu kayu itu.
Gelap.
Aku menyinari seluruh ruangan dengan lampu ponsel.
Yang terlihat hanyalah kardus-kardus tua dan beberapa perabot usang.
Tidak ada siapa pun.
Tak ada tanda-tanda seseorang pernah tinggal di sana.
Debu masih tebal.
Tidak ada jejak kaki.
Aku menghela napas lega dan menertawakan diriku sendiri.
Hanya karena omongan seorang anak kecil, aku benar-benar naik ke loteng untuk memeriksa.
Aku mengunci kembali pintu loteng seperti biasa.
Malamnya, Arga melakukan video call.
Di layar, ia mengenakan hoodie abu-abu.
Di belakangnya terlihat meja hotel penuh dokumen dan sebuah laptop.
“Miko nakal nggak hari ini?”
“Nggak. Tadi aku ajak dia main.”
“Aku lihat postinganmu di Facebook.”
Arga tersenyum.
“Foto dia di kolam bola lucu banget.”
“Bagaimana pekerjaanmu di sana?”
“Proyeknya hampir selesai. Mungkin dua bulan lagi.”
“Dua bulan?”
Aku menghitung dalam hati.
“Berarti sekitar delapan minggu lagi?”
“Iya.”
Ia tersenyum.
“Bilang Miko sabar sedikit lagi.”
Setelah telepon berakhir, aku melihat jam.
Pukul sembilan malam di Jakarta.
Di Munich saat itu sekitar pukul tiga sore.
Zona waktunya cocok.
Pemandangan di belakangnya masuk akal.
Gerak-geriknya pun normal.
Semuanya terlihat biasa.
Mungkin Miko memang hanya berkhayal.
Bagian 3
Seminggu kemudian, aku hampir melupakan semuanya.
Sampai pada Rabu malam.
Hari itu aku lembur dan baru pulang pukul delapan malam.
Mbak Sari, pengasuh Miko, sudah memandikannya dan sedang membacakan dongeng.
Aku menggantikannya dan memeluk putraku.
“Ma…”
Dalam gelap, Miko tiba-tiba berbicara.
“Ada apa, Nak?”
“Tadi Ayah kasih aku biskuit.”
Tanganku langsung berhenti.
“Apa?”
“Rasa stroberi.”
Ia menjawab dengan santai.
“Yang aku suka.”
“Kami juga bikin kastil Lego.”
Aku segera turun ke dapur dan membuka lemari makanan.
Benar saja.
Ada sebungkus biskuit stroberi.
Aku sangat ingat.
Aku membelinya minggu lalu dan sengaja menyimpannya karena Miko terlalu sering makan makanan manis.
Tetapi sekarang…
Separuh isinya sudah hilang.
Aku bertanya kepada Mbak Sari.
Ia bersumpah tidak memberikan biskuit apa pun kepada Miko.
Malam itu aku kembali tidak bisa tidur.
Bagian 4
Keesokan paginya, sebelum mengantar Miko ke daycare, aku berjongkok agar sejajar dengannya.
“Miko, bilang yang sebenarnya sama Mama.”
“Sejak kapan Ayah bersembunyi di loteng?”
“Sudah lama.”
“Berapa lama?”
Miko mengangkat kedua tangannya.
Sepuluh jari.
Lalu mengulanginya sekali lagi.
“Dua puluh hari?”
Ia mengangguk.
“Ayah bilang dia menghitung kalender.”
“Kenapa Ayah harus bersembunyi?”
“Ada orang jahat yang sedang mencari Ayah.”
Miko memeluk boneka kelincinya.
“Jadi orang jahat nggak boleh tahu kalau Ayah ada di rumah…”
“Dan Mama juga nggak boleh tahu.”
Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggungku.
“Kalau siang Ayah di mana?”
“Di loteng.”
“Kalau Mama sudah pergi kerja, Ayah turun ke ruang tamu, kadang ke dapur.”
“Sebelum Mbak Sari datang, Ayah naik lagi.”
Aku mengepalkan tangan.
Kalau semua yang dikatakan Miko benar…
Berarti memang ada seseorang di rumah ini.
Seseorang yang tahu kapan rumah kosong.
Seseorang yang selalu mendengarkan setiap suara.
Namun aku sendiri sudah memeriksa loteng.
Pintu itu selalu terkunci.
Tidak ada tanda-tanda pernah dibuka.
Kecuali…
Orang itu tidak masuk melalui pintu loteng.
Bagian 5
Aku mengambil cuti setengah hari dan pulang lebih awal.
Aku memasang sebuah ponsel lama di rak buku ruang tamu dan mengaktifkan mode perekaman.
Kamera itu menghadap langsung ke ruang tamu dan dapur.
Kemudian aku berpura-pura pergi bekerja seperti biasa.
Sepanjang hari aku tidak bisa fokus.
Pukul tiga sore, aku kembali ke rumah.
Saat itu Miko baru bangun dari tidur siang.
Aku mengambil ponsel yang dipakai merekam.
Baterainya tinggal dua belas persen.
Aku mempercepat video.
08.15.
Aku keluar rumah.
08.20.
Mbak Sari datang.
09.00.
Mbak Sari mengajak Miko bermain.
Rumah menjadi kosong.
09.43.
Jantungku hampir berhenti.
Di pojok kanan atas layar, dekat tangga…
Muncul sesosok bayangan manusia.
Hanya dua detik.
Seperti seseorang yang sedang mengintip keadaan di bawah sebelum kembali bersembunyi.
Aku memutarnya berulang kali.
Tubuh tinggi.
Kurus.
Rambut agak panjang.
Pakaian gelap.
Dan bentuk tubuh itu…
Sangat mirip dengan Arga.
Malam itu aku tidak melakukan video call.
Aku hanya mengirim pesan.
“Belakangan ini proyekmu sangat sibuk?”
“Masih lumayan. Besok aku harus presentasi.”
Jawabannya datang cepat.
Aku menatap layar ponsel.
“Aku kangen.”
“Aku juga kangen kalian.”
“Sabar sedikit lagi.”
“Sekitar satu bulan lebih.”
Satu bulan lagi.
Aku memutar ulang rekaman itu lebih dari sepuluh kali.
Wajah sosok itu terlalu buram untuk dikenali.
Namun tinggi badan dan bentuk tubuhnya…
Benar-benar seperti Arga.
Dan malam itu…
Aku akhirnya membuat sebuah keputusan.
Besok pagi…
Aku akan berpura-pura berangkat kerja seperti biasa.
Namun kali ini…
Aku tidak akan pergi ke kantor.
Aku akan bersembunyi di dalam rumah.
Dan menunggu…
Siapa sebenarnya orang yang selama dua puluh hari terakhir dipanggil putraku dengan satu sebutan yang sama—
“Ayah.”
(Bersambung…)

Trước khi matahari terbit keesokan paginya, aku sudah keluar dari kamar sejak dini.
Seperti biasa, aku mengirim pesan ke grup kantor agar semua orang tahu bahwa hari itu aku akan bekerja seharian.
Lalu aku mengendarai mobil keluar dari kompleks perumahan.
Namun lima menit kemudian, aku diam-diam kembali melalui tangga darurat.
Aku mengunci pintu dari dalam, mematikan suara ponsel, lalu bersembunyi di ruang kerja di lantai dua.
Rumah itu tenggelam dalam keheningan.
Pukul 08.10.
Aku mendengar suara lift berhenti.
Sepuluh menit kemudian, Mbak Sari datang.
Tepat pukul 09.00.
Seperti biasa, Mbak Sari mengajak Miko bermain ke taman bawah apartemen.
Suara tawa putraku perlahan menghilang di balik pintu.
Rumah menjadi sunyi dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang.
Jantungku berdegup sangat kencang.
Pukul 09.42.
Terdengar suara yang sangat pelan.
Klik.
Bukan dari pintu loteng.
Melainkan dari balik dinding ruang kerja.
Seluruh tubuhku langsung membeku.
Aku teringat sesuatu.
Saat membeli rumah ini, pemilik sebelumnya pernah mengatakan bahwa rumah ini merupakan hasil penggabungan dua unit, dan dulu ada lorong penghubung rahasia yang kemudian ditutup.
Jangan-jangan…
Aku menahan napas.
Suara langkah kaki semakin jelas.
Ada seseorang.
Benar-benar ada seseorang di dalam rumah ini.
Dengan tangan gemetar, aku menggenggam tongkat golf yang berada di sudut ruangan.
Dan kemudian…
Sesosok pria tinggi kurus perlahan keluar dari balik rak buku.
Ia mengenakan hoodie abu-abu.
Rambutnya sedikit panjang.
Wajahnya pucat dan kurus.
Janggut tipis tumbuh berantakan.
Namun saat mata kami bertemu…
Tongkat golf di tanganku jatuh ke lantai.
Itu Arga.
Benar-benar Arga.
Suamiku yang seharusnya berada di Munich.
Pria yang setiap malam melakukan video call denganku selama empat bulan terakhir.
Pria yang diyakini semua orang sedang berada di Jerman.
Begitu melihatku, wajahnya langsung memucat.
Seolah-olah dia baru saja melihat hantu.
“Rina…”
Suaranya serak.
“Kenapa kamu ada di rumah?”
Aku menahan air mata.
“Seharusnya aku yang bertanya.”
“Bukankah kamu berada di Jerman?”
“Jadi selama dua puluh hari ini… kamu benar-benar ada di rumah?”
Arga membeku.
Beberapa detik kemudian, kedua lututnya lemas.
Lalu…
Pria setinggi satu meter delapan puluh itu tiba-tiba menangis seperti anak kecil.
Tubuhnya gemetar hebat.
Dia bahkan kesulitan berbicara.
Setelah sekian lama, akhirnya dia berkata dengan suara tercekat.
“Maaf…”
“Aku benar-benar tidak punya pilihan lain.”
Barulah aku mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
Empat bulan lalu, saat berada di Jerman, Arga tanpa sengaja menemukan bahwa perusahaan tempat ia bekerja sama ternyata terlibat dalam pencucian uang untuk sebuah organisasi kriminal internasional.
Dan Arga…
Menjadi satu-satunya saksi hidup.
Saat menolak bekerja sama dengan mereka, ia mulai menerima ancaman.
Awalnya ia mengira polisi setempat bisa membantunya.
Namun ia tidak menyangka…
Salah satu polisi ternyata juga berada di dalam jaringan tersebut.
Rekan kerja yang bersamanya menjadi korban pertama.
Arga nyaris kehilangan nyawanya.
Berkat bantuan rahasia dari Kedutaan Besar Indonesia, ia berhasil dipulangkan ke tanah air dengan identitas sementara.
Namun karena kasus itu belum selesai…
Keberadaannya harus dirahasiakan.
Bahkan aku dan Miko pun tidak boleh mengetahuinya.
Karena jika para pelaku mengetahui bahwa Arga sudah kembali ke Indonesia…
Bukan hanya dirinya.
Aku dan Miko pun akan berada dalam bahaya.
“Aku hanya ingin bertahan satu bulan lagi…”
“Hanya satu bulan lagi…”
“Setiap hari aku mendengar suaramu saat video call.”
“Aku bisa melihatmu, tapi tidak bisa memelukmu.”
“Aku mendengar Miko memanggilku Daddy, tapi aku tidak bisa muncul di hadapannya.”
“Aku hampir gila.”
“Karena itu…”
“Aku hanya berani turun ketika tidak ada orang.”
“Aku hanya berani bermain Lego dengan Miko beberapa menit.”
“Aku hanya berani memberinya biskuit, lalu kembali bersembunyi.”
“Maafkan aku.”
“Maaf karena sudah membohongimu.”
Aku menatap pria kurus di depanku.
Wajahnya tidak lagi seperti Arga yang dulu kukenal.
Yang tersisa hanyalah rasa takut dan kelelahan.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Miko.
“Daddy kelihatan takut…”
“Daddy sering menangis…”
Ternyata…
Anak kami tidak pernah berbohong.
Satu-satunya orang yang berbohong…
Adalah pria yang sedang berlutut di depanku.
Namun…
Itu adalah kebohongan demi melindungi keluarganya.
Aku berjalan mendekat.
Lalu perlahan memeluk pria yang telah memikul semuanya seorang diri selama berbulan-bulan.
Arga menangis semakin keras.
Untuk pertama kalinya sejak kami menikah…
Aku melihat suamiku menangis seperti itu.
Sebulan kemudian.
Jaringan kriminal tersebut akhirnya berhasil dihancurkan.
Semuanya pun berakhir.
Hari ketika Arga akhirnya bisa kembali secara resmi.
Miko berlari menghampirinya dan memeluk kakinya erat-erat.
Wajah kecilnya penuh kebanggaan.
Ia menoleh ke arahku dan tersenyum lebar.
“Kan Miko sudah bilang.”
“Daddy memang selalu ada di rumah.”
Arga terdiam.
Sedangkan aku tersenyum di tengah air mata.
Ya.
Selama masa paling menakutkan itu…
Dia sebenarnya tidak pernah pergi meninggalkan kami.
Dia hanya memilih cara yang tidak bisa kami pahami…
Untuk tetap tinggal bersama kami.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Miko sudah dewasa, ia masih sering menceritakan kisah paling aneh dalam masa kecilnya.
Bahwa saat berusia tiga tahun…
Ia pernah memiliki sebuah rahasia bersama ayahnya.
Rahasia yang dijaganya begitu lama.
Dan setiap kali sampai pada bagian itu, Arga selalu tersenyum sambil mengusap kepala putranya.
“Terima kasih, Nak.”
“Karena sudah membuat Daddy tidak merasa sendirian.”
Dan aku memahami satu hal lebih dari siapa pun.
Di dunia ini…
Ada kebohongan yang lahir dari pengkhianatan.
Namun ada pula kebohongan…
Yang lahir dari cinta yang begitu dalam.
Dan terkadang…
Orang pertama yang mampu merasakan cinta itu…
Justru adalah seorang anak kecil berusia tiga tahun.