Keesokan paginya, Celine datang ke apartemen Olivia dengan membawa berbagai hadiah mahal. Ia mengenakan gaun putih dan menangis tersedu-sedu di depan pintu.
“Bu Olivia, saya benar-benar minta maaf. Saya hanya terlalu emosi kemarin. Saya tidak bermaksud menyakiti Ibu…”
Tetapi pintu tidak pernah terbuka.
Olivia sudah pergi sejak subuh.
Di ruang rapat Wijaya Biotech, Adrian bahkan masih sempat tersenyum. Dalam pikirannya, Olivia hanya sedang marah dan akan kembali seperti biasanya.
Sampai Francis Gunawan, direktur keuangan yang selama ini diam, tiba-tiba membanting map laporan ke atas meja.
“Pak Adrian, masalah besar!”
“Apa lagi?”
“Wakil Ketua Dewan sudah membekukan seluruh hak paten inti yang selama ini berada atas nama Bu Olivia!”
Adrian terdiam.
Francis melanjutkan dengan wajah pucat.
“Tiga jalur produksi utama sudah berhenti total. Seluruh mitra luar negeri menolak memperbarui kontrak. Nilai saham perusahaan turun hampir tiga puluh persen pagi ini!”
Barulah Adrian berdiri dari kursinya.
“Mustahil!”
“Semua teknologi itu milik perusahaan!”
Francis tertawa pahit.
“Bukan, Pak.”
“Sebelum menikah dengan Anda, Bu Olivia sudah mendirikan laboratorium sendiri. Semua formula obat kanker generasi terbaru didaftarkan atas nama pribadinya.”
“Selama ini beliau hanya mengizinkan perusahaan menggunakan semuanya tanpa menarik royalti.”
“Dan kemarin… izin itu dicabut.”
Seluruh ruang rapat menjadi sunyi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adrian merasa darah di tubuhnya membeku.
“Di mana Olivia?”
“Tidak ada yang tahu.”
Ia langsung menelepon.
Nomor Olivia sudah tidak aktif.
Ia menghubungi pengacara keluarga.
Barulah ia mengetahui bahwa surat gugatan cerai telah dikirim sejak semalam.
Semua rekening bersama telah dipisahkan.
Semua aset pribadi Olivia telah dipindahkan.
Bahkan apartemen mereka sudah tidak lagi menjadi tempat tinggal bersama.
Semuanya…
Sudah dipersiapkan jauh sebelum dua belas tamparan itu terjadi.
Malam itu, Adrian pulang ke rumah dalam keadaan linglung.
Untuk pertama kalinya, rumah mewah itu terasa seperti kuburan yang kosong.
Tidak ada lagi suara Olivia yang menanyakan apakah ia sudah makan.
Tidak ada lagi secangkir teh hangat di meja kerja.
Tidak ada lagi lampu yang sengaja dibiarkan menyala untuk menunggunya pulang.
Yang tersisa hanyalah cincin pernikahan dan secarik kertas kecil.
Adrian memeluk cincin itu sambil berlutut di lantai.
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Olivia… pulanglah…”
“Aku salah…”
Namun tidak ada seorang pun yang menjawab.
Seminggu kemudian, Celine kembali datang.
Kali ini dengan wajah penuh harapan.
“Pak Adrian… sekarang tidak ada lagi Bu Olivia. Kita bisa bersama, kan?”
Adrian mengangkat kepalanya perlahan.
Tatapan pria itu membuat Celine ketakutan.
“Keluar.”
“Pak Adrian…”
“Keluar!!”
Ia melemparkan semua hadiah yang dibawa Celine hingga berserakan di lantai.
“Karena wanita sepertimu, aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaiku!”
Celine menangis histeris.
Namun Adrian bahkan tidak mau melihatnya lagi.
Hari itu juga, ia memecat Celine dari Wijaya Biotech.
Berita itu segera menyebar ke seluruh industri farmasi.
Tak ada satu pun perusahaan besar yang berani menerimanya.
Sementara itu, Olivia telah berada di Swiss.
Di sebuah laboratorium medis internasional, ia kembali mengenakan jas putihnya.
Dengan investasi lebih dari 500 miliar rupiah dari para mitra asing, ia mendirikan perusahaan farmasi miliknya sendiri.
Dua tahun kemudian, Olivia Pratama menjadi salah satu ilmuwan wanita paling berpengaruh di Asia.
Sedangkan Wijaya Biotech yang kehilangan teknologi utamanya terus merugi.
Nilai perusahaan jatuh drastis.
Akhirnya, keluarga Wijaya terpaksa menjual sebagian besar saham mereka demi bertahan hidup.
Suatu malam yang dingin, Adrian berdiri sendirian di depan gedung bekas kantor pusatnya.
Rambutnya telah dipenuhi uban.
Ia memandangi layar raksasa di pusat kota Jakarta.
Di sana terpampang berita tentang Olivia.
Wanita itu sedang menerima penghargaan internasional dengan senyum tenang dan anggun.
Di sampingnya berdiri seorang pria asing yang memandangnya dengan penuh rasa hormat.
Mereka tampak begitu bahagia.
Adrian tersenyum pahit.
Air mata perlahan mengalir di wajahnya.
Saat itulah ia akhirnya memahami sesuatu yang terlambat ia sadari.
Di dunia ini, ada orang yang akan tetap mencintaimu bahkan ketika kamu tidak memiliki apa-apa.
Dan ada orang yang akan pergi ketika kamu kehilangan segalanya.
Namun yang paling menyakitkan adalah…
Ketika orang yang paling tulus mencintaimu telah pergi, kamu baru menyadari bahwa seluruh dunia yang selama ini kamu banggakan…
Tidak pernah lebih berharga daripada dirinya.
Sayangnya…
Tidak semua penyesalan diberi kesempatan kedua.
Dan bagi Adrian Wijaya, dua belas tamparan yang ia izinkan terjadi pada wanita yang paling mencintainya…
Menjadi hukuman yang harus ia tanggung seumur hidup.

Tiga tahun kemudian.
Hujan gerimis turun perlahan di Jakarta.
Adrian Wijaya yang dulu dikenal sebagai miliarder muda paling berpengaruh kini hanya tinggal bayangan dari dirinya yang dahulu.
Setelah kehilangan hak paten inti dan serangkaian kegagalan investasi, keluarga Wijaya akhirnya kehilangan kendali atas Wijaya Biotech.
Bahkan rumah mewah yang pernah mereka banggakan pun telah dijual untuk membayar utang.
Pada usia yang belum genap lima puluh tahun, rambut Adrian telah memutih hampir seluruhnya.
Hari itu, ia menerima undangan dari sebuah konferensi medis internasional yang diselenggarakan di Singapura.
Sebagai mantan pemilik perusahaan farmasi besar, ia masih mendapat undangan kehormatan.
Namun ketika layar utama aula raksasa itu menyala, seluruh tubuhnya mendadak membeku.
Di atas panggung, seorang wanita mengenakan gaun hitam sederhana berdiri dengan tenang di bawah sorotan lampu.
“Peraih penghargaan Saint Florence tahun ini untuk kontribusi luar biasa dalam bidang pengobatan kanker adalah…”
“Dr. Olivia Pratama.”
Seluruh ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan.
Adrian gemetar.
Matanya langsung memerah.
Tiga tahun.
Sudah tiga tahun ia tidak pernah melihat wajah wanita itu.
Tetapi hanya dengan satu tatapan, ia masih bisa mengenalinya.
Olivia tampak jauh lebih cantik dibandingkan sebelumnya.
Tidak ada lagi kelembutan yang selalu berusaha menyenangkan orang lain.
Tidak ada lagi tatapan yang selalu penuh pengertian.
Yang tersisa hanyalah ketenangan, keanggunan, dan cahaya percaya diri yang membuat semua orang memandangnya dengan hormat.
Adrian menangis.
Untuk pertama kalinya di depan banyak orang, ia menangis seperti anak kecil.
Setelah acara selesai, ia berdiri berjam-jam di luar ruang VIP.
Sampai akhirnya Olivia keluar bersama beberapa ilmuwan asing.
Ketika melihat pria yang berdiri di depannya, langkah Olivia berhenti sejenak.
Namun hanya sejenak.
Ekspresinya tenang seperti melihat orang asing.
“Olivia…”
Suara Adrian bergetar.
Wanita itu mengangguk sopan.
“Tuan Wijaya.”
Hanya tiga kata itu.
Tuan Wijaya.
Bukan lagi “Adrian”.
Bukan lagi “suamiku”.
Dan tentu saja bukan lagi “sayang”.
Jarak yang diciptakan oleh tiga kata sederhana itu membuat hati Adrian seperti ditusuk ribuan jarum.
Matanya memerah.
“Olivia… aku…”
Namun sebelum ia selesai berbicara, seorang pria asing tinggi dan tampan datang mendekat.
“Sayang, semua orang sedang menunggumu.”
Pria itu secara alami memegang tangan Olivia.
Dan Olivia pun tersenyum.
Senyum yang dulu hanya pernah diberikan kepadanya.
“Baik, aku segera datang.”
Adrian membeku.
Seluruh tubuhnya terasa dingin.
Pria itu memandang Adrian dengan sopan.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Olivia tersenyum tipis.
“Tidak ada.”
“Beliau hanya kenalan lama.”
Kenalan lama.
Empat belas tahun cinta.
Tujuh tahun pernikahan.
Ribuan hari yang pernah mereka lalui bersama.
Pada akhirnya…
Hanya tersisa empat kata.
Kenalan lama.
Malam itu, Adrian duduk sendirian di tepi Marina Bay.
Ia mengeluarkan cincin pernikahan yang selama tiga tahun terakhir tidak pernah lepas dari sakunya.
Benda kecil itu sudah mulai kusam.
Air matanya jatuh satu demi satu.
Dan untuk pertama kalinya, ia akhirnya mengerti.
Orang yang paling menyakitimu belum tentu musuhmu.
Tetapi orang yang paling bodoh…
Adalah dirimu sendiri, ketika menghancurkan orang yang paling tulus mencintaimu.
Di sisi lain kota, Olivia berdiri di depan jendela hotel sambil memandangi langit malam Singapura.
Asistennya bertanya pelan:
“Dokter Olivia, apakah Anda masih mencintainya?”
Olivia tersenyum.
Lalu menggeleng pelan.
“Bukan tidak mencintai.”
“Hanya saja…”
“Aku sudah belajar mencintai diriku sendiri lebih dari mencintai seseorang yang pernah menghancurkanku.”
Ia menatap cahaya kota yang berkilauan di kejauhan.
Dan tersenyum dengan tenang.
Karena ia akhirnya mengerti satu hal.
Bunga yang telah layu karena diinjak-injak…
Tidak akan mekar kembali untuk orang yang sama.
Tetapi ketika musim semi yang baru datang…
Ia akan mekar lebih indah dari sebelumnya.
Dan kali ini…
Ia mekar hanya untuk dirinya sendiri.