Posted in

Baru Tiga Hari Menikah, Suamiku yang Seorang Kapten Lalu Lintas Memberikan Plat Nomorku kepada Cinta Pertamanya—Tapi Dia Tidak Tahu, Aku Memegang Satu Panggilan Telepon yang Bisa Menghancurkan Kariernya

Baru Tiga Hari Menikah, Suamiku yang Seorang Kapten Lalu Lintas Memberikan Plat Nomorku kepada Cinta Pertamanya—Tapi Dia Tidak Tahu, Aku Memegang Satu Panggilan Telepon yang Bisa Menghancurkan Kariernya

Baru tiga hari aku menikah ketika polisi lalu lintas menghentikan Porsche hadiah dari keluargaku.

“Maaf, Bu. Plat nomor yang terpasang pada kendaraan ini diduga palsu.”

Saat aku menelepon suamiku yang seorang kapten lalu lintas, wanita di sampingnya malah tertawa.

Dan apa yang dia katakan kepadaku hampir membuat jantungku berhenti berdetak.

“Memang palsu, Andrea. Aku sendiri yang membuatnya.”

Saat itu aku berdiri di pinggir jalan utama Jakarta, telapak tanganku berkeringat, jemariku gemetar sambil memegang dokumen registrasi mobil. Porsche Taycan yang kukendarai adalah hadiah pernikahan dari orang tuaku. Aku hampir tidak pernah menggunakannya. Mobil itu biasanya hanya terparkir di garasi rumah kami di kawasan elite karena aku lebih terbiasa mengemudikan SUV sederhana.

Jadi ketika petugas mengatakan bahwa plat nomorku palsu, hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah: tidak mungkin.

“Pak, kendaraan ini atas nama saya. Semua dokumennya resmi. Bahkan saya sendiri yang memilih nomor platnya.”

Mereka berbicara dengan sopan, tetapi mengatakan bahwa aku harus dibawa ke kantor polisi untuk verifikasi. Karena takut dan malu, aku segera menelepon suamiku—Kapten Miguel Aragon, seorang perwira terkenal di divisi lalu lintas.

Kupikir dia akan membantuku.

Kupikir dia adalah suamiku.

Begitu telepon tersambung, aku mendengar tawa kecil seorang wanita.

“Sayang, ada apa lagi?” tanya Miguel dengan nada dingin.

“Miguel, aku diberhentikan polisi. Mereka bilang plat Porsche ini palsu. Tolong datang ke sini. Kamu tahu semua dokumennya legal.”

Dia terdiam sesaat. Lalu dengan santainya berkata,

“Memang palsu. Aku yang membuatnya.”

Tubuhku langsung terasa dingin.

“Apa?”

“Aku meminjam plat aslimu untuk Celina. Dia baru pulang dari Singapura. Plat mobilnya belum keluar, dan ini minggu pertamanya bekerja di firma besar Jakarta. Dia harus terlihat meyakinkan.”

Celina Villafuerte.

Wanita yang dulu gagal dia miliki.

Wanita yang selalu dia sebut “teman masa kecil”, padahal semua orang tahu dia adalah cinta pertamanya.

Aku tertawa kecil, bukan karena lucu.

“Kamu memberikan plat nomorku kepadanya?”

“Kamu kan tidak pernah memakai Porsche itu. Andrea, kamu anak orang kaya. Kamu tidak perlu bekerja. Celina sedang memulai hidupnya lagi. Dia baru masuk perusahaan besar. Dia butuh citra yang baik.”

“Dia punya citra. Yang tidak dia punya adalah mobil.”

Miguel mendengus.

“Jangan bicara seperti itu. Dia tidak seperti kamu yang terbiasa mendapatkan semua yang diinginkan.”

“Mobil apa yang kamu pasangi plat nomorku?”

Dia tidak langsung menjawab.

“Miguel?”

“Mercedes-Maybach yang diberikan orang tuamu untukku. Untuk sementara kupinjamkan ke Celina.”

Di tengah hiruk-pikuk jalan, rasanya dunia mendadak sunyi.

Maybach yang diberikan keluargaku sebagai simbol penerimaan terhadapnya.

Mobil yang seharusnya menjadi lambang penghormatan.

Dia malah memberikannya kepada cinta pertamanya.

Aku tersenyum tipis.

“Baiklah.”

“Andrea, jangan berlebihan. Nanti sore aku bereskan semuanya. Ikuti saja prosedur petugas.”

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kalimatnya.

Aku memutus telepon.

Lalu aku sendiri yang menelepon polisi.

“Halo, saya ingin melaporkan bahwa plat nomor kendaraan saya dicuri dan digunakan oleh orang lain.”

Segalanya bergerak cepat setelah itu.

Aku dibawa ke kantor polisi. Mereka mengonfirmasi bahwa plat asli memang terdaftar atas namaku. Hanya dalam beberapa jam, mereka menemukan Mercedes-Maybach yang menggunakan plat tersebut di basement sebuah gedung perkantoran di kawasan bisnis Jakarta.

Dan penggunanya?

Celina Villafuerte.

Saat aku tiba di kantor polisi, aku langsung melihatnya.

Dia mengenakan blazer krem, tampil anggun, tetapi matanya memerah seolah-olah dialah korbannya. Di sampingnya berdiri Miguel dengan wajah kesal, seakan dirinya yang dipermalukan.

Aku berjalan mendekat.

Sebelum sempat berbicara, dia tiba-tiba mengangkat tangannya.

PLAK!

Suara tamparan itu menggema.

Semua orang menoleh.

Pipiku terasa panas. Aku bisa merasakan darah di sudut bibirku.

“Mengapa kamu melakukan ini?” bentaknya. “Aku sudah bilang bahwa aku yang membuat plat itu! Kenapa kamu harus membuat Celina ditangkap di kantornya? Tahukah kamu bahwa kamu menghancurkan reputasinya?”

Perlahan aku menyentuh pipiku.

Lalu menatapnya.

Dan aku menamparnya kembali.

Lebih keras.

Dia mundur beberapa langkah. Para petugas langsung memperhatikan kami. Celina terkejut seperti sedang bermain sinetron.

“Kapten Aragon,” kataku dingin, “kamu adalah aparat penegak hukum. Kamu tahu bahwa penggunaan plat palsu adalah tindak pidana. Kamu tahu bahwa mengambil plat milik orang lain juga tindak pidana. Dan kamu melakukan semuanya demi seorang wanita yang bahkan bukan istrimu.”

Wajahnya berubah.

Dia menarik lenganku dan membawaku ke sudut ruangan.

“Andrea, tolong,” katanya lirih. “Aku salah. Aku mengakuinya. Tapi jangan lanjutkan kasus ini. Karier Celina dipertaruhkan.”

“Kariernya?” aku tertawa. “Bagaimana dengan namaku? Rekam jejakku? Bagaimana kalau aku dipenjara karena perbuatanmu?”

“Aku akan memperbaikinya. Katakan saja ini kesalahpahaman. Kita suami istri. Ini urusan keluarga.”

“Kamu menyuruhku berbohong kepada polisi?”

“Bukan begitu—”

“Justru itu.”

Dia mengalihkan pandangan.

“Kalau perlu, bilang saja kamu salah membuat laporan. Aku yang akan mengurus dendanya. Keluargamu juga punya banyak uang.”

Saat itulah kesabaranku habis.

Aku mengeluarkan ponsel untuk menelepon pengacara keluarga.

Namun Miguel merebut ponselku dan membantingnya ke lantai.

Layarnya pecah.

Gantungan berlian kecil di casing ikut terlepas.

Beberapa orang di sekitar langsung terkejut.

Aku menatapnya.

“Pak Petugas, saya ingin mengajukan laporan tambahan. Dia merusak properti pribadi saya. Ponsel edisi terbatas yang dikustomisasi, senilai sekitar Rp450 juta.”

Wajah Miguel memerah karena marah.

“Andrea, hanya karena masalah plat nomor, kamu mau memenjarakanku?”

“Bukankah kamu sendiri yang mengaku bersalah? Sekarang pertanggungjawabkan.”

Dia mengepalkan tangan.

Lalu menurunkan suaranya.

“Baik. Kamu menang. Tapi jangan lanjutkan kasus terhadap aku dan Celina. Aku akan datang ke sesi foto pranikah besok. Kita lanjutkan resepsi.”

“Tidak perlu,” jawabku. “Aku akan memberi tahu kedua keluarga bahwa resepsi dibatalkan. Setelah itu, kita akan mengurus pembatalan pernikahan.”

Dia langsung panik.

“Andrea, kita baru tiga hari menikah. Hanya karena plat nomor, kamu mau menghancurkan semuanya?”

Aku menatapnya.

“Bukan karena plat nomor, Miguel. Tapi karena saat aku membutuhkanmu sebagai suami, kamu memilih dia.”

Dia terdiam.

Lalu aku menambahkan dengan dingin,

“Kalau kamu tidak ingin kita berpisah, sederhana saja. Celina mengembalikan plat nomorku. Kamu mengembalikan Maybach hadiah keluargaku. Dan kalian berdua datang menemui keluargaku malam ini.”

Wajah Miguel langsung pucat.

Sebelum dia sempat menjawab, pintu kantor polisi terbuka.

Ayahku masuk bersama pengacara keluarga kami.

Dan di belakang mereka, seorang petugas membawa amplop cokelat.

“Nyonya Andrea,” kata petugas itu, “kami menemukan rekaman CCTV dari basement gedung parkir.”

Dia menatap Miguel.

“Dan sepertinya bukan hanya plat nomor yang mereka ambil.”

Petugas itu membuka amplop cokelat dan mengeluarkan sebuah diska lepas (flashdisk), lalu memutarnya di layar komputer kantor polisi.

Di layar, terlihat rekaman CCTV basement gedung kantor Celina. Namun, rekaman itu tidak hanya memperlihatkan Celina yang mengendarai Mercedes-Maybach milik keluarga Andrea. Kamera menangkap momen beberapa hari lalu—sebelum pernikahan Andrea dan Miguel digelar.

Di dalam mobil mewah tersebut, Miguel dan Celina tampak memindahkan beberapa koper hitam besar dari bagasi Maybach ke dalam mobil lain. Salah satu koper sempat sedikit terbuka, memperlihatkan tumpukan lembaran uang asing dan beberapa dokumen tebal berlogo rahasia instansi kepolisian.

Wajah Miguel yang tadinya merah padam karena marah, seketika berubah sekuning luntur. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya. Celina bahkan hampir kehilangan keseimbangan dan harus berpegangan pada kursi.

“Itu… itu hanya barang pribadi Celina!” kilah Miguel, suaranya bergetar hebat.

“Barang pribadi?” Ayah Andrea melangkah maju, auranya begitu menekan hingga beberapa polisi di ruangan itu memberi hormat secara refleks. “Kapten Aragon, koper-koper itu adalah bukti kasus suap dan penyitaan ilegal dari operasi lalu lintas lintas-provinsi yang sedang diselidiki oleh Divisi Propam. Kamu memanfaatkan statusmu, mobil pemberian keluargaku, dan plat nomor anakku untuk menyelundupkan barang bukti itu bersama selingkuhanmu!”

Miguel menggelengkan kepala dengan panik. “Tidak, Papa… Ini kesalahpahaman. Andrea, tolong bicaralah pada Papamu!”

Andrea hanya menatap suaminya dengan pandangan muak. Ia meraba saku blusnya, mengeluarkan sebuah ponsel sekunder—sebuah ponsel satelit terenkripsi yang jarang ia gunakan, hadiah dari pamannya yang menjabat sebagai Komisaris Jenderal di Mabes Polri.

Sejak awal panggilan telepon di pinggir jalan tadi, Andrea tidak hanya menelepon polisi lalu lintas biasa. Ponsel sekunder di sakunya telah terhubung dalam sebuah panggilan aktif selama dua puluh menit terakhir langsung ke meja kerja sang Paman.

Andrea mengangkat ponsel itu ke telinganya. “Paman, kamu mendengar semuanya?”

Dari speaker ponsel yang sengaja dinyalakan Andrea, terdengar suara berat dan dingin yang sangat dikenali oleh seluruh personil polisi di ruangan itu.

“Aku mendengar setiap detiknya, Andrea. Tim Propam Mabes Polri sudah berada di depan gerbang kantor polres tempat kalian berada sekarang. Perintahkan petugas di sana untuk menahan Kapten Miguel Aragon dan Celina Villafuerte atas dugaan tindak pidana korupsi, pencurian aset, pemalsuan dokumen negara, dan perselingkuhan yang mencoreng institusi.”

Mendengar suara sang Komjen, para petugas di kantor polisi itu langsung bergerak sigap. Dua polwan segera memegangi lengan Celina yang mulai menangis histeris, sementara tiga petugas lainnya langsung memborgol kedua tangan Miguel.

“Andrea! Maafkan aku! Aku khilaf, Andrea! Kita bisa bicarakan ini, kita baru menikah tiga hari!” teriak Miguel, harga dirinya runtuh total saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya.

Celina pun berteriak histeris, “Miguel, kamu bilang istrimu hanya wanita bodoh yang kaya raya! Kamu bilang kita akan aman! Selamatkan aku, Miguel!”

Andrea melangkah mendekati Miguel yang kini terduduk lemas di lantai, dijaga ketat oleh mantan anak buahnya sendiri. Ia membungkuk sedikit, menatap pria yang tiga hari lalu berjanji akan menjaganya seumur hidup.

“Kamu benar, Miguel. Aku memang anak orang kaya yang tidak perlu bekerja keras,” bisik Andrea, suaranya begitu tenang namun menusuk. “Tapi kamu lupa satu hal. Di kota ini, keluargaku bukan cuma punya uang. Kami punya kuasa untuk menaikkanmu ke puncak, dan kami punya satu panggilan telepon yang bisa menjatuhkanmu ke dasar neraka.”

Andrea menegakkan tubuhnya kembali, berbalik memunggungi pria itu tanpa sekali pun menoleh lagi.

“Papa, ayo pulang. Urus surat pembatalan pernikahan kita malam ini juga,” kata Andrea kepada ayahnya.

Sambil melangkah keluar dari kantor polisi menuju Porsche-nya yang kini telah dibebaskan, Andrea mengeluarkan sapu tangan, menyeka sisa darah di sudut bibirnya akibat tamparan Miguel tadi. Di bawah langit Jakarta yang mulai menggelap, ia tahu bahwa karier, masa depan, dan hidup Miguel Aragon telah berakhir malam ini—tepat saat pria itu memilih untuk menyentuh miliknya demi wanita lain.