Posted in

Dia Meninggalkan Istrinya yang Hamil di Tengah Hujan Demi Mencairkan Uang Asuransi… Namun Seorang Miliarder Menemukan Kebohongan yang Menghancurkan Mereka

Dia Meninggalkan Istrinya yang Hamil di Tengah Hujan Demi Mencairkan Uang Asuransi… Namun Seorang Miliarder Menemukan Kebohongan yang Menghancurkan Mereka

Bagian 1

Pada malam ketika Marlon meninggalkan Valerie yang sedang hamil di bawah hujan deras demi mendapatkan uang asuransi jiwanya, langit seolah ikut murka di jalan tua menuju Antipolo.

Hujan turun begitu lebat hingga genangan air di jalan tampak seperti cermin hitam yang suram. Cahaya dari beberapa kendaraan yang melintas menghilang di balik tirai air yang tebal. Valerie tidak mengenakan sepatu. Tidak memakai jaket. Tidak membawa ponsel.

Satu-satunya yang melekat padanya hanyalah gaun biru yang sudah basah kuyup, robek di bagian bahu, menempel pada tubuhnya yang gemetar. Satu tangannya erat memegang perut yang telah mengandung enam bulan, seolah berusaha melindungi bayinya dari kengerian yang sedang mereka hadapi.

— Marlon, tolong… — pintanya dengan suara parau. — Kita masih bisa pulang. Kamu tidak perlu melakukan ini.

Pria itu bahkan tidak menoleh.

Ia menyeret Valerie dengan kasar, kekuatan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Sepatu bot Marlon tenggelam dalam lumpur di tepi jalan, sementara di tangan lainnya ia memegang seutas tali tua yang basah dan gelap seperti ular.

Valerie tersandung lalu jatuh berlutut ke lumpur. Benturan itu terasa hingga ke perutnya. Ia menjerit pelan.

— Bayinya! — teriaknya sambil menangis. — Marlon, ini anakmu.

Pria itu terdiam sesaat.

Air hujan mengalir di wajahnya. Matanya merah, tak jelas apakah karena air mata atau ketakutan.

Valerie mencari sosok pria yang dulu pernah membawakannya bubur hangat dan roti setiap kali ia pulang dari shift panjang sebagai perawat. Pria yang menangis saat pertama kali mendengar detak jantung bayi mereka melalui pemeriksaan USG. Pria yang pernah berjanji akan menikahinya secara sederhana di Tagaytay, dikelilingi bunga putih dan alunan gitar.

Namun pria itu sudah tidak ada lagi.

Beberapa meter dari mereka, di bawah payung hitam, Janine berdiri mengawasi dari pinggir jalan.

Sepatu hak tinggi merahnya bahkan tidak menyentuh lumpur. Ia mengenakan mantel rapi, rambutnya tersisir sempurna, dan wajahnya menunjukkan ekspresi tidak sabar, seolah semua yang terjadi hanyalah transaksi yang mengganggu waktunya.

— Cepatlah — katanya dengan suara keras agar terdengar di tengah gemuruh petir. — Kalau ada yang melihat kita, habislah kita semua.

Valerie menatapnya dengan tak percaya.

Janine adalah teman lama Marlon. Rekan bisnis yang katanya selalu membantunya. Wanita yang senyumnya selalu tampak terlalu hangat setiap kali Valerie datang.

Kini semuanya mulai masuk akal.

Panggilan telepon yang dilakukan diam-diam pada malam hari.

Kepergian mendadak yang tidak pernah dijelaskan.

Dan polis asuransi jiwa yang dipaksa Marlon untuk ia tanda tangani dengan alasan “demi masa depan anak mereka”.

— Jadi semua ini hanya karena uang? — bisik Valerie.

Marlon menggenggam tali itu lebih erat.

— Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini — katanya tanpa menatap istrinya. — Kamu tidak mengerti.

Valerie merasakan sesuatu dalam dirinya hancur.

Rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan daripada ketakutan.

— Aku bekerja dua belas jam sehari hanya untuk membayar sewa rumah sementara kamu terus berkata sedang membangun masa depan kita!

Janine tertawa pendek dan sinis.

— Jangan berpura-pura menjadi orang baik. Kalau kamu hidup, kamu akan menghancurkan kami. Lebih baik semua ini terlihat seperti kecelakaan… seorang wanita hamil yang depresi berjalan sendirian di tengah hujan. Tidak ada yang akan menyelidikinya terlalu dalam.

Marlon memejamkan mata.

Valerie berusaha berdiri.

Kakinya tergelincir di lumpur.

Ia melihat pohon tua besar di tepi jalan. Cabang-cabangnya bergoyang seperti lengan hitam yang menjulur ke kegelapan.

Lalu ia melihat Marlon mengangkat tali itu dan melemparkannya ke arah salah satu dahan…

Valerie menutup matanya, bersiap menghadapi takdir paling mengerikan dalam hidupnya. Namun, sebelum tali itu sempat melingkari dahannya, sebuah raungan mesin bertenaga besar memecah suara badai.

Cahaya lampu LED putih yang sangat terang mendadak menyorot tajam dari arah tikungan, membutakan mata Marlon dan Janine. Sebuah SUV antipeluru hitam legam berhenti mendadak hanya beberapa sentimeter dari tempat Valerie berlutut.

Pintu kemudi terbuka. Dua pria berjas hitam dengan payung besar langsung turun, disusul oleh seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu arang yang sangat mahal. Wajahnya mengeras penuh amarah.

Julian Sterling, miliarder pemilik Sterling Insurance Group—perusahaan tempat Marlon mendaftarkan polis asuransi jiwa Valerie.

“Sedang melakukan gladi resik untuk klaim palsu, Marlon?” suara Julian terdengar bariton dan dingin, mengalahkan gemuruh petir.

Janine tersentak mundur, wajahnya memucat seketika. “S-Sterling? Mengapa Anda ada di sini?!”

Julian tidak memedulikan mereka. Ia langsung berlutut di lumpur tanpa peduli celana mahalnya kotor, membantu Valerie berdiri dan menyelimutinya dengan mantel wol miliknya. “Nyonya Valerie, Anda aman sekarang. Ambulans saya sudah berada di belakang.”

Marlon gemetar, mencoba menyembunyikan tali di balik punggungnya. “Tuan Sterling… ini urusan rumah tangga kami. Istri saya… dia sedang tidak stabil dan mencoba menyakiti diri sendiri.”

“Cukup bohongmu, Marlon!” bentak Julian sambil berdiri. “Kamu pikir sistem deteksi penipuan perusahaan asuransiku bisa dikelabui? Dua jam setelah kamu mendaftarkan polis dengan premi luar biasa besar yang tidak masuk akal untuk pendapatan seorang pengangguran sepertimu, tim investigasiku langsung bergerak.”

Julian menjentikkan jarinya. Salah satu pengawalnya maju dan membuka sebuah map tebal tahan air.

“Kami sudah meretas ponselmu dan Janine,” kata Julian dingin. “Kami memegang semua rekaman obrolan kalian tentang rencana pembunuhan ini, lengkap dengan rincian bagaimana kalian akan membagi uang 50 juta peso itu untuk melarikan diri ke luar negeri. Bahkan, kami tahu Janine telah memalsukan tanda tangan dokter untuk menyatakan Valerie mengidap depresi berat.”

Janine berteriak histeris, “Ini jebakan! Marlon, ayo pergi!”

Namun, saat Janine berbalik untuk berlari menuju mobilnya, beberapa mobil polisi dengan sirene yang meraung-raung sudah memblokade jalan tua Antipolo tersebut. Puluhan petugas bersenjata lengkap langsung mengepung mereka.

Marlon menjatuhkan talinya ke lumpur, lututnya lemas hingga ia jatuh terduduk. “Valerie… tolong aku… maafkan aku…”

Valerie, yang kini sudah berada di dalam dekapan hangat mantel Julian, menatap suaminya untuk terakhir kali. Air matanya mengalir, namun matanya memancarkan ketegasan yang baru.

“Malam ini kamu tidak hanya kehilangan uang asuransi itu, Marlon,” bisik Valerie, suaranya bergetar namun jelas. “Kamu kehilangan hakmu atas anak ini. Kamu dan wanita itu akan membusuk di penjara.”

Petugas polisi langsung meringkus Marlon dan Janine, memborgol mereka di tengah guyuran hujan deras yang kini membersihkan sisa-sisa lumpur di tubuh Valerie.

Julian menatap Valerie dengan pandangan penuh rasa hormat. “Mari kita bawa Anda ke rumah sakit, Nyonya. Mulai hari ini, seluruh biaya perawatan Anda dan masa depan anak Anda berada di bawah perlindungan Sterling Group. Pria itu tidak akan pernah bisa menyentuh kalian lagi.”

Saat SUV mewah itu melaju membelah kegelapan malam menuju rumah sakit, Valerie mengelus perutnya yang kini terasa tenang. Di balik jendela yang basah, ia tahu bahwa badai dalam hidupnya telah berlalu, dan keadilan telah menemukan jalannya.