Posted in

Di gala night di Makati, suamiku menarik kursi untukku di depan tiga ratus tamu, lalu justru mendudukkan PR manager-nya yang sedang menangis di sana. Dia berkata: “Elena, kamu duduk di belakang dapur saja. Jangan kotori meja chairman.” Dia tidak tahu, kursi itu milik perempuan yang bisa menarik kembali seluruh jaminan yang menghidupi perusahaannya.

Di gala night di Makati, suamiku menarik kursi untukku di depan tiga ratus tamu, lalu justru mendudukkan PR manager-nya yang sedang menangis di sana. Dia berkata: “Elena, kamu duduk di belakang dapur saja. Jangan kotori meja chairman.” Dia tidak tahu, kursi itu milik perempuan yang bisa menarik kembali seluruh jaminan yang menghidupi perusahaannya.

## Bagian 1

Saya Elena Villanueva.

Empat tahun lalu saya menikah dengan Marco Dizon.

Saat itu, dia adalah anak ketiga dari keluarga bisnis suplai konstruksi di Quezon City.

Hampir Rp106.000.000.000 utang perusahaan mereka ke bank.

Gudang mereka disegel.

Proyek di Cebu berhenti.

Investor pergi.

Suatu kali, ibunya memegang tangan saya di gereja Antipolo sambil menangis.

“Elena, kalau kamu bisa bantu Marco bangkit, keluarga Dizon akan berutang budi seumur hidup padamu.”

Saya percaya.

Bukan karena saya bodoh.

Tapi karena saat itu Marco berlutut di samping ranjang ibu saya dan berjanji akan menjaga saya seumur hidup.

Ibu saya adalah mantan pemilik Lucena Port Logistics.

Sebelum meninggal, dia meninggalkan trust fund untuk saya.

Saya pakai dana itu untuk menjamin pinjaman Marco.

Saya juga memakai koneksi ibu saya untuk mendapatkan tiga kontrak besar pengiriman, dari Batangas sampai Mindanao.

Dari situ, Dizon Meridian hidup kembali.

Dari pria yang bahkan tidak disalami bank, Marco menjadi “CEO termuda di Makati”.

Saya? Perempuan yang menandatangani semuanya di belakang layar, hanya menjadi istri yang diam.

Dia pernah berkata:

“Kamu tidak suka spotlight, kan? Kamu di rumah saja. Aku yang urus dunia luar.”

Saya pikir itu cukup.

Sampai malam gala Dizon Meridian Foundation di The Peninsula Manila.

Itu ulang tahun keempat foundation mereka.

Sekaligus ulang tahun pernikahan kami yang keempat.

Saya memakai gaun ivory peninggalan ibu saya.

Saya menyetir sendiri ke hotel.

Saya sempat mampir membeli jam Seiko vintage untuk Marco.

Tidak mahal.

Tapi itu model yang dulu pernah dia bilang ia impikan saat kami makan bekal di pinggir Ortigas.

Saya ingin memberikannya setelah pidatonya.

Saya pikir, setidaknya malam ini, dia akan ingat dari mana kami memulai.

Tapi begitu masuk ballroom, saya langsung melihat nameplate saya sudah hilang dari meja utama.

Dulu tertulis:

“Mrs. Elena Dizon.”

Sekarang berubah.

“Ms. Trisha Santos — PR Director.”

Trisha Santos.

Perempuan yang sudah enam bulan ini selalu di sisi Marco.

Usianya 27 tahun.

Selalu rapi.

Selalu lipstick merah.

Selalu berbicara lembut.

Di depan orang lain, dia memanggil saya “Ate Elena”.

Tapi diam-diam dia mengirim foto Marco tertidur di sofa kantor, dasinya longgar, jasnya tergantung di kursi.

Pesannya selalu sama:

“Pria yang lelah lebih butuh perempuan yang mengerti dia, daripada istri yang hanya diam.”

Saya tidak pernah membalas.

Bukan karena takut.

Tapi karena saya ingin melihat sejauh apa Marco akan pergi.

Dan malam ini, dia melewati batas itu.

Belum sempat saya duduk, suara kaca pecah terdengar di dekat champagne tower.

Trisha ada di sana.

Satu sisi gaunnya basah.

Dia memegang wajahnya, mata merah.

“Marco, tidak apa-apa…”

Suaranya pelan.

Tapi mic di bajunya masih menyala.

Seluruh ballroom mendengar.

“Aku tidak menyangka akan dibenci seperti ini oleh madam. Aku tahu aku hanya karyawan. Aku dari Cavite. Aku memang tidak pantas duduk di keluarga kalian…”

Semua mata menatap saya.

Saya berdiri lebih dari sepuluh meter darinya.

Saya bahkan belum menyentuhnya.

Tapi Marco tidak bertanya.

Dia turun dari panggung.

Melepas jasnya dan memakaikannya ke Trisha.

Lalu menatap saya.

Dingin.

“Elena.”

Dia memanggil saya di depan semua orang.

“Datang ke sini dan minta maaf ke Trisha.”

Saya tidak bergerak.

“Saya tidak melakukan apa-apa.”

Dia tersenyum sinis.

Saya teringat pria yang dulu meminjam jas untuk ke bank, tangan gemetar saat tanda tangan.

Manusia cepat sekali lupa saat sudah punya uang.

Marco mengambil mikrofon.

“Maaf semua. Istri saya sedang tidak stabil akhir-akhir ini. Dia terbiasa dimanjakan, jadi tidak mengerti perjuangan perempuan seperti Trisha yang membangun dirinya sendiri.”

Ruangan menjadi sunyi.

Trisha menunduk, tapi saya melihat senyum kecilnya.

Marco melanjutkan:

“Elena, jangan mempermalukan keluarga Dizon.”

“Duduk di belakang dapur.”

“Kamu tidak punya kursi di meja chairman malam ini.”

Genggaman saya pada kotak hadiah mengencang.

Saya mendengar ibu mertuaku, Imelda Dizon, dari meja utama:

“Pergi saja. Perempuan yang tidak bisa menjaga martabat suami, tidak pantas berada di cahaya.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Cukup untuk membuat dada saya panas.

Dua security mendekat.

“Ma’am, mohon jangan memperkeruh.”

Saya menatap Marco untuk terakhir kalinya.

Dia merapikan selendang Trisha.

Sangat lembut.

Seolah saya bukan istrinya.

Seolah saya bukan orang yang menyelamatkan perusahaannya dari utang besar.

Saya tersenyum.

Pelan.

Marco mengernyit.

“Apa yang lucu?”

Saya meletakkan kotak hadiah di meja terdekat.

Lalu saya mengambil ponsel.

Di depan tiga ratus tamu, saya menelepon Atty. Rafael Reyes, pengacara private Villanueva Trust.

Begitu tersambung, saya hanya berkata satu kalimat:

“Pak Pengacara, aktifkan klausul recall. Bekukan hak voting Marco Dizon sebelum tengah malam.”

Dia diam dua detik.

Lalu suaranya turun:

“Nona Elena, kamu yakin?”

Saya menatap Marco.

Menatap Trisha.

Menatap seluruh keluarga Dizon di bawah cahaya chandelier.

“Ya.”

Bagian 2

Suasana ballroom seketika senyap. Marco tertawa remeh, menggelengkan kepalanya seolah saya baru saja melontarkan lelucon paling konyol abad ini.

“Klausul recall? Hak voting?” Marco melangkah maju, menurunkan mikrofonnya namun suaranya tetap penuh tekanan. “Elena, berhentilah berdelusi. Kamu pikir ini drama televisi? Kamu hanya seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan uang dari sisa-sisa warisan ibumu. Jangan membuat dirimu makin memalukan di sini.”

Trisha memegang lengan Marco, berbisik dengan nada yang sengaja dikeraskan, “Sudah, Marco… Jangan marahi Ate Elena. Mungkin dia hanya sedang stres.”

Ibu mertua saya, Imelda, ikut berdiri dari kursinya. “Elena! Cepat keluar dari sini! Berani-beraninya kamu mengancam anakku di depan para koleganya? Pengawal, seret dia keluar!”

Dua sekuriti bertubuh tegap maju, hendak menyentuh lengan saya. Namun, sebelum tangan mereka mendarat, pintu ganda ballroom The Peninsula Manila terbuka lebar dengan dentuman keras.

Empat pria berjas hitam legam melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di depan mereka adalah Atty. Rafael Reyes, pengacara senior legendaris yang wajahnya ditakuti oleh seluruh jajaran direksi bank di Filipina. Di belakangnya, menyusul Mr. Jonathan Sy, Direktur Utama BDO Unibank—bank terbesar yang memegang seluruh lini kredit Dizon Meridian.

Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer. Kehadiran mereka langsung mematikan atmosfer pesta.

“Atty. Reyes? Mr. Sy?” Marco tertegun. Senyum meremehkannya perlahan luntur. Dia buru-buru melepaskan tangan Trisha dan maju menyambut mereka. “Suatu kehormatan. Saya tidak menyangka Anda berdua akan hadir di gala night kami—”

Atty. Reyes bahkan tidak menoleh pada Marco. Dia berjalan lurus ke arah saya, membungkuk hormat hingga sudut 45 derajat.

“Nona Elena Villanueva. Seluruh berkas pembatalan jaminan dan penarikan aset dari Villanueva Trust telah selesai diproses secara elektronik. Sesuai instruksi Anda, per menit ini, posisi Marco Dizon sebagai Chairman dan CEO dinyatakan non-aktif sampai batas waktu yang tidak ditentukan,” ucap Atty. Reyes tegas, suaranya menggema lewat sistem suara ballroom yang entah bagaimana sudah diambil alih oleh timnya.

Mendengar itu, wajah Marco mendadak pucat pasi. “Apa… Apa maksudnya ini? Penarikan aset apa? Elena, apa yang kamu lakukan?!”

Mr. Jonathan Sy maju satu langkah, menatap Marco dengan tatapan kasihan. “Mr. Dizon, apakah Anda benar-benar sebodoh itu? 85% saham Dizon Meridian yang Anda pegang adalah agunan atas pinjaman senilai ratusan miliar dari bank kami. Dan siapa penjamin tunggalnya? Villanueva Trust, atas nama Elena Villanueva.”

Mr. Sy mengeluarkan sebuah dokumen tablet digital dan menunjukkannya ke arah Marco.

“Karena Nona Elena telah menarik seluruh jaminan dan membekukan hak voting Anda, maka per detik ini, Dizon Meridian dinyatakan default atau gagal bayar. Bank kami secara resmi menyita seluruh aset perusahaan, termasuk gedung utama di Makati, proyek di Cebu, dan ballroom tempat Anda berdiri saat ini.”

Seketika, seluruh lampu utama di ballroom meredup. Layar LED raksasa di belakang panggung yang tadinya menampilkan logo megah “Dizon Meridian” langsung berubah menjadi warna merah pekat dengan tulisan: “PROJECT SUSPENDED & ASSETS SEIZED”.

Gisik ketakutan dan bisik-bisik panik langsung menjalar di antara tiga ratus tamu undangan. Para investor yang tadi duduk manis di meja utama langsung berdiri, menatap Marco dengan murka.

“Marco! Apa-apaan ini?! Perusahaanmu bangkrut?!” teriakan salah satu investor besar terdengar.

“Tidak… Tidak mungkin! Ini pasti salah paham!” Marco berteriak histeris. Dia menatap ibunya, lalu menatap Trisha yang kini melepaskan pegangan tangannya dengan wajah ketakutan.

Imelda Dizon, yang tadinya begitu angkuh, langsung ambruk kembali ke kursinya. Wajahnya memutih, menyadari bahwa kemewahan yang mereka nikmati selama empat tahun ini ternyata berdiri di atas selembar benang yang dipegang oleh menantu yang selalu dia hinakan.

Marco berlari ke arah saya, mencoba meraih tangan saya. “Elena! Sayang! Dengarkan aku… Aku hanya bercanda tadi! Trisha, dia… dia hanya karyawan! Aku melakukan ini semua demi publisitas perusahaan! Tolong, jangan hancurkan aku, Elena!”

Saya melangkah mundur, menghindari sentuhannya.

“Empat tahun lalu, ibumu menangis di Antipolo, dan kamu berlutut di samping ranjang ibuku,” kata saya, datar dan dingin, tanpa ada setetes pun air mata. “Aku memberikanmu dunia, Marco. Tapi begitu kamu berada di puncak, kamu lupa siapa yang membangun tangganya.”

Trisha, yang menyadari situasi telah berbalik, mencoba merangkak mendekat ke arah saya. “Ate Elena… tolong, ini bukan salahku… Marco yang mengejarku…”

Saya bahkan tidak sudi meliriknya. Saya berjalan melewati mereka berdua, menuju ke meja tempat saya meletakkan kotak hadiah jam Seiko vintage tadi. Saya mengambil kotak itu, lalu menjatuhkannya tepat ke dalam tempat sampah di sudut ruangan.

“Jam tangan itu harganya tidak mahal, Marco. Sama seperti harga dirimu malam ini,” ucap saya sambil berbalik.

Sebelum melangkah keluar dari ballroom, saya berhenti sejenak di dekat pintu, menatap Marco yang kini berlutut di lantai, dikerumuni oleh para kolega dan pihak bank yang menuntut penjelasan.

“Oh, satu hal lagi, Marco,” kata saya sambil tersenyum tipis. “Selamat hari ulang tahun pernikahan yang keempat. Surat cerai akan diantar ke rumahmu besok pagi. Dan silakan nikmati sisa malam ini… di belakang dapur.”

Saya melangkah keluar dari ballroom The Peninsula Manila dengan kepala tegak, meninggalkan kehancuran dinasti Dizon di belakang saya. Cahaya flashlight wartawan di luar hotel menyambut saya, namun kali ini, saya tidak lagi bersembunyi di balik layar. Aku adalah Elena Villanueva, dan aku baru saja mengambil kembali apa yang menjadi milikku.