BAGIAN 1: KARTU HARAPAN YANG MEMUAT NAMA SESEORANG YANG TAK PERNAH BISA KULUPAKAN

Perjalanan tahunan perusahaan kami untuk acara team building membawa kami ke sebuah kota pesisir yang tenang di Bali.

Menjelang sore, bus kami berhenti di sebuah pura tua yang terkenal.

Dengan penuh semangat, para karyawan masuk ke dalam untuk berdoa memohon keberuntungan, menulis harapan mereka, dan menggantung kartu harapan berwarna merah di pohon-pohon yang dipenuhi pita warna-warni.

Hanya aku yang tetap berada di luar.

Aku tidak pernah percaya pada keajaiban atau hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.

Tiba-tiba salah seorang rekan kerjaku berteriak.

“Elena, sini cepat! Lihat ini!”

Saat itu aku sedang fokus pada ponselku, jadi aku hanya menjawab sambil bercanda.

“Apa lagi kali ini?”

“Ada orang yang namanya sama denganmu!”

Semua orang segera berkumpul.

Seorang wanita membacakan tulisan di kartu merah itu dengan suara keras.

“‘Elena Wijaya dan Adrian Pratama.’”

“Nama mereka cocok sekali, ya!”

Semua orang tertawa.

Namun tepat pada saat itu, manajer regional kami yang berdiri di dekat altar tiba-tiba menoleh.

Tatapannya terpaku pada kartu harapan itu.

Wajahnya terlihat berubah.

“Adrian Pratama?”

Semua orang memandangnya.

“Ada apa, Pak?”

Ia tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia memandangku.

Lalu kembali melihat kartu merah di tangan para karyawan.

“Namamu Elena Wijaya?”

Aku mengangguk.

“Iya, Pak.”

Suasana mendadak menjadi aneh.

Ia terdiam selama beberapa detik sebelum berkata,

“Tidak apa-apa.”

Namun ekspresinya mengatakan hal yang berbeda.

Salah seorang rekan kami mulai bercanda.

“Jangan-jangan kamu diam-diam istri seorang miliarder.”

“Atau mungkin anak orang kaya yang bekerja hanya untuk mencari pengalaman.”

“Pantas saja setiap kali Elena punya masalah, selalu ada orang yang membantunya.”

Mereka kembali tertawa.

Aku hanya tersenyum.

“Kalau aku benar-benar kaya, aku sudah resign sejak lama.”

“Aku bahkan akan mengirim email untuk memarahi semua orang yang pernah membuatku pusing.”

Mereka tertawa lebih keras.

Tak seorang pun menyadari bahwa sang manajer masih menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu.

Ketika rombongan kembali melanjutkan perjalanan, aku diam-diam kembali ke pohon tempat ribuan kartu harapan bergantung.

Kartu itu masih berada di tanganku.

Perlahan aku menyentuh tulisan yang sudah mulai memudar.

“Elena Wijaya dan Adrian Pratama.”

Dadaku tiba-tiba terasa sesak.

Tiga tahun lalu.

Aku dan Adrian pernah berdiri di tempat yang hampir sama seperti ini.

Saat itu, dialah pria yang membuatku percaya bahwa masa depan akan indah.

Dia tidak kaya.

Dia tidak terkenal.

Hanya seorang insinyur muda yang baru memulai bisnis bersama teman-temannya.

Namun dia memberiku rasa aman.

Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.

Hari itu, dia menuliskan nama kami di sebuah kartu harapan dan menggantungnya di cabang tertinggi.

Lalu ia tersenyum dan berkata,

“Kalau suatu hari nanti kita terpisah…”

“Biarlah ini menjadi bukti bahwa aku pernah mencintaimu dengan sepenuh hati.”

Saat itu aku hanya tertawa.

Aku tidak percaya pada dewa.

Aku juga tidak percaya pada janji.

Tetapi aku percaya padanya.

Sampai semuanya berubah.


Malam harinya.

Seluruh tim makan malam di sebuah restoran tepi pantai.

Musik terdengar keras.

Semua orang mengobrol dengan gembira.

Tiba-tiba seseorang bertanya,

“Elena, kamu pernah punya pacar?”

Aku sedikit terkejut.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Kami cuma penasaran.”

“Dengan sifatmu, kami tidak bisa membayangkan pria seperti apa yang bisa tahan denganmu.”

Mereka tertawa.

Seorang pria ikut menyela.

“Pasti orangnya sangat sabar.”

“Dan berani.”

“Kalau tidak, mungkin sudah menangis dimarahi Elena.”

Mereka kembali tertawa.

Aku pun ikut tersenyum.

Namun jauh di dalam hati, ada kesedihan yang aneh.

Aku pernah mencintai seseorang.

Dan aku mencintainya terlalu dalam.

Sampai aku berpikir bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.

Namun aku juga orang pertama yang pergi.

Bukan karena pengkhianatan.

Bukan karena cinta kami telah hilang.

Melainkan karena aku lelah.

Adrian adalah tipe orang yang selalu memendam semuanya sendirian.

Saat ada masalah pekerjaan.

Dia tidak berbicara.

Saat mengalami kesulitan keuangan.

Dia tidak berbicara.

Saat ditipu klien.

Dia tidak berbicara.

Bahkan ketika sakit.

Dia tetap tidak berbicara.

Dia selalu berkata,

“Aku baik-baik saja.”

“Aku bisa mengatasinya.”

Awalnya aku mengira itu tanda kedewasaan.

Namun lama-kelamaan aku menyadari…

Itu sebenarnya adalah sebuah tembok.

Tembok yang perlahan menjauhkannya dariku.

Lalu tibalah malam yang paling menyakitkan.

Aku meneleponnya berkali-kali sepanjang malam.

Namun tidak ada jawaban.

Menjelang tengah malam.

Seorang wanita mengangkat teleponnya.

Dan mengatakan bahwa Adrian sedang berada di rumah sakit.

Aku langsung bergegas ke sana.

Sepanjang perjalanan, yang kupikirkan hanyalah keselamatannya.

Tetapi ketika aku tiba…

Aku melihat Adrian terbaring di ranjang rumah sakit.

Dan di sampingnya ada wanita yang mengangkat telepon tadi.

Wanita itu tertidur sambil bersandar di sisi tempat tidur.

Dan jaket Adrian menyelimuti tubuhnya.

Duniaku seolah runtuh.

Adrian menjelaskan bahwa wanita itu hanya rekan kerjanya.

Bahwa ia mengalami kecelakaan saat menuju pertemuan penting.

Bahwa semuanya tidak seperti yang kubayangkan.

Tetapi aku tidak lagi mendengarkan.

Karena yang benar-benar menyakitiku bukanlah wanita itu.

Melainkan kenyataan bahwa sekali lagi…

Akulah orang terakhir yang mengetahui segalanya.

Sekali lagi…

Aku berada di luar dunianya.

Seminggu kemudian.

Aku meminta putus.

Dia tidak menghentikanku.

Ia terdiam cukup lama.

Lalu bertanya,

“Kalau suatu hari nanti kamu mengetahui seluruh kebenarannya…”

“Apakah kamu akan menyesal?”

Aku hanya tersenyum saat itu.

“Tidak ada kebenaran apa pun yang bisa mengubah keputusanku.”

Itulah pertemuan terakhir kami.


Suara notifikasi pesan menarikku kembali ke masa kini.

Pesan itu berasal dari nomor tak dikenal.

Hanya satu kalimat.

“Elena, kalau kotak biru itu masih ada padamu, jangan pernah membukanya.”

Napas seketika tercekat.

Karena kotak itu sudah lama menghilang.

Dan hanya satu orang yang mengetahui keberadaannya.

Adrian.

Aku bahkan belum sempat pulih dari keterkejutanku ketika pesan kedua masuk.

“Segera tinggalkan hotel.”

“Jangan beri tahu siapa pun bahwa kamu menerima pesan ini.”

Aku langsung berdiri.

Seluruh tubuhku terasa dingin.

Dan tepat pada saat itu…

Sekelompok pria berpakaian hitam memasuki area luar restoran.

Tatapan mereka langsung tertuju kepadaku.

Kemudian pemimpin mereka perlahan mengangkat sebuah foto.

Foto diriku dan Adrian.

Namun yang membuat jantungku hampir berhenti berdetak adalah tulisan merah di bagian bawahnya.

“Target berikutnya ada padamu.”


Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…

Semoga harimu menyenangkan! 👇

Aku langsung meninggalkan restoran.

Namun sebelum sempat melangkah jauh, seseorang menarik tanganku ke dalam sebuah gang sempit di belakang bangunan.

Aku hampir berteriak.

Tetapi suara yang sangat kukenal menghentikanku.

“Elena.”

Tubuhku langsung membeku.

Suara itu…

Suara yang sudah tiga tahun tidak kudengar.

Perlahan aku mengangkat kepala.

Dan dunia seolah berhenti berputar.

Adrian Pratama.

Dia berdiri di hadapanku.

Sedikit lebih kurus.

Ada bekas luka tipis di pelipisnya.

Namun tatapan matanya…

Masih sama seperti tiga tahun lalu.

Air mataku langsung menggenang.

“Kamu…”

“Bukankah…”

“Bukankah kamu sudah meninggal?”

Adrian tersenyum pahit.

“Jadi, itulah yang mereka katakan kepadamu?”

Aku tertegun.

“Tiga tahun lalu…”

“Bukankah aku menerima kabar bahwa mobilmu jatuh ke laut?”

“Bukankah semua orang bilang tubuhmu tidak ditemukan?”

Adrian menundukkan kepala.

“Karena memang begitu.”

“Tapi aku selamat.”

“Terluka parah.”

“Dan selama aku dirawat…”

Aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Ada seseorang yang sengaja menyebabkan kecelakaan itu.”

“Dan target sebenarnya…”

“Adalah aku.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Lalu…”

“Kenapa kamu tidak mencariku?”

Suara Adrian bergetar.

“Karena mereka tahu tentangmu.”

“Mereka tahu aku mencintaimu.”

“Dan selama tiga tahun ini…”

“Aku lebih memilih kau membenciku…”

Daripada melihatmu mati karena diriku.”

Air mataku jatuh.

Semua rasa sakit.

Semua penyesalan.

Semua malam yang kulewati sambil menangis…

Ternyata bukan karena dia berhenti mencintaiku.

Melainkan karena dia sedang melindungiku.

Namun saat itu juga.

Suara langkah kaki terdengar.

Beberapa pria berpakaian hitam telah menemukan kami.

“Di sana!”

Adrian langsung memelukku.

Dan suara tembakan menggema.

BRAK!

Kaca jendela di belakang kami pecah.

Aku gemetar.

Sedangkan Adrian dengan tenang menarikku berlari menuju pantai.

“Percayalah padaku sekali ini saja.”

Katanya.

Dan entah kenapa…

Setelah tiga tahun.

Aku masih mempercayainya.


Setelah pengejaran yang menegangkan.

Kami akhirnya tiba di sebuah gudang tua di dekat pelabuhan.

Di sana…

Sudah menunggu puluhan polisi.

Dan seorang pria tua yang begitu kukenal.

Pak Hendra.

Regional manager kami.

Aku membeku.

“Pak?”

Pria tua itu tersenyum.

“Maaf telah membuatmu bingung.”

“Aku bukan manajer regional.”

“Namaku Hendra Pratama.”

“Ayah Adrian.”

Aku tercengang.

Selama satu tahun bekerja bersamanya…

Aku bahkan tidak tahu bahwa dia adalah ayah mantan kekasihku.

Pak Hendra menghela napas.

“Tiga tahun lalu, Adrian memintaku menjagamu dari jauh.”

“Ketika dia akhirnya menemukan bukti pelaku kecelakaan itu…”

“Dia memutuskan untuk kembali.”

Malam itu.

Seluruh sindikat yang selama ini mengincar Adrian berhasil ditangkap.

Dan untuk pertama kalinya…

Rahasia selama tiga tahun akhirnya berakhir.


Sebulan kemudian.

Aku kembali ke Jakarta.

Dan untuk pertama kalinya sejak perpisahan kami…

Aku dan Adrian duduk berhadapan.

Tanpa kesalahpahaman.

Tanpa rahasia.

Tanpa dinding yang memisahkan kami.

Adrian tersenyum.

“Kamu tahu?”

“Aku masih menyimpan kartu harapan itu.”

Aku tertawa pelan.

“Yang di pohon?”

Dia mengangguk.

“Dan kotak biru itu juga.”

Aku terdiam.

Kotak biru.

Kotak yang hilang tiga tahun lalu.

Perlahan Adrian mengeluarkannya.

Tangannya sedikit gemetar.

“Aku sebenarnya ingin memberikannya pada hari pernikahan kita.”

“Tapi ternyata aku terlambat tiga tahun.”

Air mataku jatuh lagi.

Dengan tangan gemetar, aku membuka kotak itu.

Di dalamnya ada cincin sederhana.

Dan sebuah surat yang sudah menguning.

Tulisan tangan Adrian masih sangat rapi.

“Untuk Elena.

Kalau suatu hari nanti aku terlalu lelah untuk mengatakan semuanya…

Kalau suatu hari nanti aku membuatmu kecewa…

Tolong jangan meragukan satu hal.

Bahwa aku mencintaimu.

Mungkin aku tidak pandai menjelaskan.

Mungkin aku terlalu keras kepala.

Tapi dalam hidupku…

Aku tidak pernah merencanakan masa depan tanpa dirimu.”

Aku menangis.

Dan Adrian pun menangis.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.

Pria yang selalu memendam semuanya itu…

Akhirnya menangis di depanku.

“Aku lelah, Elena.”

“Aku tidak ingin kuat sendirian lagi.”

Aku tersenyum sambil memeluknya.

“Kali ini…”

“Kita lelah bersama-sama.”


Setahun kemudian.

Di tempat yang sama.

Di kota pesisir yang tenang itu.

Di bawah pohon yang dipenuhi ribuan kartu harapan.

Aku dan Adrian berdiri berdampingan.

Angin laut bertiup lembut.

Adrian menggantung sebuah kartu merah baru.

Lalu tersenyum kepadaku.

Aku penasaran.

“Apa yang kamu tulis?”

Dia tertawa kecil.

“Kamu lihat sendiri.”

Aku membacanya.

Dan air mataku kembali jatuh.

Di sana tertulis:

“Adrian Pratama dan Elena Wijaya.”

“Semoga kali ini…

Tidak ada lagi rahasia.

Tidak ada lagi perpisahan.

Dan semoga kita bisa menjadi tempat pulang satu sama lain…

Sampai rambut kita memutih.”

Aku tersenyum.

Lalu menggenggam tangannya erat.

Karena akhirnya aku mengerti.

Cinta yang sejati…

Bukanlah cinta yang tidak pernah mengalami badai.

Melainkan cinta yang…

Setelah kehilangan.

Setelah salah paham.

Setelah menunggu terlalu lama.

Masih memilih orang yang sama.

Sekali lagi.

Dan untuk selamanya.