Sejak kecil hingga dewasa, aku selalu berpikir bahwa aku adalah salah satu wanita paling beruntung di dunia.
Karena selalu ada dua pria di sisiku.
Yang satu serius dan dapat diandalkan.
Yang satu lagi ceria dan selalu bisa membuat semua orang tertawa.
Kami tumbuh bersama.
Orang-orang sering bercanda bahwa suatu hari nanti, salah satu dari mereka akan menjadi suamiku.
Bahkan aku sendiri mempercayainya.
Sampai hari ketika aku memberanikan diri mengungkapkan perasaanku kepada pria yang telah lama kucintai.
Dan dia menolakku.
Aku duduk sendirian di sebuah kafe di Jakarta, menatap pesan penolakan di layar ponselku.
Air mataku terus mengalir.
Dan saat itulah…
Tiba-tiba kata-kata aneh muncul di depan mataku.
【Berhentilah menangis. Kau hanyalah karakter pendukung.】
【Kasihan sekali. Kau bahkan belum tahu bahwa kedua sahabatmu sudah menyukai orang lain.】
【Yang satu diam-diam jatuh cinta pada rekan kerjamu.】
【Sedangkan yang satu lagi menyukai wanita yang selalu menjadi musuhmu.】
【Sadarlah. Mereka tidak pernah ditakdirkan untukmu.】
Aku membeku.
Awalnya, aku mengira itu hanya halusinasi.
Namun tulisan-tulisan itu terus muncul.
Setiap kalimat terasa seperti pisau yang menusuk jantungku.
Kalau semua itu benar…
Lalu selama ini aku ini apa?
Hanya bahan lelucon?
Aku tidak mau percaya.
Karena itu, aku memutuskan mencari tahu sendiri.
Orang pertama yang kutemui adalah Gabriel Pratama.
Dia adalah yang paling sukses di antara kami bertiga.
Selalu sibuk.
Bahkan untuk bertemu dengannya, aku harus membuat janji terlebih dahulu.
Aku meneleponnya.
Butuh waktu lama sampai dia menjawab.
“Ada apa?”
Nada suaranya terdengar sedikit tidak sabar.
Aku berusaha tetap tenang.
“Aku ingin bertemu denganmu.”
“Tidak bisa sekarang.”
“Hanya sepuluh menit.”
“Aku benar-benar sibuk.”
Dadaku seketika terasa sesak.
Tetapi aku tetap mencoba.
“Baiklah.”
“Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu mengantar Mia ke rumah sakit.”
“Dia sedang demam tinggi.”
Dia terdiam.
Dua detik.
Tiga detik.
Lalu nada suaranya langsung berubah.
“Kalian di mana?”
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Kirim lokasinya segera.”
Aku tersenyum pahit.
Beberapa menit yang lalu…
Dia bahkan tidak punya waktu sepuluh menit untukku.
Tetapi saat mendengar nama Mia…
Dia tiba-tiba memiliki waktu.
Tulisan-tulisan misterius itu muncul lagi.
【Sekarang kau mulai mengerti?】
【Dia tidak pernah memikirkanmu.】
【Kalau bukan karena keluarga kalian dekat, mungkin dia sudah lama berhenti berpura-pura peduli.】
Aku menggenggam ponselku erat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku merasa sangat bodoh.
Ketika Gabriel tiba, dia langsung melihat ke sekeliling.
Kekecewaan jelas terlihat di wajahnya ketika dia tidak menemukan orang yang dicarinya.
“Di mana Mia?”
Aku menatap matanya.
“Tidak ada yang sakit.”
“Aku hanya ingin bertemu denganmu.”
Ekspresinya langsung berubah dingin.
“Hal seperti ini bukan bahan bercanda.”
“Aku banyak pekerjaan.”
Aku tersenyum tipis.
“Bagaimana kalau aku bilang…”
“Aku ingin menikah denganmu?”
Dia membeku.
Lalu tertawa.
Tawa yang membuat hatiku hancur.
“Hanya karena cintamu ditolak, bukan berarti aku harus menjadi penggantinya.”
“Maaf.”
“Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu.”
Hatiku terasa benar-benar pecah.
Aku berbalik dan pergi.
Aku tidak ingin mendengar lebih banyak lagi.
Kalau bukan dia…
Maka hanya tinggal satu orang.
Orang kedua adalah Adrian Wijaya.
Kami bertetangga sejak kecil.
Dia adalah orang yang selalu ada saat aku membutuhkannya.
Ketika aku pertama kali patah hati.
Dialah yang mendengarkanku semalaman.
Ketika aku di-bully di sekolah.
Dialah yang pertama membelaku.
Aku selalu berpikir…
Kalau ada satu orang di dunia ini yang benar-benar peduli padaku.
Orang itu adalah Adrian.
Tetapi tulisan misterius itu kembali muncul.
【Jangan berharap.】
【Dia baik kepada semua orang.】
【Kau hanya sahabat baginya.】
【Wanita yang dia sukai adalah orang yang membencimu.】
Aku kesal.
Aku tidak mau mempercayainya.
Tetapi keraguan mulai tumbuh.
Karena itu, aku memutuskan untuk mengujinya.
Hari itu.
Aku mengetahui bahwa wanita yang selalu bermusuhan denganku sedang pergi bersama teman-temannya.
Aku sengaja muncul.
Dan keadaan dengan cepat menjadi kacau.
Kami bertengkar hebat.
Pada akhirnya, aku menelepon Adrian.
“Cepat datang!”
“Aku dalam masalah!”
Dan kali ini…
Dia datang begitu cepat.
Bahkan lebih cepat daripada biasanya.
Ketika aku melihatnya berlari ke arah kami dengan napas tersengal dan wajah penuh kekhawatiran…
Jantungku berdegup semakin cepat.
Mungkin…
Mungkin tulisan-tulisan itu salah.
Tetapi pada detik berikutnya…
Dia melewatiku begitu saja.
Bahkan tidak melirikku.
Dia langsung berhenti di depan wanita itu.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Ada yang terluka?”
Duniaku seakan berhenti.
Semua suara di sekitarku menghilang.
Yang bisa kudengar hanyalah suara hatiku yang perlahan hancur.
Dia akhirnya menoleh kepadaku.
Tatapannya penuh kekecewaan.
“Kenapa kamu selalu membuat masalah?”
“Minta maaf padanya.”
Aku tertawa.
Tawa yang pahit.
“Kamu menyukainya, bukan?”
Dia membeku.
Wajahnya memerah.
Dan itu sudah cukup memberiku jawaban.
Rasanya seperti ada yang meremas jantungku.
Aku berbalik untuk pergi.
Tetapi tiba-tiba dia mencengkeram pergelangan tanganku.
“Berhenti!”
Pegangannya terlalu kuat.
Aku kehilangan keseimbangan.
Tubuhku terjatuh ke belakang.
Aku pikir aku akan menghantam lantai yang keras.
Namun tepat pada saat itu…
Sepasang lengan yang kokoh tiba-tiba menangkapku.
Pelukannya kuat, tetapi sangat hati-hati.
Aroma yang familiar namun telah lama kulupakan menyelimuti diriku.
Lalu terdengar suara pria yang dingin namun dalam.
“Hanya beberapa tahun aku pergi…”
“Dan beginikah kalian memperlakukannya?”
Perlahan aku mengangkat kepala.
Dan ketika aku melihat wajah orang yang menangkapku…
Napas seolah berhenti.
Karena dia adalah orang yang tiba-tiba menghilang bertahun-tahun lalu.
Orang yang tidak pernah kusangka akan kembali.
Dan orang yang pergi tanpa satu kata perpisahan pun…
Bagian selanjutnya dari cerita ini ada di kolom komentar. Pilih “SEMUA KOMENTAR” untuk membaca kisah lengkapnya…
Semoga harimu menyenangkan! 👇

Tubuhku membeku.
Karena orang yang đang memelukku itu…
Adalah Kevin Santoso.
Pria yang menghilang lima tahun lalu tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Orang yang pernah menjadi cinta pertama sekaligus penyesalan terbesar dalam hidupku.
“Kevin…?”
Mataku memerah.
Sedangkan Adrian dan wanita itu sama-sama terkejut.
“Kevin?”
Gabriel yang baru datang pun tampak tercengang.
Tak seorang pun menyangka pria yang sudah lama menghilang itu akan muncul kembali.
Kevin perlahan membantuku berdiri.
Tatapannya dingin saat melihat Adrian.
“Memegang tangan seorang wanita sampai dia hampir jatuh…”
“Dan kau menyebut dirimu sahabatnya?”
Adrian terdiam.
Wajahnya berubah tidak sedap dipandang.
Sedangkan wanita yang tadi dibelanya segera memeluk lengannya.
Saat itulah tulisan misterius kembali muncul.
【Lihat baik-baik.】
【Orang yang kau pikir paling mencintaimu, ternyata selalu melihat orang lain.】
【Tetapi orang yang benar-benar mencintaimu…】
【Tidak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya darimu.】
Aku menatap Kevin dengan bingung.
Karena selama bertahun-tahun…
Aku selalu berpikir bahwa dia pergi karena sudah melupakanku.
Namun saat ini…
Tatapannya masih sama seperti lima tahun yang lalu.
Malam itu.
Kevin mengantarku pulang.
Di dalam mobil, suasana sangat sunyi.
Sampai akhirnya aku tak sanggup lagi menahan diri.
“Kenapa?”
“Kenapa kamu pergi tanpa mengatakan apa-apa?”
Kevin menggenggam setir erat.
Lalu tersenyum pahit.
“Ayahku bangkrut.”
“Ibuku terkena kanker.”
“Dan aku harus pergi ke luar negeri.”
“Aku bahkan tidak punya uang untuk membeli tiket pulang.”
“Aku tidak ingin kau menungguku.”
Air mataku jatuh.
“Lalu kenapa tidak memberitahuku?”
Suara Kevin bergetar.
“Karena aku takut…”
“Aku takut setelah melihat keadaanku…”
“Kau akan ikut menderita bersamaku.”
Aku langsung menangis.
Lima tahun.
Lima tahun penuh.
Aku membencinya.
Merindukannya.
Dan menunggunya.
Namun ternyata…
Dia tidak pernah pergi karena berhenti mencintaiku.
Dia pergi karena terlalu mencintaiku.
Sejak hari itu, Gabriel dan Adrian mulai sering mencariku.
Terutama setelah mereka mengetahui bahwa Kevin kembali sebagai CEO muda dari salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia.
Gabriel berkata dengan wajah penuh penyesalan,
“Aku baru sadar…”
“Orang yang selalu ada untukku ternyata adalah kamu.”
Adrian bahkan menangis di depan rumahku.
“Aku salah…”
“Aku pikir aku hanya menganggapmu sebagai sahabat…”
“Tapi ketika melihatmu bersama Kevin…”
“Aku hampir gila.”
Tulisan misterius itu kembali muncul.
【Lucu sekali.】
【Saat kau berhenti mengejar mereka, mereka baru menyadari siapa yang sebenarnya paling berharga.】
【Tetapi penyesalan tidak selalu mendapat kesempatan kedua.】
Aku tersenyum.
Karena untuk pertama kalinya…
Aku tidak merasa sakit.
Beberapa bulan kemudian.
Kevin melamarku.
Di tempat yang sama tempat kami pertama kali bertemu saat SMA.
Di bawah pohon hujan yang besar.
Dengan cincin sederhana.
Dan mata yang sedikit memerah.
“Aku tidak berani meminta kau memaafkanku.”
“Aku juga tidak berani meminta kau melupakan lima tahun itu.”
“Tapi…”
“Kalau kau masih mengizinkan…”
“Aku ingin menghabiskan sisa hidupku untuk menebus semuanya.”
Air mataku jatuh.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Tulisan misterius itu tidak muncul.
Sebaliknya…
Di depan mataku hanya ada satu kalimat.
【Selamat.】
【Kali ini, tokoh utama dalam hidupmu… adalah dirimu sendiri.】
Aku tertawa sambil menangis.
Lalu mengangguk.
“Aku bersedia.”
Pada hari pernikahan kami.
Gabriel dan Adrian datang.
Mereka berdiri di antara para tamu.
Tidak ada lagi kecemburuan.
Tidak ada lagi penyesalan yang diucapkan.
Hanya senyum yang pahit namun tulus.
Saat aku berjalan menuju altar bersama Kevin.
Aku tanpa sengaja menoleh ke arah mereka.
Gabriel tersenyum kecil.
Sedangkan Adrian menundukkan kepala.
Dan pada saat itu…
Tulisan misterius muncul untuk terakhir kalinya.
【Dalam hidup ini…】
【Tidak semua orang yang datang lebih dulu akan menjadi orang yang tinggal paling lama.】
【Dan tidak semua cinta yang hilang berarti takdir yang salah.】
【Karena terkadang…】
【Orang yang benar-benar ditakdirkan untukmu…】
【Hanya datang sedikit lebih lambat.】
Sepuluh tahun kemudian.
Suatu sore yang tenang.
Putri kecilku bertanya sambil memeluk leherku.
“Ibu, apakah Ayah cinta pertama Ibu?”
Aku menatap Kevin yang sedang memasak di dapur.
Pria itu masih sama.
Masih selalu melihat ke arahku setiap kali aku tersenyum.
Aku tertawa kecil.
Lalu mengusap kepala putriku.
“Bukan, Sayang.”
“Tapi Ayahmu…”
“Adalah cinta terakhir Ibu.”
Dan itu…
Sudah lebih dari cukup.
Karena cinta yang paling indah…
Bukanlah cinta yang datang paling awal.
Melainkan cinta yang tetap tinggal.
Sampai rambut berubah putih.
Dan sampai akhir hayat.