BAGIAN 1: HUJAN MALAM ITU DAN RAHASIA DI BALIK PINTU

Shift kerja Rina Pratama hari itu berakhir lebih larut dari biasanya.

Saat keluar dari gedung kantor, ia hanya bisa menghela napas panjang.

Hujan turun dengan sangat deras.

Seperti tirai air yang menyelimuti seluruh jalanan Jakarta.

Rina berdiri di bawah kanopi dan mengirim pesan kepada pacarnya, Arga Wijaya.

【Menyebalkan sekali. Aku lupa membawa payung.】

Pesan itu terkirim.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Barulah Arga membalas.

【Cuma hujan, kan? Cari tempat berteduh dulu.】

【Aku sedang sibuk. Jangan selalu berharap orang lain menyelesaikan masalahmu.】

Rina menatap layar ponselnya.

Perlahan, genggamannya pada ponsel itu semakin erat.

Ia tidak meminta Arga menjemputnya.

Ia juga tidak berharap pria itu menempuh perjalanan jauh hanya untuk membawakan payung.

Yang ia inginkan hanyalah sebuah pertanyaan sederhana.

“Apa kamu baik-baik saja?”

Namun, bahkan kalimat sesederhana itu tampaknya terlalu sulit bagi Arga.

Tak lama kemudian, pengemudi taksi online yang ia pesan pun membatalkan perjalanan.

Air hujan yang dingin memercik ke sepatu Rina.

Dengan tubuh menggigil, ia memeluk map berisi dokumen dan menunggu sendirian.

Karena tak ada yang bisa dilakukan, ia membuka media sosial.

Dan tiba-tiba, ia melihat unggahan terbaru sahabatnya, Nadya Putri.

Unggahan itu baru saja diposting dan segera diedit.

Tetapi beberapa detik sudah cukup bagi Rina untuk melihat foto pertama.

Seorang pria yang membelakanginya di dapur.

Lengan bajunya digulung.

Sedang sibuk memasak.

Jantung Rina langsung berdetak lebih cepat.

Pakaian yang dikenakan pria itu terasa sangat familiar.

Ia tidak mungkin salah.

Rina segera memperbesar foto itu.

Di samping kompor terdapat sebuah buku catatan berwarna biru.

Buku itu ditulis oleh Rina sendiri.

Berisi makanan favorit.

Resep-resep spesial.

Dan semua selera yang disukai Arga.

Semuanya ia buat untuk pria itu.

Setelah unggahan itu diedit, hanya tersisa foto meja makan yang penuh hidangan.

Dengan caption singkat:

【Untung ada yang membantu menyiapkan makan malam. Kalau tidak, aku pasti kelaparan malam ini.】

Rina terdiam.

Di luar sana, hujan masih turun tanpa henti.

Ketika ia akhirnya tiba di apartemen sewaannya, waktu sudah hampir tengah malam.

Tubuhnya basah kuyup dari kepala hingga kaki.

Ponselnya kembali menyala.

Pesan dari Arga.

【Sudah sampai rumah?】

【Kenapa tidak membalas pesanku?】

Rina menatap foto profil pria itu.

Mereka sudah berpacaran selama tiga tahun.

Dulu, ia berpikir bahwa dirinya adalah orang yang paling penting dalam hidup Arga.

Namun seiring berjalannya waktu, nama Nadya semakin sering muncul.

Saat mereka makan di luar.

Saat membuat rencana akhir pekan.

Saat hendak pergi ke suatu tempat.

Nama Nadya selalu ada.

“Nadya suka restoran ini.”

“Nadya bilang film itu bagus.”

“Nadya sedang ada masalah, kita harus membantunya.”

Awalnya, Rina berpikir dirinya terlalu sensitif.

Bagaimanapun juga, Nadya adalah sahabatnya.

Ia tidak ingin curiga.

Sampai malam itu.

Sampai ia melihat sosok Arga di dapur Nadya.

Malam itu, Rina hampir tidak bisa tidur.

Pukul dua dini hari, Arga menelepon.

Begitu diangkat, pria itu langsung berkata:

— Kenapa kamu tidak membalas pesanku?

— Aku sedang tidur.

— Sekarang kamu marah lagi karena apa?

Rina terdiam.

Arga melanjutkan:

— Aku cuma mampir membantu Nadya.

— Dia sendirian.

— Kenapa kamu membesar-besarkan hal kecil seperti ini?

Rina tersenyum.

Tetapi senyum itu dipenuhi kepahitan.

— Benarkah?

— Kalau begitu, sekarang kamu ada di mana?

Arga langsung terdiam.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara pelan.

Seperti suara pintu dibuka.

Lalu terdengar suara seorang wanita.

— Arga, kamu belum tidur?

Itu suara Nadya.

Seakan ada sesuatu yang mencengkeram dada Rina.

Bukan karena terkejut.

Tetapi karena ia tidak lagi memiliki alasan untuk terus membohongi dirinya sendiri.

Tiba-tiba sambungan telepon terputus.

Keesokan paginya.

Dengan mata yang bengkak karena menangis, Rina bangun dari tidurnya.

Ia menelepon pemilik apartemen.

Mengatakan bahwa ia akan pindah lebih cepat.

Setelah itu, ia menelepon ibunya.

— Bu…

— Aku mau pulang dulu.

Ibunya terdiam sejenak.

Lalu berkata dengan lembut:

— Ya sudah, Nak.

— Ayah dan Ibu selalu ada di sini untukmu.

Air mata Rina langsung jatuh.

Sepanjang hari, ia membereskan barang-barangnya.

Foto-foto.

Hadiah-hadiah.

Kenangan yang dulu ia jaga sepenuh hati.

Satu per satu dimasukkan ke dalam sebuah kotak.

Tiga tahun cinta.

Dan pada akhirnya…

Hanya tersisa beberapa barang lama.

Saat ia sedang melepas foto terakhir dari dinding.

Bel pintu berbunyi.

Ketika pintu dibuka.

Arga berdiri di sana.

Di tangannya ada sebuah payung baru.

Namun wajahnya dipenuhi kekesalan.

— Apa yang sedang kamu lakukan?

Tatapannya jatuh pada kardus-kardus dan foto-foto yang sudah dilepas.

Ekspresinya langsung berubah.

— Apa kamu harus membesar-besarkan semuanya seperti ini?

Rina tidak menjawab.

Ia hanya terus membereskan barang-barangnya.

Arga mendekat.

— Aku bahkan datang jauh-jauh ke sini.

— Apa lagi yang kamu inginkan?

Rina mencium aroma parfum yang sangat familiar dari pakaian pria itu.

Itu bukan parfum yang pernah ia berikan.

Itu adalah parfum milik Nadya.

Perlahan, Rina mengangkat kepalanya.

— Payung itu seharusnya kamu berikan saja kepada Nadya.

— Dia lebih membutuhkannya daripada aku.

Wajah Arga langsung berubah gelap.

— Kamu mulai lagi, ya?

— Tahu tidak? Justru Nadya yang memaksaku datang ke sini!

Rina terdiam.

Pada saat itu.

Seakan seluruh dunia berhenti berputar.

Tatapannya jatuh pada ponsel Arga.

Ada pesan baru masuk.

Dari Nadya.

【Sudah selesai bicara? Aku masih menunggumu kembali.】

Wajah Rina memucat.

Arga buru-buru mematikan layar.

Tetapi semuanya sudah terlambat.

Karena tepat pada saat itu…

Pintu lift di ujung koridor perlahan terbuka.

Dan orang yang keluar dari sana…

Adalah Nadya sendiri.

Di tangannya bahkan ada kunci cadangan apartemen Arga.

Rina membeku.

Arga menjadi pucat.

Bahkan Nadya pun tertegun saat melihat mereka berdua.

Suasana seolah membeku.

Lalu Nadya berkata pelan:

— Rina… ini tidak seperti yang kamu pikirkan…

Bagian selanjutnya ada di kolom komentar.

Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca kisah lengkapnya…

Semoga harimu menyenangkan! 👇

Nadya membeku.

Arga pun memucat.

Sedangkan Rina hanya berdiri diam, menatap dua orang yang paling ia percayai selama ini.

Beberapa detik berlalu.

Lalu Nadya memaksakan senyum.

— Rina… ini tidak seperti yang kamu pikirkan.

Air mata yang semalaman ditahan Rina akhirnya mengering.

Aneh.

Ia tidak lagi ingin menangis.

Ia hanya merasa lelah.

— Kalau begitu, jelaskan.

Nadya menggenggam erat kunci di tangannya.

— Arga sering menginap di apartemennya sendiri, dan kadang dia lupa membawa kunci cadangan. Jadi dia menitipkannya padaku.

— Semalam dia hanya membantuku memasak karena aku sedang sakit.

— Kami benar-benar tidak melakukan apa-apa.

Rina tertawa pelan.

Tawa yang membuat Arga merasa tidak nyaman.

— Tidak melakukan apa-apa?

— Lalu kenapa kalian selalu bersama?

— Kenapa setiap kali aku membutuhkan pacarku, dia justru berada di sampingmu?

— Kenapa parfum milikmu ada di bajunya?

— Dan kenapa… bahkan kunci rumahnya ada padamu?

Tak seorang pun menjawab.

Karena bahkan mereka sendiri tahu.

Batas antara persahabatan dan sesuatu yang lebih dari itu telah lama menjadi kabur.

Arga mulai kesal.

— Kenapa kamu selalu berpikir buruk?

— Nadya itu sahabatmu!

— Apa salahnya aku membantu dia?

Rina menatap pria yang sudah dicintainya selama tiga tahun.

Tiba-tiba ia tersenyum.

Senyum yang membuat hati Arga tiba-tiba tidak tenang.

— Tidak ada yang salah.

— Yang salah adalah aku.

— Aku terlalu lama menganggap diriku penting dalam hidupmu.

Lalu ia mengambil kotak berisi foto-foto mereka.

Dan menyerahkannya pada Arga.

— Kembalikan semua kenangan ini.

— Karena aku tidak membutuhkannya lagi.

Untuk pertama kalinya, Arga panik.

— Rina, jangan seperti ini.

— Kita bisa bicara baik-baik.

Namun Rina menggeleng.

— Sudah terlambat.

— Orang yang benar-benar mencintai seseorang tidak akan membuat orang itu terus-menerus merasa sendirian.

Setelah mengatakan itu, ia menyeret koper miliknya.

Dan pergi.

Kali ini…

Tidak menoleh sedikit pun.


Sebulan kemudian.

Rina kembali ke rumah orang tuanya di Bandung.

Ia berhenti memikirkan Arga.

Berhenti memeriksa media sosial.

Berhenti menunggu pesan yang tak pernah datang tepat waktu.

Perlahan-lahan.

Ia mulai menemukan dirinya sendiri lagi.

Setiap akhir pekan, ia menemani ibunya memasak.

Membantu ayahnya merawat kebun kecil di belakang rumah.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Ia tidur dengan tenang.

Suatu sore.

Saat sedang membantu ibunya menyiram bunga.

Ponselnya berdering.

Nama Arga muncul di layar.

Ia ragu beberapa saat.

Lalu mengangkat telepon.

Namun suara yang terdengar bukan suara Arga.

Melainkan suara Nadya.

Suara wanita itu terdengar serak karena menangis.

— Rina…

— Aku minta maaf.

— Aku akhirnya mengerti.

— Selama ini aku terlalu bergantung pada Arga.

— Dan dia juga terlalu memprioritaskanku.

— Kami pikir itu hanya persahabatan.

— Tapi tanpa sadar…

— Kami terus menyakitimu.

Rina terdiam.

Kemudian Nadya melanjutkan.

— Arga menyesal.

— Sejak kamu pergi, dia seperti kehilangan arah.

— Dia baru sadar bahwa orang yang selalu menunggunya ternyata adalah kamu.

Rina tersenyum pelan.

Namun kali ini, hatinya tidak lagi bergetar.

— Nadya.

— Ada beberapa orang yang kehilangan sesuatu…

— Baru menyadari nilainya setelah semuanya terlambat.

— Tapi tidak semua penyesalan mendapat kesempatan kedua.

Lalu ia mengakhiri panggilan.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia merasa benar-benar telah melepaskan semuanya.


Enam bulan kemudian.

Rina dipindahkan ke kantor pusat di Jakarta.

Hari pertamanya bekerja.

Hujan deras kembali turun.

Seperti malam yang pernah menghancurkan hatinya.

Saat para karyawan berlari mencari tempat berteduh, Rina hanya tersenyum pahit.

— Sepertinya aku memang tidak berjodoh dengan payung.

Tiba-tiba.

Sebuah payung hitam muncul di atas kepalanya.

Seorang pria tinggi berdiri di sampingnya.

— Kalau begitu…

— Bolehkah aku meminjamkan milikku?

Rina terkejut.

Pria itu tersenyum lembut.

— Halo.

— Aku Adrian Mahendra.

— Direktur baru divisi keuangan.

— Dan sepertinya kita satu arah.

Hujan masih turun.

Tetapi untuk pertama kalinya…

Rina tidak lagi merasa kedinginan.


Dua tahun kemudian.

Pada hari pernikahannya.

Saat mengenakan gaun putih, Rina tiba-tiba menerima sebuah paket tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah payung baru.

Dan sebuah kartu kecil.

Tulisan di atasnya sangat singkat.

“Aku akhirnya mengerti.”

“Orang yang mencintai seseorang…”

“Bukanlah orang yang selalu datang terlambat.”

“Melainkan orang yang tidak pernah membiarkannya kehujanan sendirian.”

Tidak ada tanda tangan.

Tetapi Rina tahu siapa pengirimnya.

Ia tersenyum.

Lalu perlahan meletakkan kartu itu kembali.

Di luar ruangan.

Adrian sedang menunggunya dengan gugup.

Saat melihatnya, pria itu langsung berjalan mendekat.

— Sayang…

— Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?

Rina tertawa kecil.

Kemudian menggenggam tangannya.

— Tidak.

— Justru kamu datang pada waktu yang paling tepat.

Dan di luar sana…

Hujan kembali turun dengan lembut.

Namun kali ini…

Ia tidak lagi berjalan sendirian.

Karena cinta yang paling indah…

Bukanlah cinta yang paling lama.

Melainkan cinta yang membuatmu tidak perlu lagi merasa sendirian.