Selama tiga tahun bekerja di sana, aku belum pernah membeli sesuatu yang benar-benar mahal untuk diriku sendiri.
Bukan karena aku tidak mau.
Tapi karena aku selalu merasa… aku tidak pantas.
Setiap kali gajiku masuk (sekitar Rp8.500.000 per bulan), semuanya langsung habis untuk sewa apartemen, kebutuhan hidup, dan kiriman untuk ibuku di kampung.
Hidupku selalu begitu.
Sampai ulang tahunku yang ke-28.
Aku akhirnya memutuskan membeli sebuah jam tangan elegan seharga Rp12.000.000.
Tidak terlalu mewah.
Tapi cukup untuk menjadi hadiah pertama yang kuberikan pada diriku sendiri.
Setiap kali aku melihat jam itu di pergelangan tangan, aku teringat begadang lembur, revisi tanpa akhir, dan tekanan dari klien yang membuatku hampir menyerah.
Jam itu adalah simbol perjuanganku.
Bukti bahwa hidupku punya nilai.
Pagi itu, aku datang ke kantor seperti biasa.
Begitu masuk ke divisi, jam itu langsung menarik perhatian Bianca Putri.
Dia adalah karyawan paling populer di kantor.
Cantik.
Pandai berbicara.
Dan selalu dikelilingi orang-orang yang ingin menyenangkannya.
Dia langsung menghampiriku.
“Wah, jamnya bagus banget!”
Aku tersenyum sopan.
“Terima kasih.”
“Boleh aku lihat sebentar?”
Aku sedikit mundur.
“Maaf, aku kurang nyaman meminjamkan barang pribadi.”
Senyumnya langsung menghilang.
Beberapa rekan kerja mulai menoleh.
“Cuma jam tangan saja.”
“Iya, tidak akan rusak.”
“Kita kan satu kantor.”
Tekanan itu datang satu per satu.
Akhirnya, aku menyerah.
Aku melepas jam itu dan menyerahkannya padanya.
Bianca langsung memakainya.
Lalu mulai berfoto, merekam video, dan bergaya di depan kamera.
5 menit.
10 menit.
15 menit.
Aku mulai tidak sabar.
“Bianca, boleh dikembalikan sekarang?”
Dia mendecih.
“Baru sebentar.”
Saat itu supervisor lewat.
Dia langsung menghampiri.
“Pak, cocok tidak di saya?”
Supervisor tersenyum.
“Cocok sekali.”
Semua orang ikut tertawa.
Dan entah sejak kapan…
jam itu seolah bukan lagi milikku.
Aku melangkah maju.
“Bianca, kembalikan sekarang.”
Akhirnya dia melepasnya.
Tapi saat itu juga, teleponnya berdering.
Dia menjawab sambil tetap melepas jam.
Satu tangan memegang ponsel.
Satu tangan memegang jam.
“Awas!”
Terlambat.
Jam itu jatuh.
Masuk ke celah antara dua meja.
Semua orang panik.
Kami mencari selama beberapa menit.
Menggeser meja.
Membuka laci.
Memeriksa setiap sudut.
Tapi hasilnya sama.
Hilang.
Bianca pucat.
“Tidak mungkin… aku lihat jatuh di sini.”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya, amarahku muncul.
“Aku sudah bilang aku tidak mau meminjamkannya.”
Dia menggigit bibir.
“Baiklah, aku ganti.”
Dia mentransfer uang ke rekeningku.
Aku melihat nominal di layar:
Rp1.000.000.
Aku tertawa kecil.
“Itu bahkan tidak sampai sepersepuluh harganya.”
Wajahnya langsung berubah.
“Apa maksudmu?”
“Jam itu resmi dari butik, lengkap dengan sertifikat.”
Beberapa orang mulai ragu.
“Coba cek CCTV saja.”
Rekaman diputar.
Seluruh ruangan hening.
Di layar terlihat jelas:
jam jatuh.
semua orang mencari.
lalu…
sebuah tangan diam-diam mengambil jam itu.
Memasukkannya ke saku.
Dan saat wajah pelaku diperbesar…
Semua orang membeku.
Aku pun merasa darahku berhenti.
Karena orang itu…
adalah orang yang paling tidak kami duga.
Belum sempat siapa pun bereaksi…
pintu kantor terbuka.
Dan orang itu masuk.
Jam itu… masih ada di pergelangan tangannya.
Dia berdiri di sana, tenang.
Menatap kami satu per satu.
Lalu tatapannya berhenti padaku.
Ruangan langsung terasa dingin.
Aku berdiri perlahan.
Menggenggam ponselku erat-erat.
Dan berkata dengan suara jelas:
“Jadi… akhirnya kita tahu siapa yang mengambil jam tanganku.”
BAB SELANJUTNYA ADA DI KOLOM KOMENTAR…

Suasana kantor benar-benar membeku.
Orang yang baru masuk itu berdiri santai di dekat pintu.
Di pergelangan tangannya…
jam tanganku masih terpasang rapi.
Bianca langsung panik.
“Itu bukan aku! Aku tidak sengaja—”
“Tutup mulutmu.”
Suara itu dingin.
Bukan dari aku.
Tapi dari pria itu sendiri.
Dia melepas jam itu perlahan, lalu menatap semua orang di ruangan.
“CCTV sudah cukup menjelaskan, kan?”
Supervisor tidak bisa berkata apa-apa.
Beberapa karyawan langsung mundur.
Dan Bianca… mulai gemetar.
“Aku… aku hanya ingin melihat sebentar…”
Aku menatapnya tajam.
“Rp12.000.000 untuk ‘lihat sebentar’?”
Ruangan kembali hening.
Pria itu melangkah maju dan meletakkan jam itu di atas meja.
Lalu dia menatapku.
“Aku sengaja mengambilnya.”
Aku terdiam.
“Aku ingin tahu… apakah kamu akan tetap diam seperti biasanya.”
Jantungku terasa berhenti sesaat.
“Dan ternyata… kamu tidak berubah.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kenapa?”
Dia tersenyum tipis.
“Karena kamu selalu membiarkan orang lain menginjakmu.”
Suara itu menusuk lebih dalam dari yang aku kira.
Bianca langsung menunjuk.
“Dia juga yang membuatku terlihat bersalah!”
Pria itu menoleh padanya.
“Kamu tidak perlu aku bantu untuk menjatuhkan dirimu sendiri.”
Wajah Bianca langsung pucat.
Supervisor akhirnya berbicara.
“Ini… harus dilaporkan ke HR.”
Pria itu hanya mengangkat bahu.
“Silakan.”
Dia lalu menatapku lagi.
“Tapi sebelum itu…”
Dia mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di atas meja.
Nama yang tertera membuat seluruh ruangan kembali sunyi:
Direktur Operasional Grup Media Nusantara.
Semua orang langsung terdiam.
Termasuk aku.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu… direktur?”
Dia mengangguk pelan.
“Dan aku sudah mengamati kantor ini selama tiga bulan.”
Dunia terasa semakin sempit.
Dia melanjutkan:
“Aku ingin tahu siapa yang jujur, siapa yang hanya berpura-pura.”
Tatapannya kembali ke Bianca.
“Hasilnya sudah jelas.”
Bianca langsung terduduk.
“Tidak… tolong… jangan pecat aku…”
Namun dia sudah tidak mendengarkan.
Dia berbalik dan berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti.
Dan berkata pelan tanpa menoleh:
“Jam itu… sebenarnya tidak hilang.”
“Aku hanya ingin melihat siapa yang pantas memilikinya.”
Lalu dia pergi.
Ruangan kembali sunyi.
Semua orang menatap Bianca.
Supervisor akhirnya berbicara pelan:
“Mulai hari ini… kamu nonaktif.”
Bianca menangis.
Tapi tidak ada yang peduli lagi.
Aku berdiri diam cukup lama.
Lalu menatap meja kosong di depanku.
Jam itu memang sudah kembali.
Tapi rasanya… ada sesuatu yang hilang yang tidak bisa ditemukan lagi.
Kepercayaanku.
Ketulusanku.
Dan rasa aman di tempat kerja ini.
Beberapa menit kemudian.
Ponselku bergetar.
Pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
“Kamu terlalu mudah mengalah.”
Aku menatap layar lama sekali.
Lalu tanpa sadar aku tersenyum kecil.
Bukan senyum bahagia.
Tapi senyum yang sudah lelah.
Aku membalas singkat:
“Mungkin aku sedang belajar untuk tidak lagi seperti itu.”
Di luar gedung, Jakarta sore itu mulai hujan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku tidak merasa perlu meminta maaf atas apa yang bukan kesalahanku.
Aku hanya melangkah maju.
Dengan jam tangan itu kembali di pergelangan tanganku.
Dan hidup yang akhirnya mulai aku miliki kembali.
TAMAT