Ia berkata bahwa wanita itu hanya rekan bisnis dan akan tinggal sementara di rumah kami.
Aku masih kecil dan tidak terlalu mengerti.
Wanita itu sangat baik padaku.
Ia sering membelikanku permen, mainan, dan mengajakku berjalan di taman luas milik keluarga kami.
Suatu sore, ia tersenyum dan berkata akan mengajakku ke glasshouse untuk memetik bunga paling indah untuk Mama.
Dengan gembira aku mengikutinya sambil membawa keranjang kecil.
Namun saat kami kembali ke rumah utama, semuanya berubah.
Terdengar teriakan dari lantai dua.
Para pelayan panik berlarian.
Ayahku tampak pucat dan bergegas naik tangga.
Dan Mama…
Tergeletak di ruang kerjanya.
Sejak hari itu, keluarga kami benar-benar hancur.
Mama meninggal setelah menjalani perawatan panjang.
Tidak lama kemudian, ayahku menikahi wanita itu.
Anaknya, seorang perempuan, juga pindah ke rumah kami.
Tidak ada yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hari itu.
Namun sebagai anak kecil, aku merasakan ada rahasia besar yang disembunyikan.
Sejak itu, aku takut pada tempat yang penuh kaca.
Setiap melihat glasshouse atau ruangan kaca, jantungku berdebar dan aku sulit bernapas.
Bertahun-tahun berlalu.
Aku mencoba hidup dengan ketakutan itu.
Sampai aku bertemu Rafael Mendoza.
Dia satu-satunya orang yang tidak menganggap traumaku sebagai kelemahan.
Saat pertama kali aku menceritakan masa laluku, ia hanya menggenggam tanganku erat.
—Jika kamu tidak suka glasshouse, kita tidak akan pernah pergi ke tempat seperti itu.
Aku menatapnya lama.
—Benarkah kamu bisa melakukan itu?
Ia tersenyum.
—Aku janji.
Janji itu membuatku mempercayainya.
Tiga tahun kemudian, kami menikah.
Ia membangun perusahaannya sendiri.
Sementara aku menjadi ahli bioteknologi terkenal.
Banyak orang mengagumi pernikahan kami.
Sampai enam bulan lalu.
Rafael jatuh sakit karena penyakit langka dan parah.
Semua dokter hampir menyerah.
Hanya aku yang mampu mengembangkan kemungkinan obatnya.
Aku hampir tinggal di laboratorium demi dirinya.
Enam bulan penuh.
16 jam kerja setiap hari.
Sering tidur di kursi.
Bahkan lupa makan.
Tujuanku hanya satu.
Menyelamatkan pria yang kucintai.
Suatu pagi, tim peneliti menghubungiku bahwa tahap akhir eksperimen berhasil.
Jika semuanya lancar, satu bulan lagi terapi baru akan selesai.
Dengan gembira aku pulang untuk memberitahu Rafael.
Namun saat membuka pintu mansion…
Aku terpaku.
Di tengah ruang tamu.
Adik tiriku, Bianca Reyes, berdiri di samping Rafael.
Di tangannya ada miniatur glasshouse dari kaca.
Benda yang paling kutakuti.
Ia tersenyum.
—Kamu datang di waktu yang tepat, Kak.
Seluruh tubuhku dingin.
Rafael tidak menghentikannya.
Ia hanya duduk diam.
Bianca mendekat.
—Kamu tahu? Selama enam bulan ini, aku dan suamimu mempelajari masa lalumu.
Aku menatap Rafael.
Ia menghindari tatapanku.
Perasaanku langsung jatuh.
—Apa maksudmu?
Bianca tersenyum.
—Kamu benar-benar percaya Mama adalah penyebab kehancuran keluargamu?
—Selama bertahun-tahun, kamu membenci orang yang salah.
Aku mengepalkan tangan.
—Diam!
Tapi ia terus berbicara.
—Yang terjadi pada ibumu… bukan kesalahan ibuku.
—Semua yang kamu percayai salah.
Rafael berdiri.
Suara dinginnya membuat ruangan membeku.
—Kurasa sudah waktunya kamu tahu kebenarannya.
Aku tidak percaya.
Pria yang berjanji melindungiku.
Pria yang bilang akan menjauh dari keluarganya.
Kini berdiri membela mereka.
—Sejak kapan?
Tanyaku gemetar.
—Sejak kapan kamu menghubunginya?
Ia diam beberapa detik.
—Enam bulan.
Aku tertawa pahit.
Enam bulan.
Waktu yang sama saat aku hampir menghancurkan diriku demi menyembuhkannya.
Saat aku tidak tidur di laboratorium.
Dia justru bersama orang yang paling kubenci.
Aku menatap pria di depanku.
Untuk pertama kalinya.
Aku merasa tidak mengenalnya lagi.
Namun semuanya belum berakhir.
Bianca mengeluarkan ponselnya.
Ia memutar sebuah video lama.
—Aku baru mendapatkannya tadi malam.
Di layar muncul rekaman CCTV buram.
Rumah lama kami.
Hari tragedi itu.
Darahku seakan berhenti mengalir.
Dua puluh tahun aku mencari jawaban.
Dan sekarang ada di depan mataku.
Di video itu.
Seseorang mendekati Mama dari belakang.
Memberikan sebuah folder tebal.
Mama membukanya.
Beberapa detik kemudian wajahnya pucat.
Gelas di tangannya jatuh.
Video berakhir.
Tapi bukan itu yang membuatku terkejut.
Melainkan wajah orang itu.
Itu bukan ibu tiriku.
Bukan Bianca.
Tapi…
Ayahku sendiri.
Ponselku jatuh dari tangan.
Aku membeku.
Satu pertanyaan berputar di kepalaku.
Jika ayahku ada di video itu…
Siapa sebenarnya yang menghancurkan keluargaku?
Saat itu ponselku berdering.
Panggilan darurat dari laboratorium.
Aku menjawab.
Suara panik asistanku terdengar.
—Bu Elena! Anda harus segera ke sini!
—Seseorang masuk ke ruang penyimpanan!
—Semua data penelitian terapi telah disalin!
Darahku dingin.
Namun kabar buruk belum selesai.
Asistenku melanjutkan dengan suara gemetar.
—Dan kamera keamanan menangkap wajah pelakunya…
—Pria di video itu… adalah suami Anda, Rafael Mendoza!

Aku masih berdiri di tengah ruang tamu mansion itu ketika dunia seakan runtuh untuk kedua kalinya.
Nama Rafael… masih bergema di telingaku seperti gema yang tidak mau berhenti.
“Rafael Mendoza…”
Suara asistanku di telepon terdengar semakin jauh, seperti berasal dari dasar air.
—Bu Elena… kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi… tapi semua data benar-benar hilang…
Telepon itu terlepas dari tanganku.
Bianca menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca—bukan puas, bukan kasihan, tapi seperti seseorang yang akhirnya membuka kotak yang sudah lama terkunci.
Rafael masih duduk.
Tenang.
Terlalu tenang.
Itu yang paling menakutkan.
Aku menatapnya, suaraku serak.
—Kamu… mengambilnya?
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya menatapku lama, seperti sedang menghitung sesuatu di dalam pikirannya.
Lalu ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia tidak terlihat seperti pria yang pernah berjanji melindungiku.
Ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya berhenti berpura-pura.
—Elena… kalau aku bilang aku melakukannya untuk menyelamatkanmu, kamu tidak akan percaya, kan?
Aku tertawa kecil. Tapi itu bukan tawa bahagia.
—Menyelamatkanku? Dengan menghancurkan hidupku lagi?
Rafael menghela napas.
—Data itu bukan untuk disembuhkan… tapi untuk dikendalikan. Obat yang kamu buat itu bukan terapi. Itu kunci.
Ruangan terasa semakin sempit.
Bianca menyela pelan.
—Semua orang di sini hanya memegang potongan kebenaran.
Aku menatap mereka berdua, lalu merasakan sesuatu yang lebih dalam daripada marah.
Kehampaan.
Semua tahun kerja keras… semua malam tanpa tidur… semua pengorbananku…
Apakah semuanya memang bagian dari sesuatu yang lebih besar?
Rafael melangkah mendekat.
—Aku tidak pernah berniat menyakitimu.
Aku mundur.
—Tapi kamu melakukannya.
Hening.
Dan di dalam keheningan itu, sesuatu berubah.
Rafael akhirnya berkata dengan suara rendah:
—Ayahmu tidak membunuh siapa pun hari itu.
Aku terdiam.
—Dia mencoba menghentikan sesuatu yang lebih besar. Dan ibumu… menemukan sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat di dalam folder itu.
Bianca menunduk, suaranya hampir tidak terdengar.
—Dan aku dibesarkan dengan kebohongan itu juga.
Dadaku sesak.
Semua cerita yang aku pegang selama 20 tahun… mulai retak satu per satu.
Tiba-tiba, lampu mansion berkedip.
Alarm keamanan berbunyi keras.
Dari luar kaca jendela besar, aku melihat mobil-mobil hitam mendekat.
Bukan polisi.
Bukan perusahaan.
Tapi sesuatu yang lebih terorganisir.
Rafael langsung menegang.
—Mereka sudah menemukan kita.
Aku menatapnya.
—Siapa “mereka”?
Ia hanya menjawab singkat.
—Orang-orang yang menginginkan terapi itu sebelum kamu menyempurnakannya.
Tepat saat itu, Bianca menarik tanganku.
—Kalau kamu tetap di sini, kamu tidak akan keluar hidup-hidup.
Rafael menatapku dalam-dalam.
Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang jujur di matanya.
—Elena… aku bisa melindungimu sekali lagi. Tapi kamu harus percaya padaku… bukan sebagai suamimu… tapi sebagai orang yang tahu seluruh kebenaran.
Aku ragu.
Seluruh hidupku mengajarkanku bahwa kepercayaan selalu berakhir dengan luka.
Di luar, suara langkah-langkah mendekat ke pintu utama.
Waktu hampir habis.
Aku menatap Rafael… lalu Bianca… lalu kaca besar mansion yang selama ini menjadi ketakutanku.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar:
Bukan kaca yang membuatku takut.
Tapi apa yang selama ini tersembunyi di baliknya.
Aku menarik napas panjang.
—Kalau aku ikut kalian… aku ingin semua kebenaran. Tidak ada lagi kebohongan.
Rafael mengangguk.
—Kali ini… tidak akan ada lagi kebohongan.
Bianca membuka pintu belakang.
Dan saat aku melangkah keluar dari mansion itu…
Kaca-kaca besar di belakangku memantulkan bayangan hidupku yang lama—retak, pecah, dan akhirnya ditinggalkan.
Tapi di depan…
Ada sesuatu yang lebih berbahaya.
Dan mungkin… juga jawaban dari semuanya.
Aku memilih berjalan keluar dari kegelapan yang kukenal… menuju kebenaran yang bahkan belum siap kuterima.
Dan malam itu, Elena menghilang dari dunia yang ia kenal.
Namun untuk pertama kalinya dalam 20 tahun…
ia tidak lagi menjadi korban cerita orang lain.
Ia menjadi orang yang akan menulis akhir ceritanya sendiri.