Ia mengenakan setelan jas gelap seperti biasa, wajahnya dingin tanpa emosi.
Sebelum masuk mobil, ia hanya meninggalkan satu kalimat singkat:
—Jika kamu butuh sesuatu, hubungi Manang Teresa. Jangan keluar sendiri.
Aku mengangguk dan tersenyum sopan.
—Baik.
Mobil itu menghilang di balik gerbang besar.
Dan bersama itu, senyumku juga perlahan hilang.
Mansion itu sangat besar.
Seperti hotel pribadi.
Suamiku hampir tidak pernah terlihat.
Satu-satunya teman harianku adalah seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun.
Namanya Miguel Santos.
Setidaknya begitu semua orang memanggilnya.
Ia duduk di dekat jendela, memeluk buku sketsa lama.
Sepanjang pagi ia tidak berbicara.
Bukan karena ia tidak bisa bicara.
Tapi karena ia tidak mau.
Tiga tahun lalu, orang tuanya meninggal dalam kebakaran besar.
Sejak itu ia menutup diri sepenuhnya.
Tidak berbicara.
Tidak tertawa.
Tidak bersosialisasi.
Kadang bahkan tidak menatap orang lain.
Menurut psikolog, hatinya seperti ruangan yang terkunci rapat.
Dan butuh waktu sangat lama untuk membukanya.
Dan aku…
Aku adalah orang yang tanpa sengaja diberi tugas itu.
Sebagai istri baru di rumah ini, aku berkata pada diriku:
“Aku akan membuat anak ini tersenyum.”
Tapi malam pertama saja aku sudah gagal.
Aku bercerita dongeng.
Dia tidak bereaksi.
Aku melakukan trik sulap.
Tetap tidak ada respons.
Aku bahkan pura-pura jatuh dari sofa.
Dia hanya melirik sekilas lalu kembali menggambar.
Akhirnya aku memegang pinggangku kesal.
—Kamu ini robot ya?
Tanpa suara, ia mengambil tablet tulisannya.
Lalu menulis:
【Kalau aku robot, dari tadi kamu sudah aku diamkan.】
Aku terdiam.
Anak tujuh tahun…
Tapi sudah bisa menyindir.
Saat itu aku sadar.
Dia tidak selemah yang orang lain pikirkan.
Dia sangat cerdas.
Terlalu cerdas.
Dan justru itu membuatku semakin bersemangat.
Keesokan harinya aku membawakan kue.
Dia tidak makan.
Aku membeli komik.
Dia tidak membaca.
Aku mengajaknya bermain di luar.
Dia mengabaikanku.
Sampai malam hari.
Aku makan es krim sendirian di ruang tamu.
Tiba-tiba Miguel mendekat.
Ia berdiri beberapa langkah dariku, menatap es krim itu.
Aku langsung mengerti.
—Mau?
Ia menggeleng.
Aku tersenyum kecil.
—Kalau tidak mau, kenapa dilihat?
Beberapa detik kemudian ia menulis:
【Dokter bilang kamu tidak boleh makan dingin.】
Aku terdiam.
Aku baru saja demam kemarin.
Aku hanya bercanda tentang itu.
Ternyata dia mengingatnya.
Dadaku terasa hangat.
Aku menyodorkan es krim itu.
—Kalau begitu bantu aku habiskan saja.
Ia menatapku.
Untuk pertama kalinya sejak aku datang…
matanya tidak sedingin itu.
Sedikit saja berubah.
Tapi aku melihatnya.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku merasa baru saja mengambil satu langkah kecil.
Namun aku tidak tahu…
Di tempat lain.
Suamiku yang seharusnya sedang dinas luar kota duduk di ruang gelap.
Di depannya banyak monitor.
Semua kamera mansion menyala.
Setiap gerakan.
Setiap percakapan.
Semua terlihat.
Asistennya bertanya pelan:
—Tuan… apakah Anda benar-benar mempercayainya?
Ia menatap layar lama.
Di sana terlihat aku dan Miguel duduk bersama.
Sudut bibirnya terangkat sedikit.
—Tidak.
—Tapi aku ingin melihat sejauh mana dia akan bertahan.
Asisten terkejut.
—Kalau begitu pernikahan ini…
Ia memotong dingin:
—Ini tidak pernah hanya pernikahan bisnis.
Di luar, hujan mulai turun.
Matanya tetap tertuju pada layar.
—Tiga tahun…
—Akhirnya kamu kembali juga.
Dan di mansion itu…
Aku tidak tahu bahwa semua ini bukan kebetulan.
Dan aku juga tidak tahu bahwa pernikahan yang kuanggap hanya kesepakatan…
sudah lama direncanakan oleh seseorang.
Keesokan harinya.
Saat aku membereskan kantor suamiku…
sebuah map jatuh.
Foto lama terjatuh dari dalamnya.
Dan saat aku melihat wajah di foto itu…
napasku berhenti.
Itu aku.
Tapi yang lebih mengerikan…
tanggal di belakang foto itu.
Lima tahun lalu.
Padahal aku baru mengenal suamiku dua bulan terakhir ini.
Tanganku gemetar membalik foto itu.
Dan ada tulisan:
“Pada akhirnya, aku menemukanmu juga.”
Tepat saat itu…
suara pintu terbuka terdengar dari lantai bawah.
Pria yang seharusnya baru pulang tiga hari lagi…
sudah kembali ke mansion.
BAGIAN SELANJUTNYA ADA DI KOMENTAR…

Suara langkah dari lantai bawah terdengar semakin jelas.
Tidak cepat. Tidak lambat.
Tapi setiap langkah terasa seperti menekan dadaku.
Aku masih berdiri kaku di ruang kerja, foto di tanganku gemetar sampai hampir robek.
“Kenapa… aku?”
Pintu ruangan perlahan terbuka.
Rafael berdiri di sana.
Masih dengan setelan jas gelap yang selalu ia pakai.
Tapi kali ini, tatapannya berbeda.
Tidak sedingin dulu.
Lebih seperti… seseorang yang sudah lama menunggu momen ini.
Matanya langsung tertuju pada foto di tanganku.
Tidak terkejut.
Tidak panik.
Hanya diam.
Diam yang membuatku hampir gila.
—Jelaskan padaku.
Suaraku serak.
—Apa sebenarnya semua ini?
Rafael masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
Suara “klik” itu terdengar seperti mengunci seluruh dunia di luar.
Ia meletakkan sebuah map lain di atas meja.
Membukanya.
Di dalamnya ada banyak foto tentangku.
Dari masa kuliah.
Saat bekerja di laboratorium.
Bahkan momen-momen yang tidak pernah kusadari pernah direkam.
Aku mundur selangkah.
—Kamu… mengawasiku?
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya menatapku lama.
Lalu berkata pelan:
—Bukan mengawasi.
—Tapi menemukan kembali.
Aku mengepalkan tangan.
—Menemukan apa?
Rafael mendekat.
Suaranya rendah.
—Tiga tahun lalu, kamu tidak “muncul” begitu saja dalam hidupku.
—Kamu pernah menghilang.
Dadaku terasa sesak.
—Aku… menghilang?
Ia meletakkan sebuah laporan lama di meja.
Judul besar terlihat jelas:
“Eksperimen Memori – Subjek perempuan: Elena”
Kepalaku langsung pusing.
Miguel muncul dari pintu.
Seperti biasa, ia tidak berbicara.
Tapi kali ini ia berjalan ke arahku.
Dan untuk pertama kalinya…
ia menggenggam tanganku.
Aku terdiam.
Rafael melihat itu, sorot matanya menggelap.
—Miguel tidak berbicara selama tiga tahun… bukan karena trauma biasa.
Ia berhenti.
—Tapi karena dia menyaksikan kamu dibawa pergi.
Ruangan terasa berhenti bernapas.
Aku menggeleng keras.
—Tidak mungkin… aku tidak ingat apa pun…
Rafael mendekat lagi.
—Itu masalahnya.
—Mereka menghapus ingatanmu.
Hujan di luar semakin deras.
Rafael menunjuk foto di tanganku.
—Foto itu bukan dua bulan lalu.
—Tapi lima tahun lalu.
Aku membeku.
Dunia seperti pecah.
Miguel menatapku, lalu menulis di tablet kecilnya.
Tangan kecilnya bergetar:
【Jangan biarkan mereka membawa Mama lagi.】
Mataku melebar.
“Mama?”
Aku menatap Miguel.
Lalu Rafael.
Rafael menutup matanya sesaat.
Seperti akhirnya menyerah untuk menyembunyikan semuanya.
—Elena…
—Kamu bukan hanya istriku.
Ia membuka mata lagi.
—Kamu adalah orang yang menciptakan sistem itu.
Aku mundur.
—Tidak… aku tidak ingat…
Rafael melanjutkan dengan suara berat:
—Dan karena itu… mereka menghapusmu dari hidupmu sendiri.
Petir menyambar di luar.
Cahaya putih memenuhi ruangan.
Miguel menggenggam tanganku lebih kuat.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
ia berbicara.
Suaranya sangat pelan:
—Jangan percaya mereka lagi…
Aku terpaku.
Rafael menatapku.
Tidak ada lagi rahasia di matanya.
Hanya kebenaran.
—Elena…
—Kamu bukan bagian dari cerita ini.
Ia berhenti.
—Kamu adalah awal dari semuanya.
Suara mobil-mobil hitam terdengar mendekati gerbang mansion.
Rafael menoleh ke jendela.
Lalu kembali padaku.
—Mereka sudah datang.
—Dan kali ini… mereka ingin mengambilmu kembali.
Aku menatap tanganku.
Lalu Miguel.
Lalu Rafael.
Untuk pertama kalinya aku sadar:
Seluruh hidupku bukanlah awal.
Tapi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Rafael membuka pintu.
Angin dingin dan suara langkah kaki masuk bersamaan.
Ia menatapku untuk terakhir kalinya.
—Elena.
—Kalau kamu ingin tahu siapa dirimu…
—sekarang waktunya kamu memilih.
Aku menggenggam tangan Miguel erat-erat.
Dan melangkah maju.
Bukan lagi sebagai istri yang hidup dalam kebohongan.
Bukan lagi sebagai perempuan yang takut pada masa lalunya.
Tapi sebagai seseorang yang akhirnya siap menghadapi kebenaran yang selama ini dicuri darinya.
Dan di saat itu aku mengerti:
Cerita ini tidak pernah tentang akhir.
Tapi tentang seberapa banyak kebenaran yang sanggup aku ingat kembali.