Ibu punya keyakinan aneh: selama aku belum menikah, beliau tidak akan tenang dalam hidupnya.

Sejak aku berusia 24 tahun, “blind date” sudah seperti rutinitas yang diatur oleh ibuku. Restoran, kafe, mal, bahkan pernah di pasar. Aku sudah bertemu berbagai jenis pria—ada yang kaya, sopan, terlalu banyak bicara, sampai yang membuatku ingin segera pulang.

Jadi ketika ibuku menelepon lagi, aku hampir tidak ingin menjawab.

—“Yang ini spesial,” katanya penuh percaya diri. “Pilot. Gajinya bagus. Tampan. Dan serius.”

Aku tertawa kecil.

—“Pilot? Jadi dia juga akan terbang menjauh dari hidupku? Setahun ketemu berapa kali?”

Hening sebentar.

—“Dia hanya pulang sekali setahun.”

Aku terdiam.

—“Bu, ini cari suami atau jadwal libur?”

—“Kamu ini anak, ngomongnya seenaknya!”

Akhirnya aku tetap datang.

Malam itu di sebuah restoran mewah di pusat kota. Suasana tenang, lampu hangat, semuanya terasa dibuat untuk pertemuan penting.

Aku datang lebih dulu.

Ibuku duduk di sampingku, jauh lebih tegang dariku.

—“Duduk yang benar, jangan silang tangan, kesan pertama itu penting…”

Aku belum sempat menjawab ketika pintu terbuka.

Seorang pria masuk.

Tinggi. Tegap. Tidak mencolok, tapi auranya kuat—seperti seluruh suara di ruangan otomatis merendah.

Kemeja putih sederhana. Wajahnya tidak berlebihan tampan, tapi matanya dalam—tenang, dingin, seperti menyimpan banyak hal yang tidak ingin dibicarakan.

Ia menatapku lalu mengangguk kecil.

—“Selamat malam. Saya Lukas Navarro.”

Suara rendah, stabil, terkontrol.

—“Alina Cruz,” jawabku.

Percakapan berjalan normal. Tapi ia sangat sedikit bicara. Jawabannya singkat, langsung, tanpa basa-basi.

Satu hal yang terus berputar di kepalaku:

Dia hanya pulang sekali setahun.

Aku bukan orang materialistis, tapi bagaimana hubungan seperti itu bisa bertahan? Saat sakit? Natal? Malam hari saat sendirian?

Seperti tetap sendirian meski sudah menikah.

Aku hampir ingin menolak.

Namun tiba-tiba ia meletakkan sendoknya.

Menatapku lurus.

—“Saya punya dua syarat.”

Suasana meja langsung berubah tegang.

Ibuku menatapku, memberi isyarat agar aku setuju.

—“Silakan,” kataku.

Ia tidak bertele-tele.

—“Pertama, kamu tidak boleh ikut campur urusan pekerjaanku setelah menikah.”

Aku mengangguk. Masuk akal.

Tapi syarat kedua membuat udara terasa berat.

Ia menatapku lama.

—“Kedua… apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh meninggalkan rumah itu tanpa izinku.”

Aku terdiam.

Suasana meja berubah dingin.

Ibuku menendang kakiku pelan di bawah meja, menyuruhku setuju.

Tapi aku tidak bisa langsung menjawab.

Ini bukan sekadar pernikahan.

Ini terdengar seperti… aturan untuk bertahan hidup.

Aku menatapnya.

—“Ini pernikahan… atau kontrak sesuatu yang lebih dalam?”

Ia tidak langsung menjawab.

Namun matanya tiba-tiba berubah gelap.

Belum sempat ia berbicara—

BRAK!

Pintu restoran terbuka keras.

Beberapa pria berseragam masuk. Tatapan mereka langsung tertuju pada kami.

Lukas tidak menoleh.

Tapi suaranya turun:

—“Jangan menoleh.”

Terlambat.

Aku sudah menoleh.

Dan yang kulihat adalah sesuatu yang tidak pernah kubayangkan akan menjadi awal hidupku.

—“Lama sekali aku mencarimu.”

Suara dingin terdengar dari belakang.

Dan pada saat itu—

seluruh ruangan seolah berhenti bernapas.


BAGIAN SELANJUTNYA ADA DI KOMENTAR…

Suasana restoran terasa seperti kehilangan udara.

Orang-orang berseragam itu sudah mengepung pintu keluar. Tidak ada yang berani bergerak.

Aku masih duduk di tempatku, tangan terasa dingin.

—“Lukas…” panggilku pelan.

Tapi dia tidak langsung menatapku.

Matanya masih tertuju pada pria yang baru masuk itu.

Pria itu tersenyum tipis.

—“Sudah lama tidak bertemu, Lukas Navarro.”

Suara Lukas terdengar rendah dan dingin.

—“Kamu terlambat.”

Aku menatap mereka berdua, jantungku berdebar tidak karuan.

—“Ini… sebenarnya apa?” tanyaku gemetar.

Akhirnya Lukas menatapku.

Tapi kali ini, tatapannya bukan lagi tatapan pria yang datang untuk perjodohan.

Melainkan tatapan seseorang yang berdiri di tengah perang.

—“Alina…” katanya pelan. “Kamu tidak seharusnya tahu ini… tapi kamu sudah terlibat sejak lama.”

Aku membeku.

—“Sejak kapan?”

Dia terdiam sejenak.

—“Sejak sebelum kamu bertemu aku.”

Dunia seakan runtuh.

Pria itu melangkah maju.

—“Dia adalah bukti terakhir. Kalau dia menandatangani dokumen itu, semuanya akan hancur.”

Aku mundur refleks.

—“Bukti apa? Aku tidak mengerti!”

Lukas berdiri di depanku, melindungiku.

Gerakan itu begitu alami, seperti sudah sering dilakukan.

—“Kamu tidak perlu mengerti sekarang,” katanya pelan. “Tapi kalau mereka membawa kamu pergi… kamu tidak akan kembali seperti dulu lagi.”

Aku menatapnya.

—“Kamu menyembunyikan apa dariku?”

Lukas terdiam.

Lalu berkata pelan, tapi menghantam jantungku:

—“Pernikahan ini bukan rencana keluargamu.”

Dia berhenti.

—“Tapi aku yang memilihmu.”

Aku terpaku.

—“Memilih… aku?”

Dia mengangguk.

—“Karena kamu satu-satunya orang yang bisa menghancurkan sistem yang mereka lindungi.”

Suara langkah semakin banyak terdengar di luar.

Lampu restoran berkedip.

Pria di belakang kami tersenyum dingin.

—“Sudah terlambat.”

Lukas meraih tanganku.

Bukan sekadar sopan.

Tapi kuat dan pasti.

—“Alina, dengarkan aku.”

Suaranya rendah tapi mendesak.

—“Kalau kamu ingin tahu kebenaran… sekarang hanya ada satu jalan.”

Aku menelan ludah.

—“Jalan apa?”

Dia menatapku tepat di mata.

—“Pergi dari sini bersamaku.”

Suara kaca pecah terdengar dari pintu depan.

Aku terkejut.

Tapi Lukas tidak melepaskan tanganku.

Bahkan semakin erat.

—“Aku pernah berjanji pulang hanya sekali setahun,” katanya pelan.

—“Tapi aku tidak pernah bilang… itu rumah siapa.”

Aku terdiam.

Semua yang kukira kebetulan…

perlahan runtuh satu per satu.

Di luar, sirene mulai terdengar.

Namun Lukas hanya menatapku.

Kali ini, matanya tidak dingin lagi.

Tapi jujur.

—“Percayalah padaku sekali ini saja.”

Aku melihat tangannya yang menggenggam tanganku.

Lalu melihat orang-orang yang semakin mendekat.

Dan untuk pertama kalinya aku sadar:

Langkah berikutnya bukan lagi tentang perjodohan.

Tapi tentang batas antara hidup lamaku…

dan dunia yang bahkan belum pernah kuketahui ada.

Aku menarik napas dalam.

Lalu melangkah bersama Lukas.


Saat pintu di belakang kami tertutup… aku tidak pernah menoleh lagi.

Tapi aku tidak tahu bahwa—

kebenaran yang akan kutemui… jauh lebih berbahaya daripada pelarian ini.