Tiga hari setelah aku kembali dari pegunungan, aku masih tidak bisa melupakan semuanya.
Pria yang kucintai secara online—yang kupikir hanya hubungan jarak jauh biasa—ternyata bukan orang sembarangan.
Dia adalah pewaris keluarga besar pemilik perusahaan farmasi raksasa.
Dan yang lebih mengejutkan: orang yang selama ini kupanggil “mentor” dan menemaniku saat di gunung… adalah kakaknya.
Aku dulu mengira hidupku sederhana.
Meneliti tanaman obat, mempelajari pengobatan tradisional, dan sesekali naik gunung untuk mengambil sampel.
Tapi aku salah.
Semuanya dimulai dari satu pesan dingin:
“Putus.”
Saat kembali ke universitas, aku hampir tidak keluar dari laboratorium.
Teman sekamarku terus memanggilku, tapi aku selalu menjawab:
“Aku baik-baik saja.”
Padahal tidak.
Setiap kali aku menghancurkan daun kering di tanganku, dadaku terasa sesak.
Sakitnya perpisahan mendadak itu.
Tatapan dinginnya di percakapan terakhir kami.
Suatu sore, saat aku sedang mencatat hasil penelitian, terdengar ketukan keras di pintu.
“Lian, keluar.”
Suara itu.
Mentorku.
Saat aku keluar ke lorong, dia berdiri di sana—bukan seperti biasanya yang tenang, tapi terlihat tegang.
“Ada apa, Pak?”
Tanpa banyak bicara, dia menyerahkan folder tebal.
“Baca.”
Aku membukanya.
Laporan medis.
Hasil toksikologi.
Sampai aku menemukan satu kalimat yang membuat tanganku gemetar:
“Racun yang ditemukan pada pasien bukan berasal dari alam—melainkan dari kesalahan proses di laboratorium pribadi.”
Aku menatapnya.
“Maksud Anda… ini bukan kecelakaan?”
“Ini bukan kecelakaan biasa,” jawabnya.
Malam itu, kami pergi ke fasilitas penelitian di luar kota, dekat laut.
Sebuah gedung milik grup farmasi besar.
Namun kini sedang diselidiki karena pelanggaran etika penelitian.
Di dalam mobil, aku menatap lampu-lampu di luar jendela.
“Pak, apa hubungannya dengan keluarganya?” tanyaku.
“Besar,” jawabnya.
Ia menarik napas.
“Perusahaan itu… milik keluarga mereka.”
Aku menoleh cepat.
“Maksud Anda… dia tahu?”
Dia terdiam sejenak.
“Bukan hanya tahu.”
“Dia yang menandatangani persetujuan akhir proyek itu.”
Kami tiba di gedung kaca di tepi laut.
Angin dingin terasa seperti peringatan.
Di dalam, koridor putih dan cahaya steril menyambut kami.
Sampai kami berhenti di depan ruang konferensi yang masih menyala.
Ada suara di dalam.
Dan satu suara… yang sangat kukenal.
Aku membuka pintu.
Dia ada di sana.
Caleb Reyes.
Pria yang pernah kucintai secara online.
Pria yang menghilang dariku tiga hari lalu.
Dia menatapku.
“Kenapa kamu di sini?” tanyanya dingin.
Sebelum aku menjawab, mentorku berbicara.
“Tutup proyek ini.”
Atmosfer ruangan langsung berubah.
Seseorang berdiri.
“Kamu tidak punya hak di sini.”
Mentorku menatapnya.
“Aku punya.”
Satu kalimat.
Dan semua langsung diam.
Aku berdiri di antara mereka.
Pria yang kucintai.
Dan pria yang selalu mengaturku dalam penelitian.
“Aku terluka karena produk dari proyek ini,” kataku.
Caleb menatapku tajam.
“Itu tidak mungkin,” jawabnya.
“Benarkah?” suara dingin mentorku menyela. “Ini buktinya.”
Caleb melangkah mendekat.
“Lian… siapa yang kamu percaya? Dia atau aku?”
Aku tidak bisa menjawab.
Tiba-tiba lampu padam.
Gedung bergetar.
Lampu darurat menyala merah.
Dan alarm keras berbunyi:
“PERINGATAN: Kebocoran bahan kimia terdeteksi. Sistem lockdown diaktifkan.”
Seseorang menarik lenganku dalam gelap.
“Kamu harus percaya padaku,” bisiknya.
Lalu tangan lain menarikku ke arah berbeda.
“Waspada,” suara dingin mentorku.
Aku terjebak di antara mereka.
Tiba-tiba panel kaca pecah di belakang.
Asap putih masuk.
Teriakan terdengar:
“Lari! Ini bukan sekadar penelitian!”
Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.
Tapi satu tangan semakin kuat menggenggamku.
Dan di tengah asap itu, suara dingin terdengar di telingaku:
“Lian, kamu tidak boleh keluar dari sini.”
Dan saat itu aku sadar:
Ini bukan lagi tentang cinta.
Tapi tentang rahasia besar yang selama ini menahanku… bahkan ketika aku ingin lari.

Asap putih memenuhi seluruh lorong.
Suara alarm masih meraung, menusuk telinga tanpa henti.
Aku ditarik ke dua arah.
Di satu sisi Caleb.
Di sisi lain mentorku.
Keduanya tidak melepaskan tanganku.
—“Lian, lihat aku!” suara Caleb tegang.
—“Jangan dengarkan dia!” suara mentorku dingin.
Kepalaku terasa seperti akan meledak.
—“Berhenti!” aku berteriak.
Dan tepat saat itu—
BRAK!
Sebuah pintu kaca besar pecah.
Angin laut dingin masuk, membawa suara ombak dari kejauhan.
Sistem pengeras suara berbunyi:
“LOCKDOWN LEVEL A. SELURUH AREA HARUS DIEVAKUASI SEGERA.”
Aku menarik tanganku dengan kuat.
Untuk pertama kalinya, mereka berdua terdiam.
Dalam detik singkat itu, aku mundur.
Terengah-engah.
—“Kalian sebenarnya siapa?” suaraku bergetar.
Caleb melangkah maju.
—“Aku tidak pernah ingin kamu terlibat dalam ini.”
Mentorku tersenyum dingin.
—“Tapi kamu tetap membiarkannya masuk ke sini.”
Aku menatap mereka.
Melihat dokumen berserakan di lantai.
Melihat layar merah yang berkedip.
Dan melihat diriku sendiri—terjebak di antara dua kebenaran yang berbeda.
Tiba-tiba, sebuah video otomatis menyala di layar utama.
Aku muncul di sana.
Bukan aku yang sekarang.
Tapi aku… di laboratorium lain.
Dengan label:
“SUBJEK: LIAN – MEMORY TRIAL”
Aku mundur.
—“Ini… apa ini?”
Caleb menjawab cepat:
—“Kamu pernah terlibat dalam proyek ini.”
Aku menggeleng keras.
—“Tidak mungkin… aku tidak ingat apa pun!”
Mentorku berkata pelan:
—“Karena ingatanmu sudah dikunci.”
Ledakan kecil terdengar dari belakang.
Lampu merah berkedip semakin cepat.
Caleb berkata cepat:
—“Kalau sistem ini runtuh, semua data tentang kamu akan hilang.”
Mentorku menatapku.
—“Tapi kalau tetap ada, mereka akan mencarimu lagi.”
Aku membeku.
—“Kalau begitu… aku ini apa sebenarnya?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara logam bergetar di seluruh gedung.
Caleb mendekat.
—“Lian… kamu bukan hanya pacar online-ku.”
Ia berhenti.
—“Kamu adalah satu-satunya orang yang pernah menciptakan formula untuk menghancurkan sistem kontrol memori ini.”
Aku terpaku.
—“Aku…?”
Mentorku mengangguk.
—“Dan karena itu, mereka menghapus ingatanmu agar kamu tidak pernah menyadarinya.”
Sirene panjang berbunyi.
“EVAKUASI GAGAL. SISTEM AKAN DIMATIKAN.”
Lampu mulai jatuh satu per satu.
Caleb menarik tanganku.
—“Pergi bersamaku!”
Mentorku juga menarik tanganku.
—“Bersama dia kamu lebih aman!”
Aku menatap keduanya.
Ditarik ke dua arah lagi.
Tapi kali ini…
aku tidak diam.
Aku menarik tanganku dengan keras.
Mereka berdua terdiam.
Aku menarik napas dalam.
—“Cukup.”
Suaraku gemetar tapi tegas.
—“Kalau aku yang menciptakan semua ini… aku akan menemukan jawabannya sendiri.”
Aku berjalan ke tengah ruangan.
Ke arah panel utama yang berkedip merah.
Caleb memanggil:
—“Lian, jangan!”
Mentorku berteriak:
—“Kamu belum siap!”
Tapi aku tidak berhenti.
Aku meletakkan tanganku di panel kontrol.
Suara sistem berbunyi:
“IDENTIFIKASI DIPERLUKAN.”
Aku menarik napas.
Lalu berkata:
—“Lian.”
Satu detik hening.
Lalu—
seluruh sistem menyala putih.
Dan dalam sekejap itu…
ingatanku mulai kembali.
Gambar gunung.
Laboratorium lama.
Proyek yang dilarang.
Dan aku…
berdiri di tengah keputusan yang mengubah segalanya.
Ledakan besar terdengar di belakang.
Tapi aku tidak menoleh.
Karena aku akhirnya mengerti:
Aku bukan dipaksa masuk ke cerita ini.
Aku adalah orang yang menulisnya sejak awal.
Saat sistem benar-benar runtuh…
dua orang di belakangku—
satu yang pernah kucintai.
satu yang pernah kupercaya.
tidak lagi lebih penting daripada kebenaran yang baru saja kuingat.
Di luar laut, matahari mulai terbit.
Namun di dalam diriku…
perang yang baru saja dimulai belum selesai.