Di sebuah universitas besar di Manila, di mana jalanan selalu dipenuhi matahari pagi dan jeepney lalu-lalang setiap hari, hiduplah seorang mahasiswi bernama Lia Santos.
Lia bukan tipe yang mencolok. Ia mudah hilang di tengah keramaian. Tapi ia punya rahasia: ia menyukai seorang pria di fakultasnya, Caleb Rivera—mahasiswa top, pendiam, dingin, tapi hanya dengan satu senyuman saja sudah cukup membuat seluruh kampus membicarakannya.
Satu-satunya orang yang tahu perasaannya adalah sahabatnya, Maya Cruz.
Suatu hari, Maya berkata:
—“Biar aku bantu kamu.”
Sejak itu, Maya mulai “mengatur” pertemuan kebetulan. Ia sengaja menciptakan situasi agar Lia dan Caleb bisa bertemu, sampai akhirnya Caleb menyetujui untuk menambahkan Lia di aplikasi pesan.
Lia hampir tidak percaya bahagianya.
Ia bahkan menggunakan semua uang hasil kerja paruh waktu untuk membelikan hadiah kecil untuk Maya sebagai tanda terima kasih.
Dan sejak itu, ia mulai berbicara dengan Caleb.
Siang hari berisi percakapan ringan.
Malam hari berubah menjadi obrolan panjang tentang hidup, mimpi, dan perasaan.
Setahun berlalu.
Mereka menjadi “best friend online”—merasa saling mengenal sangat dalam.
Akhirnya Lia memberanikan diri:
—“Besok cuacanya bagus… kita bisa ketemu?”
Ia menunggu lama.
Namun balasan itu membuatnya membeku:
—“Sayang, kita kan sudah ketemu kemarin?”
Jantung Lia berdegup keras.
Ia belum sempat memahami apa yang terjadi ketika Maya masuk ke kamar, membawa buket bunga dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
—“Maaf ya… ada yang lupa aku bilang waktu aku dapat kontaknya.”
Lia menatapnya.
Maya berkata pelan:
—“Orang yang selama ini kamu chat dengan Caleb… dari awal… bukan kamu.”
Ruangan terasa membeku.
Ponsel Lia terus bergetar.
Pesan demi pesan dari Caleb muncul:
—“Aku sudah lama memikirkan ini…”
—“Aku pikir kamu berbeda…”
—“Tapi sepertinya aku salah…”
Tiba-tiba semua pesan itu menghilang.
Tinggal satu kalimat:
—“Maaf. Sepertinya aku mencintai orang yang salah.”
Dada Lia terasa hancur.
Di meja, Maya meletakkan sebuah kotak kecil.
—“Ini dari Caleb.”
Saat dibuka, ada dua set hadiah—satu untuk “Lia yang ia kira”, dan satu lagi tersisa.
Maya mengambil yang lebih indah.
Dan memberikan yang tersisa kepada Lia.
—“Dia memilihku.”
Suara Maya pelan, tapi matanya tidak menunjukkan penyesalan.
—“Kalau bukan aku yang pertama menghubunginya… dia bahkan tidak akan melihatmu.”
Tangan Lia gemetar memegang hadiah itu.
Hatanya seperti pecah.
Saat itu juga, ponselnya bergetar lagi.
Pesan baru dari Caleb:
—“Aku ada di bawah dorm.”
—“Aku harus menjelaskan semuanya.”
Belum sempat ia bereaksi, teman sekamarnya masuk:
—“Lia! Ada pria di gerbang… dia mencarimu.”
—“Namanya Caleb.”
Lia langsung berdiri.
Maya juga terdiam.
Suasana berubah tegang.
Notifikasi lain masuk.
Dari Caleb:
—“Jangan percaya apa pun sebelum kita bertemu.”
Dan pada saat itu…
Maya perlahan mengunci pintu kamar.
Ia tersenyum tipis.
—“Sebelum kamu turun… kita perlu jelaskan semuanya dulu.”
Langkah kaki terdengar di luar lorong.
Satu… dua… semakin dekat.
Dan di dalam kamar, Lia melihat—
ponselnya menunjukkan status:
“Calling…”
Ketukan pelan terdengar di pintu.
—“Lia… buka pintunya.”
Tapi suara itu…
tidak terasa seperti Caleb yang ia kenal selama setahun.
Maya berbisik pelan:
—“Menurutmu… siapa sebenarnya yang di luar?”
Klik.
Kunci pintu berputar.
Dan tepat saat pintu hampir terbuka—
semua pesan dari Caleb tiba-tiba menghilang dari layar ponsel Lia.
BAGIAN SELANJUTNYA ADA DI KOMENTAR…

Pintu kamar asrama belum sepenuhnya tertutup.
Udara di dalam ruangan terasa berat.
Lia berdiri kaku, matanya bergantian menatap Maya dan layar ponselnya yang kosong.
Semua pesan dari Caleb… sudah hilang.
Tidak ada jejak.
Seolah satu tahun terakhir tidak pernah terjadi.
—“Maya…” suara Lia bergetar. “Kamu ngapain?”
Maya tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap pintu yang baru saja diketuk lagi dari luar.
—“Lia… buka pintunya.”
Suara itu.
Sangat dekat.
Sangat nyata.
Tapi entah kenapa… Lia mulai ragu.
Maya melangkah perlahan ke arah Lia.
—“Kamu pikir seseorang bisa mengobrol denganmu setiap hari selama satu tahun tanpa pernah meninggalkan jejak yang jelas?”
Lia mundur satu langkah.
—“Maksud kamu apa…?”
Maya tersenyum tipis.
—“Caleb Rivera yang kamu kenal… benar-benar Caleb Rivera nggak?”
Kalimat itu membuat Lia membeku.
BANG!
Pintu kembali bergetar keras.
Lia menoleh dengan panik.
—“Lia! Ini aku!”
Suara itu… Caleb.
Tapi untuk pertama kalinya, Lia tidak lagi yakin.
Maya berkata pelan:
—“Kamu tahu nggak… nomor, akun, bahkan semua ‘kebetulan’ yang mempertemukan kamu dengannya… itu aku yang atur.”
Lia terpaku.
—“Kamu bohong…”
Maya menggeleng.
—“Aku cuma bantu kamu mendekat ke ‘Caleb’.”
Ia berhenti sebentar.
—“Tapi orang yang kamu chat selama setahun…”
Maya menatap Lia lurus.
—“…bisa jadi bukan orang yang kamu pikir.”
Dari luar pintu, suara itu kembali terdengar.
—“Lia, buka pintunya! Ini serius!”
Tapi kali ini, suaranya terdengar berbeda.
Lebih panik.
Lebih manusiawi.
Tidak seperti sosok sempurna di chat yang Lia kenal selama ini.
Lia berjalan pelan ke arah pintu.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
Maya tidak menghentikan.
Hanya berbisik:
—“Kalau kamu buka pintu itu… semuanya akan berubah.”
Lia menelan ludah.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu dia membuka pintu.
Cahaya lorong masuk ke dalam kamar.
Seorang pria berdiri di sana, napasnya terengah-engah, seragam kampusnya kusut.
Matanya langsung bertemu dengan Lia.
—“Akhirnya kamu buka…”
Lia membeku.
Itu Caleb.
Tapi bukan “Caleb” yang ada di dalam chat selama setahun.
Dia terlihat lebih nyata.
Lebih lelah.
Dan… asing.
Caleb melangkah maju.
—“Ada orang yang menyamar jadi aku.”
Ruangan langsung hening.
Lia menoleh perlahan ke belakang.
Maya masih tersenyum.
Tapi kali ini… senyum itu terasa berbeda.
—“Akhirnya ketemu juga ya,” katanya pelan.
Caleb mengepalkan tangan.
—“Lia… selama setahun itu kamu sebenarnya chat sama siapa?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kipas yang berputar pelan.
Ponsel Lia bergetar.
Satu pesan baru masuk, dari akun tanpa nama:
“Sekarang kamu percaya siapa?”
Maya menatap Lia.
—“Kamu pilih sekarang.”
Caleb berdiri di pintu.
—“Lia, jangan percaya dia.”
Lia berdiri di tengah.
Di antara dua orang yang sama-sama mengaku benar.
Tapi tidak ada satu pun yang bisa ia pastikan.
Dan untuk pertama kalinya, Lia menyadari:
Selama satu tahun itu… dia mungkin tidak pernah benar-benar tahu siapa yang sedang berbicara dengannya.
Di luar, lampu asrama berkedip.
Suara pengumuman terdengar dari speaker:
“Terjadi masalah verifikasi identitas di sistem mahasiswa…”
Maya menatap Lia sekali lagi.
—“Kalau kamu mau tahu kebenaran…”
—“…jangan buru-buru memilih.”
Caleb masuk ke dalam kamar.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
“Klik.”
Dan saat Lia melihat ponselnya lagi…
akun “Caleb” itu kembali online.
TAPI PRIA YANG BERDIRI DI DEPANNYA… JUGA SEDANG ONLINE.