Namun sebuah panggilan tak terduga menghancurkan semuanya…
Saat acara gathering tahunan perusahaan kami, semua orang berkumpul di sebuah vila pribadi di Bali untuk bermain “Truth or Dare”.
Aku sebenarnya tidak terlalu menyukai permainan yang berisik seperti itu, tetapi nasib buruk membuatku mendapatkan kartu hukuman.
Hukumannya sederhana.
Menelepon orang pertama di daftar kontak dan mengatakan:
“Aku merindukanmu.”
Semua orang langsung bersorak kegirangan.
Tak ada pilihan lain, aku pun membuka ponselku.
Dan ketika melihat nama yang muncul di layar, aku sedikit terdiam.
Raka Wijaya.
Tunanganku yang telah kucintai selama tiga tahun.
Dia baru kembali ke Indonesia setelah hampir enam bulan bekerja di Singapura.
Kami bahkan belum sempat bertemu.
Karena terus didorong oleh rekan-rekan kerjaku, aku akhirnya menekan tombol panggil.
Baru dua kali nada sambung berbunyi, seseorang menjawab.
Namun…
Bukan Raka.
Melainkan suara seorang gadis kecil yang terdengar manja dan diselingi tawa.
“Dia lagi ganti baju.”
“S-siapa kamu?” tanyaku.
Suasana di sekitarku langsung sunyi.
Rekan-rekan yang duduk di dekatku mendengar semuanya.
Aku menggenggam ponselku erat.
“Kalau kamu sendiri siapa?”
Gadis itu tertawa.
“Aku?”
“Aku tinggal di sini bersamanya.”
Lalu ia sengaja mengecilkan suaranya.
“Kak Raka, ada yang telepon.”
Dan tanpa penjelasan apa pun, panggilan langsung diputus.
Aku terpaku beberapa detik.
Kemudian aku tersenyum kepada teman-temanku yang menatapku dengan khawatir.
“Mungkin hanya tamu saja.”
kataku sambil berpura-pura tenang.
Namun malam itu, aku menerima pesan dari akun media sosial Raka.
“Kak, jangan salah paham ya.”
“Aku hanya menginap di sini karena hujan deras.”
Pesan itu disertai foto.
Di dalam foto terlihat kemeja Raka tergantung di kursi.
Dan di bawahnya terdapat sepasang sandal warna merah muda.
Aku menatap foto itu lama.
Lalu tersenyum pahit.
Dia bahkan tidak berusaha menyembunyikannya.
Jelas sekali gadis itu sengaja ingin memancing emosiku.
Aku tidak membalas.
Namun keesokan harinya, dia kembali mengirim pesan.
Kali ini foto sarapan.
Dua piring.
Dua cangkir kopi.
Dan jam tangan yang kuberikan kepada Raka tahun lalu.
Yang lebih menyebalkan adalah caption-nya.
“Katanya, selera kami sama.”
Aku langsung mengambil screenshot semuanya.
Lalu mengirimkannya ke grup keluarga kedua belah pihak.
Disertai pesan singkat:
“Sepertinya ada satu kursi kosong di pesta pernikahan nanti.”
Belum lima menit berlalu.
Teleponku langsung berdering tanpa henti.
Raka menelepon.
Aku tidak mengangkat.
Dia menelepon lagi.
Sepuluh kali.
Dua puluh kali.
Tiga puluh kali.
Pesan-pesan pun berdatangan.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
“Dia anak sahabat dekat keluarga kami.”
“Dia baru datang dan sementara tinggal di rumah.”
“Jangan membesar-besarkan masalah.”
Aku tertawa kecil saat membaca semua itu.
Dari awal sampai akhir.
Tak ada satu pun permintaan maaf.
Hanya menyalahkanku.
Sore harinya.
Ibuku menelepon.
Nada suaranya penuh kekesalan.
“Apa yang kamu lakukan di grup keluarga?”
“Mereka hanya membantu seorang gadis yang sedang kesulitan.”
Aku terdiam.
Bahkan ibuku sendiri lebih percaya kepada mereka.
Malam harinya.
Ibu Raka mengirim pesan.
Beliau mengatakan bahwa seluruh keluarga akan makan malam bersama pada akhir pekan untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini.
Aku setuju.
Karena aku juga ingin melihat.
Sampai sejauh mana mereka mampu berpura-pura.
Dua hari kemudian.
Aku datang lebih awal ke restoran mewah di Jakarta.
Dari kejauhan, aku langsung melihat Raka.
Dan di sampingnya…
Gadis yang ada di foto-foto itu.
Dia mengenakan gaun putih.
Dan dengan alami menggandeng lengan Raka.
Mereka terlihat seperti pasangan sungguhan.
Yang lebih mengejutkan lagi adalah sikap keluarga mereka.
Ibu Raka mengobrol dengan gadis itu dengan penuh kasih.
Ayah Raka terus melayaninya.
Bahkan beberapa kerabat memanggilnya “anak yang baik”.
Sedangkan aku…
Calon menantu yang sebenarnya…
Justru terlihat seperti orang asing.
Baru saja makan malam dimulai.
Ketika gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak beludru dari tasnya.
Dan meletakkannya di atas meja.
“Ini semua salahku.”
katanya sambil menundukkan kepala.
“Aku seharusnya tidak membiarkan Kakak salah paham.”
Kemudian ia membuka kotak itu.
Sebuah cincin berlian berada di dalamnya.
Aku langsung mengenalinya.
Itu cincin pertunanganku.
Seluruh meja mendadak sunyi.
Darahku seakan membeku.
Gadis itu tersenyum lembut.
“Raka hanya menitipkannya padaku karena takut hilang.”
“Dan aku pikir…”
“Lebih baik benda ini dikembalikan kepada pemilik yang sebenarnya.”
Aku menoleh ke arah Raka.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Aku melihat ekspresinya berubah.
Karena…
Tiga bulan yang lalu, aku diam-diam mengukir pesan khusus di bagian dalam cincin itu.
Pesan yang hanya aku ketahui.
Namun ketika cahaya mengenai bagian dalam cincin itu…
Aku melihat ukiran yang berbeda.
Pesanku sudah hilang.
Diganti dengan nama wanita yang duduk di samping Raka.
Aku perlahan mengangkat kepala.
Tak seorang pun menyadarinya.
Kecuali Raka.
Wajahnya langsung pucat.
Dan aku…
Diam-diam mengeluarkan ponselku.
Lalu membuka foto yang baru saja dikirim oleh nomor tak dikenal lima menit sebelumnya.
Di dalam foto itu.
Raka sedang berlutut dengan satu kaki.
Di hadapannya…
wanita yang sama.
Dan tanggal foto itu…
baru tiga hari yang lalu.
Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Wajah Raka langsung memucat.
Tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar.
Sedangkan aku hanya tersenyum pelan.
“Kenapa diam?” tanyaku tenang.
“Bukankah kalian ingin menjelaskan semuanya malam ini?”
Seluruh meja terdiam.
Wanita di sampingnya, Clara Hartono, masih memasang wajah polos.
Namun saat matanya melihat foto di ponselku, senyum di wajahnya langsung membeku.
Raka buru-buru berdiri.
“Nadira, dengarkan aku dulu—”
“Menjelaskan apa?” tanyaku pelan.
“Bahwa kalian baru bertunangan tiga hari lalu?”
Atau…
“Bahwa cincin pertunanganku sudah diukir ulang dengan nama wanita lain?”
Suasana langsung menjadi kacau.
Ibu Raka berdiri dengan wajah tidak percaya.
“Apa maksudnya ini?”
Ayahnya juga terkejut.
“Raka, bukankah kau bilang Nadira hanya salah paham?”
Raka membuka mulut.
Namun tidak ada kata-kata yang keluar.
Karena bukti yang ada di depannya terlalu jelas.
Dan saat itulah…
Clara tiba-tiba tertawa kecil.
Semua orang menoleh padanya.
“Aku capek berpura-pura.”
katanya sambil tersenyum.
“Lagipula cepat atau lambat kalian juga akan tahu.”
Dia kemudian memegang tangan Raka.
“Dari awal dia memang memilihku.”
“Tidak ada yang merebut siapa pun.”
“Kalian hanya terlambat mengetahui kebenarannya.”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di wajah Clara.
Bukan dariku.
Melainkan dari ibu Raka.
Wanita itu gemetar.
“Berani sekali kamu menghancurkan keluarga kami!”
Namun Clara malah tersenyum sinis.
“Menghancurkan?”
“Saya?”
“Bukankah putra Ibu sendiri yang datang kepada saya?”
Seluruh wajah keluarga Wijaya langsung berubah pucat.
Aku berdiri.
Mengambil cincin itu.
Dan meletakkannya kembali ke depan mereka.
“Tidak perlu dikembalikan.”
“Karena itu sudah bukan milikku lagi.”
Raka langsung memegang tanganku.
“Nadira!”
“Maafkan aku.”
“Aku hanya bingung.”
“Aku tidak ingin kehilanganmu.”
Air mata memenuhi matanya.
Namun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Aku tidak lagi merasa sakit.
Aku perlahan melepaskan tangannya.
“Raka.”
“Kamu tidak kehilangan aku.”
“Kamu yang melepaskanku.”
Malam itu, aku keluar dari restoran sendirian.
Hujan turun perlahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak enam bulan menunggunya…
aku menangis.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena aku merasa bodoh.
Bodoh karena terlalu percaya.
Bodoh karena terus menunggu seseorang yang diam-diam sudah meninggalkanku.
Saat itulah sebuah payung berhenti di atas kepalaku.
“Aku sudah menduga kau akan menangis.”
Aku terkejut.
Pria itu tersenyum lembut.
Dokter Adrian Mahendra.
Sahabatku sejak SMA.
Dan orang yang diam-diam mengirim foto pertunangan Raka tadi.
“Kamu?” tanyaku.
Adrian mengangguk.
“Aku tidak sanggup melihatmu dibohongi lebih lama.”
“Lalu kenapa baru sekarang?”
Ia tertawa pelan.
“Karena aku tahu.”
“Kalau aku memberitahumu lebih cepat, kamu tidak akan percaya.”
Enam bulan kemudian.
Aku membuka toko bunga kecil impianku di Bandung.
Hidupku perlahan kembali tenang.
Sedangkan kabar tentang Raka sampai juga ke telingaku.
Setelah skandal itu, Clara ternyata meninggalkannya demi pria lain yang lebih kaya.
Pertunangan mereka batal.
Perusahaannya mengalami masalah.
Dan hubungan keluarganya hancur.
Suatu sore.
Raka datang ke toko bungaku.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus.
“Nadira.”
“Aku salah.”
“Aku baru sadar… tidak ada orang yang mencintaiku sepertimu.”
Air matanya jatuh.
“Bisakah kita mulai lagi?”
Aku memandang pria yang dulu sangat kucintai.
Pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Lalu aku tersenyum.
Namun kali ini…
hatiku sudah tenang.
“Ada satu hal yang salah dari ucapanmu.”
Raka menatapku penuh harapan.
Aku tersenyum pelan.
“Bukan tidak ada yang mencintaimu seperti aku.”
“Hanya saja…”
“Orang yang mencintaimu seperti aku, sudah tidak ada lagi.”
Wajahnya langsung membeku.
Dan untuk pertama kalinya…
aku melihat penyesalan yang sesungguhnya.
Malam itu.
Setelah toko tutup.
Aku melihat seseorang berdiri di depan pintu sambil memegang buket bunga matahari.
Dokter Adrian tersenyum canggung.
“Maaf.”
“Aku dengar ada mantan yang datang.”
“Aku takut kamu sedih.”
Aku tertawa.
“Dan kalau aku sedih?”
Dia menggaruk kepalanya.
“Kalau begitu… aku akan menemanimu sampai kamu tidak sedih lagi.”
Aku menatap pria yang selama bertahun-tahun selalu berada di sampingku.
Pria yang tidak pernah memintaku menunggu.
Pria yang tidak pernah membuatku meragukan diriku sendiri.
Dan saat itulah aku akhirnya mengerti…
Cinta yang benar tidak membuat seseorang terus bertanya-tanya apakah dirinya cukup berharga.
Karena orang yang benar…
tidak akan membuatmu bersaing dengan orang lain.
Dia hanya akan menggenggam tanganmu…
dan memastikan bahwa kamu tidak pernah merasa sendirian.
Setahun kemudian.
Di taman bunga yang dulu hanya ada dalam mimpiku…
aku mengenakan gaun putih.
Dan pria yang berdiri di depanku…
bukanlah orang yang pernah membuatku menangis.
Melainkan orang yang diam-diam selalu menunggu.
Dengan mata yang memerah, Adrian menyelipkan cincin ke jariku.
Dan sambil tersenyum, dia berbisik,
“Akhirnya… sekarang aku bisa mengatakan ini tanpa rasa bersalah.”
“Aku mencintaimu sejak usia tujuh belas tahun, Nadira.”
Air mataku jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena kehilangan.
Melainkan karena aku akhirnya bertemu dengan seseorang…
yang memilihku tanpa ragu.
TAMAT.