SELAMA TIGA TAHUN, AKU PERCAYA SUAMIKU SETIA.

Sampai aku mengetahui bahwa diam-diam dia terus menafkahi mantan kekasihnya.

Dan pada malam itu, aku memutuskan untuk membongkar semuanya…

Suamiku, Raka Mahendra, adalah kapten kapal kargo internasional.

Setiap kali kapalnya berlayar, dia selalu mengatakan bahwa sinyal di tengah laut sangat buruk.

Kadang-kadang, butuh waktu seminggu baginya untuk membalas pesanku.

Selama tiga tahun, aku mempercayainya.

Sampai suatu hari, aku melihat akun media sosial mantan kekasihnya, Vanessa Wijaya.

Dia mengunggah video berdurasi hampir satu jam.

Dalam video itu, dia sedang melakukan panggilan video dengan suamiku.

Di belakang Raka terlihat ruang kendali kapal yang terang dan hamparan lautan malam yang tak berujung.

Aku langsung memperhatikan senyum di wajahnya.

Senyum yang sudah lama tidak pernah kuterima.

Aku membuka unggahan-unggahan lainnya.

Hanya dalam satu bulan…

Ada dua puluh delapan panggilan video.

Yang paling singkat empat puluh menit.

Yang paling lama hampir tiga jam.

Sementara percakapan kami hanya berisi pesan-pesan pendek.

“Sedang sibuk di kapal.”

“Ada rapat.”

“Tidurlah.”

Bahkan ketika aku mengirim ucapan ulang tahunnya, dia baru membalas dua belas hari kemudian.

“Maaf, baru lihat.”

Sejak saat itu, aku berhenti menunggu.

Aku tidak lagi begadang hanya untuk melihat apakah dia sedang online.

Aku tidak lagi mengirim foto masakan yang kubuat.

Aku juga berhenti bercerita tentang kucing peliharaan kami.

Pesan-pesanku semakin pendek.

Dari:

“Aku sangat merindukanmu.”

Menjadi:

“Jaga kesehatan.”

Lalu:

“Semoga Tuhan memberkatimu.”

Sampai akhirnya…

Tidak ada lagi.


Tiga hari sebelum sidang mediasi perceraian kami, dia tiba-tiba pulang.

Dia masuk ke rumah sambil menarik kopernya.

“Lia, kenapa beberapa bulan terakhir kamu sudah tidak pernah mengirim pesan?”

Aku duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen.

Aku hanya memandangnya.

“Berapa lama kamu akan tinggal?”

Dia sedikit tertegun.

“Satu minggu.”

Aku mengangguk.

“Begitu.”

Rumah itu langsung terasa dingin.

Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kopernya.

“Ini untukmu.”

“Aku membelinya dari sebuah pulau tempat kapal kami singgah.”

Aku membuka kotaknya.

Sebuah gantungan kunci kerang sederhana.

Bahkan stiker diskonnya masih menempel.

Pada saat yang sama, ponselku berbunyi.

Unggahan baru dari Vanessa.

Dia mengenakan kalung mutiara hitam yang sangat mahal.

Dengan tulisan:

“Masih ada orang yang tahu apa yang membuatku bahagia.”

Aku menunjukkan foto itu kepada Raka.

Dia melirik sebentar.

“Itu hanya barang sponsor untuk proyek dokumenternya.”

“Jangan berpikir macam-macam.”

Aku tersenyum.

“Tidak.”


Keesokan harinya, dia mengajakku menghadiri pesta perusahaan pelayaran tempatnya bekerja.

“Banyak eksekutif yang datang.”

“Berdandanlah yang cantik.”

Aku setuju.

Karena aku tahu…

Itu akan menjadi malam terakhir aku berpura-pura menjadi istrinya.

Acara itu diadakan di sebuah resor mewah di Bali.

Saat aku memasuki aula, semua orang sudah berada di sana.

Raka berdiri di tengah.

Dan di sampingnya…

Vanessa.

Namun yang paling menarik perhatianku adalah jaket yang dikenakannya.

Itu adalah jaket milik Raka yang dulu pernah ingin kupinjam.

Saat itu dia menolak.

Katanya, hanya karyawan perusahaan yang boleh memakainya.

Namun sekarang…

Vanessa memakainya seolah-olah dia adalah bagian istimewa dari dunia mereka.

Aku ditempatkan di meja samping.

Dan candaan rekan-rekan mereka mulai terdengar.

“Semua orang tahu kalau pasangan terbaik adalah Raka dan Vanessa.”

“Tim mereka tidak akan terkenal tanpa liputan media dari Vanessa.”

“Bahkan saat berada di tengah laut, Raka selalu menjawab panggilan Vanessa.”

Semua orang tertawa.

Dan Raka…

Tidak menyangkalnya.

Dia hanya diam sambil minum.

Dan keheningan itu lebih menyakitkan daripada penjelasan apa pun.

Saat makan malam berlangsung, dia terus mengambilkan makanan untuk Vanessa.

Mengganti minuman dinginnya dengan teh hangat.

Mengingatkannya minum obat.

Hal-hal yang dulu hanya dia lakukan untukku.

Beberapa saat kemudian, Vanessa datang sambil membawa segelas minuman.

“Lia, semoga kamu tidak salah paham.”

“Raka hanya khawatir karena aku tinggal sendirian.”

Aku menatapnya.

“Sampai harus melakukan panggilan video setiap hari?”

Senyumnya langsung membeku.

Seluruh meja menjadi sunyi.

Raka membanting gelasnya.

“Lia!”

“Haruskah kamu melakukan ini di sini?”

Dengan tenang, aku mengeluarkan ponselku.

Lalu memutar sebuah video.

Di dalam video itu…

Tengah malam.

Vanessa sedang menangis.

Dan Raka dengan lembut menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.

Seluruh ruangan langsung membisu.

Wajah Raka memucat.

Mata Vanessa memerah.

“Aku sedang mengalami krisis emosional.”

“Dia hanya membantuku.”

Salah seorang manajer senior berdiri.

“Itu masalah pribadi kalian.”

“Bahas saja di rumah.”

Aku tersenyum.

“Kamu benar.”

“Lagipula sudah waktunya mengakhiri semuanya.”

Lalu aku mengeluarkan sebuah map tebal.

Dan meletakkannya di tengah meja.

Semua orang memandangnya.

Raka mengernyit.

“Apa itu?”

Aku mendorongnya ke arahnya.

“Buka.”

Ketika dia membuka halaman pertama…

Warna wajahnya langsung menghilang.

Karena itu bukan surat perceraian.

Melainkan catatan keuangan.

Seluruh uang yang diam-diam dia kirimkan kepada Vanessa selama tiga tahun terakhir.

Namun…

Dokumen yang paling mengerikan berada di halaman terakhir.

Aku menatapnya langsung.

“Tahukah kamu?”

“Kemarin pengacaraku berhasil menemukan pria itu.”

Tangannya langsung gemetar.

“Pria apa?”

Aku mengeluarkan sebuah foto.

Saat Vanessa melihatnya…

Wajahnya langsung pucat.

Gelas di tangannya terlepas.

PRANG!

Semua orang terkejut.

Aku tersenyum.

“Pria yang selama empat tahun kamu sembunyikan.”

“Dan ayah kandung sebenarnya dari anak yang memanggil Raka dengan sebutan ‘Papa’.”

Dan pada saat itu…

Seluruh aula tenggelam dalam keheningan…

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Seluruh aula membeku.

Tak seorang pun berani berbicara.

Gelas yang terjatuh dari tangan Vanessa masih berguling di lantai, tetapi tidak ada yang memperhatikannya.

Wajah Raka benar-benar kehilangan warna.

“V-Vanessa… apa yang dia maksud?” suaranya bergetar.

Vanessa langsung berdiri.

“Itu bohong!”

“Dia memfitnahku!”

Namun aku hanya tersenyum tenang.

“Lalu kenapa kamu begitu ketakutan?”

Aku meletakkan beberapa foto lagi di atas meja.

Foto seorang pria bernama Andre Santoso.

Foto dirinya bersama Vanessa empat tahun lalu.

Foto dirinya menggendong seorang bayi yang baru lahir.

Dan yang terakhir…

Hasil tes DNA.

Ayah kandung anak itu adalah Andre Santoso.

Bukan Raka.

Seluruh ruangan langsung gempar.

“Astaga…”

“Selama ini?”

“Dia membiarkan Kapten Raka membiayai mereka?”

Ibu Raka hampir pingsan.

Ayahnya berdiri dengan marah.

“Vanessa!”

“Beraninya kamu!”

Namun yang paling terpukul adalah Raka.

Dia menatap Vanessa dengan mata merah.

“Selama empat tahun…”

“Anak itu bukan anakku?”

Vanessa menangis.

“Aku hanya takut kehilanganmu!”

“Aku mencintaimu!”

Raka tertawa.

Tawa yang penuh kepahitan.

“Mencintaiku?”

“Orang yang mencintaiku tidak akan menjadikanku bahan tertawaan.”


Tiba-tiba seseorang masuk ke aula.

Seorang pria tinggi dengan wajah pucat.

Andre Santoso.

Begitu melihatnya, Vanessa langsung gemetar.

“Andre…?”

Pria itu menatap putranya yang sedang digendong pengasuh.

Air matanya jatuh.

“Aku sudah mencarimu selama empat tahun.”

“Aku bahkan tidak tahu bahwa aku punya seorang anak.”

Semua orang terdiam.

Andre lalu memandang Raka.

Dan membungkukkan tubuhnya.

“Maaf.”

“Karena aku, hidupmu hancur.”

Raka memejamkan mata.

Namun air matanya tetap mengalir.

Empat tahun.

Empat tahun kasih sayang.

Empat tahun uang yang dikirim setiap bulan.

Empat tahun rasa bersalah karena mengira dirinya adalah ayah yang gagal.

Ternyata…

Semuanya hanyalah kebohongan.


Dan saat itulah…

Raka tiba-tiba berlutut di hadapanku.

“Lia.”

“Maafkan aku.”

“Aku salah.”

“Aku mengabaikanmu.”

“Aku mengabaikan rumah kita.”

“Aku bahkan tidak pernah sadar bahwa orang yang paling pantas kucintai… selalu menungguku.”

Seluruh aula terdiam.

Namun aku hanya menatap pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.

Lalu tersenyum pelan.

“Raka.”

“Aku tidak membencimu.”

“Karena kebencian pun membutuhkan cinta.”

“Dan aku sudah tidak memilikinya lagi.”

Air matanya jatuh semakin deras.

“Tolong beri aku kesempatan.”

“Sekali saja.”

Aku perlahan mengeluarkan sebuah map biru dari tas.

Dan meletakkannya di depannya.

Surat perceraian.

Yang telah kutandatangani sejak tiga bulan lalu.

“Kesempatan terakhirku…”

“Sudah habis sejak hari ulang tahunku.”

“Hari ketika aku menunggumu sampai tertidur.”

“Dan ternyata…”

“Kamu sedang menyanyikan lagu ulang tahun untuk wanita lain.”


Setahun kemudian.

Aku membuka sebuah kafe kecil di Bandung.

Hidupku tenang.

Aku tak lagi menunggu pesan dari tengah laut.

Tak lagi begadang sendirian.

Tak lagi menangis karena seseorang yang bahkan tak sempat menjawab teleponku.

Suatu sore, saat hujan turun pelan, seorang pelanggan tetap masuk ke kafe.

Dokter Adrian Pratama.

Tetangga masa kecilku.

Pria yang diam-diam selalu membantu ibuku ketika aku sendirian.

Pria yang tak pernah sekalipun membuatku merasa menjadi pilihan kedua.

Ia tersenyum sambil meletakkan payungnya.

“Hujan lagi.”

Aku tersenyum.

“Iya.”

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kecil.

Wajahnya sedikit merah.

“Aku sudah menunggu sepuluh tahun.”

“Kalau aku menunggu lebih lama lagi, mungkin aku akan kalah dengan orang lain.”

Aku tertawa.

“Dokter, sejak kapan Anda pandai bercanda?”

Adrian ikut tertawa.

“Sejak aku jatuh cinta pada pemilik kafe yang keras kepala ini.”

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku tidak lagi menangis.

Karena akhirnya aku mengerti.

Kesetiaan tidak diukur dari seberapa lama kita menunggu seseorang.

Tetapi dari siapa yang, dalam segala keadaan, tetap memilih untuk pulang kepada kita.

Dan cinta yang benar…

Tidak pernah membuat seseorang merasa sendirian dalam pernikahannya sendiri.

TAMAT.