AKU DULU MENGIRA IBUKU TELAH MENGHANCURKAN KEBAHAGIAANKU, SAMPAI SEBUAH PESAN SAAT REUNI MEMBUAT SELURUH DUNIAKU BERGUNCANG

Mantan pacarku dulu adalah pria yang membuat seluruh lingkungan kami iri.

Masih muda, sukses, pemilik perusahaan besar, dan menghasilkan lebih dari 8 miliar rupiah per tahun.

Sedangkan pria yang dipilih ibuku untukku hanyalah seorang karyawan biasa.

Penghasilannya bahkan tidak sampai sepertiga dari penghasilan mantan pacarku.

Saat Ibu memaksaku untuk putus dengannya, aku menangis sampai pingsan.

Saat itu, aku mengira beliau telah menghancurkan seluruh hidupku.

Namun lima tahun kemudian…

Aku baru mengetahui bahwa ternyata dialah yang menyelamatkanku dari neraka.


“Aku tidak akan pernah setuju.”

Dengan keras, Ibu Ratna membanting sebuah map ke atas meja.

Foto-foto di dalamnya berhamburan ke lantai.

Aku memungutnya satu per satu.

Semuanya adalah foto diriku bersama Marco Wijaya.

Ada foto saat dia menjemputku pulang kerja.

Ada foto saat kami berbelanja bersama.

Ada foto saat dia menjaga Ibu di rumah sakit ketika beliau dirawat.

“Apa sebenarnya kesalahannya?”

Aku tidak mengerti.

“Bahkan dia memperlakukan Ibu lebih baik daripada orang lain.”

Ibu menatapku.

Tatapannya sangat dingin.

“Apa kamu benar-benar tahu tentang keluarganya?”

“Semua yang perlu aku ketahui.”

“Semuanya?”

Beliau tersenyum.

Senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

“Apakah kamu tahu di mana orang tuanya?”

Aku terdiam.

Sejujurnya, tidak.

Marco selalu mengatakan bahwa keluarganya tinggal di daerah pedesaan.

Katanya mereka tidak suka tampil di depan umum.

Aku tidak pernah meragukannya.

Bagiku itu wajar untuk seorang pengusaha sukses.

Namun Ibu menggeleng.

“Kamu tidak tahu apa pun.”

“Yang kamu lihat hanya apa yang dia ingin tunjukkan.”

“Apa maksud Ibu?”

“Mulai hari ini, akhiri hubungan kalian.”

“Kenapa?”

“Aku tidak berkewajiban menjelaskan.”

Aku menangis.

“Aku mencintainya.”

“Cinta saja tidak cukup untuk menjalani hidup.”

“Tapi dia punya uang.”

“Aku sudah membuat keputusan.”

Beliau berdiri.

“Kalau kamu masih menemuinya lagi, jangan panggil aku Ibu.”


Aku mengira itu hanya ancaman.

Sampai keesokan harinya.

Diam-diam aku menemui Marco.

Dia memelukku erat.

Katanya dia akan datang ke rumah untuk meminta restu dengan baik.

Dia akan membuktikan kepada Ibuku bahwa dirinya serius.

Aku mempercayainya.

Namun saat pulang…

Aku melihat Ibu duduk di ruang tamu.

Di atas meja ada botol pil tidur yang terbuka.

Dan sebuah surat di sampingnya.

Tanganku gemetar.

“Ibu sudah gila?”

“Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu.”

Beliau menatapku.

Untuk pertama kalinya, aku melihat air mata di wajahnya.

“Aku lebih rela kamu membenciku daripada melihat hidupmu hancur.”

Malam itu juga…

Aku menyerah.

Aku memblokir Marco dari semua kontak.

Tiga bulan kemudian…

Aku bertemu pria yang diperkenalkan Ibu.

Namanya Daniel Pratama.

Seorang karyawan biasa.

Tidak kaya.

Tidak terkenal.

Tidak pandai merayu.

Bahkan saat pertemuan pertama, dia menumpahkan kopi ke bajunya sendiri.

Saat itu aku mengira hidupku sudah berakhir.


Lima tahun berlalu.

Aku dan Daniel telah memiliki seorang putri berusia empat tahun.

Hidup kami tidak mewah.

Tetapi damai.

Dia tidak pernah mengecewakanku.

Aku tahu dia mencintaiku.

Namun ada satu pertanyaan yang tidak pernah hilang dari pikiranku.

Kenapa Ibu begitu membenci Marco dulu?


Saat reuni angkatan.

Awalnya aku tidak ingin datang.

Sampai aku melihat nama Marco Wijaya di daftar tamu.

Kudengar bisnisnya semakin besar.

Dia memiliki vila mewah di tepi pantai.

Dan katanya dia masih belum menikah.

Aku menatap namanya lama.

Dan akhirnya…

Aku memutuskan untuk datang.

Mungkin untuk benar-benar mengakhiri masa lalu.


Saat memasuki ballroom…

Seluruh ruangan dipenuhi cahaya, tawa, dan obrolan.

Beberapa teman langsung mengenaliku.

“Kamu dengar Marco datang?”

“Aku melihatnya di berita minggu lalu.”

“Sekarang dia pengusaha terkenal.”

Setiap kata seperti pisau yang menusuk dadaku.

Aku memaksakan senyum.

Tetapi telapak tanganku mulai berkeringat.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Dan dia masuk.

Marco Wijaya.

Wajahnya masih sama.

Matanya masih sama.

Namun auranya sudah berbeda.

Seluruh ruangan terdiam.

Dan di sampingnya…

Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun.

Wajahnya sangat mirip dengannya.

Semua orang heboh.

“Ya Tuhan!”

“Marco punya anak?”

“Kukira dia belum menikah!”

Aku juga tertegun.

Namun yang paling mengguncangku…

Saat aku melihat wajah anak itu dengan lebih jelas.

Aku seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.

Sangat familiar.

Begitu familiar hingga darahku seolah membeku.

Pada saat itulah…

Ponselku bergetar.

Pesan dari Ibu.

Hanya satu kalimat:

“Nak, kalau kamu sudah melihat anak itu, pulanglah sekarang. Ibu akan menceritakan kebenaran tentang apa yang terjadi lima tahun lalu.”

Aku bahkan belum sempat membalas…

Ketika seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun berlari masuk ke dalam ballroom.

Rambutnya berantakan.

Wajahnya penuh air mata.

Dia menunjuk ke arah Marco dan berteriak:

“Dasar bajingan!”

“Sampai kapan kamu mau menyembunyikan kebenaran?”

“Anak itu bukan anak kandungmu!”

Seluruh ballroom langsung sunyi.

Gelas di tanganku terlepas.

Jatuh ke lantai.

Dan pecah.

Dan Marco…

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…

Wajahnya berubah pucat.

Bagian selanjutnya dari cerita ada di kolom komentar. Pilih SEMUA KOMENTAR untuk membaca keseluruhan cerita… Semoga harimu menyenangkan! 👇

Seluruh ballroom tenggelam dalam keheningan.

Marco Wijaya berdiri membeku.

Sedangkan wanita yang baru masuk itu menangis sambil menunjuk ke arahnya.

“Berapa lama lagi kamu ingin berbohong kepada semua orang?”

“Anak itu bukan anak kandungmu!”

Semua orang tercengang.

Dan gadis kecil yang berdiri di samping Marco mulai ketakutan.

Marco langsung memeluknya.

“Cukup!”

“Jangan melibatkan anak itu!”

Namun wanita itu tertawa pahit.

“Melibatkan?”

“Kamulah yang menghancurkan hidupku!”

“Aku sudah diam selama lima tahun!”

“Aku tidak tahan lagi melihatmu hidup seperti orang suci!”

Aku berdiri terpaku.

Dan saat itulah ponselku kembali bergetar.

Pesan kedua dari Ibu.

“Nak, pulanglah. Sekarang juga.”


Setengah jam kemudian.

Aku duduk di ruang tamu rumah orang tuaku.

Ibu Ratna sudah menungguku.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun…

Aku melihat wajahnya yang begitu lelah.

Beliau menarik napas panjang.

“Lima tahun lalu… aku diam-diam menyelidiki Marco.”

Aku membeku.

“Apa?”

Ibu menundukkan kepala.

“Aku pernah melihatnya masuk ke sebuah rumah sakit jiwa.”

“Aku pikir dia sakit.”

“Tapi ternyata…”

Beliau mengeluarkan beberapa dokumen tua.

“Yang dirawat bukan Marco.”

“Melainkan ibunya.”

Aku mengerutkan kening.

“Itu bukan alasan untuk memisahkan kami.”

Air mata Ibu mulai jatuh.

“Kalau hanya itu, Ibu tidak akan melakukannya.”

Beliau mengeluarkan sebuah foto.

Begitu melihatnya…

Seluruh tubuhku langsung gemetar.

Karena wanita yang masuk ke ballroom tadi…

adalah wanita yang sama.

“Namanya Maya Santoso.”

“Dia adalah mantan istri Marco.”

Aku tertegun.

“Mantan… istri?”

Ibu mengangguk.

“Mereka sudah menikah secara siri saat masih kuliah.”

“Dan wanita itu sedang hamil.”

“Tetapi Marco meninggalkannya.”

“Demi mengejar bisnisnya.”

Aku langsung pucat.

“Tidak mungkin…”

Ibu menangis.

“Itu sebabnya aku memisahkan kalian.”

“Aku tidak ingin anakku mengalami nasib yang sama.”

“Aku rela kau membenciku… asal kau selamat.”

Dan untuk pertama kalinya…

aku mengerti mengapa malam itu Ibu menangis di hadapanku.

Beliau tidak menghancurkan hidupku.

Beliau sedang melindungiku.


Seminggu kemudian.

Berita tentang Marco menjadi viral.

Semua orang mengetahui masa lalunya.

Bisnisnya mulai runtuh.

Para investor menarik diri.

Dan di tengah kekacauan itu…

Marco datang ke rumahku.

Tubuhnya jauh lebih kurus.

Matanya merah.

“Rina…”

“Aku ingin menjelaskan.”

Namun sebelum dia sempat berbicara…

Daniel keluar dari rumah sambil menggendong putri kami.

Putriku yang berusia empat tahun langsung berlari ke arahku.

“Mama!”

Daniel tersenyum lembut.

“Makan malam sudah siap.”

Sederhana.

Tidak romantis.

Tidak mewah.

Tetapi hangat.

Dan saat melihat pemandangan itu…

Marco tiba-tiba menundukkan kepala.

Air matanya jatuh.

“Aku kalah…”

katanya lirih.

“Aku punya uang.”

“Aku punya perusahaan.”

“Tapi ternyata…”

“Aku tidak pernah memiliki rumah.”

Aku memandang pria yang dulu sangat kucintai.

Pria yang pernah membuatku membenci ibuku sendiri.

Dan aku hanya tersenyum.

“Marco.”

“Dulu aku berpikir ibuku telah menghancurkan kebahagiaanku.”

“Tetapi sekarang aku tahu…”

“Beliau menyelamatkanku.”

“Dan orang yang benar-benar mencintaiku…”

Aku menoleh kepada Daniel.

Pria itu sedang berjongkok, mengikat tali sepatu putri kami yang terlepas.

“…bukan pria yang membuat seluruh dunia iri.”

“Melainkan pria yang setiap hari membuatku merasa tenang.”

Marco menangis.

Dan untuk pertama kalinya…

aku tidak merasakan penyesalan.


Malam itu, aku masuk ke kamar ibuku.

Beliau sudah tertidur di kursi sambil memegang album foto masa kecilku.

Rambutnya kini dipenuhi uban.

Tangannya sudah mulai keriput.

Aku perlahan menyelimuti beliau.

Dan air mataku jatuh.

Dengan suara pelan, aku berbisik:

“Maafkan aku, Bu…”

“Selama lima tahun… aku mengira Ibu adalah orang yang menghancurkan hidupku.”

“Padahal…”

“Ibulah yang menyelamatkanku.”

Beliau perlahan membuka mata.

Dan sambil tersenyum, beliau membelai rambutku seperti saat aku masih kecil.

“Selama kamu bahagia…”

“Ibu rela dibenci seumur hidup.”

Aku langsung memeluknya dan menangis.

Karena saat itu aku akhirnya mengerti…

Tidak semua orang yang melarang kita adalah musuh.

Dan tidak semua orang yang membuat kita bahagia…

akan membawa kita menuju kebahagiaan.

Kadang-kadang…

orang yang paling mencintai kita…

adalah orang yang rela dianggap jahat…

demi melindungi kita.

TAMAT.