AKU MEMERGOKI SUAMIKU DAN SAHABAT TERBAIKKU SEDANG BERCIUMAN DI SEBUAH DINNER PARTY. TAPI SAAT AKU MENYADARI APA YANG DIPAKAI SAHABATKU, DI SITULAH BALAS DENDAM MANISKU DIMULAI.
Penemuan di Tengah Kegelapan
Grand Ballroom hotel itu dipenuhi para pebisnis ternama kota. Sebuah pesta makan malam mewah yang diadakan oleh perusahaan kami. Namaku Clara, dan suamiku, Marco, adalah CEO perusahaan saat ini.
Aku mengambil segelas champagne dan memutuskan keluar sebentar ke balkon untuk mencari udara segar. Tempat itu tenang dan agak gelap.
Tapi sebelum kakiku benar-benar melangkah keluar, aku langsung terdiam.
Di sudut yang remang-remang, aku melihat dua bayangan. Seorang pria dan seorang wanita. Mereka berciuman penuh gairah, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Saat cahaya dari jendela menyinari wajah mereka, seluruh tubuhku membeku.
Pria itu adalah Marco, suamiku.
Dan wanita itu… Nina, sahabat terbaikku sejak kuliah.
Aku ingin berteriak. Ingin melempar gelas champagne yang kugenggam. Tapi sebelum aku sempat melakukannya, ada satu detail yang menarik perhatianku. Detail yang membuat hatiku jauh lebih hancur daripada ciuman mereka.
Saat blazer Nina terjatuh sedikit dari bahunya, aku melihat pakaian dalam yang dia kenakan—sebuah camisole sutra renda hitam.
Itu bukan pakaian biasa.
Itu adalah camisole custom-made yang kubeli di Paris, lengkap dengan bordir inisial “C.M.” di bagian bawahnya.
Artinya, mereka bukan hanya berciuman di sini. Nina sudah masuk ke rumahku, ke kamarku sendiri, bahkan memakai barang pribadiku. Seperti parasit yang perlahan mencuri bukan hanya suamiku, tapi juga seluruh hidupku.
Semua air mataku seakan mati saat itu juga. Kesedihan berubah menjadi kemarahan dingin yang membekukan.
Aku melangkah mundur, diam-diam kembali ke ballroom, lalu merapikan ekspresiku. Aku tidak akan membuat skandal malam ini.
Aku punya rencana yang jauh lebih indah.
Menyiapkan Panggung
Aku menghampiri asisten pribadiku, Sarah.
“Sarah,” bisikku pelan. “Hubungi kepala IT sekarang. Ganti slideshow presentasi yang akan diputar nanti saat toast dimulai. Aku akan kirim folder dari ponselku. Lakukan sekarang juga.”
Setelah itu, aku mendekati pengacara keluarga kami yang kebetulan hadir di pesta.

Aku memintanya menyiapkan semua dokumen untuk besok pagi.
Karena akulah pemegang saham mayoritas perusahaan—seluruh kekayaan berasal dari keluargaku, Marco hanya bergabung lewat merger—aku punya kekuasaan penuh untuk memecatnya kapan saja jika dia melanggar klausul moral dalam kontrak kami.
BAB 3: Pertunjukan yang Sesungguhnya
Waktu yang kunantikan akhirnya tiba. Pembawa acara naik ke atas panggung utama, memegang mikrofon dengan senyum profesionalnya yang merekah.
“Hadirin sekalian, mari kita sambut CEO kita, Bapak Marco, untuk memberikan kata sambutan sekaligus meluncurkan video proyek global terbaru kita malam ini!” seru pembawa acara yang disambut tepuk tangan riuh dari ratusan investor dan mitra bisnis yang hadir.
Marco berdiri dengan angkuh, membetulkan letak dasinya, lalu melangkah ke atas panggung. Dari sudut ruangan, aku melihat Nina juga berdiri di dekat bar, menatap Marco dengan binar mata penuh kemenangan, seolah dia sedang melihat masa depannya yang bergelimang harta.
“Terima kasih semuanya,” suara bariton Marco menggema di dalam ballroom. “Kesuksesan proyek ini adalah bukti dari kerja keras dan integritas tinggi yang selalu kami jaga…”
Saat Marco terus berbicara, Sarah—asisten pribadiku—memberikan kode jempol dari balik bilik operator IT. Aku tersenyum tipis, mengangkat gelas champagne-ku tinggi-tinggi sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk suamiku.
Lampu di dalam ballroom mendadak redup. Layar proyektor raksasa di belakang Marco mulai menyala.
Namun, yang muncul di layar bukanlah grafik pertumbuhan saham atau video animasi gedung perkantoran baru.
Layar itu menampilkan serangkaian foto beresolusi tinggi dengan pencahayaan yang sangat jelas. Foto pertama: Marco dan Nina sedang berpelukan mesra di dalam mobil mewah yang kubeli. Foto kedua: Tangkapan layar obrolan intim mereka yang merencanakan bagaimana cara menyingkirkanku dari perusahaan.
Dan foto puncaknya: Foto yang baru saja kuambil dari balik pintu balkon beberapa menit yang lalu—menampilkan Marco dan Nina yang sedang berciuman panas, dengan fokus tajam pada pakaian dalam sutra renda hitam milikku yang dikenakan Nina, lengkap dengan bordir inisial “C.M.” yang terlihat sangat jelas.
BAB 4: Kehancuran Sang Parasit
Bisik-bisik massal langsung meledak di dalam ballroom. Ratusan pengusaha ternama, investor asing, dan jurnalis media bisnis langsung mengeluarkan ponsel mereka, memotret layar raksasa yang memajang aib sang CEO.
“A-apa ini?! Operator! Matikan layarnya! Sekarang!” teriak Marco histeris di atas panggung. Wajahnya yang semula tampan kini memerah padam, tubuhnya gemetar hebat menatap foto-fotonya sendiri.
Nina yang berada di dekat bar langsung menjerit histris, mencoba menutupi wajahnya dengan tas tangan saat puluhan kamera beralih menyorot dirinya.
Aku melangkah maju dengan anggun, memecah kerumunan tamu yang langsung memberikan jalan untukku. Aku naik ke atas panggung, merebut mikrofon dari tangan Marco yang sudah lemas.
“Selamat malam, para pemegang saham dan mitra terhormat,” ucapku dengan suara yang tenang, tegas, dan penuh wibawa. “Sebagai pemegang saham mayoritas tunggal dari perusahaan ini, saya mengumumkan bahwa per detik ini, Bapak Marco dipecat secara tidak hormat dari jabatannya sebagai CEO karena pelanggaran berat terhadap klausul moral kontrak perusahaan.”
“Clara! Tolong, jangan lakukan ini! Kita bisa bicarakan ini di rumah!” ratap Marco, berlutut di depanku di atas panggung, melupakan semua harga dirinya di depan rekan bisnisnya.
Aku menatapnya dari atas dengan tatapan dingin. “Rumah? Rumah yang mana, Marco? Rumah yang sering kamu gunakan untuk membawa selingkuhanmu masuk ke kamar pribadiku dan mencuri pakaian dalamku?”
Aku menunjuk ke arah Nina yang sedang menangis meraung-raung di sudut ruangan. “Nina, kamu sangat menyukai barang-barangku, bukan? Kamu bahkan memakai camisole custom-made Paris-ku malam ini. Ambil saja pria tidak berguna itu sekalian. Karena mulai besok pagi, pengacara saya akan membekukan semua aset, mobil, dan rekening bank yang selama ini Marco gunakan atas nama keluargaku.”
Dua petugas keamanan hotel yang sudah kuperintahkan langsung naik ke panggung, mencengkeram lengan Marco dan menyeretnya turun seperti sampah. Sementara itu, Nina diusir paksa keluar dari hotel oleh staf keamanan wanita karena dianggap mengganggu ketertiban pesta.
Aku berbalik menghadapi para investor, melempar senyum profesional terbaikku. “Mohon maaf atas gangguan ini. Mari kita lanjutkan pesta malam ini untuk merayakan era baru perusahaan di bawah kendali penuh saya sendiri.”
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan. Malam ini, mereka mengira mereka bisa mencuri hidupku dan menjadikanku lelucon. Tapi mereka lupa, aku adalah pemilik panggung ini—dan seorang ratu tidak akan pernah membiarkan parasit merusak kerajaannya.