Posted in

AKU ADALAH VICTORIA, BERUSIA 43 TAHUN, DAN SUDAH 12 TAHUN BEKERJA DI HEGEMONY CORP DI MAKATI.

AKU ADALAH VICTORIA, BERUSIA 43 TAHUN, DAN SUDAH 12 TAHUN BEKERJA DI HEGEMONY CORP DI MAKATI.

HARI INI, AKU DIPECAT.

Saat Liza, HR Manager, menyerahkan perjanjian pesangon kepadaku, tangannya masih gemetar.

“Mbak Vic, ini… hanya perintah dari atasan.”

Aku melirik dokumen itu. Pesangon N+1, dihitung dari gaji pokok terendah.

“Baik.”

Aku langsung menandatanganinya.

Liza terdiam. Mungkin dia tidak menyangka aku akan setuju secepat ini.

“Mbak Vic, Anda tidak mau… memperjuangkan ini?”

Aku meletakkan pulpen.

“Apa lagi yang harus diperjuangkan?”

Dia ternganga, tak bisa berkata apa-apa.

Aku berdiri, mengambil cangkir keramikku, lalu kembali ke meja untuk berkemas. Tidak banyak barang di laci—sebuah tumbler, sekotak teh, dan gambar anakku saat masih kecil.

Tiga menit, semuanya selesai.

Aku mulai melakukan serah terima pekerjaan.

File administrasi ada di folder 3 Drive D. Tabel perbandingan supplier Procurement ada di shared drive. Form rekonsiliasi akuntansi aku yang membuat. Tracking absensi HR aku yang menyelesaikan tiap bulan. Kalender aktivitas marketing selalu aku pantau. Timeline proyek teknis aku yang update. Sistem komplain pelanggan aku yang setup. Bahkan notulen rapat untuk Office of the CEO juga aku yang menulis.

Delapan departemen.

Yang akan menggantikanku adalah Supervisor Operasional, Leo.

Saat dia membaca daftar pekerjaanku, wajahnya berubah—dari bingung, ke kaget, lalu pucat.

“Mbak Vic, semua ini… Anda yang mengerjakan?”

“Ya.”

“Ini pekerjaan delapan departemen!”

“Tidak semuanya. Hanya yang tidak mereka tahu atau tidak mau kerjakan… lama-lama jatuh ke saya.”

Leo membalik halaman. Dua belas halaman.

“Mbak Vic, saya tidak sanggup sendirian.”

“Kalau begitu, bilang ke atasan.”

Aku menyampirkan tas dan pergi.

Di lift, aku bertemu Liza lagi.

“Mbak Vic, jujur saja, ini bukan keputusan saya. VP baru, Pak Julian, yang ingin ‘mengoptimalkan’ tenaga kerja. Katanya posisi Anda… mudah diganti.”

“VP siapa?”

“Julian. Yang dari perusahaan pesaing itu.”

Aku mengangguk.

“Dia pernah lihat job description saya?”

Liza diam dua detik.

“Katanya Anda hanya Admin Specialist, tapi gajinya setara Supervisor. Tidak ‘logis’ katanya.”

Aku tersenyum tipis.

“Baik. Kita lihat saja nanti seberapa ‘tidak logis’ itu.”

Di lobby, hujan turun. Musim hujan di Manila—tidak deras, tapi dingin. Aku tidak membawa payung, jadi aku memesan Grab untuk pulang.

Dua belas tahun.

Hilang dalam sekejap.

02

Saat aku sampai di rumah, anakku Nicole belum pulang sekolah.

Aku ganti baju, memasak nasi goreng dengan telur, lalu membuka laptop.

Aku sudah tidak punya pekerjaan. Harus cari yang baru.

43 tahun, perempuan, lulusan bisnis, terakhir bekerja sebagai Admin Specialist.

Sejujurnya, CV-ku tidak terlalu kompetitif. Tapi tetap aku perbarui dengan serius.

Ponselku berbunyi. Pesan Viber dari Leo.

“Mbak Vic, di mana file supplier comparison? Saya tidak menemukannya.”

Aku jawab: “Shared drive, level kedua, nama file ‘Supplier Evaluation 2026’.”

Sepuluh menit kemudian:

“Mbak Vic, form rekonsiliasi tidak bisa dibuka, butuh password.”

“Password: hegemony2019.”

Dua puluh menit kemudian:

“Mbak Vic, katanya Marketing ada event minggu depan tapi tidak ada di kalender…”

“Setiap tanggal 25 saya input untuk bulan berikutnya. Sekarang kamu yang urus.”

Dalam satu jam, aku menerima 17 pesan dari Leo.

Pesan terakhir, aku jawab:

“Leo, saya sudah resign.”

Dia mengirim emoji menangis.

“Mbak Vic, saya benar-benar tidak sanggup.”

Aku tidak membalas lagi.

Jam enam sore, Nicole pulang. Dia kelas 11—pintar, pendiam, tapi tegas seperti aku.

Dia langsung menyadari.

“Ma, kenapa pulang cepat?”

“Ma sudah tidak punya pekerjaan.”

“Kena layoff ya?”

“Ya.”

Dia meletakkan tas dan duduk di sampingku.

“Pesangonnya berapa?”

“Sekitar ₱350.000 → kira-kira Rp100.000.000.”

“Cukup sampai kapan?”

“Dengan tabungan kita, kalau hemat, lebih dari enam bulan.”

Nicole mengangguk.

“Ma, tidak usah terburu-buru cari kerja. Pelan-pelan saja.”

Aku mengusap kepalanya. Sejak ayahnya pergi saat dia berumur tiga tahun untuk “bekerja ke luar negeri” dan tidak pernah kembali, kami berdua saja selama 14 tahun….

03

Dua minggu berlalu. Aku menikmati pagi tanpa alarm dan tanpa beban menanggung beban delapan departemen. Namun, ketenangan itu pecah saat ponselku bergetar tanpa henti pada Selasa pagi.

Ada 42 panggilan tak terjawab dari nomor kantor. Akhirnya, sebuah pesan masuk dari Liza, sang HR Manager.

“Mbak Vic, tolong… Pak Julian ingin bicara. Sistem operasional kita lumpuh. Data audit tahunan macet karena format rekonsiliasi yang Mbak buat terkunci secara sistematis setiap awal bulan. Leo masuk rumah sakit karena tipes, dia stres berat.”

Aku tidak membalas. Aku sedang menemani Nicole membeli buku pelajaran.

Sore harinya, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kecil kami. Pak Julian, sang VP yang “logis” itu, turun dengan wajah yang jauh dari kata tenang. Dasinya miring, matanya merah.

“Victoria,” katanya tanpa basa-basi. “Ada masalah dengan sistem yang Anda tinggalkan. Kami butuh Anda kembali sebagai konsultan selama satu bulan untuk membereskan ini.”

Aku melipat tangan di dada. “Sistem itu bekerja sempurna selama dua belas tahun karena saya yang mengelolanya, Pak. Itu bukan sekadar ‘pekerjaan admin’.”

“Saya tawarkan gaji Anda kembali, plus bonus,” desaknya.

“Maaf, Pak Julian. Menurut logika Anda, posisi saya ‘mudah diganti’. Mengapa tidak mencari pengganti yang lebih murah?”

Dia terdiam, harga dirinya terpukul oleh kata-katanya sendiri yang kini menjadi bumerang.

04

“Saya akan bayar berapa pun,” ucapnya akhirnya, suaranya melemah. “Perusahaan rugi miliaran setiap hari karena alur logistik dan vendor terhenti. Auditor mulai bertanya-tanya.”

Aku menatap Nicole yang mengintip dari balik pintu. Dia mengangguk pelan, memberiku kode.

“Baik,” kataku tenang. “Saya akan membantu sebagai tenaga ahli eksternal. Tarif saya adalah ₱150.000 per minggu (sekitar Rp40.000.000). Dibayar di muka. Dan saya bekerja dari rumah.”

Julian ternganga. Itu hampir empat kali lipat gajiku dulu. “Itu tidak masuk akal!”

“Sama tidak masuk akalnya dengan memecat orang yang memegang kunci delapan departemen demi ‘optimasi’, Pak.”

Julian tidak punya pilihan. Dia mengeluarkan buku cek dan menuliskan angka yang kuminta.

Akhir Cerita

Setelah satu bulan masa transisi, aku benar-benar melepaskan Hegemony Corp. Dengan uang pesangon dan bayaran konsultan yang fantastis itu, aku tidak mencari pekerjaan baru.

Aku membuka jasa “Administrative Architecture” — sebuah agensi konsultan yang membantu perusahaan kecil merapikan sistem operasional mereka agar tidak bergantung pada satu orang saja. Aku mempekerjakan Leo setelah dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari Hegemony Corp.

Suatu sore, aku duduk di teras bersama Nicole.

“Ma, ternyata benar ya?” tanya Nicole sambil menyesap tehnya.

“Apa yang benar?”

“Balas dendam terbaik bukan dengan amarah. Tapi dengan menunjukkan bahwa mereka tidak mampu melangkah satu senti pun tanpa bayangan yang mereka anggap remeh.”

Aku tersenyum tipis, melihat matahari terbenam di langit Manila. Dua belas tahun memang hilang dalam sekejap, tapi kebebasanku baru saja dimulai.