“‘Aku Akan Memberikan Ferrari Ini Padamu Kalau Kamu Bisa Menyalakannya!’ — Seorang Pria Kaya Mempermalukan Seorang Kakek… Tapi Dia Tidak Menyangka Apa yang Terjadi Setelahnya.”
Hari itu, sebuah acara mobil mewah di Manila berlangsung sangat meriah.
Mobil-mobil mahal berjajar di depan sebuah hotel mewah.
Para tamu mengenakan barong, gaun elegan, dan jas mahal.
Hampir semua orang memegang ponsel, mengambil foto sebuah mobil sport merah yang terparkir di tengah area acara.
Sebuah Ferrari.
Catnya berkilau di bawah sinar matahari.
Di samping mobil itu berdiri seorang pengusaha kaya.
Dia tersenyum bangga sambil memamerkan mobil barunya kepada para tamu.
“Mobil ini impor,” katanya dengan nada sombong.
“Ini salah satu mobil termahal di seluruh kota.”
Beberapa orang langsung bertepuk tangan.
Namun ketika semua orang sibuk mengagumi mobil itu…
seorang pria tua perlahan mendekat dari pinggir jalan.
Pakaiannya sangat sederhana.
Mantel tua.
Celana lusuh.
Jelas terlihat bahwa dia bukan bagian dari para tamu kaya di acara itu.
Dia berhenti di depan Ferrari dan memperhatikan mesin di bagian belakang mobil.
Pengusaha kaya itu menyadarinya.
“Hei!” teriaknya sambil tertawa.
Semua orang langsung menoleh.
Dia mendekati pria tua itu lalu menepuk atap Ferrari.
“Tahu nggak berapa harga mobil ini?” tanyanya.
Pria tua itu tidak menjawab.
Dia hanya diam menatap mobil tersebut, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Pengusaha itu tertawa lagi.
“Mungkin ini pertama kalinya kamu lihat mobil seperti ini, ya?”
Beberapa tamu tersenyum geli.
Lalu sang pengusaha mengatakan sesuatu yang membuat orang-orang semakin terhibur.
“Aku akan memberikan Ferrari ini padamu…”
Dia berhenti sejenak sambil menyeringai.
“…kalau kamu bisa menyalakannya.”
Orang-orang di sekitar langsung bersorak dan tertawa.
Bagi mereka, jelas pria kaya itu hanya sedang mempermalukan si kakek.
Karena siapa yang akan percaya bahwa seorang pria tua yang terlihat seperti pengemis…
mampu menghidupkan sebuah Ferrari?
Tetapi yang tidak diketahui oleh pria kaya itu…
orang yang berdiri di depannya
bukanlah seorang kakek biasa.
Dan hanya dalam beberapa menit…
sesuatu akan terjadi yang membuat semua orang di sana terdiam.

Karena pria yang dia hina itu
menyimpan pengalaman rahasia yang tidak diketahui siapa pun.
Dan ketika mereka tahu siapa dirinya sebenarnya…
tawa orang-orang di sekitar
akan langsung menghilang.
Pria tua itu perlahan mengalihkan pandangannya dari mesin mobil ke arah sang pengusaha. Tidak ada rasa takut atau tersinggung di wajahnya yang dipenuhi kerutan. Dia hanya menatap kunci pintar (keyless fob) Ferrari yang diputar-putar oleh sang pengusaha di jarinya.
“Anda serius dengan ucapan Anda, Anak Muda?” tanya pria tua itu dengan suara yang berat namun sangat tenang.
“Tentu saja!” jawab pengusaha itu sambil membusungkan dada, merasa di atas angin. Dia melemparkan kunci Ferrari itu ke udara, yang langsung ditangkap dengan tangkas oleh si kakek. “Semua orang di sini menjadi saksinya. Kalau dalam tiga menit kamu bisa menyalakan mesinnya, bawa pulang mobil ini!”
Para tamu tertawa riuh. Mereka tahu bahwa Ferrari model terbaru ini memiliki sistem keamanan biometrik dan urutan penyalaan tombol yang rumit di kemudinya. Jangankan seorang kakek tua, orang kaya yang baru pertama kali membelinya pun sering kali kebingungan.
Kakek itu berjalan perlahan menuju pintu pengemudi. Langkahnya yang tadi terlihat lemas, tiba-tiba berubah menjadi tegap.
Saat dia duduk di kursi balap berlapis kulit Alcantara tersebut, ada sesuatu yang berubah dari auranya. Cara tangannya memegang lingkar kemudi tidak tampak seperti orang asing—dia memegangnya dengan keakraban yang luar biasa.
Dia tidak langsung menekan tombol Start.
Pertama-tama, dia menekan kombinasi tombol di panel instrumen sebelah kiri, menahan tuas transmisi kanan (paddle shift), dan mengetuk layar digital dengan ritme tertentu. Itu adalah kode diagnostik pabrikan rahasia untuk mematikan sistem penguncian demo.
Klik.
Layar spidometer Ferrari itu mendadak berubah dari mode pameran ke mode balap penuh (Race Mode).
Sang pengusaha kaya yang melihat itu dari luar jendela langsung menghentikan tawanya. Keningnya berkerut. “Hei… apa yang kamu lakukan? Bagaimana kamu tahu cara masuk ke menu itu?”
Kakek itu tidak menjawab. Dia memasukkan kunci ke slot tersembunyi di bawah dasbor—sebuah fitur manual yang bahkan sang pengusaha sendiri tidak tahu keberadaannya—lalu menekan tombol merah menyala di setir: ENGINE START.
BRRRRRRRUUUUUUMMMMM!!!
Suara lengkingan mesin V8 bertenaga monster langsung menggelegar, membelah keheningan pelataran hotel. Knalpotnya menembakkan sedikit api, membuat para tamu di belakang mobil langsung melompat mundur karena terkejut.
Seluruh area acara seketika senyap. Tawa mengejek para tamu kaya di Manila itu hilang, digantikan oleh mulut yang menganga lebar.
Mesin Ferrari itu meraung sempurna di bawah kendali sang kakek.
“T-Tidak mungkin…” bisik sang pengusaha, wajahnya mendadak pucat pasi. “Bagaimana bisa…”
Kakek itu mematikan mesin, lalu keluar dari mobil. Dia melempar kembali kunci Ferrari itu ke dada sang pengusaha yang masih mematung tak percaya.
“Mobil yang bagus,” kata Kakek itu tenang. “Tapi setelan kompresi silinder nomor empat agak terlalu longgar. Itu sebabnya suaranya sedikit pincang di putaran awal. Lain kali, beri tahu mekanikmu untuk memeriksa valve clearance-nya.”
“S-Siapa kamu sebenarnya?!” tanya pengusaha itu dengan suara bergetar, menyadari bahwa pria di depannya ini bukan orang sembarangan.
Tepat pada saat itu, tiga orang pria asing berjas rapi dengan aksen Italia yang kental berlari keluar dari dalam lobi hotel. Mereka adalah para petinggi dan delegasi resmi dari Maranello, Italia, yang sengaja datang ke Manila untuk acara pameran tersebut.
Begitu mata mereka tertangkap sosok sang kakek, ketiga pria Italia itu langsung menghentikan langkah, membulatkan mata, dan membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat.
“Signor Aurelio!” seru pimpinan delegasi itu dengan nada luar biasa takzim. “Kami tidak tahu Anda sedang berada di Filipina! Suatu kehormatan besar bisa bertemu Anda di sini!”
Mendengar nama itu, salah satu promotor acara lokal langsung menjatuhkan berkas yang dipegangnya.
“Aurelio… Aurelio Ferrari?” bisik sang promotor dengan tubuh gemetar. “Dia… Dia adalah salah satu mantan Kepala Insinyur Balap Formula 1 legendaris di Italia yang mendesain mesin mobil ini sepuluh tahun lalu!”
Mendengar kenyataan itu, sang pengusaha kaya langsung lemas. Lututnya tak lagi sanggup menopang tubuhnya hingga dia terduduk di atas aspal, tepat di samping roda Ferrari miliknya.
Pria yang baru saja dia permalukan, pria yang dia sebut mirip pengemis, ternyata adalah salah satu otak jenius di balik terciptanya mobil sport paling ikonik di dunia. Kakek itu sedang berlibur di Manila dan mengenakan pakaian santai karena ingin menikmati masa pensiunnya dengan ketenangan.
Kakek Aurelio menatap pengusaha yang terduduk di tanah itu, lalu tersenyum tipis.
“Uangmu mungkin bisa membeli karya seni ini, Anak Muda,” kata Kakek Aurelio sambil menepuk kap mesin Ferrari tersebut. “Tapi uangmu tidak bisa membeli kelas, pengetahuan, dan yang terpenting: rasa hormat kepada sesama manusia.”
Kakek Aurelio kemudian berbalik, berjalan santai meninggalkan pelataran hotel dengan tangan di dalam saku mantel tuanya, diikuti oleh para delegasi Italia yang terus berjalan membungkuk di belakangnya.
Sementara sang pengusaha kaya hanya bisa tertunduk malu di tanah, dikelilingi oleh mobil mewahnya yang kini terasa sama sekali tidak berharga di depan semua orang.