Posted in

AKU DIAM-DIAM PERGI KE RUMAH KAMI DI KAMPUNG TANPA MEMBERI TAHU SUAMIKU UNTUK MENGETAHUI APA YANG DIA LAKUKAN DI SANA. SAAT AKU MEMBUKA PINTU, AKU LANGSUNG DILIPUTI KETAKUTAN YANG NYATA 

AKU DIAM-DIAM PERGI KE RUMAH KAMI DI KAMPUNG TANPA MEMBERI TAHU SUAMIKU UNTUK MENGETAHUI APA YANG DIA LAKUKAN DI SANA. SAAT AKU MEMBUKA PINTU, AKU LANGSUNG DILIPUTI KETAKUTAN YANG NYATA 

😱
😱

**

Aku dan suamiku, Daniel Cruz, memiliki sebuah rumah kecil di kampung. Dulu, hampir setiap akhir pekan kami pergi ke sana—menanam bunga, menggali taman, memanggang daging, dan sekadar beristirahat jauh dari hiruk-pikuk kota.

Tetapi lama-kelamaan semuanya berubah. Daniel selalu menolak ikut. Selalu ada alasan: pekerjaan mendadak, lelah, sakit kepala, atau “lain kali saja.” Awalnya aku tidak curiga apa pun.

Sampai suatu hari, tetangga kami di kampung menelepon.

“Dengar,” katanya santai, “kemarin aku melihat suamimu di dekat rumah kalian.”

Awalnya aku tidak langsung mengerti maksudnya.

“Mungkin Anda salah lihat,” jawabku. “Dia seharian ada di kantor.”

“Tidak, aku yakin. Dia keluar dari rumah dan lama memindahkan sesuatu dari mobilnya,” jelasnya tenang.

Setelah telepon ditutup, dadaku terasa sesak. Berbagai pikiran buruk langsung memenuhi kepalaku. Kenapa dia ada di sana tanpa memberitahuku? Kenapa dia menyembunyikan kunjungannya? Dan yang paling penting—apa yang sebenarnya dia lakukan di sana?

Keesokan harinya, lagi-lagi dia berkata tidak akan pergi ke mana-mana.

“Mungkin aku pergi sendiri saja ke sana, cari udara segar,” usulku hati-hati.

Tubuhnya langsung menegang.

“Jangan,” jawabnya cepat. “Aku tidak mau kamu ke sana. Aku lebih tenang kalau kamu tetap di rumah.”

Dan saat itu juga, aku menyadari sesuatu. Kalau memang tidak ada yang aneh, dia tidak akan melarangku. Begitu Daniel pergi, aku memutuskan mengikutinya. Dia naik mobil dan langsung menuju kampung.

Aku menunggu sebentar, lalu menyusul.

Semakin dekat aku ke rumah itu, detak jantungku semakin kencang. Tanganku gemetar. Rasanya seperti aku akan menemukan sesuatu yang mengerikan—tetapi aku sudah tidak sanggup mundur.

Aku mendekati pintu, menarik napas panjang, lalu masuk.

Dan saat itu, aku sadar aku salah karena berharap hanya akan menemukan seorang selingkuhan.

Karena apa yang kulihat… jauh lebih buruk

Bau apak khas ruangan yang lama tertutup langsung menyengat hidungku, bercampur dengan aroma tajam bahan kimia yang aneh—seperti bau pemutih dan zat asam. Langkah kakiku membeku di atas lantai kayu yang berderit.

Di tengah ruang tamu yang dulu hangat dan penuh tawa, kini semua furnitur telah digeser ke dinding, ditutupi oleh plastik terpal bening yang tebal. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja darurat dari besi berdiri kokoh di bawah sorotan lampu gantung yang terang benderang.

Di atas meja itu berserakan botol-botol kaca laboratorium, jeriken cairan kimia, timbangan digital kecil, dan tumpukan bubuk putih dalam kantong-kantong plastik klip. Di sudut ruangan, ada beberapa wadah plastik besar yang tertutup rapat, mengeluarkan uap tipis yang membuat mataku perih.

Daniel berdiri di sana.

Ia tidak memakai setelan jas kantornya yang rapi. Ia mengenakan apron karet hitam tebal, sarung tangan lateks, dan masker respirator yang menutupi setengah wajahnya. Di tangannya, ia memegang sebuah tabung reaksi dengan cairan yang sedang mendidih.

Pikiranku langsung liar. Narkoba. Suamiku memproduksi obat-obatan terlarang di rumah kami.

Mendengar derit pintu, Daniel berbalik dengan cepat. Matanya yang kelelahan dan berkantung hitam melebar saat melihatku. Tabung reaksi di tangannya hampir saja terjatuh.

“R-Rachel?!” suaranya teredam di balik masker. Ia buru-buru melepas respiratornya, wajahnya pucat pasi. “Bagaimana bisa kamu… Kenapa kamu ke sini?!”

“Apa ini, Daniel?!” teriakku, suaranya melengking karena histeria dan ketakutan. Air mataku tumpah begitu saja. Aku melangkah mundur, siap untuk berlari keluar dari rumah yang kini terasa seperti sarang kriminal. “Kamu membuat narkoba di sini? Kamu membohongiku selama ini?!”

“Bukan! Demi Tuhan, Rachel, ini bukan narkoba!” Daniel melempar sarung tangannya dan melangkah mendekat, tetapi aku mengangkat tangan secara refleks untuk menahannya.

“Jangan mendekat! Aku akan panggil polisi!” ancamku, tangan seolah mati rasa saat meraba saku mencari ponsel.

“Rachel, dengarkan aku dulu! Lihat ini!” Daniel berteriak panik, lalu ia berlari ke sudut ruangan dan mengambil salah satu wadah plastik besar. Ia membukanya dengan kasar, memperlihatkan isinya kepadaku. “Lihat! Ini bukan obat-obatan! Ini silikon dan resin!”

Rahasia di Balik Asap Kimia

Aku tertegun, napas yang memburu perlahan mulai melambat. Aku memberanikan diri mendekat dan melongok ke dalam wadah tersebut. Di dalamnya bukan bubuk terlarang, melainkan cetakan-cetakan lilin, gips, dan replika organ tubuh manusia yang terbuat dari bahan silikon medis.

Daniel terduduk di sebuah kursi kayu lama, menyandarkan kepalanya yang tampak sangat berat ke tangannya sendiri. Bahunya terguncang. Suamiku yang selalu tampak kuat, kini menangis di depanku.

“Perusahaan konstruksi tempatku bekerja bangkrut enam bulan lalu, Rachel,” bisik Daniel, suaranya serak dan hancur. “Aku di-PHK tanpa pesangon yang layak. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kita punya cicilan rumah di kota, biaya hidup, dan aku tidak mau membuatmu stres karena kehilangan sandaran.”

Aku menutup mulutku, syok. “Lalu… semua ini?”

“Aku mendapat tawaran dari seorang teman lama yang bekerja di fakultas kedokteran. Mereka butuh vendor independen untuk membuat manekin prostetik, organ tiruan, dan alat peraga medis berkualitas tinggi untuk praktik bedah mahasiswa. Bayarannya sangat besar, cukup untuk menutupi semua utang kita,” jelas Daniel sambil menunjuk bahan-bahan kimia di meja.

“Tapi baunya sangat menyengat dan zatnya beracun jika terhirup terus-menerus di apartemen kita. Aku tidak punya modal untuk sewa laboratorium. Jadi, aku membawa semuanya ke sini. Aku bekerja siang dan malam di sini agar saat pulang ke rumah di kota, aku bisa berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja.”

Daniel mendongak, matanya merah memandangku dengan penuh rasa bersalah. “Aku melarangmu ke sini karena aku tidak ingin kamu menghirup uap kimia ini, Rachel. Dan… aku terlalu gengsi. Aku takut kamu melihatku sebagai suami yang gagal karena kehilangan pekerjaan utama.”

Menghancurkan Dinding Rahasia

Ketakutan yang sempat mencengkeramku perlahan menguap, digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dada—bukan karena takut, melainkan karena rasa bersalah dan cinta yang teramat besar.

Aku berjalan mendekati suamiku, lalu berlutut di depannya. Aku menarik tangan Daniel yang kasar dan penuh noda zat kimia, menggenggamnya erat.

“Kamu bodoh, Daniel Cruz,” bisikku sambil menangis, namun kali ini senyuman tipis muncul di bibirku. “Kamu mengira aku menikahimu hanya karena pekerjaanmu di kota?”

Daniel menatapku, terkejut.

“Kita berjanji untuk bersama dalam suka dan duka. Kamu tidak perlu menanggung beban ini sendirian di rumah yang gelap ini,” kataku sambil menghapus air matanya. “Jika kita harus memulai dari awal dengan bisnis alat medis ini, kita akan melakukannya bersama. Tapi berjanjilah, jangan pernah menyembunyikan apa pun lagi dariku.”

Daniel menarikku ke dalam pelukannya, mendekapku erat di tengah ruangan yang dipenuhi bau kimia itu. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ketegangan di bahunya lenyap.

Rumah di kampung ini tidak lagi menjadi tempat pelarian yang penuh rahasia gelap. Hari itu, tempat ini kembali menjadi apa yang seharusnya: tempat di mana kami saling menyembuhkan, menghadapi badai bersama, dan membangun kembali masa depan yang sempat retak.