Posted in

AKU DIPAKSA BERBARING DI MEJA OPERASI OLEH KELUARGA YANG SELAMA INI KUANGGAP MILIKKU DEMI MENGAMBIL GINJALKU UNTUK ANAK KANDUNG MEREKA. AKU TAK BERDAYA DAN HANYA MENUNGGU KEMATIAN. NAMUN SAAT AHLI BEDAH MILIARDER ITU MELIHAT BEKAS LUKA DI BAHUKU, DIA LANGSUNG MENGHENTIKAN OPERASI… DAN APA YANG DILAKUKANNYA TERHADAP KELUARGA YANG MEMELIHARAKU MENGGUNCANG SELURUH RUMAH SAKIT.

**AKU DIPAKSA BERBARING DI MEJA OPERASI OLEH KELUARGA YANG SELAMA INI KUANGGAP MILIKKU DEMI MENGAMBIL GINJALKU UNTUK ANAK KANDUNG MEREKA. AKU TAK BERDAYA DAN HANYA MENUNGGU KEMATIAN. NAMUN SAAT AHLI BEDAH MILIARDER ITU MELIHAT BEKAS LUKA DI BAHUKU, DIA LANGSUNG MENGHENTIKAN OPERASI… DAN APA YANG DILAKUKANNYA TERHADAP KELUARGA YANG MEMELIHARAKU MENGGUNCANG SELURUH RUMAH SAKIT.**

### Budak dan Cadangan Organ Tubuh

Namaku Maya, dua puluh tahun.

Aku diadopsi oleh keluarga kaya raya Imperial ketika usiaku baru lima tahun.

Awalnya aku mengira diriku beruntung karena akan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Ternyata aku salah.

Mereka hanya membawaku ke rumah itu untuk dijadikan pembantu dan pelampiasan amarah bagi anak kandung mereka, Beatrice.

Beatrice seusiaku, tetapi memiliki sifat yang sangat buruk.

Setiap hari dia mempermalukanku.

“Ingat, Maya, kamu cuma anak pungut yang diambil dari tempat sampah! Kamu masih hidup hanya karena kami memberimu makan!” bentak wanita yang kuanggap sebagai ibuku, Doña Carmen.

Tahun demi tahun berlalu seperti itu.

Hingga suatu hari, Beatrice jatuh sakit parah.

Kedua ginjalnya mengalami gagal fungsi.

Ia membutuhkan transplantasi sesegera mungkin.

Karena tidak ada satu pun anggota keluarga mereka yang cocok sebagai donor, mereka memaksaku menjalani tes kecocokan.

Dan hasilnya…

Ginjalku cocok.

“Tandatangani surat persetujuan ini, Maya!” perintah Doña Carmen sambil mencengkeram rambutku dengan keras.

“Kamu akan memberikan ginjalmu kepada anakku! Kalau tidak, aku akan membuatmu menghilang dan membuang mayatmu ke sungai! Kamu berutang nyawa kepada kami!”

Aku tidak punya pilihan.

Sambil menangis, aku menandatangani dokumen itu.

Saat itu aku merasa hidupku telah berakhir.

Ternyata selama ini aku hanyalah cadangan organ tubuh untuk anak mereka.

### Ahli Bedah Miliarder

Kami dibawa ke Valderama Medical City, rumah sakit paling mewah dan eksklusif di negara itu.

Karena keluarga Imperial sangat kaya, mereka menyewa jasa ahli bedah terbaik di Asia—Dr. Gabriel Valderama.

Dr. Gabriel baru berusia dua puluh delapan tahun.

Ia bukan hanya seorang dokter jenius, tetapi juga CEO miliarder sekaligus pemilik seluruh jaringan rumah sakit tersebut.

Ia terkenal karena sifatnya yang tegas, dingin, dan tidak pernah mentoleransi kesalahan.

Sementara aku terbaring di atas meja operasi yang dingin, air mata terus mengalir.

Efek anestesi mulai bekerja perlahan.

Di luar ruangan, Doña Carmen dan suaminya, Don Arturo, tampak tersenyum puas sambil menunggu ginjalku dipindahkan ke tubuh Beatrice yang berada di ruang operasi sebelah.

Dr. Gabriel memasuki ruang operasiku dengan mengenakan pakaian bedah lengkap dan masker.

“Siapkan pasien. Bersihkan area insisi,” perintahnya singkat kepada para perawat.

Seorang perawat perlahan membuka bagian belakang gaun rumah sakitku untuk membersihkan area punggung dan bahu sebagai persiapan operasi.

Saat cahaya lampu operasi yang terang menyinari tubuhku…

Dr. Gabriel tiba-tiba terdiam.

Tatapannya tertuju pada bahu kananku.

Di sana terdapat sebuah tanda lahir unik berbentuk bulan sabit dengan bintang kecil, berdampingan dengan bekas luka lama yang sangat khas.

Wajahnya berubah.

Matanya membelalak.

Seolah baru saja melihat sesuatu yang mustahil.

Selama beberapa detik, seluruh ruang operasi membeku dalam keheningan.

Lalu…

Pisau bedah yang ada di tangannya terlepas.

**Clang!**

Suara logam yang menghantam lantai bergema di seluruh ruangan.

Para dokter dan perawat terkejut.

Namun tidak ada yang lebih terkejut daripada Dr. Gabriel sendiri.

Karena tanda di bahuku itu…

adalah sesuatu yang telah dia cari selama bertahun-tahun.

Dan dalam hitungan menit, operasi transplantasi yang sudah dijadwalkan itu akan berubah menjadi awal dari sebuah rahasia besar yang mampu menghancurkan keluarga Imperial.

Rahasia yang Hilang Lima Belas Tahun Lalu

“Dokter Gabriel? Ada apa?” tanya asisten bedah dengan nada panik, melihat pisau bedah yang terjatuh di lantai.

Dr. Gabriel tidak menjawab. Tangannya yang terbungkus sarung tangan steril gemetar hebat saat menyentuh kulit di bahu kananku. Jemarinya menelusuri bekas luka dan tanda lahir bulan sabit itu dengan kelembutan yang teramat sangat—seolah aku adalah porselen rapuh yang bisa hancur kapan saja.

“Gaby…” bisikku lirih.

Efek anestesi yang samar membuatku mengigau, memanggil nama kecil yang entah mengapa tiba-tiba muncul dari dasar ingatan masa kecilku yang terkubur. Sebuah nama yang dulu selalu kupanggil sebelum aku diculik di usia lima tahun.

Mendengar bisikan itu, napas Dr. Gabriel tercekat. Matanya seketika memerah, digenangi air mata yang jarang sekali diperlihatkan oleh sang dokter dingin tak tersentuh ini.

“Ini kamu…” suaranya serak, sarat akan kerinduan dan rasa bersalah yang mendalam. “Giselle… adik kecilku…”

Seluruh ruang operasi terperangah. Jantungku berdetak maraton di monitor. Aku bukan Maya si anak pungut dari tempat sampah. Aku adalah Giselle Valderama, putri bungsu keluarga miliarder Valderama yang hilang lima belas tahun lalu akibat penculikan berencana.

Dr. Gabriel langsung menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya yang tadi melembut seketika berubah menjadi kilatan amarah yang mengerikan. Aura dinginnya menguar, membuat seluruh staf medis di ruangan itu menahan napas ketakutan.

“Batalkan operasi ini sekarang juga!” perintah Dr. Gabriel, suaranya menggelegar memecah keheningan. “Pindahkan adikku ke ruang VVIP paling aman. Jaga dia dengan seluruh nyawa kalian!”

“Tapi, Dr. Gabriel… bagaimana dengan pasien Beatrice di sebelah?” tanya perawat dengan gugup.

“Biarkan jalang itu membusuk,” desis Gabriel kejam. “Dan sekarang… panggil seluruh tim keamanan rumah sakit. Kita punya tikus yang harus diselesaikan di luar.”

Keruntuhan di Lorong Rumah Sakit

Di ruang tunggu mewah, Doña Carmen dan Don Arturo sedang menyesap kopi mahal mereka sembari melempar senyum puas. Mereka membayangkan masa depan Beatrice yang akan kembali sehat setelah merenggut organ tubuhku.

BRAK!

Pintu ganda ruang operasi terbuka paksa. Dr. Gabriel berjalan keluar dengan langkah lebar, masih mengenakan pakaian bedahnya yang bernoda sedikit darah. Di belakangnya, tampak tiga puluh personel keamanan bersenjata lengkap mengepung lorong.

Doña Carmen langsung berdiri sambil tersenyum lebar. “Dr. Gabriel! Bagaimana? Apakah ginjal anak haram itu sudah berhasil dipindahkan ke tubuh putriku?”

PLAK!!!

Satu tamparan keras mendarat di wajah Doña Carmen hingga wanita itu tersungkur ke lantai marmer, sudut bibirnya pecah dan berdarah.

“Carmen!” teriak Don Arturo terkejut. Ia menatap Gabriel dengan murka. “Apa-apaan ini, Dr. Valderama?! Kami membayar Anda mahal! Mengapa Anda memukul istri saya?!”

“Membayar mahal?” Gabriel terkekeh, suara tawanya terdengar seperti iblis yang siap mencabut nyawa. Ia memberi isyarat, dan dua satpam langsung memiting lengan Don Arturo, memaksanya berlutut di lantai.

“Kalian membawa putri kandung dari pemilik Valderama Medical City ke sini, memalsukan dokumen persetujuan, menyiksanya selama lima belas tahun, dan sekarang berniat memutilasi organnya untuk anak sialan kalian…” Gabriel membungkuk, mencengkeram rahang Doña Carmen dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

“…dan kamu pikir uang sialanmu itu bisa menyelamatkan lehermu, Carmen Imperial?”

Wajah Doña Carmen dan Don Arturo seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna darah mereka.

“P-Putri… Valderama?” ratap Doña Carmen dengan suara gemetar hebat. “T-Tidak mungkin… Maya cuma anak yatim piatu…”

“Namanya adalah Giselle Valderama!” bentak Gabriel hingga suaranya menggema di seluruh koridor rumah sakit. “Dan hari ini, aku akan memastikan seluruh dinasti Imperial runtuh sampai ke akar-akarnya.”

Pembalasan yang Sempurna

Gabriel mengeluarkan ponselnya dan membuat tiga panggilan singkat di depan pasutri yang kini sedang menangis ketakutan di lantai.

“Blokir seluruh rekening bank keluarga Imperial. Tarik semua investasi Valderama Group dari perusahaan mereka dalam hitungan detik.”

“Hubungi Kejaksaan Agung. Serahkan berkas penculikan anak, eksploitasi, dan perdagangan manusia atas nama Arturo dan Carmen Imperial.”

“Dan satu lagi… hentikan semua pasokan obat dan peralatan medis ke kamar Beatrice Imperial. Keluarkan dia dari rumah sakit ini sekarang juga. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya sekarat tanpa ada tempat yang mau menerimanya.”

Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, seluruh dunia keluarga Imperial hancur total. Berita tentang penculikan putri miliarder Valderama pecah di seluruh media nasional. Polisi tiba di rumah sakit dengan borgol, menyeret Doña Carmen dan Don Arturo yang berteriak histeris meminta ampun di depan ratusan pasang mata pengunjung rumah sakit.

Sementara itu, Beatrice yang masih setengah sadar ditendang keluar dari ranjang rumah sakitnya, dipindahkan ke ambulans umum untuk dibuang ke rumah sakit distrik kumuh tanpa ada satu pun donor yang tersisa untuknya.

Satu jam kemudian, aku terbangun di sebuah kamar penthouse rumah sakit yang sangat mewah. Wangi bunga lili segar menguar di udara.

Saat aku membuka mata, aku melihat Dr. Gabriel duduk di samping tempat tidurku, tidak lagi memakai masker bedahnya. Wajahnya yang tampan tampak begitu lelah namun dipenuhi kelegaaan yang luar biasa. Ia sedang menggenggam tanganku dengan erat.

“Kamu sudah aman, Giselle,” bisiknya lembut, mencium punggung tanganku yang bebas dari jarum infus. “Kakak sudah menemukanmu. Dan tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyakitimu lagi.”

Aku menatap langit-langit kamar yang megah, lalu beralih ke wajah kakak kandungku. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidupku, air mata yang jatuh di pipiku bukan lagi karena rasa sakit… melainkan karena aku tahu, aku telah pulang.