Posted in

AKU DISURUH MENCUCI PIRING OLEH KELUARGA DAN KERABAT PACARKU SA ACARA REUNI KELUARGA MEREKA. KATANYA ITU UJIAN UNTUK MELIHAT APAKAH AKU PANTAS MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA MEREKA. PIRINGNYA TAK TERHITUNG JUMLAHNYA, BELUM LAGI PANCI DAN WAJAN RAKSASA. AKU SUDAH SEPERTI KUDA KELELAHAN KARENA TERUS MENCUCI. AKHIRNYA AKU TAK TAHAN LAGI. PIRING, PANCI, DAN WAJAN ITU KULEMPARKAN SATU PER SATU KE MEJA TEMPAT HIDANGAN, DAN SEMUA ORANG LANGSUNG TERKEJUT.

AKU DISURUH MENCUCI PIRING OLEH KELUARGA DAN KERABAT PACARKU SA ACARA REUNI KELUARGA MEREKA. KATANYA ITU UJIAN UNTUK MELIHAT APAKAH AKU PANTAS MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA MEREKA. PIRINGNYA TAK TERHITUNG JUMLAHNYA, BELUM LAGI PANCI DAN WAJAN RAKSASA. AKU SUDAH SEPERTI KUDA KELELAHAN KARENA TERUS MENCUCI. AKHIRNYA AKU TAK TAHAN LAGI. PIRING, PANCI, DAN WAJAN ITU KULEMPARKAN SATU PER SATU KE MEJA TEMPAT HIDANGAN, DAN SEMUA ORANG LANGSUNG TERKEJUT.

Semua ini gara-gara acara “Love is Blind” itu. Karena cinta, aku bisa sampai berada di tengah reuni keluarga besar milik Marco. Kukira acaranya “Meet the Family”, ternyata malah “Meet the Sink”.

“Nak, kamu tahu sendiri. Kalau mau kami anggap pantas menjadi bagian dari keluarga ini, kami harus melihat dulu seberapa rajin kamu mengurus pekerjaan rumah,” kata Tante Anya sambil menunjuk tumpukan piring yang tingginya hampir seperti Gunung Everest.

Dan bukan cuma piring. Ada panci yang ukurannya cukup besar untuk memuat satu anak kecil di dalamnya, dan ada wajan hitam legam seperti hati orang-orang yang pernah meninggalkanku.

Sudah satu jam aku berdiri di depan bak cuci. Punggungku rasanya sudah ingin mengajukan surat pensiun. Tanganku keriput karena sabun cuci piring, dan “Joy” yang tersisa sudah tidak membawa kebahagiaan sama sekali.

Aku sudah seperti kuda yang kehabisan napas karena terus mencuci, sementara mereka tertawa-tawa di luar, bernyanyi karaoke, dan menikmati pesta.

“Hei, cepat sedikit! Masih ada gelombang kedua panci gulai yang harus dicuci!” teriak salah satu sepupu Marco saat lewat.

Di situlah sisa kesabaranku akhirnya putus.

Pantas? Memangnya ini audisi untuk Cinderella versi tukang cuci piring?

Aku menatap piring yang sedang kupegang. Lalu kulihat meja hidangan tempat mereka makan dengan riang.

Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Ini bukan lagi soal lelah. Ini sudah menjadi revolusi.

“NIH, PIRING-PIRING KALIAN SUDAH DATANGGGG!”

WUSHH!

Piring melamin pertama kulontarkan seperti frisbee. Tepat mendarat di tengah meja makan dan membuat kuah semur muncrat ke kemeja putih kakek mereka.

KLANG! BLANG!

Setelah itu bertubi-tubi.

Aku seperti Captain America yang melempar perisainya, hanya saja perisaiku terbuat dari panci baja.

Sebuah wajan besar kulempar ke arah meja prasmanan. Sendok dan garpu beterbangan seperti shuriken dalam anime.

“YA AMPUN!” jerit Tante Anya saat tutup panci yang berputar di udara hampir mengenainya sebelum akhirnya menghantam kue ulang tahun.

Karaoke langsung berhenti.

Tawa langsung lenyap.

Semua orang terpaku menatapku dengan mulut menganga. Salah satu paman Marco bahkan bersembunyi di bawah meja karena hampir terkena lemparan panci.

Di tengah kesunyian yang mencekam itu, aku melangkah keluar dari dapur. Tanganku masih basah oleh busa sabun, tapi kepalaku tegak seperti seorang pemenang perang.

Marco menatapku dengan mata yang hampir keluar dari kelopak matanya. “K-kamu… kamu gila, ya?!” bisiknya, suaranya bergetar antara syok dan malu.

Aku berjalan mendekatinya, melepas celemek bernoda minyak yang kupakai, lalu melemparnya tepat ke wajah tampannya yang sekarang terlihat sangat tidak berguna itu.

Babak Belur, tapi Puas

“Ujian pantas atau tidak?” kataku dengan suara lantang, memastikan seluruh anggota keluarganya yang terhormat mendengar setiap kata yang kuucapkan. “Kalau standar kelayakan kalian untuk menjadi menantu adalah seberapa tahan aku diperbudak, maaf ya, aku bukan mendaftar jadi pembantu gratisan.”

Tante Anya masih syok, tangannya gemetar menunjuk kue ulang tahun yang sekarang sudah gepeng tertimpa tutup panci. “Kamu… kamu perempuan tidak tahu sopan santun! Kamu tidak pantas untuk Marco!”

“Oh, Tante, Anda salah besar,” ujarku sambil tersenyum manis, senyum paling sarkastik yang pernah kukeluarkan seumur hidup. “Bukan aku yang tidak pantas untuk Marco. Tapi Marco dan keluarga kalian yang sama sekali tidak pantas mendapatkan aku.”

Aku menoleh ke arah Marco untuk terakhir kalinya.

“Kita putus. Silakan kamu cari pacar baru di aplikasi lowongan kerja, bukan di aplikasi kencan.”

Sebuah Akhir (dan Awal yang Baru)

Aku berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah mantap. Di belakangku, samar-samar terdengar suara piring terakhir yang tadi tersangkut di atas lampu gantung akhirnya jatuh dan pecah berkeping-keping: PRANG!

Begitu melangkah keluar dari rumah itu, hawa malam langsung menyapa wajahku. Rasanya begitu segar. Punggungku memang masih pegal, dan tanganku masih wangi jeruk nipis ekstrim, tapi entah mengapa, aku merasa sangat ringan.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi ojek online, dan memesan makanan paling mewah yang bisa kubeli untuk kumakan sendiri di kamar kosan.

Ternyata benar, cinta itu memang buta. Tapi untungnya, siraman air sabun cuci piring dan wajan raksasa malam ini berhasil membuat mataku terbuka lebar.

Bagaimana menurutmu? Apakah pembalasan dendamnya sudah cukup dramatis, atau mau ditambahkan sedikit kekacauan lagi sebelum dia pergi?