Posted in

“AKU DITUDUH OLEH KAKAKKU SENDIRI SEBAGAI PENCURI TEPAT PADA HARI PEMAKAMAN AYAH KAMI. DIA INGIN MEMPERMALUKANKU DI DEPAN PARA TAMU KAYA DAN MEMASUKKANKU KE PENJARA AGAR BISA MENGUASAI SELURUH MANSION DAN PERUSAHAAN KELUARGA. NAMUN SAAT PENGACARA MEMBUKA SURAT TERAKHIR DARI AYAH KAMI, KESOMBONGANNYA LANGSUNG BERUBAH MENJADI KETAKUTAN YANG LUAR BIASA. WAJAHNYA MEMUCAT SEOLAH BARU SAJA MELIHAT HANTU.”

“AKU DITUDUH OLEH KAKAKKU SENDIRI SEBAGAI PENCURI TEPAT PADA HARI PEMAKAMAN AYAH KAMI. DIA INGIN MEMPERMALUKANKU DI DEPAN PARA TAMU KAYA DAN MEMASUKKANKU KE PENJARA AGAR BISA MENGUASAI SELURUH MANSION DAN PERUSAHAAN KELUARGA. NAMUN SAAT PENGACARA MEMBUKA SURAT TERAKHIR DARI AYAH KAMI, KESOMBONGANNYA LANGSUNG BERUBAH MENJADI KETAKUTAN YANG LUAR BIASA. WAJAHNYA MEMUCAT SEOLAH BARU SAJA MELIHAT HANTU.”

### Skandal di Depan Peti Mati

Namaku Elena, dua puluh delapan tahun.

Selama lima tahun terakhir, aku mengorbankan impian dan kehidupanku sendiri untuk merawat ayah kami yang menderita penyakit parah.

Saat aku begadang di rumah sakit dan mengurus obat-obatannya, kakakku yang lebih tua, Vanessa, menikmati hidup di luar negeri, menghabiskan uang keluarga untuk mobil mewah, tas desainer, dan pesta-pesta mahal.

Hari ini adalah malam terakhir upacara penghormatan untuk ayah kami.

Acara itu diadakan di mansion keluarga dan dihadiri oleh para pengusaha serta politisi ternama.

Aku duduk diam di samping peti jenazah sambil menahan tangis ketika tiba-tiba pintu besar aula terbuka dengan keras.

Vanessa masuk.

Ia mengenakan gaun hitam desainer yang ketat dan mencolok, kacamata hitam besar, serta dikelilingi oleh para pengawal pribadinya.

Tidak ada sedikit pun kesedihan di wajahnya.

“Berhenti berpura-pura, Elena!” teriak Vanessa dengan suara nyaring yang menggema ke seluruh mansion.

Semua tamu langsung terdiam.

Aku menatapnya dengan bingung dan terluka.

“Kak, apa yang kamu lakukan? Kita sedang berduka.”

### Racun Keserakahan

“Berduka? Atau sedang merencanakan cara menikmati hasil curianmu?!” bentak Vanessa sambil berjalan mendekat dan menunjuk wajahku.

“Aku tahu apa yang kamu lakukan! Kamu memaksa Ayah memindahkan uangnya ke namamu saat beliau sedang sakit! Kamu pencuri! Kamu memanfaatkan kondisi Ayah untuk mengambil seluruh kekayaan keluarga!”

Para tamu terkejut.

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ruangan.

“A-Apa yang Kakak bicarakan? Aku tidak mencuri apa pun! Aku menghabiskan seluruh waktuku merawat Ayah sementara Kakak bersenang-senang di Eropa!” jawabku sambil menangis.

“Pembohong!”

Vanessa melemparkan sebuah laporan rekening bank palsu ke lantai.

“Aku akan memanggil polisi dan memasukkanmu ke penjara! Sebagai anak sulung dan ahli waris yang sah, perusahaan dan mansion ini menjadi milikku! Keluar dari rumahku, perempuan tidak berguna!”

Para pengawalnya bergerak maju dan hampir menyeretku keluar ketika sebuah suara formal terdengar dari belakang para tamu.

“Tunggu sebentar, Nona Vanessa.”

### Pembukaan Amplop Terakhir

Kerumunan tamu memberi jalan.

Masuklah Pengacara Mendoza, penasihat hukum pribadi keluarga kami selama tiga puluh tahun terakhir.

Di tangannya terdapat sebuah koper hitam.

“Pengacara Mendoza! Kedatangan Anda tepat waktu,” sapa Vanessa dengan senyum puas.

“Tunjukkan kepada semua orang di aula ini bahwa aku adalah satu-satunya pewaris sah perusahaan dan mansion keluarga! Dan mari kita kirim pencuri itu ke penjara!”

Pengacara Mendoza menatap Vanessa dengan ekspresi serius.

Ia meletakkan kopernya di atas meja.

Lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang masih tersegel.

Pengacara Mendoza membersihkan tenggorokannya, membuat suasana aula yang megah itu mendadak hening mencekam.

“Nona Vanessa, tuduhan Anda sangat serius,” ujar Pengacara Mendoza dengan suara baritonnya yang tenang namun berwibawa. “Namun, sebelum Anda memanggil polisi, ada baiknya kita mendengarkan wasiat terakhir yang ditulis sendiri oleh mendiang Tuan Abraham dua minggu sebelum beliau wafat.”

Vanessa menyilangkan dadanya, tersenyum sinis. “Silakan baca, Pengacara Mendoza. Biar semua orang tahu kalau jalang kecil ini tidak akan mendapatkan satu sen pun.”

Pengacara Mendoza tidak membalas ucapan kasar itu. Ia merobek segel amplop cokelat tersebut, mengeluarkan selembar kertas tebal berlogo resmi, dan mulai membaca dengan lantang.

Surat Terakhir dari Ayah

“Untuk kedua putriku, Vanessa dan Elena, serta para kolega yang menghadiri hari pemakamanku.

Aku menulis surat ini dalam keadaan sadar sepenuhnya. Selama lima tahun terakhir, mataku telah dibukakan oleh siapa yang benar-benar tulus menyayangiku sebagai seorang ayah, dan siapa yang hanya menganggapku sebagai mesin ATM berjalan.

Kepada putri sulungku, Vanessa. Kamu mengira aku tidak tahu tentang manipulasi keuangan yang kamu lakukan di cabang perusahaan kita di Eropa. Kamu mengira aku tidak tahu bahwa kamu diam-diam telah memalsukan tanda tanganku untuk mencairkan dana darurat keluarga sebesar Rp50 miliar demi gaya hidupmu.”

Mendengar kalimat itu, senyum di wajah Vanessa langsung membeku. Kacamata hitam yang ia kenakan merosot sedikit, memperlihatkan matanya yang mulai melebar panik. “A-Apa? Itu tidak benar! Ayah pasti sudah pikun saat menulis itu!” serunya, suaranya mulai melengking panik.

“Diam dan dengarkan, Nona Vanessa,” potong Pengacara Mendoza tegas, lalu melanjutkan membaca.

“Oleh karena itu, melalui surat wasiat ini, aku menyatakan bahwa aku mencabut seluruh hak waris Vanessa atas nama hukum. Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari aset perusahaanku, tidak juga mansion ini. Bahkan, seluruh fasilitas, mobil, dan kartu kredit atas nama keluarga yang kamu pegang saat ini, resmi dinonaktifkan tepat pada jam kematianku.

Dan untuk Elena, putri kecilku yang malang… Maafkan Ayah yang selama ini terlalu menuntutmu. Terima kasih telah menemani masa-masa menyakitkan di penghujung hidupku. Dengan ini, aku menyerahkan 100% kepemilikan saham Abraham Group, seluruh aset likuid, serta mansion keluarga ini kepadamu secara mutlak.”

Balasan yang Menghancurkan

Aula itu langsung gempar. Para tamu kaya dan politisi yang tadi sempat memandangku rendah kini menatap Vanessa dengan tatapan jijik dan sinis.

Wajah Vanessa memucat seolah baru saja melihat hantu. Tubuhnya gemetar hebat, lipstik merah menyalanya kontras dengan kulitnya yang mendadak kehilangan warna.

“Tidak mungkin… TIDAK MUNGKIN!” teriak Vanessa histeris. Ia berlari maju dan mencoba merebut kertas itu dari tangan Pengacara Mendoza. “Surat itu pasti palsu! Elena yang memalsukannya!”

“Surat ini sah secara hukum, Nona Vanessa. Sudah didaftarkan ke notaris negara dan memiliki saksi-saksi yang kuat,” ujar Pengacara Mendoza dingin. Beliau lalu berbalik menatap dua petugas berseragam rapi yang sejak tadi berdiri di pintu masuk aula.

Dua orang itu bukan pengawal pribadi Vanessa. Mereka adalah penyidik dari direktorat tindak pidana ekonomi kepolisian.

“Nona Vanessa,” salah satu petugas melangkah maju, mengeluarkan sepasang borgol perak dari sakunya. “Kami menerima laporan resmi dari mendiang Tuan Abraham dan Pengacara Mendoza terkait dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan sebesar Rp50 miliar, dan pencucian uang yang Anda lakukan. Anda resmi ditahan malam ini.”

“Elena! Tolong aku! Katakan pada mereka ini salah paham!” Vanessa menjerit, air matanya merusak riasan tebal di wajahnya saat kedua tangannya diborgol di depan para tamu kehormatan. Kesombongan yang ia bawa saat masuk ke aula ini runtuh total menjadi kehinaan yang luar biasa.

Aku berdiri dari samping peti mati Ayah, menghapus sisa air mataku. Aku menatap kakak kandungku itu tanpa ada lagi rasa kasihan.

“Kamu ingin mempermalukanku di depan pemakaman Ayah dan memasukkanku ke penjara, Kak,” kataku, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin. “Sekarang, nikmatilah tempat yang sebenarnya sudah kamu pesan sendiri sejak lima tahun lalu.”

Para pengawal yang tadi dibawa Vanessa langsung mundur, tidak ingin terlibat saat Vanessa diseret keluar dari mansion oleh pihak kepolisian di bawah tatapan mencemooh dari ratusan pasang mata tamu undangan.

Aku berbalik, memegang tepi peti mati Ayah, dan berbisik dalam hati, ‘Terima kasih, Ayah. Istirahatlah dengan tenang. Aku akan menjaga apa yang telah Ayah percayakan.’