Aku hamil anak dari suamiku yang dingin dan seorang dokter…
Tepat di hari saat aku ingin memberitahukan kabar bahagia itu, aku memergokinya membiarkan wanita lain merapikan dasinya.
Namun berita yang muncul di TV malam itu benar-benar mengguncang seluruh duniaku…
Namaku Camille Reyes.
Ibuku sering berkata:
“Perempuan Cebu yang punya harga diri… tidak akan sembarangan menyerahkan hatinya kepada pria yang tidak dikenal keluarganya.”
Karena itu, saat usiaku dua puluh enam tahun, ibuku sendiri yang memilih pria yang akan menjadi suamiku.
Adrian Villanueva.
Seorang ahli bedah saraf terkenal di St. Luke’s Medical Center.
Tampan.
Dingin.
Kaya.
Dan hampir menjadi fantasi setiap perawat dan dokter magang di rumah sakit itu.
Saat pertama kali melihatnya, ia masih mengenakan baju operasi dengan noda darah di lengan setelah sebelas jam operasi.
Dia tidak tersenyum.
Dia hanya menatapku lurus lalu berkata:
—Kalau kamu bisa menerima hidup yang sunyi, aku tidak akan menyakitimu.
Saat itu…
aku pikir itu adalah kalimat paling romantis yang pernah kudengar dari pria seperti dia.
Tiga bulan kemudian, kami menikah.
Pernikahan mewah di hotel luxury di Makati.
Lampu kristal chandelier.
Menara champagne.
Kamera media di setiap sudut.
Semua orang bilang aku sangat beruntung.
Tapi tak ada yang tahu…
bahwa setelah menikah, rasanya seperti tinggal bersama orang asing.
Dia pergi pagi-pagi sekali.
Sering pulang saat dini hari.
Saat kami makan bersama, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu.
Saat kutanya apakah dia lelah, dia hanya mengangguk.
Saat aku mencoba memeluknya di malam hari, tubuhnya menegang seolah dia hanya menjalankan kewajiban sebagai suami.
Tapi meski begitu…
perlahan-lahan aku tetap jatuh cinta padanya.
Karena hal-hal kecil.
Saat perutku sakit karena menstruasi, diam-diam dia meninggalkan hot compress di sampingku.
Saat aku kehujanan sepulang kerja di Quezon City, dia tiba-tiba muncul membawa payung.
Suatu malam pukul dua belas, aku pernah bilang ingin mango graham cake dari sebuah café di Pasig.
Keesokan harinya, kue itu sudah ada di kulkas.
Dulu kupikir…
itulah caranya mencintaiku.
Sampai suatu pagi…
aku melihat dua garis jelas di alat tes kehamilan.
Aku hamil.
Lututku langsung lemas saat memegang test kit kecil itu.
Kami akan punya anak.
Sepanjang hari aku tersenyum sambil memasak salmon sinigang favoritnya.
Aku bahkan memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar itu padanya.
Mungkin untuk pertama kalinya…
Adrian akan tersenyum dengan tulus.
Tapi saat aku tiba di rumah sakit…
duniaku runtuh.
Pintu kantornya sedikit terbuka.
Dan ada seorang wanita di dalam.
Sangat cantik.
Kulit putih.
Rambut panjang bergelombang.
Gaun designer putih dan gelang Cartier di tangannya.
Dan yang paling menyakitkan…
dia memegang suamiku dengan begitu alami.
Wanita itu sedang merapikan dasi Adrian sambil bersandar di meja kantornya.
—Adrian, sampai kapan kamu akan bersembunyi di Filipina? Kondisi ayahmu semakin buruk. Kamu harus kembali ke New York.
Tubuhku langsung membeku.
New York?
Adrian diam.
Tapi dia tidak menyingkirkan tangan wanita itu.
Tidak seperti saat aku mencoba menyentuhnya.
Wanita itu menghela napas lalu tersenyum dingin.
—Apa? Kamu benar-benar jatuh cinta pada wanita yang kamu nikahi di sini? Adrian… jangan buat aku tertawa. Dia cuma desainer kampung dari Cebu.
Rasanya seperti disiram air es.
Kotak makanan di tanganku terlepas.
BRAK!
Kuah panas tumpah di seluruh lorong.
Mereka berdua langsung menoleh.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Adrian…
aku melihat dia ketakutan.
—Camille…
Dia cepat-cepat menghampiriku.
Tapi aku langsung mundur.
Rasanya aku jijik disentuh olehnya.
Sementara wanita itu perlahan melipat tangan sambil menilaiku dari atas sampai bawah.
Seolah sedang menonton pertunjukan lucu.
—Jadi kamu “istri pengganti” itu.
Tanganku menggenggam erat test pack di dalam tas.
Istri pengganti.
Jadi selama ini cuma itu diriku?
Semua malam saat aku menunggunya pulang…
Semua pagi saat aku memasakkan makanan untuknya…
Semua cinta yang kuberikan…
ternyata tidak berarti apa-apa?
Air mataku perlahan jatuh saat menatap Adrian.
—Masih ada yang ingin kamu jelaskan?
Dia tidak langsung menjawab.
Dan keheningan itu…
adalah jawaban paling menyakitkan.
Aku berlari keluar rumah sakit sementara hujan bercampur dengan air mataku.
Saat tiba di penthouse kami di BGC, aku hampir tidak bisa bernapas.
Semua barang yang kutata dengan penuh cinta…
tiba-tiba terasa dingin.
Seperti kamar hotel yang dihuni dua orang asing.
Adrian terus menelepon.
Tidak kuangkat.
Sampai sebuah pesan masuk.
“Tolong dengarkan penjelasanku dulu.”
Aku tertawa sambil menangis.
Lucu sekali.
Kalau seseorang benar-benar mencintaimu, dia tidak akan menjadikanmu rahasia.
Dan kalau kamu benar-benar penting…
dia tidak akan membuatmu merasa hanya sebagai pengganti.
Aku memegang perutku.
Ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalamnya.
Dan saat itu…
aku membuat keputusan yang jelas.
Aku akan pergi.
Aku tidak akan membiarkan anakku tumbuh di dalam kebohongan besar.
Aku tidak akan memperjuangkan pria yang sejak awal tidak pernah memilihku.
Malam harinya, Adrian pulang.
Tubuhnya basah kuyup karena hujan.
Begitu masuk, dia langsung mencariku.
—Camille, dengarkan dulu—
—Kita bercerai.
Dia langsung terdiam.
Wajahnya seolah kehilangan warna.
—Tidak.
Ini pertama kalinya dia menjawab secepat itu.
—Aku tidak akan setuju.
Aku tersenyum pahit sambil menghapus air mata.
—Kenapa? Takut aku terluka? Atau takut tunangan aslimu marah saat tahu kamu mulai jatuh cinta pada “istri pengganti” dari kampung ini?
Rahangnya langsung menegang.
Tapi sebelum dia sempat bicara…
terdengar ketukan keras bertubi-tubi dari pintu.
Berat.
Mengejutkan.
Saat Adrian membuka pintu—
empat pria berbaju hitam berdiri di luar.
Bersama seorang pria tua asing yang memegang tongkat.
Dan saat melihat Adrian…
mata pria tua itu langsung memerah.
—Young Master…
Mataku membesar.
Lalu semua bodyguard itu membungkuk bersamaan.
—The Villanueva Global Group akhirnya menemukan Anda.
Dan tepat saat itu…
TV di ruang tamu menayangkan breaking news.
“Pewaris yang hilang dari kerajaan finansial Villanueva akhirnya ditemukan setelah bersembunyi selama tujuh tahun di Filipina.”
Pria tua itu perlahan menoleh kepadaku.

Tatapannya berhenti di perutku.
Lalu dengan suara gemetar dia berkata:
—Apakah dia… wanita yang sedang mengandung calon pewaris seluruh kerajaan Villanueva?
Pria tua bertongkat itu melangkah masuk ke dalam penthouse, mengabaikan Adrian yang berdiri kaku menghalangi jalan. Keempat bodyguard di belakangnya mengamankan perimeter pintu dengan sigap, mengubah suasana ruang tamu kami yang hangat menjadi markas operasi militer dalam hitungan detik.
Di layar televisi, pembawa berita breaking news terus berbicara dengan nada cepat, menampilkan foto masa muda Adrian bersanding dengan logo konglomerasi finansial multinasional yang berbasis di New York.
— “Adrian Villanueva, putra mahkota tunggal yang dikabarkan melepas seluruh hak warisnya dan menghilang tanpa jejak tujuh tahun lalu, terkonfirmasi menetap di Manila sebagai seorang dokter spesialis bedah saraf…”
Suara televisi itu terasa berdengung di telingaku. Aku menatap Adrian, mencari sisa-sisa sosok suamiku yang sederhana—pria yang kupikir hanya seorang dokter pekerja keras yang menabung mati-matian untuk membeli penthouse ini. Namun, pria di hadapanku sekarang menatap pria tua bertongkat itu dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam.
“Siapa yang mengizinkanmu membawa orang-orangmu ke rumahku, paman?” suara Adrian terdengar sangat rendah, mendesis bagai ular, jauh lebih dingin daripada biasanya.
Pria tua itu—yang ternyata adalah paman kandung Adrian sekaligus tangan kanan kepala keluarga Villanueva—tidak menjawab. Dia justru berjalan mendekatiku, lalu membungkuk hormat hampir sembilan puluh derajat.
“Ma’am, nama saya Edward Villanueva,” ucapnya dengan bahasa Inggris beraksen kental. “Selama tujuh tahun kami mengira Young Master melarikan diri karena menolak perjodohan keluarga di New York. Kami tidak menyangka… dia bersembunyi di sini, memalsukan latar belakangnya, dan diam-diam membangun keluarganya sendiri demi melindungi Anda.”
Aku mengernyit, rahimku mendadak terasa menegang karena syok. “Melindungi… aku?”
Edward menghela napas, lalu menoleh ke arah Adrian. “Wanita yang Anda lihat di kantor Young Master tadi pagi, Miss Rachel, bukan tunangannya. Dia adalah utusan dari tetua New York yang dikirim untuk mengancam posisi Young Master. Dia sengaja memprovokasi Anda agar Anda meninggalkan Adrian, karena mereka tahu… kelemahan terbesar Adrian Villanueva saat ini adalah istrinya.”
“Cukup, Edward!” Adrian membentak, suaranya menggelegar menghantam dinding penthouse. Dia melangkah maju, mencengkeram lengan baju Edward dengan kasar. “Keluar dari sini! Bawa Rachel dan seluruh urusan New York pergi dari hidupku! Aku sudah melepaskan nama besar itu!”
“Anda tidak bisa melepaskannya lagi, Young Master,” balas Edward tenang, menunjuk ke arah layar televisi yang kini menampilkan berita terbaru. “Ayah Anda baru saja mengumumkan di bursa saham New York bahwa seluruh aset Villanueva Global Group telah dialihkan atas nama anak dari Adrian Villanueva. Siapa pun wanita yang mengandung darah daging Anda… anak itu adalah pemilik sah kekaisaran finansial kami.”
Mendengar kata ‘mengandung’, Adrian mendadak membeku. Dia perlahan melepaskan cengkeramannya dari baju Edward, lalu menoleh menatapku. Matanya yang biasa sedingin es kini bergetar hebat, turun menatap tas tangan yang kupegang erat—tempat di mana test pack dua garis itu kusembunyikan.
“Camille…” suara Adrian bergetar, terdengar sangat rapuh. “Kamu… hamil?”
Aku tidak bisa menjawab. Air mataku kembali menetes, runtuh bersama seluruh kebenaran yang terlalu besar untuk kupikul sendirian malam ini.
Pria yang kukira dingin dan tidak mencintaiku… ternyata adalah seorang putra mahkota yang rela membuang kekayaan triliunan rupiah, bekerja belasan jam di ruang operasi hingga bersimbah darah, dan hidup dalam kesunyian bersamaku hanya agar keluarganya di New York tidak mendeteksi keberadaanku. Semua mango graham cake, payung di kala hujan, dan hot compress saat aku sakit… itu bukan sekadar kewajiban suami. Itu adalah seluruh cara yang dia miliki untuk mencintaiku di tengah kejaran dunia luar.
Adrian berjalan mendekatiku, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depanku. Dia menggenggam kedua tanganku yang dingin dengan tangannya yang basah karena air hujan.
“Maafkan aku, Camille… Maaf karena membuatmu merasa menjadi pengganti,” bisik Adrian, air matanya luruh di atas punggung tanganku. “Aku sengaja bersikap dingin dan menjauhkanmu dari duniaku karena aku takut… aku takut jika mereka tahu aku terikat padamu, mereka akan menyakitimu seperti mereka menyakiti ibuku dulu. Rachel sengaja membohongimu agar kamu pergi dan membiarkan mereka menyeretku kembali ke New York.”
Dia mendongak, menatapku dengan mata merah penuh permohonan. “Jangan bercerai, Camille. Demi anak kita… beri aku waktu untuk menyelesaikan kekacauan ini.”
Aku menatap suamiku, lalu beralih menatap Edward dan para bodyguard yang berdiri tegak. Aku tahu, mulai malam ini, hidupku sebagai desainer kampung dari Cebu telah berakhir. Hidup sunyi yang dijanjikan Adrian tiga bulan lalu kini telah berubah menjadi badai terdahsyat di Manila.
Namun, saat aku merasakan detak kehidupan kecil di dalam perutku, harga diri perempuan Cebu di dalam diriku mendadak bangkit. Aku tidak akan lari, dan aku tidak akan membiarkan suamiku menghadapi monster-monster dari New York itu sendirian.
Aku menarik tangan Adrian, memaksanya berdiri tegak untuk menyejajarkan pandangannya denganku.
“Berdirilah, Adrian Villanueva,” kataku dengan suara yang tegas dan mantap, menghapus sisa air mata di pipiku. “Seorang ahli bedah saraf terbaik di St. Luke tidak boleh berlutut di depan siapa pun.”
Aku menoleh menatap Edward Villanueva dengan tatapan berani yang langsung membuat pria tua itu tertegun.
“Tuan Edward,” panggilku dingin. “Beri tahu orang-orangmu di New York. Anak di dalam kandunganku ini memang akan menjadi pewaris seluruh kerajaan Villanueva. Tapi dia tidak akan dibesarkan di bawah aturan kuno kalian. Mulai malam ini, suamiku yang akan memegang kendali penuh atas Villanueva Global Group dari Manila… atau kami akan memastikan seluruh saham kekaisaran kalian hancur di bursa efek besok pagi.”
Adrian menatapku dengan binar mata penuh kekaguman dan cinta yang selama ini selalu dia sembunyikan di balik topeng dinginnya. Dia merangkul pinggangku erat, menarikku ke dalam dadanya yang hangat, memberikan perlindungan yang sesungguhnya.
Di luar jendela penthouse BGC, hujan Manila masih turun dengan lebat, mengguyur kota yang kini gempar oleh berita tentang kami. Mereka mengira aku hanyalah istri pengganti dari kampung yang bisa disingkirkan, namun mereka tidak tahu bahwa demi anak di dalam kandunganku dan pria yang teramat kucintai ini, aku siap mengubah takdir seluruh kerajaan finansial dunia.