Posted in

AKU HAMIL DELAPAN BULAN TAPI DIPAKSA SUAMIKU MEMASAK 5 MENU UNTUK INVESTORNYA. SAAT AKU PINGSAN KARENA SAKIT DI LANTAI, DIA HANYA MENATAP DINGIN. TAPI APA YANG DILAKUKAN TAMU ITU MEMBUAT DUNIA SUAMIKU HANCUR.

AKU HAMIL DELAPAN BULAN TAPI DIPAKSA SUAMIKU MEMASAK 5 MENU UNTUK INVESTORNYA. SAAT AKU PINGSAN KARENA SAKIT DI LANTAI, DIA HANYA MENATAP DINGIN. TAPI APA YANG DILAKUKAN TAMU ITU MEMBUAT DUNIA SUAMIKU HANCUR.

Aku Maya. Sudah delapan bulan aku mengandung anak pertama kami dengan suamiku, Roman. Di tahap kehamilan ini, setiap langkah terasa seperti membawa semen di kaki. Kaki bengkak, pinggul berat, dan sering sesak napas.

Tapi bagi Roman, kehamilanku bukan kondisi medis—hanya “gangguan”.

Suatu Jumat pagi, ia masuk ke dapur saat aku sedang sulit menuang susu.

“Maya,” katanya dengan suara dingin tanpa kelembutan. “Malam ini Mr. Alejandro Vergara akan datang. Investor terbesar yang sedang aku tunggu. Aku mau kamu menyiapkan makan malam 5 menu.”

Sendokku jatuh. Aku menatapnya tidak percaya.

“Roman… aku sudah delapan bulan hamil. Aku bahkan sulit berdiri lama. Kenapa tidak pesan katering saja?”

Roman mengerutkan dahi. “Mr. Vergara menghargai keluarga dan jamuan rumah. Dia ingin melihat makanan buatan istri. Jangan berlebihan, Maya. Ini demi promosi dan masa depan kita. Kerjakan tugasmu sebagai istri.”

Ia pergi begitu saja.

Aku tidak punya pilihan selain menurut.

**Neraka di Dapur**

Pukul tiga sore aku mulai memasak tanpa henti. Soup jamur truffle, shrimp cocktail, Caesar salad homemade, roasted beef tenderloin, dan leche flan.

Saat pukul tujuh malam, tubuhku sudah hampir tumbang. Keringat membasahi seluruh tubuh. Kaki bengkak seperti akan pecah. Dan yang lebih parah, aku mulai merasakan kontraksi.

Mr. Vergara datang. Pria berusia sekitar enam puluh tahun, tampak rapi dan berwibawa.

“Selamat malam, Nyonya Maya,” katanya sambil melihat perutku. “Oh, Anda hamil! Selamat. Roman, seharusnya kita makan di luar saja.”

Roman tertawa palsu. “Tidak apa-apa, Pak. Istri saya senang memasak untuk tamu penting.”

Dadaku terasa ditusuk.

Aku tetap tersenyum dan kembali ke dapur.

**Kejatuhan**

Aku berhasil menyajikan hidangan pertama dan kedua. Tapi rasa sakit di perut semakin menjadi. Seperti tubuhku ditarik dari dalam.

Saat membawa hidangan utama, langkahku terhenti di tengah jalan. Sakit luar biasa menghantam tubuhku.

Aku berteriak.

Dan aku jatuh.

CRAAAASH!

Piring mahal pecah. Makanan berantakan di lantai.

Aku tergeletak, memegang perutku, kesakitan.

“Tolong… Roman… anak kita…” isakku.

Roman terkejut, namun bukan karena mengkhawatirkan kondisiku. Wajahnya memerah padam, penuh amarah dan rasa malu yang mendalam karena hidangan utamanya hancur berantakan di depan investor paling penting dalam kariernya.

Ia melangkah mendekat, berdiri di atasku. Alih-alih berlutut untuk menolong, Roman hanya menatapku dengan tatapan sedingin es.

“Maya! Apa-apaan kamu ini?!” desisnya dengan suara rendah namun penuh tekanan, menahan geram agar tidak terdengar seperti monster di depan tamunya. “Kamu sengaja ingin mempermalukan aku di depan Mr. Vergara? Bangun! Jangan manja!”

Air mataku menetes, bercampur dengan keringat dingin. Rasa sakit di perutku semakin mencengkeram, dan aku bisa merasakan cairan hangat mulai membasahi lantai. Air ketubanku pecah.

Tindakan sang Investor

Namun, sebelum Roman sempat membentakku lebih jauh, sebuah benturan keras terdengar dari arah meja makan. Mr. Vergara berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. Wajah pria paruh baya yang tadinya ramah itu kini berubah menjadi begitu menyeramkan, memancarkan otoritas dan kemarahan yang absolut.

“CUKUP, ROMAN!” gertak Mr. Vergara. Suaranya menggelegar di seluruh penjuru ruangan.

Roman tersentak, langsung membalikkan badan dengan wajah pucat. “M-Mr. Vergara, maafkan istri saya. Dia memang agak ceroboh akhir-akhir ini karena—”

“TUTUP MULUTMU!” potong Mr. Vergara tanpa ampun.

Pria terhormat itu mengabaikan Roman sepenuhnya. Tanpa memedulikan jas mahalnya yang terkena noda makanan di lantai, Mr. Vergara langsung berlutut di sampingku. Ia melepas jasnya, melipatnya dengan cekatan, dan meletakkannya di bawah kepalaku sebagai bantal.

“Nyonya Maya, tenang ya. Bernapaslah perlahan. Anda aman bersama saya,” katanya dengan suara yang sangat lembut, berbanding terbalik dengan suaranya saat membentak Roman.

Mr. Vergara langsung merogoh ponselnya, menelepon ambulans rumah sakit swasta terbaik, dan memerintahkan tim medis untuk datang dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Setelah itu, ia menelepon seseorang di seberang sana.

“Halo, batalkan semua draf kontrak kerja sama dengan perusahaan Roman. Tarik kembali seluruh saham dan investasi yang sudah kita setujui sore tadi. Detik ini juga,” perintah Mr. Vergara dengan tegas.

Roman yang mendengar hal itu langsung lemas. Lututnya gemetar. “Mr. Vergara! Tolong jangan lakukan ini! Saya mohon! Ini hanya masalah kecil, istri saya hanya—”

Mr. Vergara berdiri, berbalik, dan menatap Roman seperti sedang melihat seonggok sampah.

“Masalah kecil?” tanya Mr. Vergara dengan nada menghina. “Saya membangun bisnis saya dengan prinsip menghargai keluarga. Saya meminta jamuan rumah karena saya ingin melihat bagaimana seorang pria menghargai rumah tangganya. Dan malam ini, saya melihat seorang monster yang membiarkan istrinya yang hamil delapan bulan bertaruh nyawa di lantai demi egomu!”

Pria tua itu menunjuk wajah Roman yang sudah pucat pasi. “Pria yang tidak bisa menghargai darah daging dan istrinya sendiri, tidak akan pernah memegang janji dalam bisnis. Kamu tidak hanya kehilangan investasiku, Roman. Aku akan memastikan seluruh kolega bisnisku di negara ini tahu kelakuan busukmu malam ini. Kamu hancur.”

Runtuhnya Dunia Roman

Ambulans datang tidak lama kemudian. Mr. Vergara sendiri yang menemani dan memastikan aku mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit, bahkan membiayai seluruh persalinan daruratku.

Malam itu, di bawah penanganan dokter yang sigap, putra pertama kami lahir dengan selamat melalui operasi caesar darurat. Ia bayi yang sangat kuat.

Sementara aku mendekap bayiku di bangsal rumah sakit yang nyaman, dunia Roman benar-benar runtuh seketika:

  • Kehancuran Finansial: Akibat penarikan modal secara mendadak oleh Mr. Vergara, perusahaan Roman dinyatakan pailit dalam waktu tiga hari.
  • Sanksi Sosial: Sesuai janji Mr. Vergara, cerita tentang kekejaman Roman menyebar cepat di kalangan pebisnis. Tidak ada satu pun perusahaan yang mau bekerja sama dengannya lagi.
  • Kehilangan Segalanya: Roman mencoba datang ke rumah sakit sambil menangis, memohon ampun di kaki tempat tidurku. Namun, dua orang petugas keamanan yang disewa khusus oleh Mr. Vergara langsung mengusirnya keluar.

Sambil menatap surat cerai dan tuntutan hak asuh penuh yang sudah ditandatangani oleh pengacaraku, aku tahu masa depanku dan anakku akan baik-baik saja. Roman mengira dia bisa mengorbankan keluarganya demi uang dan ambisi. Kini, dia harus menerima kenyataan bahwa dia kehilangan kedua-duanya, sendirian di dalam kehancuran yang ia ciptakan sendiri.