*AKU KEHILANGAN FILE PALING PENTING MILIK PERUSAHAAN… TAPI YANG LEBIH MENAKUTKAN ADALAH REAKSI CEO YANG DINGIN DAN DITAKUTI KEESOKAN HARINYA**
Selama tiga tahun bekerja di perusahaan ini, hanya ada satu hal yang selalu kuingatkan pada diriku sendiri:
Jauhi dia.
Bukan karena dia orang jahat.
Tetapi karena dia adalah tipe pria yang bisa membuat siapa pun terdiam hanya dengan satu tatapan.
Namanya Gabriel Santos.
Dia adalah CEO termuda dalam sejarah perusahaan.
Dia tidak pernah berteriak.
Dia tidak pernah marah.
Dia juga tidak pernah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas karyawan.
Namun tatapannya yang dingin jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun.
Setiap kali ada rapat dan seseorang melakukan kesalahan dalam laporan, dia hanya akan menatap orang itu selama beberapa detik.
Dan beberapa detik itu sudah cukup membuat siapa pun berkeringat dingin.
Diam-diam para karyawan menjulukinya:
**”Ice King.”**
Dan aku?
Aku hanyalah karyawan biasa di departemen proyek.
Tujuanku setiap hari sangat sederhana:
Datang bekerja.
Menyelesaikan tugas.
Menerima gaji.
Pulang.
Dan tidak menarik perhatian siapa pun.
Terutama perhatian Gabriel Santos.
Tapi takdir memang suka bercanda.
Suatu hari, manajer memanggilku ke ruangannya.
“Kamu akan menemani CEO dalam perjalanan bisnis minggu ini.”
Aku kira dia sedang bercanda.
“Saya?”
“Ya.”
Rasanya aku ingin menangis saat itu juga.
Tiga hari sebelum keberangkatan, aku hampir tidak bisa tidur karena gugup.
Aku memeriksa dokumen berulang kali.
Memeriksa laptop lima kali.
Memeriksa email sepuluh kali.
Aku sangat takut melakukan kesalahan.
Namun justru hal yang paling kutakutkan itulah yang terjadi.
Hari itu penandatanganan kontrak berjalan sukses.
Klien senang.
Para mitra puas.
Semua orang merayakannya.
Itu adalah salah satu proyek terbesar yang telah dikerjakan perusahaan selama hampir satu tahun.
Setelah makan malam, aku membawa sebuah koper kerja yang berisi semua dokumen asli.
Aku sangat lelah ketika kembali ke hotel.
Hal terakhir yang kuingat hanyalah saat naik lift.
Setelah itu…
Semuanya menjadi kacau.
Keesokan paginya.
Aku terbangun dengan perasaan gelisah.
Aku langsung melihat kursi di samping tempat tidur.
Koper hitam itu tidak ada.
Aku melompat turun dari tempat tidur.
Aku mencari ke seluruh kamar.
Di bawah tempat tidur.
Di dalam lemari.
Bahkan di kamar mandi.
Tidak ada.
Koper itu hilang.
Dan di dalamnya terdapat dokumen paling penting milik perusahaan.
Darahku seakan membeku.
Jika dokumen itu hilang…
Bukan hanya aku yang akan dipecat.
Proyek senilai ratusan miliar rupiah juga bisa gagal total.
Dengan tangan gemetar aku menelepon resepsionis.
Mereka tidak menemukan apa pun.
Aku berlari ke lobi.
Tidak ada yang melihatnya.
Aku hampir putus asa.
Tepat saat itu sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel.
Gabriel turun dari mobil.
Dia mengenakan setelan jas hitam yang rapi.
Ekspresinya tetap dingin seperti biasanya.
Aku segera menghampirinya.
“Pak… saya kehilangan dokumen-dokumen itu…”
Aku pikir dia akan marah.
Aku pikir dia akan langsung memecatku.
Aku pikir dia akan menanyakan kenapa aku bisa begitu ceroboh.
Tapi tidak.
Dia hanya menatapku dengan tenang.
Lalu bertanya dengan suara datar:
“Apakah kamu yakin dokumen itu hilang?”
Aku terdiam.
“Pak?”
“Pertanyaanku, apakah kamu yakin?”
Dengan bingung aku mengangguk.
Dia tidak mengatakan apa pun lagi.
Dia hanya mengambil ponselnya.
Menelepon seseorang.
Beberapa menit kemudian.
Seorang petugas keamanan berlari mendekat.
Di tangannya ada…
Koper kerjaku.
Aku hampir menangis karena lega.
“Terima kasih!”
Aku segera membukanya untuk memeriksa isinya.
Namun senyumku langsung menghilang.
Semua dokumen masih lengkap.
Kecuali satu benda.
Sebuah flashdisk USB berwarna perak.
USB yang berisi data paling rahasia dari proyek tersebut.
Wajahku langsung pucat.
“Tidak mungkin…”
Gabriel menatap ruang kosong di dalam koper.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku melihat ekspresinya berubah.
Bukan lagi dingin.
Melainkan serius.
Sangat serius.
Dengan suara pelan dia bertanya:
“Apakah ada orang lain yang menyentuh koper ini tadi malam?”
Aku berusaha mengingat.
Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Di lift semalam…
Ada seorang pria asing yang menabrakku.
Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya.
Namun sekarang…
Rasanya dia memang sedang memperhatikan koperku.
Setelah aku menceritakan semuanya.
Gabriel langsung berbalik.
“Masuk ke mobil.”
Aku panik.
“Kita mau ke mana, Pak?”
Dia tidak menjawab.
Sebaliknya, dia menyerahkan ponselnya kepadaku.
Di layar terlihat rekaman CCTV hotel.
Pria yang menabrakku semalam terlihat di sana.
Dia berdiri di area parkir.
Dan di sampingnya…
Ada seseorang yang tidak pernah kuduga akan kulihat.
Salah satu petinggi perusahaan kami sendiri.
Mataku membelalak.
Sementara Gabriel menggenggam ponselnya erat-erat.
Dengan suara rendah dia berkata:
“Akhirnya kau muncul juga.”
“Mereka mengambil sesuatu yang seharusnya tidak mereka ambil.”
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
**”Jika ingin mendapatkan kembali USB itu, jangan hubungi polisi.”**
**”Dan jangan percaya kepada siapa pun di perusahaan.”**
Aku bahkan belum sempat pulih dari keterkejutan.
Pesan lain langsung masuk.
Hanya satu kalimat pendek:

**”Pengkhianat itu sekarang berada tepat di sampingmu.”**
Perlahan aku menoleh ke arah Gabriel.
Dan pada saat yang sama…
Ponselnya juga bergetar.
Ponsel Gabriel berbunyi dengan nada dering pendek yang tajam.
Dalam keheningan kabin mobil yang kedap suara, bunyi itu terdengar seperti letupan pistol. Jantungku bergedu begitu kencang hingga rasanya menyakitkan. Kata-kata di layar ponselku seolah menari-nari dengan kejam: “Pengkhianat itu sekarang berada tepat di sampingmu.”
Di sampingku? Hanya ada Gabriel Santos. CEO yang ditakuti seluruh perusahaan. Pria yang memegang kendali atas proyek ratusan miliar ini. Apakah seluruh ketenangan dan tatapan dinginnya selama ini hanyalah topeng untuk menjebakku?
Gabriel tidak langsung melihat ponselnya. Ia merasakan pandanganku yang menegang. Perlahan, ia memutar kepalanya, menatapku lurus dengan sepasang mata elangnya yang tak terbaca.
“Kenapa menatapku seperti itu?” suaranya rendah, datar, namun mengintimidasi.
“P-Pak…” Tanganku yang memegang ponsel gemetar hebat. Aku refleks menggeser tubuhku merapat ke pintu mobil, menciptakan jarak sejauh mungkin darinya. “Ponsel Anda… bergetar.”
Gabriel melirik ponselnya yang tergeletak di antara kursi kami. Dengan gerakan lambat yang sengaja, ia memungut gawai itu. Matanya membaca layar selama beberapa detik. Tak ada kepanikan. Tak ada kilatan bersalah. Hanya rahangnya yang semakin mengeras.
Ia membalikkan layar ponselnya ke hadapanku.
Sebuah pesan dari nomor yang sama dengan yang meneror ponselku, namun isinya berbeda:
“Sekretarismu terlalu bodoh untuk menjaga aset penting. Serahkan proyek ini pada kami, atau gadis itu tidak akan pernah pulang ke Manila hidup-hidup.”
Napas yang sejak tadi kutahan akhirnya lolos. Tubuhku lemas. Mereka tidak sedang menuduh Gabriel sebagai pengkhianat. Pesan yang masuk ke ponselku sengaja dirancang untuk memecah belah kami, membuatku panik dan mencurigai satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya.
“Mereka ingin kamu tidak mempercayaiku,” ucap Gabriel, suaranya kembali dingin, sedingin es yang mematikan. “Karena jika kamu panik dan lari dariku, kamu akan menjadi mangsa yang sangat mudah bagi mereka.”
“Tapi… siapa mereka, Pak? Petinggi di CCTV itu…”
“Wakil Direktur Utama, Aris.” Gabriel menyebut nama itu tanpa beban, seolah ia sudah tahu borok pria itu sejak lama. “Dia sudah menjual data perusahaan ke kompetitor selama dua tahun terakhir. Perjalanan bisnis ke Cebu ini… sebenarnya adalah jebakan yang kusiapkan untuk memancingnya keluar. Dan dia menggunakanmu sebagai korbannya.”
Aku tercengang. Jadi, koperku yang hilang bukan sekadar kecerobohan, melainkan bagian dari permainan catur tingkat tinggi antara Gabriel dan para pengkhianat di dewan direksi.
Mobil hitam kami melaju membelah jalanan Cebu yang padat, menuju kawasan pelabuhan tua sesuai dengan koordinat GPS tersembunyi yang mendadak muncul di layar ponsel Gabriel.
Perangkap di Pelabuhan Tua
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gudang tua yang terbengkalai di tepi dermaga. Aroma garam laut yang anyir dan karat memenuhi udara.
“Tunggu di mobil,” perintah Gabriel sambil melepaskan sabuk pengamannya.
“Tapi Pak! Di dalam pasti berbahaya! Mereka memeras Anda!” kataku panik.
Gabriel menoleh, menatapku dengan intensitas yang membuatku membeku. “Aku tidak pernah diperas, Lana. Aku yang menentukan aturan mainnya.”
Ia turun dari mobil, melangkah dengan tenang tanpa senjata, tanpa pengawalan. Keberaniannya yang mutlak terasa tidak masuk akal. Karena tidak tahan dikurung dalam ketakutan, aku nekat membuka pintu mobil dan berlari membuntutinya dari jarak aman.
Di dalam gudang yang remang-remang, Wakil Direktur Aris sudah berdiri bersama tiga orang pria berbadan tegap. Di tangan Aris, flashdisk USB perak milikku berkilau terkena pantulan cahaya matahari dari celah atap.
“Gabriel! Akhirnya sang Ice King turun dari takhtanya!” Aris tertawa puas, suaranya menggema di dinding gudang. “Hebat sekali, kan? Proyek yang kamu kerjakan setengah mati selama satu tahun, sekarang ada di telapak tanganku. Tandatangani surat pengunduran dirimu, atau data ini akan rilis di publik besok pagi!”
Gabriel berhenti tepat lima langkah di depan Aris. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya. Ekspresinya? Masih datar. Masih sedingin malam.
“Aris,” panggil Gabriel pelan. “Kamu tahu kenapa aku membawa koper itu ke kamar hotel, padahal dokumen aslinya sudah aman di brankas bank sejak kemarin sore?”
Senyum di wajah Aris mendadak membeku. “Apa maksudmu?”
Gabriel mengeluarkan ponselnya, lalu menekan satu tombol.
Seketika, suara sirine polisi yang meraung-raung dari berbagai arah mengepung gudang tua tersebut. Puluhan petugas kepolisian distrik bersama tim khusus bersenjata menyerbu masuk melalui pintu depan dan jendela, langsung mengunci pergerakan tiga pria berbadan tegap itu ke lantai.
“U-USB ini…” Aris menatap benda di tangannya dengan panik.
“USB itu berisi virus pelacak enkripsi,” lanjut Gabriel, langkahnya maju satu kali, membuat Aris otomatis gemetar dan menjatuhkan flashdisk itu ke tanah. “Begitu pria suruhanmu mencolok benda itu ke laptopmu di hotel tadi pagi, seluruh data pribadi, rekening luar negerimu, dan bukti suapmu dengan kompetitor langsung terunduh ke server kepolisian.”
Gabriel membungkuk, memungut USB perak itu, lalu mengusap debunya dengan saputangan. Ia menoleh ke arahku yang bersembunyi di balik tumpukan palet kayu, memberikan isyarat agar aku mendekat.
“Kerja bagus, Lana,” ucap Gabriel, untuk pertama kalinya aku melihat seulas senyum tipis—sangat tipis, namun hangat—di sudut bibirnya. “Kamu menjaga umpan ini dengan sangat baik.”
Aris diseret keluar dengan borgol di tangannya, memaki-maki nama Gabriel dengan penuh frustrasi. Pria yang mengira telah memegang kartu as itu kini harus menghadapi kenyataan bahwa ia telah masuk ke dalam kandang singa yang diputuskannya sendiri.
Gabriel berjalan mendekatiku, menyerahkan kembali USB perak itu ke telapak tanganku.
“Maaf karena harus melibatkanmu dalam rencana ini,” katanya, suaranya kembali formal namun tak lagi terasa menakutkan bagiku. “Mulai besok, kamu dipromosikan menjadi asisten eksekutif pribatuku. Karena aku butuh seseorang yang tetap memegang kopernya erat-erat bahkan saat dikepung pengkhianat.”
Aku menatap flashdisk di tanganku, lalu menatap pria yang selama tiga tahun ini kutakuti. Hari ini aku menyadari, tatapan dingin Gabriel Santos bukan untuk menindas orang lemah, melainkan untuk membekukan langkah para iblis yang mencoba merusak apa yang menjadi miliknya. Dan mulai hari ini, aku tahu, aku berada di pihak yang paling aman di perusahaan ini.