Posted in

SAAT AKU HAMPIR MEMBAYAR OPERASI JANTUNG MERTUAKU SENILAI Rp928 JUTA, SUAMIKU MALAH MENGIRIMKAN SURAT PERPISAHAN—AKU PUN MEMASUKKAN KEMBALI KARTU ATM KE DALAM TAS SAAT AYAHNYA MEMUCAT DAN BERTERIAK DARI ATAS KURSI RODA

SAAT AKU HAMPIR MEMBAYAR OPERASI JANTUNG MERTUAKU SENILAI Rp928 JUTA, SUAMIKU MALAH MENGIRIMKAN SURAT PERPISAHAN—AKU PUN MEMASUKKAN KEMBALI KARTU ATM KE DALAM TAS SAAT AYAHNYA MEMUCAT DAN BERTERIAK DARI ATAS KURSI RODA

Kartu bankku sudah berada di tangan kasir.

Tinggal satu gesekan lagi, dan operasi jantung mertuaku, Pak Renato, senilai Rp928 juta akan lunas dibayar.

Namun sebuah getaran dari ponselku menghentikan tanganku.

Pesan itu datang dari suamiku, Carlo.

“Tandatangani saja. Aku sudah tidak menginginkanmu lagi. Aku sudah menemukan wanita yang benar-benar cocok untukku.”

Setelah itu, sebuah file PDF masuk.

PERJANJIAN PERCERAIAN.

Perawat di balik kaca menatapku ketika aku tiba-tiba tertawa.

Itu bukan tawa bahagia.

Itu adalah tawa seorang wanita yang akhirnya sadar setelah tenggelam selama lima tahun dalam keluarga yang bahkan tidak mampu menyelamatkan diri mereka sendiri.

“Bu, apakah sudah siap?” tanya perawat dengan hati-hati.

Sebelum aku menjawab, terdengar suara dingin Pak Renato dari kursi rodanya di belakangku.

“Liza, kenapa masih diam? Bayar saja. Kata anakku, kamu yang akan mengurus semuanya. Nanti jadwal operasiku bisa hilang.”

Aku perlahan menoleh kepadanya.

Jari-jariku gemetar, tetapi suaraku tetap tenang ketika menunjukkan layar ponsel kepadanya.

“Pa, coba baca ini.”

Keningnya berkerut.

Ia membaca pesan dari Carlo.

Mulutnya terbuka.

Lalu perlahan wajahnya kehilangan warna.

“Tandatangani saja. Aku sudah menemukan Sabrina. Dia berkelas, elegan, dan tahu bagaimana membawa diri. Tidak seperti kamu yang terlihat seperti pembantu kelelahan dan hanya memikirkan uang.”

Pak Renato langsung memegangi dadanya.

“Anakku itu sudah gila,” gumamnya. “Liza, jangan hiraukan dulu. Bayar operasi ini dulu. Setelah itu aku akan bicara dengannya.”

Aku tersenyum.

Selama lima tahun, aku selalu mendahulukan kata “setelah itu.”

Setelah biaya kuliah adiknya.

Setelah perbaikan atap rumah mereka.

Setelah laptop baru Carlo.

Setelah obat-obatan ayahnya.

Selalu ada sesuatu yang lebih penting daripada diriku.

Dan untuk pertama kalinya, aku memilih untuk tidak menunggu lagi.

Aku memasukkan kembali kartu bank ke dalam dompet dan menutup ritsleting tas.

“Pa, uang Rp928 juta itu bukan milik Carlo.”

“Aku bekerja siang malam selama lima tahun. Lembur, mengambil pekerjaan sampingan setiap akhir pekan, hampir tidak pernah tidur demi mengumpulkan uang sebanyak itu.”

Pak Renato menatapku tanpa berkedip.

“Tapi itu untuk operasiku!”

“Dulu memang begitu.”

Aku berbalik.

“Sekarang, telepon saja anak Bapak yang sudah menemukan dewi elegannya. Mungkin dia yang bisa membayar.”

Aku berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit.

Di belakangku terdengar roda kursi roda bergesekan dengan lantai.

“Liza!” teriak Pak Renato. “Jangan tinggalkan aku! Carlo! Dasar anak tidak tahu diri! Kau akan membunuhku dengan perbuatanmu ini!”

Aku tidak menoleh.

Di luar St. Catherine Medical Center di Quezon City, matahari bersinar terik dan udara terasa berat.

Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bisa bernapas dengan lega.

Saat tiba di apartemen kami di Mandaluyong, mataku langsung tertuju pada foto pernikahan yang terpajang di ruang tamu.

Dulu aku mengira foto itu adalah awal dari rumah tangga impian kami.

Sekarang, foto itu hanya tampak seperti bukti kesalahan termahal dalam hidupku.

Aku masuk ke kamar dan membuka laci paling bawah di meja samping tempat tidur.

Di sana ada kotak kayu tua yang tidak pernah disentuh Carlo.

Di dalamnya tidak ada perhiasan.

Yang ada hanyalah buku catatan tebal, slip setoran, kuitansi, dan laporan rekening bank.

Setiap rupiah yang masuk dan keluar dari kehidupan pernikahan kami tercatat di sana.

Tahun pertama:

“Rp18,8 juta — biaya kuliah Nico, adik Carlo.”

“Rp13,9 juta — laptop baru Carlo untuk pekerjaan.”

Tahun kedua:

“Rp43,5 juta — renovasi rumah keluarga di Bulacan.”

“Rp15,9 juta — konsol game baru Carlo karena katanya stres.”

Tahun ketiga:

“Rp12,2 juta — ponsel baru Carlo.”

Pada tahun yang sama, layar ponselku sendiri sudah retak di mana-mana.

Tetapi Carlo berkata,

“Masih bisa dipakai. Kita harus hemat.”

Tahun keempat:

“Rp34,8 juta — biaya rawat inap pertama Pak Renato.”

“Rp25,2 juta — makan malam dengan klien untuk Carlo.”

Tahun kelima:

“Target: Rp928 juta untuk operasi Pak Renato.”

Selama lima tahun, aku perlahan menghabiskan diriku sendiri.

Dari wanita yang suka berdandan, aku berubah menjadi wanita yang selalu mengikat rambut seadanya, mengenakan kaus lama, dan memiliki lingkar hitam di bawah mata.

Dan pria yang menikmati setiap pengorbananku justru menyebutku terlihat seperti pembantu.

Aku mengambil dua koper besar.

Satu per satu aku memasukkan sepatu mahal, kemeja bermerek, jam tangan, dan gadget milik Carlo.

Aku bahkan tidak melipat pakaiannya.

Ia tidak pantas menerima kelembutan sekecil apa pun dari tangan yang selama ini ia manfaatkan.

Ketika hendak mengambil blazer yang tergantung di belakang sofa, sesuatu jatuh dari sakunya.

Sebuah kuitansi yang terlipat.

Awalnya aku mengira itu hanya kuitansi restoran.

Namun saat kubuka, seluruh tubuhku langsung membeku.

Kuitansi itu berasal dari sebuah butik perhiasan mewah di Jakarta.

Di bawah nama pembeli tertulis jelas:

CARLO MENDOZA.

Jumlah transaksi: Rp198.650.000.

Barang: CINCIN TUNANGAN BERLIAN.

Tanggal pembelian: dua hari sebelum ia menyuruhku membawa seluruh tabunganku ke rumah sakit.

Aku terduduk di sofa.

Namun itu bahkan belum bagian yang paling menyakitkan.

Ada tulisan tangan di bagian bawah kuitansi.

Ada tulisan tangan dengan tinta biru di bagian bawah kuitansi itu, membentuk sebuah catatan kecil yang membuat dadaku bergemuruh oleh rasa muak:

“Untuk Sabrina-ku sayang. Tunggu sedikit lagi, ya. Setelah uang operasi Papa beres diurus oleh si pembantu itu, aku akan langsung menceraikannya dan kita bisa segera menikah di Bali.”

Aku menatap tulisan tangan Carlo. Itu adalah gaya tulisan yang sangat kukenal—tulisan yang sama yang dulu tertera di kartu ucapan pernikahan kami, berjanji untuk menjagaku dalam suka dan duka.

Ternyata, arti “menjaga” bagi Carlo adalah menjadikanku sapi perah hingga tetes darah terakhir, sementara ia bersiap melenggang pergi bersama wanita simpanannya menggunakan sisa tenagaku. Ia bahkan sudah merencanakan pernikahan mewah di Bali menggunakan uang yang ia peras dari keringatku.

Aku melipat kembali kuitansi itu, memasukkannya ke dalam saku celataku, lalu tersenyum. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk mataku langsung mengering, digantikan oleh tekad yang sedingin es.

Carlo, kamu benar-benar salah memilih lawan.

Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi mobile banking, dan memindahkan seluruh sisa uang di rekening bersama kami—yang 100% isinya berasal dari gajiku—ke rekening pribadi milik ibuku. Aku menyisakan saldo tepat Rp0 di sana.

Tepat saat aku selesai mengunci koper terakhir berisi barang-barang Carlo, pintu apartemen dihantam terbuka dengan keras.

Carlo masuk dengan napas memburu. Kemeja kantornya berantakan, dan di belakangnya, Pak Renato dipapang oleh Nico, adik Carlo, dengan wajah yang luar biasa pucat menahan sakit.

“Liza! Apa-apaan kamu?!” bentak Carlo, langsung menerjang maju dan mencengkeram bahuku. “Papa meneleponku sambil menangis di rumah sakit! Kenapa kamu membatalkan pembayaran operasinya?! Kamu mau membunuh Papaku?!”

Aku menyentak tangannya hingga terlepas, lalu mundur selangkah dengan tatapan merendahkan. “Bukan aku yang membunuhnya, Carlo. Tapi surat cerai yang kamu kirim dua jam lalu.”

Carlo tersentak, wajahnya mendadak gugup. Ia melirik adiknya dan ayahnya yang menatapnya dengan pandangan menuntut penjelasan. “L-Liza, itu… surat itu cuma gertakan! Aku cuma kesal karena kamu selalu mengeluh soal uang! Aku tidak bersungguh-sungguh soal Sabrina!”

“Oh, ya?” Aku merogoh saku celanaku, mengeluarkan kuitansi berlian dari Jakarta dan melemparnya tepat ke wajah Carlo. Kertas itu jatuh di lantai marmer. “Cincin berlian Rp198 juta ini juga cuma gertakan? Rencana pernikahan di Bali saat Papamu sekarat juga cuma gertakan?”

Nico langsung memungut kuitansi itu dan membacanya keras-keras. Wajah Pak Renato yang semula memerah karena marah pada ibuku, kini mendadak mematung. Pria tua di atas kursi roda itu menatap anak kesayangannya dengan pandangan tidak percaya.

“Carlo… kamu… kamu punya uang hampir dua ratus juta untuk membeli berlian jalang itu, tapi kamu membiarkan istrimu kelaparan dan mengemis uang operasi pada Liza?!” suara Pak Renato bergetar hebat, napasnya mulai tersengal-sengal.

“Pa, bukan begitu! Sabrina itu investor untuk proyekku! Aku harus menyenangkannya!” Carlo membela diri dengan kebohongan yang semakin menjijikkan. Ia kembali menatapku dengan mata membelalak panik. “Liza, lupakan soal itu dulu! Cepat kembali ke rumah sakit dan bayar operasinya! Nyawa Papa dalam bahaya!”

“Bayar sendiri dengan uang investasimu, Carlo,” jawabku tenang sambil menggeser dua koper besar miliknya ke depan pintu. “Atau mintalah pada Sabrina-mu yang berkelas dan elegan itu untuk menjual cincin berliannya.”

“Liza! Jangan keterlaluan! Kamu punya Rp928 juta di rekening bersama kita! Aku tahu itu!” Carlo berteriak, langsung mengeluarkan ponselnya dan memeriksa aplikasi bank milik mereka.

Detik berikutnya, wajah Carlo berubah menjadi sekuning kunyit. Tangannya gemetar hebat melihat angka yang tertera di layar ponselnya: Rp0.

“L-Liza… di mana uangnya? Di mana semua uang itu?!”

“Uang itu sudah kembali kepada pemiliknya yang sah,” kataku sambil menyampirkan tas kerjaku di bahu. “Lima tahun ini aku menghidupi keluargamu yang parasit. Aku membayar kuliah Nico, merenovasi rumah ibumu di Bulacan, bahkan membelikanmu konsol game saat kamu menganggur. Hari ini, masa baktiku sebagai pembantu tanpa bayaran di rumah ini resmi selesai.”

Aku melangkah melewati Carlo yang terduduk lemas di lantai marmer, mengabaikan Nico yang mulai memohon-mohon sambil menangis, dan tidak menoleh sedikit pun saat Pak Renato kembali mengerang memegangi dadanya.

Saat tanganku menyentuh gagang pintu apartemen, aku berbalik untuk terakhir kali, menatap Carlo yang menatapku dengan tatapan penuh kehancuran.

“Surat perceraianmu sudah kutandatangani, Carlo. Besok pengacaraku akan mengirimkan rincian gugatan harta gono-gini beserta seluruh bukti penggelapan nafkah yang kamu lakukan selama ini. Nikmati sisa hidupmu bersama dewi eleganmu dalam kemiskinan.”

Aku membuka pintu, melangkah keluar ke koridor yang terang, dan menutup pintu masa laluku dengan dentuman keras. Di luar, angin Mandaluyong berembus sejuk, membawa pergi lima tahun penderitaanku dan menyambut awal kehidupan baruku yang jauh lebih berharga.