Posted in

AKU MEMASANG KAMERA TERSEMBUNYI DI KAMARKU UNTUK MENDAPATKAN BUKTI IBU MERTUAKU YANG MENCURI EMAS DI LEMARIKU, NAMUN TANPA DISANGKA AKU MALAH MENYAKSIKAN PERBUATAN MENJIJIKKAN YANG DIAM-DIAM DILAKUKAN SUAMIKU SELAMA 10 TAHUN TERAKHIR…

AKU MEMASANG KAMERA TERSEMBUNYI DI KAMARKU UNTUK MENDAPATKAN BUKTI IBU MERTUAKU YANG MENCURI EMAS DI LEMARIKU, NAMUN TANPA DISANGKA AKU MALAH MENYAKSIKAN PERBUATAN MENJIJIKKAN YANG DIAM-DIAM DILAKUKAN SUAMIKU SELAMA 10 TAHUN TERAKHIR…
Rahasia di Balik Lensa
Aku Lan, berusia 32 tahun, dan sudah menikah selama tujuh tahun. Keluarga suamiku tinggal di sebuah rumah berlantai tiga, dan ibu mertuaku, Nyonya Huong, adalah orang yang sangat ingin tahu. Ia sering menggeledah lemari kami dengan berpura-pura “memeriksa apakah ada barang yang hilang.”

Aku tidak pernah benar-benar memercayainya, apalagi setelah aku menyadari bahwa dua gelang emas pemberian ibuku sebelum pernikahan telah hilang. Ketika aku bertanya kepadanya, dia hanya tertawa dan berkata,

“Tidak ada pencuri di rumah ini!”

Karena curiga, aku memasang sebuah kamera kecil yang tersembunyi di balik tanaman pot di kamar, diarahkan langsung ke lemari—rencananya aku akan memantaunya selama beberapa hari untuk menangkap basah pelakunya.

Aku bahkan mengaktifkan fitur notifikasi deteksi gerakan.

Setelah tiga hari…

Saat aku sedang bekerja, ponselku bergetar tanpa henti: kamera di kamar mendeteksi adanya pergerakan.

Aku segera membukanya untuk melihat.

Sesuai dugaanku:

Nyonya Huong masuk, menoleh ke sana kemari, lalu mulai menggeledah laci-laci lemariku.

“Bagus, aku menangkapnya,” bisikku dalam hati.

Tapi belum lewat 20 detik kemudian…

Adegan di layar membuat bulu kudukku berdiri dan sekujur tubuhku merinding.

BUKAN IBU MERTUAKU.

MELAINKAN SUAMIKU.

Suamiku, Dung, muncul dari pintu. Dia menoleh ke kiri dan kanan dengan waspada, lalu diam-diam mengunci pintu kamar.

Aku pikir dia hanya pulang sebentar di sela jam kerja, tapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuatku mual.

Dia mendekati ibunya, membisikkan sesuatu. Ibunya mengangguk, tersenyum lebar, dan adegan berikutnya adalah…

Ibunya mengangguk sambil tersenyum lebar, lalu menyerahkan sebungkus kecil serbuk putih yang ia ambil dari balik lipatan baju di dalam lemariku.

Dung, pria yang selama sepuluh tahun ini kusebut sebagai suami yang sempurna dan “anti-alkohol”, segera menuangkan serbuk itu ke dalam botol minumku yang biasa diletakkan di nakas. Namun, bukan itu yang membuat duniaku runtuh.

Setelah memastikan botol itu kembali ke posisi semula, Dung mengeluarkan sebuah ponsel rahasia dari balik laci ganda lemariku—laci rahasia yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya. Ia menyalakan layar ponsel itu dan memperlihatkannya pada ibunya.

Fakta yang Lebih Kejam dari Perselingkuhan

Di layar kamera tersembunyi, aku bisa mendengar suara mereka dengan jelas karena aku memasang mikrofon sensitif.

“Bagaimana, Dung? Apakah dosisnya sudah kau tambah? Jangan sampai dia sadar,” bisik Nyonya Huong dengan nada licik.

“Sudah, Bu. Obat ini akan membuatnya tetap terlihat lemas dan subur secara medis, tapi akan menggugurkan janinnya secara perlahan setiap kali dia hamil. Ini sudah tahun kesepuluh kita melakukannya, dan dia masih mengira dia hanya ‘tidak beruntung’ karena keguguran berulang kali,” jawab Dung dengan tawa kecil yang terdengar seperti iblis.

Aku menutup mulutku, menahan jeritan yang ingin meledak. Sepuluh tahun. Lima kali keguguran. Lima kali aku menangis meratapi kehilangan calon bayiku, dan suamiku—pria yang memelukku dan berpura-buru ikut berduka—adalah pelakunya.

“Bagus,” sahut ibunya. “Jangan biarkan dia punya anak. Begitu warisan dari ayahnya turun sepenuhnya atas nama kalian berdua tahun depan, kita akan buat dia ‘sakit jiwa’ akibat depresi keguguran. Setelah itu, kau bisa menikah resmi dengan istri sirimu di desa dan membawa cucu kandungku ke sini.”

Pembalasan yang Dingin

Tanganku gemetar hebat, tapi otakku mendadak bekerja dengan dingin. Aku tidak langsung pulang untuk mengamuk. Aku tahu, jika aku menghadapi mereka sekarang tanpa persiapan, mereka akan memutarbalikkan fakta dan menyebutku gila.

Aku segera mengunduh seluruh rekaman itu ke tiga penyimpanan awan (cloud) yang berbeda dan mengirimkannya ke pengacaraku serta seorang kenalan di kepolisian.

Malam itu, aku pulang dengan wajah biasa saja. Dung menyambutku dengan senyum manisnya yang biasa. “Sayang, kau tampak pucat. Minumlah airmu,” katanya sambil menyodorkan botol minum beracun itu.

Aku menatap botol itu, lalu menatap matanya. “Kau benar, aku merasa haus. Tapi bagaimana kalau kita minum bersama? Sebagai perayaan sepuluh tahun kebohonganmu.”

Wajah Dung berubah drastis. “Apa maksudmu, Lan?”

Aku mengeluarkan ponselku dan memutar rekaman video tadi siang dengan volume maksimal. Suara tawanya dan ibunya memenuhi ruangan. Nyonya Huong yang baru turun dari lantai tiga langsung mematung di tangga.

Akhir dari Sandiwara 10 Tahun

“Aku sudah mengirim video ini ke polisi, ke kantormu, dan ke seluruh keluarga besar kita di grup WhatsApp,” kataku dengan suara tenang namun tajam. “Oh, dan satu lagi. Aku sudah menyerahkan sampel air di botol ini ke laboratorium forensik sore tadi.”

Dung berlutut, mencoba memegang kakiku. “Lan, maafkan aku! Itu ide Ibuku! Aku hanya ingin hartamu agar kita bisa hidup tenang!”

“Kau tidak menginginkan hartaku, Dung. Kau menginginkan kehancuranku,” aku menendang tangannya menjauh. “Sepuluh tahun aku memberikan hidupku, dan kau membalasnya dengan membunuh calon anak-anakku.”

Polisi tiba tepat saat Dung mencoba merebut ponselku. Ia diseret keluar bersama ibunya atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan malpraktik pemberian zat berbahaya secara ilegal.

Aku berdiri di ruang tamu yang kini sunyi, melihat mereka digiring masuk ke mobil patroli. Tidak ada air mata. Hanya ada rasa lega yang luar biasa. Sepuluh tahun aku hidup dalam penjara kasih sayang palsu, dan hari ini, lewat lensa kamera kecil itu, aku akhirnya bebas.