Posted in

AKU MEMBATALKAN PERNIKAHANKU SETELAH TUNANGANKU MEMBERIKAN MIMPI PALING BERHARGAKU KEPADA ANAK EMAS KELUARGA…

AKU MEMBATALKAN PERNIKAHANKU SETELAH TUNANGANKU MEMBERIKAN MIMPI PALING BERHARGAKU KEPADA ANAK EMAS KELUARGA…
Tetapi pada malam sebelum aku meninggalkan Filipina, dia berlutut di tengah hujan sambil menggenggam tiket one-way milikku dengan tangan gemetar.

Ruang konferensi di Ateneo de Manila University terasa sangat dingin malam itu.

Jari-jariku hampir mati rasa saat menatap layar besar di depan.

Logo program pertukaran internasional bersama University of Melbourne masih terpampang di sana.

Beasiswa itu…

Delapan tahun aku memperjuangkannya.

Delapan tahun hampir tanpa tidur di perpustakaan.

Delapan tahun mengajar malam hari di Quezon City sambil bekerja sebagai research assistant hanya agar bisa membeli buku dan melanjutkan kuliah.

Delapan tahun untuk membuktikan bahwa meskipun aku hanya “tambahan” dalam keluarga Salvador, aku tetap bisa menjadi yang terbaik di departemen.

Tetapi pada akhirnya…

“Setelah evaluasi akhir, dewan memutuskan untuk memberikan Visiting Research Fellowship kepada Nicole Ramirez.”

Seluruh ruangan langsung bertepuk tangan.

Hanya aku yang tetap duduk diam.

Bahkan tidak bergerak sedikit pun.

Nama Nicole Ramirez di layar terasa seperti tamparan yang terus berulang di wajahku.

Dia duduk hanya dua kursi dariku.

Dia adalah anak dari ibu tiriku.

Dan sejak kecil, dia selalu menjadi putri kesayangan keluarga Ramirez karena wajahnya mirip mendiang istri ayah tiriku.

Bahkan pria yang akan kunikahi pun…

memilih berpihak padanya.

“Dan seluruh sponsorship akan diberikan oleh Del Rosario Holdings.”

Dekan yang mengatakan itu.

Dan pria yang duduk di ujung meja konferensi…

adalah tunanganku sendiri.

Enzo Del Rosario.

Pria yang kucintai selama tujuh tahun.

Aku menggenggam fountain pen-ku begitu erat hingga jariku memucat.

Sudah tiga hari aku mengetahui semua ini.

Aku melihat tanda tangan Enzo di dokumen persetujuan.

Dialah yang mengambil keputusan terakhir.

Dan dia memilih Nicole.

“Kak Lia, jangan sedih lagi.”

Nicole yang pertama mendekat setelah rapat selesai.

Dia mengenakan gaun putih dengan rambut ikal lembut, selalu terlihat polos di mata semua orang.

Dia tersenyum kecil.

“Toh nanti kamu juga akan jadi Mrs. Del Rosario.”

Dia mendekat ke telingaku.

“Kamu sudah tidak perlu capek-capek mengejar hal seperti ini.”

“Dari dulu sampai sekarang, hal yang kamu perjuangkan selama sepuluh tahun… cukup kudapatkan hanya dengan beberapa tetes air mata.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

aku lelah berebut.

Lelah bertanya kenapa.

Karena akhirnya aku mengerti.

Kalau seseorang benar-benar mencintaimu…

dia tidak akan membiarkan orang lain merampas mimpimu tepat di depan matanya.

Enzo berdiri di lorong saat aku keluar dari ruang konferensi.

Dia mengenakan setelan hitam, tubuhnya tampak jelas di bawah cahaya kuning universitas.

Dia masih tampan.

Masih membuat siapa pun terpana.

Sayangnya…

aku sudah terlalu lama menatapnya selama tujuh tahun.

“Lia.”

Panggilnya pelan.

Aku berhenti.

“Itu keputusan dewan.”

Aku ingin tertawa.

Kalau dia mau berbohong…

setidaknya lakukan dengan lebih rapi.

“Aku tahu.”

Dia tampak tidak terbiasa melihatku setenang itu.

Keningnya sedikit berkerut.

“Nicole masih muda. Dia butuh rekam jejak yang bagus.”

“Dan kamu…” dia menatapku lama, “akan menjadi istriku. Kamu tidak perlu susah lagi.”

Dulu…

hanya dengan mendengar “kamu akan jadi istriku,” aku bisa bahagia selama seminggu penuh.

Tetapi malam ini…

yang kurasakan hanya lelah.

“Baiklah.”

Aku melewatinya begitu saja.

Aku tidak menarik lengan bajunya seperti biasanya.

Aku tidak bertanya jam berapa dia akan pulang.

Aku juga tidak bertanya apakah dia masih mencintaiku.

“Pulanglah lebih awal nanti,” katanya dari belakang.

“Kita akan membahas undangan pernikahan bersama Dad.”

Undangan pernikahan.

Tiba-tiba aku teringat kartu undangan merah di laci condo kami di BGC.

Aku sendiri yang memilih desainnya.

Aku sendiri yang memesan tulisan emasnya.

Dulu aku pikir…

akulah wanita paling bahagia di Manila.

Sampai malam ini.

Pukul sepuluh malam.

Penthouse Enzo sunyi sementara lampu-lampu Makati berkilauan di balik jendela.

Aku membuka laci paling bawah.

Semua undangan pernikahan ada di sana.

Aku mengambil satu.

Menatapnya lama.

Lalu memasukkannya ke mesin penghancur kertas.

Suara mesin itu menggema di seluruh ruang tamu.

Huruf emas nama kami hancur menjadi potongan-potongan kecil.

“Lia Salvador & Enzo Del Rosario.”

Ternyata tujuh tahun hubungan kami juga bisa hilang semudah itu.

Laptop-ku tiba-tiba bergetar.

Email baru.

Aku menarik napas panjang sebelum membukanya.

“Congratulations. Your application to the University of British Columbia has been officially approved.”

Aku terdiam lama.

Sudah dua bulan aku menyembunyikan aplikasi itu.

Tak seorang pun tahu aku mendaftar ke Kanada.

Tak seorang pun tahu aku sedang bersiap meninggalkan Filipina.

Dan terlebih lagi, tak seorang pun tahu…

bahwa sejak lama aku sudah mempertimbangkan meninggalkan Enzo.

Di luar kaca, hujan mulai turun membasahi Manila.

Aku menarik koper dari bawah tempat tidur.

Melipat pakaianku satu per satu.

Tepat saat itu pintu terbuka.

Enzo masuk.

Lengan kemejanya sedikit basah terkena hujan.

“Nicole demam,” katanya sambil meletakkan jam tangannya di meja. “Aku mengantarnya ke rumah sakit.”

Aku tidak menjawab.

Tatapannya jatuh ke koperku.

Lalu ke potongan undangan pernikahan di samping mesin penghancur.

Keheningan di seluruh condo langsung terasa berat.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku menutup resleting koper.

“Aku pergi.”

Keningnya langsung berkerut.

“Ke mana?”

Aku tidak langsung menjawab.

Dengan tenang, aku mengeluarkan tiket pesawat dari laci.

Lalu meletakkannya di depannya.

Makati — Vancouver.

06:40 AM.

One-way.

Begitu dia membacanya…

wajahnya langsung berubah.

“Lia…”

Baru kali ini aku melihat ketakutan yang nyata di matanya.

Tangannya sedikit gemetar saat memegang tiket itu.

“Apakah kamu benar-benar meninggalkanku?”

Wajah Enzo memucat sempurna, kontras dengan lampu-lampu penthouse Makati yang berkilauan di belakangnya. “Lia, ini konyol. Hanya karena masalah fellowship itu? Aku bisa membelikanmu program lain yang lebih baik! Aku bisa mendanai riset pribadimu di mana pun kamu mau!”

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, aku merasa asing dengan pria yang sudah menemaniku selama tujuh tahun ini.

“Kamu masih tidak mengerti, Enzo,” kataku lirih, suaraku seringan angin malam. “Ini bukan tentang programnya. Ini tentang bagaimana kamu dengan mudahnya memberikan hasil kerja keras, air mata, dan malam-malam tanpa tidurku kepada orang lain. Kamu tidak hanya memberikan beasiswaku, Enzo. Kamu memberikan harga diriku kepada Nicole.”

“Aku melakukan ini untuk masa depan kita!” suaranya meninggi, ada nada frustrasi yang bercampur keputusasaan. “Jika Nicole mendapatkan posisi itu, keluarga Ramirez akan melunak. Pernikahan kita akan mendapat restu penuh dari ayah tirimu, dan posisi Del Rosario Holdings di dewan universitas akan semakin kuat. Aku memikirkan kita!”

“Tidak,” potongku tajam, membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan. “Kamu memikirkan bisnismu. Dan kamu memikirkan ego keluarga Ramirez. Kamu tidak pernah memikirkan aku.”

Aku menarik cincin berlian yang melingkar di jari manis kiriku. Cincin yang dulu kupikir adalah simbol akhir dari segala perjuangan hidupku yang berat. Aku meletakkannya di atas meja, tepat di samping potongan-potongan undangan pernikahan kami yang telah hancur.

“Pernikahan ini batal, Enzo.”

“Lia, jangan gila! Kamu tidak bisa membatalkan hubungan tujuh tahun begitu saja!” Dia mencoba meraih tanganku, tetapi aku melangkah mundur.

“Hubungan ini sudah selesai sejak kamu menandatangani dokumen persetujuan itu,” kataku sambil menarik pegangan koperku. “Selamat tinggal, Enzo.”

Aku berjalan melewati tubuhnya yang mematung. Saat pintu penthouse menutup di belakangku, rasanya seolah-olah beban seberat berton-ton yang selama ini menghimpit dadaku runtuh seketika. Aku bebas.


Malam sebelum penerbangan ke Vancouver…

Hujan badai mengguyur Manila dengan hebat. Angin kencang menerpa jendela kamar hotel sementaraku di dekat Bandara Internasional Ninoy Aquino. Pukul satu dini hari, bel kamarku berbunyi terus-menerus dengan tidak sabar.

Saat kubuka, sosok Enzo berdiri di sana.

Dia basah kuyup. Setelan jas mahalnya berantakan, rambutnya menempel di dahi, dan napasnya memburu seolah dia baru saja berlari melintasi kota. Di tangan kanannya yang gemetar hebat, dia menggenggam selembar kertas yang sudah basah oleh air hujan—tiket one-way milikku ke Vancouver yang tertinggal di meja penthouse-nya malam itu.

Sebelum aku sempat bersuara, lutut Enzo melemas. Pria angkuh dari keluarga Del Rosario yang tidak pernah tunduk pada siapa pun itu, berlutut di lantai yang basah, tepat di depan kakiku.

“Lia… kumohon…” suaranya serak, bergetar menahan tangis. “Jangan pergi. Aku salah. Aku bersumpah aku salah.”

Dia mendongak, matanya merah dan dipenuhi air mata yang menyatu dengan sisa air hujan.

“Aku sudah membatalkan sponsorship untuk Nicole. Aku sudah menarik kembali keputusan dewan. Namamu… namamu sudah dikembalikan sebagai penerima utama fellowship ke Melbourne. Aku juga sudah memutuskan semua hubungan bisnis dengan keluarga Ramirez. Apapun, Lia… aku akan lakukan apapun, asal jangan tinggalkan aku.”

Aku menatap pria yang bersimpuh di depanku. Dulu, melihatnya terluka sedikit saja akan membuat hatiku hancur. Dulu, aku akan melakukan apa saja untuk menghapus air matanya.

Tetapi malam ini, melihatnya memohon di tengah gemuruh hujan, aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada amarah, tidak ada kepuasan dendam, dan yang pasti, tidak ada lagi cinta. Hati yang sudah mati rasa tidak bisa dipaksa bergetar kembali.

“Enzo,” kataku pelan, berlutut menyamakan tinggiku dengannya. Aku mengambil tiket pesawatku yang basah dari tangannya yang gemetar. “Kamu membatalkan semua itu bukan karena kamu menghargai mimpiku. Kamu melakukannya hanya karena kamu takut kehilangan kepemilikanmu atas diriku.”

“Bukan, Lia! Aku mencintaimu!” tangisnya pecah, mencoba memeluk pinggangku, tetapi dengan lembut aku mendorong bahunya.

“Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan pernah menghancurkanku sejak awal,” bisikku. “Kamu mengembalikan beasiswa Melbourne itu karena kamu pikir itu bisa membeliku kembali. Tapi kamu terlambat. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Aku tidak butuh Melbourne, dan aku tidak butuh kamu.”

Aku berdiri, menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma udara Manila yang basah untuk terakhir kalinya.

“Kembalilah, Enzo. Dingin. Dan jangan pernah mencariku lagi.”

Aku menutup pintu kamar hotel dengan perlahan namun pasti, mengunci suara tangisannya di luar.

Keesokan paginya, saat pesawat Philippines Airlines lepas landas menembus awan abu-abu Manila menuju Vancouver, aku menatap keluar jendela. Di bawah sana, kota yang penuh dengan luka dan air mata perlahan mengecil hingga menghilang.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku tersenyum lebar. Lembaran baruku baru saja dimulai, dan kali ini, akulah satu-satunya penulis takdirku sendiri.